Love Story Of Bianca Luvena

Love Story Of Bianca Luvena
KEPUTUSAN SEPIHAK



Pukul 23.00


Bianca masih di Rumah Sakit. Ia terlalu malas untuk pulang jika harus bertengkar lagi dengan Suaminya.


Drtt!


Bianca melihat layar ponsel Megan berkedip sementara si empunya sedang ke toilet.


"Megan, ponselmu berbunyi."


Pria itu memeriksa beberapa pesan masuk yang dikirim oleh orang suruhannya.


Megan menatap Bianca dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Ada apa?"


"Coba lihat ini! Kamu mengenal wanita bertudung hitam itu?"


Bianca menajamkan penglihatannya, mencoba memperbesar gambar yang ada di video itu, "Dia— astaga! Itu Elina, Meg. Mama Tiriku."


Iya. Tanpa sepengetahuan Bianca, Megan telah membayar mahal seseorang untuk menyelidiki semuanya.


Tentang cctv yang ternyata tidak pernah dihapus, melainkan hasil manipulasi staff Rumah Sakit karena sudah mendapat bayaran dalam jumlah besar dari pelaku.


"Kamu yakin? Lalu apa tujuan Mamamu melakukan ini pada kita?"


"Tidak tahu. Dari awal aku sudah menduga jika Elina memang pelakunya ..."


Bianca menyuruh Megan agar mengirim rekaman video itu ke ponselnya untuk ditunjukkan ke Cakra saat pulang nanti.


"Aku akan menyuruh Cakra untuk meminta maaf padamu secepatnya."


Megan menggeleng, "Tidak perlu. Aku sudah memaafkan Suamimu. Yang terpenting sekarang, kamu punya bukti untuk menjelaskan semuanya pada Cakra."


"Hm, kamu benar. Tapi bagaimana denganmu? Jangan-jangan orang yang ingin mencelakaimu lagi itu adalah orang suruhan Elina juga?"


"Sepertinya begitu. Tidak usah khawatir. Aku sudah menyewa dua bodyguard di depan sana untuk menjagaku ..."


Bianca mengikuti telunjuk Megan yang mengarah ke pintu, "Kamu dan Ajun bisa pulang sekarang. Terimakasih sudah meminta Ajun menemaniku seharian di sini."


"Sama-sama. Kalau begitu aku pulang dulu. Besok pagi aku akan ke sini lagi bersama Cakra."


"Hm, terserah. Hati-hati di jalan, Bianca. Salam untuk Malvin juga ya."


"Iya, Megan."


...••••...


Sesampainya Bianca di Rumah, ia dikejutkan dengan sosok Haura yang berbaring di Sofa sambil menonton televisi serta beberapa toples camilan yang berserakan di atas meja hingga serpihan kecilnya mengotori karpet berbulu kesayangan Bianca.


"Wah, apa-apaan ini?"


Bianca sengaja mencabut colokan kabel televisi hingga membuat Haura mengerang kesal.


"Kamu yang apa-apaan, Bianca!"


"Bukankah seharusnya kamu pergi dari Rumah ini? Kenapa masih di sini, hah?"


"Mas Cakra yang memintaku tinggal sementara waktu sampai aku menemukan Apartemen yang cocok."


Mata Bianca mendelik tajam kala melihat penampilan Haura yang sangat seksi dengan gaun tidur berbahan satin tipis serta belahan dada rendah.


Dasar murahan.


"Lagi pula, Malvin masih merindukan Mamanya. Wajar jika aku stay di sini." bohongnya.


Justru Malvin merasa tidak enak pada Bianca sebab kedatangan Haura hanya membuat hubungan Cakra dan Bianca semakin renggang.


Cakra dan Malvin yang baru saja sampai di Rumah setelah makan malam di luar terkejut melihat Bianca dan Haura sedang beradu mulut.


"Tidak bisakah kalian akur sekali saja? Suara kalian bahkan terdengar dari luar."


Cakra berjalan melewati keduanya begitu saja sebab masih kesal dengan Istrinya, sementara Malvin berdiri tak jauh memperhatikan Bianca dan Haura.


"Mama jangan mengganggu Mama Bianca terus. Terserah kalau Mama mau tinggal di sini asal Mama tidak berulah ..."


Malvin meminta Bianca agar masuk ke kamar supaya mereka tidak bertengkar lagi, "Sepertinya Papa dan Mama Bia harus bicara lagi. Mama Bia tahu maksudku 'kan?"


"Ya. Mama sudah mendapatkan bukti itu, Malvin."


Malvin menyunggingkan senyum bahagia mendengar kabar tersebut.


"Kalau begitu cepat beritahu Papa, Ma. Aku tidak ingin melihat kalian bertengkar terlalu lama."


Kemudian beranjak pergi karena tidak ingin semakin dongkol melihat Putranya sendiri justru tampak mendukung wanita lain agar bersama Cakra dibandingkan kembali rujuk dengan dirinya yang notabenenya adalah Ibu Kandung Malvin.


Cklek!


Cakra baru selesai mandi dan melihat Bianca duduk di sisi ranjang sembari memberikan ponselnya pada Cakra.


"Apa?"


"Lihat video itu baik-baik."


Cakra mulai menekan tombol play kemudian melihat rentetan kejadian yang terjadi tempo hari.


Terlihat tiga wanita yang sempat dilihatnya di Lobby. Salah satu dari mereka adalah pelaku yang menutup pintu ruangan di lantai tiga, sementara dua wanita lainnya menghampiri seseorang bertudung hitam.


"Siapa wanita bertudung itu?"


"Menurutmu siapa?"


"Aku sedang malas bermain teka-teki. Siapa dia, Bianca?"


Dengan nada malas, Bianca menjelaskan persis dengan yang telah ia bicarakan bersama Megan tadi.


"Mama Elina benar-benar keterlaluan."


"Mungkin dia marah karena aku menolak memberinya uang 100 juta tempo lalu, ingat?"


"Jadi hanya karena itu dia tega memfitnahmu?"


"Ini bukan pertama kalinya dia berbuat jahat padaku tapi tetap saja membuatku terkejut ..."


Bianca mencoba menghubungi Bu Elina lagi, namun panggilan darinya selalu ditolak, "See? Sekarang keputusan ada padamu, Cakra! Menurutku, lebih baik kamu mengusir dia dari sini. Tidak peduli dengan ancaman yang dia katakan. Percayalah! Elina itu pandai menggertak saja. Dia tidak mungkin berani menyakiti aku atau Malvin. Apalagi kamu punya kekuasaan yang tidak dia miliki."


Cakra mengangguk, setuju. Wanita itu tidak pantas dihormati lagi.


Karena perbuatannya kali ini tidak bisa ditolerir lagi. Besok pagi Cakra akan menyuruh anak buahnya untuk mengeluarkan semua barang-barang Bu Elina dan menempatkan banyak pengawal untuk menjaga rumahnya.


"Maaf sudah menuduhmu berselingkuh dengan Megan ..."


Bianca menepis pelan tangan Cakra yang hendak memeluknya, "Dimaafkan. Kita bahas masalah yang lain."


"Soal apa?"


"Kenapa kamu mengizinkan Haura tinggal di sini?"


Cakra terdiam. Berusaha mencari alasan supaya Bianca tidak salah mengartikan sikapnya terhadap Haura.


Pria itu hanya kasihan, tidak lebih.


"Ah! Jangan bilang kamu kasihan padanya, Cakra."


"Aku keberatan! Sebaiknya kamu usir Haura juga dari Rumah ini." protes Bianca lagi.


"Dengarkan aku dulu, Bee."


Cakra berusaha menenangkan Istrinya melalui usapan dibahu, namun Bianca terus menghindar.


"Dia hanya Mantan Istrimu. Kamu tidak ada kewajiban untuk bertanggung jawab atas hidupnya."


"Tapi dia Ibu dari Anakku, Malvin. Kamu jangan bersikap egois, Bianca."


Bianca tertawa mengejek.


"Giliran aku yang mengatakan ini, kamu sebut egois? Ya Tuhan! Pernikahan ini benar-benar membuatku lelah." Bianca memijat pelipisnya yang berdenyut, pusing.


Ia beranjak pergi ke kamar mandi guna mengguyur kepalanya yang terasa panas dan mengabaikan Cakra yang tampak merasa bersalah atas tuduhan perselingkuhan kemarin.


Bianca tahu jika Cakra menyusulnya masuk. Ia berdiri membelakangi Cakra yang ikut bergabung di bawah guyuran air shower yang membasahi tubuh mereka.


"Maaf." gumam Cakra lagi.


Karena hanya kata itu yang bisa Cakra ucapkan sebagai bentuk penyesalan atas masalah yang menerpa rumah tangga mereka.


Cakra tidak bisa mengusir Haura begitu saja. Cakra juga ingin menebus rasa bersalahnya pada Malvin dengan membiarkan Haura tinggal sementara waktu bersama mereka.


Dengan harapan, kehadiran Haura bisa mengobati perasaan rindu yang terselip di hati Malvin.


Sebab tidak ada seorang Anak di dunia ini yang tidak merindukan sosok wanita yang telah melahirkannya ke dunia meski kesalahan Haura sangat besar di masalalu.


...•••• ...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!0