
Sejak sore, Bianca menunggu kepulangan Bu Elina sampai waktu menunjukkan pukul 11 malam lebih.
Namun tidak ada tanda-tanda wanita ular itu pulang ke Rumah. Bahkan Bu Elina sengaja mematikan ponselnya agar Bianca tidak bisa menghubunginya terus.
"Wanita itu pasti tidak pulang lagi. Sibuk berfoya-foya menghabiskan uang di ATM Papa. Dasar sialan!" umpat Bianca dengan penuh emosi.
Rasanya, Bianca sudah gatal ingin memberi pelajaran pada Bu Elina yang ternyata merupakan dalang dibalik kasus penggelapan uang perusahaan Ayahnya sebelum mengalami pailit dan menyebabkan Ayahnya berhutang banyak pada Zero Bank.
Sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena sejak awal, Bianca sudah mencurigai niat buruk Bu Elina yang hanya mengincar harta Ayahnya saja.
"Akhirnya ... Kamu pulang juga!"
Sambutan Bianca membuat Bu Elina tersinggung. Terdengar tidak sopan menurutnya.
"Jaga ucapanmu! Aku masih Ibumu jika kamu lupa, Bianca."
"Hanya Ibu Tiri, tidak lebih ..."
Bianca yang sudah terlanjur emosi tidak bisa menahan diri lagi kemudian mendorong kasar tubuh Bu Elina hingga jatuh tersungkur ke lantai.
"APA-APAAN KAMU INI?"
Plak!
Belum sempat Bu Elina berdiri, Bianca kembali melayangkan sebuah tamparan keras hingga bunyi tamparan itu menggema di satu ruangan.
"PAPAKU MENINGGAL GARA-GARA KAMU, SIALAN!"
Mas Justin meninggal? Itu kabar baik yang aku tunggu.
Seringaian itu!
Terlihat sangat memuakkan dimata Bianca lalu ia pun menjegal kaki Bu Elina sampai tubuh Bu Elina terjatuh lagi.
"KEMANA SAJA KAMU SAAT PAPAKU SAKIT DAN BUTUH BIAYA UNTUK PEMASANGAN RING JANTUNG, HAH?"
"DAN SEKARANG, SETELAH PUAS MENGHABISKAN SELURUH HARTA PAPAKU SAMPAI TIDAK TERSISA, KAMU JUGA TEGA MENAWARKAN AKU PADA PRESDIR CAKRA UNTUK MENJADI ISTRINYA DEMI MELUNASI HUTANG YANG KAMU AJUKAN ATAS NAMA PAPA JUSTIN TAPI LAGI-LAGI, KAMU JUGA YANG MENGGUNAKAN SEMUA UANGNYA UNTUK KEBUTUHANMU ITU, ELINA CHALANDRA!"
"LANCANG!" bentak Bu Elina tak kalah kerasnya.
"Lancang katamu ..."
Bianca menunjukkan bukti pembayaran Rumah Sakit atas nama Zero Four dan tertera tanda tangan Cakra Baswara di bawahnya.
"Cakra sudah memberitahuku semua. Tentang penawaran konyolmu padanya tadi pagi. Kamu benar-benar wanita menjijikkan, Elina!"
Plak!
Bukan Bianca yang melakukan tamparan itu.
Melainkan Bu Elina yang menampar Bianca hingga keduanya terlibat saling jambak dan tidak ada yang mau mengalah.
Beruntung, Bik Hana mendengar keributan mereka lalu segera memisahkan keduanya.
"Bu Elin dan Mbak Bia, tolong jangan bertengkar. Ini sudah malam. Sebaiknya kalian bicarakan masalah ini besok pagi."
Salah satu dari mereka memilih pergi.
Berjalan menuju kamar diiringi suara bantingan pintu yang terdengar memekakan telinga.
Brak!
"Anak kurang ajar."
"Bu Elin, silahkan masuk ke kamar juga." kata Bik Hana.
Namun Bu Elina yang masih diliputi emosi pun melampiaskan kekesalannya pada Bik Hana.
"Kamu hanya pembantu di Rumah ini. Jaga sikapmu, Hana." desisnya.
"Maaf. Mendiang Pak Justin sudah menganggap saya seperti keluarganya sendiri dan beliau juga menitipkan Mbak Bia pada saya, Bu Elin. Jadi saya punya hak untuk melindungi Mbak Bia dari siapa saja yang ingin menyakitinya termasuk anda ..."
Bik Hana hendak kembali menuju kamarnya namun ia berbalik hanya untuk memperingatkan Bu Elina, "Ingat, Bu! Tidak ada kejahatan yang bisa menang melawan kebaikan, permisi."
"Kamu— argh! Pembantu sialan!" kesalnya, saat melihat Bik Hana melenggang pergi dan bersikap layaknya Nyonya Besar di Rumah ini.
Sepertinya tikus buruanku sudah mulai masuk perangkap.
...••••...
Pagi ini tidak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan.
Hanya dentingan sendok dan garpu saling beradu, mengisi kekosongan ruang dan waktu.
Menyelimuti suasana hening di meja makan yang terasa sepi.
"Aku selesai. Aku berangkat dulu, Pa."
Malvin berpamitan pada Ayahnya. Raut wajah Malvin juga terlihat berbeda dari semalam.
"Tunggu?"
Malvin menatap datar pada Cakra, "Kalau Papa mau membahas soal semalam lagi, maaf! Aku harus berangkat ke Sekolah! Takut telat."
"Malvin, kenapa tanganmu bisa terluka?"
Cakra tidak bodoh untuk mengetahui jika luka pada punggung tangan Anaknya merupakan bekas hantaman yang disengaja.
"Malvin?"
"Jatuh di Kamar mandi. Pa, aku harus berangkat sekarang. Ada ulangan harian pagi ini. Takut telat!"
"Nanti pulangnya Papa jemput ya?"
Malvin menggeleng, "Aku bisa pesan taksi online. Tidak usah menjemputku."
Sebenarnya, hubungan Cakra dan Malvin berjalan biasa-biasa saja. Perhatian dan segala fasilitas yang dibutuhkan Malvin dipenuhi dengan baik oleh Cakra.
Hanya saja, kurangnya komunikasi antara mereka karena kesibukan Cakra, membuat keduanya terlihat berjarak.
Cakra hanya mengobrol dengan Malvin saat keduanya bertemu di meja makan seperti saat ini.
Atau jika kebetulan Cakra tidak ada kegiatan di akhir pekan, mereka biasanya akan menikmati waktu bersama dengan menonton film di Rumah.
"Sepertinya Pak Cakra butuh seorang pendamping hidup supaya ada yang memperhatikan Bapak dan Mas Malvin secara emosional."
Bik Karin membawa secangkir kopi sebagai penutup sarapan Cakra.
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud lancang tapi Mas Malvin terlihat kesepian. Mas Malvin butuh sosok Mama yang bisa memberinya perhatian dan menyayangi Mas Malvin dengan tulus. Apalagi sebentar lagi, ada acara kelulusan sekolah. Pasti nanti, ada undangan yang mengharuskan kehadiran kedua orangtua lengkap dari pihak sekolah, Pak."
Sadar akan ucapannya sudah melalui batasan, Bik Karin meminta maaf pada Cakra.
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak Cakra. Saya sudah terlalu banyak bicara. Saya permisi ke belakang dulu."
Semenjak tadi, Cakra hanya mendengarkan celotehan Bik Karin tanpa menyahut.
Memikirkan kembali setiap nasehat yang ia dengar dan ada benarnya juga.
10 tahun bukan waktu yang singkat bagi Cakra untuk mempertahankan kesendiriannya.
"Bianca Luvena." gumam Cakra sebelum menghabiskan kopi buatan Bik Karin yang mulai terasa dingin.
...••••...
Masih terlalu pagi namun suasana kantor sudah ribut karena ulah seseorang yang memaksa ingin bertemu dengan Cakra.
"Saya akan menunggu Pak Cakra di sini."
"Bu, anda tidak bisa sembarangan bertemu dengan Presdir Baswara sebelum membuat janji lebih dulu." ucap Dirla.
Ia terlalu jengkel menghadapi wanita keras kepala yang satu ini.
"Kemarin kamu sudah membuat jadwal pertemuan kami. Jadi tidak ada salahnya jika saya ingin bertemu Pak Cakra lagi— nah! Itu dia!"
Dirla melihat Cakra dan Sean keluar bersamaan dari dalam lift.
"Untuk apa anda datang ke sini? Bukankah kemarin–"
"Saya tahu, kemarin anda dan Bianca sudah bertemu. Bahkan anda juga melunasi tagihan Rumah Sakit Suami saya. Makanya saya datang ingin mengucapkan terimakasih, Pak Cakra."
Bu Elina tersenyum, tidak ada kesedihan yang terlihat di wajah tuanya.
Seolah kematian Pak Justin tidak meninggalkan luka yang mendalam baginya, seperti yang dirasakan oleh Bianca.
Benar-benar wanita gila.
"Kalian bisa pergi. Biar saya yang mengurus dia." perintah Cakra pada Dirla dan Sean.
"LEPASKAN AKU! LEPAS! KALIAN SEHARUSNYA TIDAK MELARANGKU MASUK! JUSTRU WANITA ITU YANG HARUS KALIAN SERET KELUAR!"
Beruntung, kondisi lobby sedang sepi karena ini masih pukul 7.
Jam kerja dimulai pukul 8 dan hanya ada beberapa staff kantor yang melihat keributan di sana.
"WANITA ITU! KALIAN HARUS MENGUSIRNYA!"
Kedua security yang mencengkal lengan Bianca menegang di tempat.
Sebab wanita yang dimaksud Bianca itu sedang bersama Presiden Direktur mereka. Lantas keduanya semakin yakin, jika si pembuat onar yang sebenarnya adalah Bianca.
"Maaf, Nona. Anda harus keluar! Jangan membuat keributan di sini!" tegur salah satu dari mereka.
"Lepaskan aku, bodoh! Kalian tidak tahu apa-apa."
Hingga membuat Bianca nekat mengikuti Bu Elina secara diam-diam.
Entah apalagi yang akan dilakukan Bu Elina, namun Bianca seratus persen yakin, jika Bu Elina kembali merencanakan hal buruk agar bisa mendapatkan uang dengan menggunakan namanya.
"Lepaskan dia." perintah Cakra pada kedua security tersebut.
Tatapan tajam Cakra tidak membuat Bianca takut. Ia justru benci melihat Cakra dan Bu Elina sekarang.
"Kalian berdua, ikut ke Ruanganku, sekarang!"
Tanpa membantah lagi, Bianca dan Bu Elina mengikuti Cakra karena bagaimana pun juga, perusahaan Ayahnya masih terlibat hutang yang sangat besar pada Zero Bank.
Bianca khawatir masalah baru akan muncul jika dirinya berulah.
"Selain membuat keributan di Kantorku, kalian juga sudah mempermalukan aku di depan para staff kantor. Sebenarnya, apa mau kalian?"
Dengan tetap tersenyum tanpa dosa, Bu Elina menjawab ucapan Cakra begitu tenang.
"Sebuah pertemuan kedua yang tidak baik untuk kalian tapi saya rasa, anda dan Bianca sangat serasi."
"Tutup mulut, Tante." desis Bianca.
Kemudian Bu Elina menunjukkan sebuah rekaman yang menampilkan beberapa karyawan pabrik yang melakukan demo di depan kantor Pak Justin.
"Tadi pagi Asistenku yang mengirimkan video itu padaku, Bianca. Mereka menuntut pembayaran gaji yang belum dibayarkan selama 3 bulan serta banyak supplier yang meminta sisa pembayaran barang harus segera dilunasi."
Diam-diam, Bianca mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Kepalanya berdenyut sakit memikirkan kondisi keuangan keluarganya yang sulit.
Tabungan yang dimiliki Bianca hanya cukup untuk keperluannya selama 1 bulan ke depan.
Di tengah kebingungannya, Bianca kembali mengingat pembicaraan dirinya dan Cakra kemarin.
"Kamu pasti butuh bantuanku! Memohon dan datang merangkak padaku supaya aku mau menolongmu lagi!"
"Bahkan saat kamu melakukan itu, maka aku orang pertama yang akan tertawa paling keras."
Kedua mata Bianca terpejam hingga kepalan tangannya semakin mengerat.
"Kembalikan ATM milik Papa. Aku yakin, Papa Justin masih memiliki uang tabungan di ATM yang kamu bawa."
"Enak saja! Itu sudah menjadi hak-ku sebagai Istri Mas Justin, Bianca."
"Hak? Kamu membicarakan soal hak sementara kamu lupa dengan kewajibanmu sebagai seorang Istri! Kamu bahkan tidak ada disaat terakhir Papaku, brengsek!"
Brak!
Bunyi gebrakan meja membuat kedua wanita itu langsung terdiam. Menatap kaget pada Cakra yang terlihat kesal menghadapi kelakuan mereka.
"Jika kalian ingin membahas masalah internal keluarga, silahkan keluar dari Ruanganku!"
"Maafkan kami, Pak Cakra. Tujuan saya datang untuk melanjutkan pembicaraan kita kemarin ..."
Bu Elina memberikan dokumen yang sudah ia persiapkan semalam, "Pertimbangkan lagi soal penawaran saya. Toh, syarat yang saya ajukan juga mudah. 10 milyar tidak ada apa-apanya bagi anda bukan? Lagipula, Putri Tiri saya juga sangat cantik. Kulitnya putih, tinggi badannya juga pas dan terlebih, Bianca juga lulusan dari Universitas terbaik di kota ini. Saya rasa, kalian berdua sangat serasi jika menjadi pasangan." ujarnya.
Hingga Bianca ingin sekali merobek mulut wanita itu.
"Tante benar-benar keterlaluan!"
Bianca beranjak dari kursi, berjalan ke arah pintu keluar dengan kekecewaan yang mendalam. Sebab secara tidak langsung, Bu Elina sengaja menjual dirinya supaya semua hutang itu lunas dan Bu Elina juga bisa mendapat imbalan dalam jumlah besar dari pernikahannya nanti.
Berbeda dengan Bianca, Cakra justru sedang bimbang.
Antara ingin menyetujui penawaran itu atau malah menolaknya. Sebab Cakra juga harus memikirkan perasaan Putranya, Malvin.
"Silahkan saja kamu menolak. Tapi para pegawai yang berdemo tidak akan pergi sebelum mereka mendapatkan keinginannya, Bianca. Oh jangan lupa! Kudengar, para supplier juga akan membawa kasus ini ke jalur hukum jika kamu tidak segera mengambil keputusan! Lagipula, usiamu juga sudah legal jika harus mendekam di penjara karena kamu satu-satunya ahli waris keluarga Luvena. Lalu aku? Haha! Aku bisa kabur dan memanipulasi keadaan dengan mengatakan aku dan Mas Justin sudah bercerai jadi semua masalah itu tidak ada hubungannya lagi denganku, mudah sekali bukan?"
Mendengar penuturan Bu Elina, Cakra mengulas senyum di sudut bibirnya.
Sebentar lagi, pikir Cakra.
Wanita arogan yang sempat menamparnya kemarin akan berlutut padanya. Meminta pada Cakra agar mau membantunya lagi.
"Saya rasa, urusan saya di sini sudah selesai. Pak Cakra bisa membaca dulu isi perjanjian itu. Tidak usah buru-buru. Saya tunggu kabar baiknya ..."
Bu Elina beranjak dari kursi, melewati Bianca yang masih berdiri mematung di tempatnya, "Pikirkan baik-baik ucapan Mama— Putriku." ejeknya.
Bianca ingin menangis dan berteriak sekencang mungkin saat menyadari ada 1 orang lagi yang mungkin ikut mentertawakan dirinya sekarang.
Cakra Baswara.
Pria itu menyeringai dengan tatapan remeh. Mengejek kekalahan Bianca saat ini.
"Sesuai dengan ucapanku kemarin ..."
Atensi Cakra beralih pada lembaran kertas putih yang berada di atas meja kerjanya.
"Sampai kapan kamu akan mempertahankan egomu itu? Bersikap sok kuat dan tidak membutuhkan bantuan dariku–"
"Kamu dan Elina sama saja!" sela Bianca.
"Jelas kami berbeda. Aku menawarkan bantuan sementara Ibumu? Dia hanya memikirkan keuntungan dirinya sendiri."
"Bagiku kalian sama saja! Kamu juga memanfaatkan keadaanku, Cakra! Jika berniat membantu, kenapa tidak kamu anggap lunas saja semua hutang Ayahku tanpa syarat, brengsek?"
Bianca benci terlihat lemah.
"Dasar tidak tahu diri. Siapa kamu sampai aku harus melakukan itu? Tidak ada yang gratis di dunia ini, Bianca. Take and give!"
"Kamu–"
"Bianca, Bianca! Lihat dirimu! Kamu menganggap Bu Elina matrealistis lalu kamu sendiri apa, hm?"
Ucapan Cakra barusan berhasil membuat Bianca bungkam.
Tanpa sadar, airmatanya mulai menetes. Tubuh Bianca terduduk di atas lantai. Isak tangis Bianca memenuhi ruangan tersebut.
Dirla yang hendak masuk ke dalam pun mengurungkan niatnya. Ia sudah mendengar perdebatan mereka semenjak tadi.
"Hks! Kenapa ... Kenapa aku harus menderita karena masalah yang disebabkan orang lain, hks!"
Cakra yang tidak terbiasa melihat wanita menangis di hadapannya, mulai sedikit tersentuh.
Meskipun kesal dengan sikap Bianca tapi Cakra masih memiliki hati.
"Ayo bangun!"
Bianca menepis kasar tangan Cakra yang terulur padanya, "Kamu masih di Kantorku jika kamu lupa, Bianca."
"Ayo bangun! Jangan seperti ini! Kalau pegawaiku melihat, mereka bisa salah paham padaku."
"Cakra, apa aku punya pilihan?"
Wajah Bianca mendongak, menatap Cakra yang hanya terdiam. Terpesona dengan kecantikan Bianca dalam jarak sedekat itu.
"Menikah denganku dan semua hutang-hutang Ayahmu akan kuanggap lunas. Aku juga akan membantumu membayar tagihan perusahaan Ayahmu. Hanya itu pilihan yang kamu punya, Bianca."
Suara tangis Bianca semakin kencang bahkan Dirla ikut panik saat mendengar Bianca terisak pilu dari luar.
"Maaf, Pak Cakra. Saya hanya khawatir. Takut sesuatu yang buruk terjadi pada Nona ini."
"Kembali ke Ruanganmu, Dirla. Jangan ikut campur."
"M-maaf, kalau begitu saya permisi, Pak."
Merasa diabaikan, Cakra pun menyentak lengan Bianca lalu mengajaknya duduk di sofa.
Memberikan segelas air putih pada Bianca supaya wanita itu bisa lebih tenang.
"Soal Bu Elina, kamu tidak usah khawatir. Aku juga akan memberinya uang yang diminta. 10 milyar hanya nominal kecil bagiku."
Kemudian Cakra menghubungi Sean agar membereskan semua masalah di perusahaan Luvena.
"Baik, Pak. Ada lagi yang perlu saya urus?"
"Hubungi Elina Chalandra dan katakan padanya untuk datang ke Kantorku sekarang."
Bahkan sampai Cakra selesai menelepon, Bianca masih menangis sesenggukan.
"Diam, Bianca. Aku bukan pria penyabar jika kamu terus bersikap seperti ini."
"AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGANMU, CAKRA! AKU TIDAK MENCINTAIMU, HKS! AKU ... TIDAK BISAKAH KAMU MEMBANTUKU TANPA BERHARAP IMBALAN?"
Cakra memijat pangkal hidungnya. Kepala Cakra terasa pening sekarang.
3 jam berlalu namun pembicaraan mereka masih terus berputar-putar.
"Sudah bagus aku mau membantumu. Menjadi Istriku bukan hal yang buruk, Bianca ..."
"Aku tampan, kaya dan pintar! Apa kur–"
"Aku hanya ingin menikah dengan pria yang kucintai, brengsek!"
Cakra terkekeh pelan, "Kalau begitu, silahkan cari pria yang kamu maksud dalam waktu dekat sebelum para penagih itu melaporkanmu ke polisi."
Dan membuat Bianca tersadar jika tidak ada pilihan lagi selain terpaksa setuju untuk menikah dengan Cakra.
Dasar bajingan!
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!