
Setelah tiba di Rumah, Bianca disambut oleh seorang wanita asing yang berdiri angkuh di depan pintu. Menatap Bianca dengan tatapan tak suka.
Menelisik penampilan Bianca dari atas ke bawah sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Siapa kamu?"
Pertanyaan itu dibalas uluran tangan oleh si wanita, "Aku Haura. Mantan Istri Mas Cakra."
"Oh jadi kamu wanita yang tega meninggalkan Anak dan Suaminya selama bertahun-tahun ..."
Bianca berjalan melewati Haura begitu saja. Tidak merasa cemburu dengan kehadiran Haura sebab ada urusan lain yang jauh lebih penting saat ini.
Sret!
Baru berjalan dua langkah, lengan Bianca ditarik kasar oleh Haura yang tidak diterima mendengar ucapan Bianca padanya.
"Bilang apa kamu barusan?"
Bianca merotasikan kedua matanya, malas. Menanggapi wanita yang tidak ada urusannya sama sekali dengan dirinya.
"Kamu bisu? Aku tanya, kamu bilang apa barusan?"
"Aku tidak suka mengulang ucapanku kedua kalinya, Nyonya Haura ..."
"Lagipula, ada kepentingan apa kamu datang ke Rumahku? Toh, kamu dan Cakra sudah bercerai. Jika Malvin menjadi alasanmu datang ke sini— maaf, aku terpaksa mengatakan kalau kamu sudah terlambat!"
Sengaja.
Bianca menekan kata terakhir agar Haura mengerti jika wanita itu telah meninggalkan luka yang begitu dalam dihati Cakra dan Malvin.
Bahkan semenjak Haura datang, ia baru menyadari jika tidak melihat eksistensi Malvin lagi.
Semua orang di Rumah itu juga tidak menyambutnya dengan baik dan juga melarangnya pergi menemui Malvin di lantai dua kamarnya.
"Baru menjadi Istri Mas Cakra beberapa bulan saja sudah sombong!" decih Haura.
Rasanya ingin sekali ia menjambak rambut Bianca yang sudah sembarangan menilai dirinya.
Meskipun kenyataannya benar begitu.
"Terserah! Aku tidak ada urusan denganmu. Lebih baik kamu cepat pergi sebelum aku sendiri yang mengusirmu keluar ..."
Bianca melihat Bik Karin hendak keluar membawa kantong kresek besar, "Malvin dimana, Bik?" tanya Bianca.
"Mas Malvin ada di Kamarnya, Bu."
Bianca mengangguk paham lalu bergegas menuju ke kamar Malvin. Mengabaikan tatapan sinis Haura yang merasa terancam dengan posisi Bianca yang tampak berpengaruh di Rumah ini karena statusnya sebagai Istri Cakra.
Haura akan menyusun rencana untuk merebut sesuatu yang dulu pernah menjadi miliknya.
Sedangkan Cakra memutuskan pergi ke Kantor karena pusing dengan situasi yang sedang terjadi.
...••••...
Ketukan pintu itu membuat Malvin mendongakkan kepala dengan mata memerah, menahan tangis.
"Malvin, ini Mama Bianca. Tolong buka pintunya, Nak."
Cklek!
Tanpa menunggu lama, pintu kamar itu terbuka.
Bianca melihat barang-barang di Kamar itu berserakan. Pecahan botol parfum berceceran di atas lantai.
Serta Bianca juga melihat luka goresan di punggung tangan Malvin.
Tidak perlu ditanya, Bianca sudah tahu penyebabnya. Ia mencari kotak obat yang ada di laci meja belajar Malvin.
Dengan lembut, Bianca menuangkan cairan alkohol ke kapas lalu membersihkan sisa darah yang mulai mengering.
"Mama juga pernah merasa kecewa ..."
"Kesal dan marah terhadap seseorang yang sudah menyakiti hati Mama ..."
"Tapi Mama tidak pernah menyiksa diri Mama sendiri seperti ini, Malvin."
Selesai membalut luka Malvin menggunakan perban, lantas Bianca beranjak berdiri setelah menyimpan kotak obat di tempat semula.
Kemudian berniat ke Dapur untuk mengambil makanan karena Bik Karin sempat memberitahunya jika Malvin belum makan siang dan meminum obatnya.
Bianca menarik napas panjang sebelum keluar dari kamar tersebut.
Malvin tetap diam dengan tatapan sendu, melihat luka yang baru saja diobati oleh sang Ibu.
Cklek!
Pintu kembali terbuka.
Malvin tidak berpikir jika Bianca kembali secepat itu.
"Sudah cukup menghindarnya, Malvin. Keluar! Mama tunggu kamu dibawah. Ada yang ingin Mama bicarakan denganmu."
Haura.
Wanita itu tidak pernah belajar dari kesalahannya. Selalu berbuat sesuka hati tanpa melihat situasi.
Baru satu langkah berjalan keluar, suara Malvin menginterupsi.
"Mama tidak perlu izin siapa pun untuk menemui Putra Mama, Malvin."
Rasanya Malvin ingin tertawa kencang mendengar ucapan yang keluar dari bibir wanita yang telah tega meninggalkan dirinya dan sang Ayah selama 10 tahun.
"Bagiku, Mama Kandungku sudah mati!"
"Malvin, kamu–"
Tangan Haura sudah melayang ke udara, siap menampar wajah Malvin tapi tangan lain mencengkalnya dari belakang dan langsung menghempaskannya begitu saja.
Membuat Haura semakin marah pada seseorang yang telah berani ikut campur urusannya dengan sang Anak.
"Wanita sialan! Berani sekali kamu ikut campur urusanku!"
"Kenapa harus takut? Kamu memang Ibu Kandungnya tapi kamu tidak berhak menyakiti Putraku lagi, Haura Malvia."
"Putramu katamu?" Haura mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang tampak semakin mengeras.
Sebab Haura merasa jika wanita di depannya ini telah mengibarkan bendera perang.
"Ya. Malvin adalah Putraku. Sejak aku dan Cakra menikah, Malvin sudah kuanggap seperti Putraku sendiri meskipun secara biologis, aku bukan Ibu Kandungnya tapi setidaknya, aku tidak pernah membuat Malvin terluka apalagi sampai merasa trauma ..."
"Tahu apa kamu–"
Bianca mendorong bahu Haura yang hendak maju menamparnya, "Jangan menyela, brengsek! Aku belum selesai bicara."
Menghadapi orang seperti Haura harus dengan sikap yang tegas agar wanita itu sadar posisi jika Haura bukan siapa-siapa di Rumah ini.
"Karena luka yang kamu tinggalkan, Malvin memiliki trust issues terhadap sebuah pernikahan orangtuanya dan menganggap wanita yang dekat dengan Cakra itu sama sepertimu."
Malvin tertegun mendengar semua ucapan Bianca. Terdiam dan membiarkan Bianca kembali berbicara untuk menyadarkan Haura akan kesalahannya di masalalu.
"Awalnya hubungan kami tidak berjalan dengan baik tapi aku mampu menyesuaikan diri dan berusaha memahami pesakitan yang dirasakan Malvin karena kamu. Lalu sekarang, dengan gilanya kamu memaksa Malvin untuk menuruti ucapanmu ... Haura, apa urat malu benar-benar sudah putus, hah?"
Mendengar hal itu, Haura langsung pergi meninggalkan Bianca dan Malvin tanpa sepatah kata.
"Terimakasih sudah membelaku, Ma."
Bianca sedikit bernapas lega. Tadinya ia sempat khawatir Malvin akan kembali bersikap seperti sebelumnya.
"Seorang Ibu akan berusaha mati-matian membela Putranya, Malvin ..."
"Ayo turun ke bawah. Mama sudah minta Bibik untuk menghangatkan makanannya lagi."
Diam.
Malvin tidak mau bertemu dengan Haura di bawah.
"Tenang saja. Mama dengar dari Bibik, Papa tidak mengizinkan Mama Haura tinggal sementara di sini. Jadi dia pasti sudah pergi."
"Benarkah?"
Bianca mengangguk, "Kapan Mama berbohong padamu, hm? Ayo turun! Mama temani kamu makan dan minum obat. Setelah itu kamu bisa istirahat."
"Iya, Ma."
...••••...
Pukul 17.00
Cakra sudah bersiap-siap pulang dan tidak sabar bertemu dengan Bianca untuk menanyakan perihal keputusannya yang menyuruh Ajun menjaga Megan di Rumah Sakit tanpa memberitahunya lebih dulu.
"Mas Cakra, akhirnya kamu pulang juga."
Alis Cakra menukik tajam saat melihat Haura masih di Rumahnya.
"Kenapa kamu masih di sini, Haura? Dimana Malvin?"
Tiba-tiba saja Cakra khawatir dengan kondisi Putranya. Sebab tadi siang Cakra tidak sempat berpamitan pada Malvin setelah bertengkar dengan Bianca dan Haura.
"Tidak tahu. Tanya saja pada Istrimu yang sok itu, Mas."
"Jangan mencari masalah dengan Bianca. Cepat kemasi barang-barangmu sekarang. Aku tidak suka kamu ada di Rumahku!"
Haura menutup kasar majalah fashion ditangannya. Emosi yang sempat mereda, kini kembali tersulut.
Pikirnya tidak adil saat melihat Bianca mendapat perlakuan istimewa dari Cakra dan Malvin.
"Bianca terus yang dibela! Apa bagusnya wanita kurus yang tidak menghasilkan anak itu."
Benar.
3 bulan pernikahan, Bianca tak kunjung hamil padahal Cakra berharap jika Malvin segera memiliki Adik. Itu karena Bianca selalu rutin mengkonsumsi pil pencegah tanpa sepengetahuan Cakra.
Apalagi setelah bercinta, diam-diam Bianca sengaja mengeluarkan kembali cairan ****** itu di kamar mandi.
"Jaga ucapanmu, Haura! Kamu hanya tamu di Rumah ini ..."
Cakra melihat siluet Bianca yang baru saja turun menuju dapur, "Lima menit lagi aku kembali dan kamu sudah harus selesai mengemasi semua barang-barangmu itu, Haura."
Terserah. Kita lihat saja nanti.
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!