
Percakapan mereka berakhir dengan pergulatan panas hingga menjelang pagi.
"Ma, jangan lupa bekal untukku." seru Malvin dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
"Aku juga mau dibuatkan bekal makan siang."
Bianca tak menyahut. Ia menarik kursi lalu makan dengan lahap dan mengabaikan orang-orang disekitarnya.
"Bee–"
"Hm, nanti kubuatkan. Tidak usah bicara lagi. Kita sedang makan, Cakra." tegur Bianca.
Pemandangan itu membuat seseorang yang duduk di hadapannya merasa senang.
Bagus. Kalau bisa kalian bercerai saja. Batin Haura.
"Aku sudah selesai. Mas Cakra dan Malvin mau dibuatkan bekal apa? Biar aku siapkan sekarang." ujar Haura, sambil tersenyum menggoda.
"Uhuk, uhuk."
Malvin tersedak mendengar sang Ibu mengatakan demikian.
"Pelan-pelan, Nak."
"Terimakasih, Ma." Malvin meneguk air putih itu sampai habis, "Masakan Mama Bianca sangat enak. Aku hanya mau bekal yang dibuat Mama Bianca." tegasnya.
Senyum di wajah Haura luntur seketika.
"Kamu boleh kembali ke kamarmu, Ra. Tidak perlu repot menyiapkan apapun karena Istriku yang akan membuatkan bekal itu untuk kami. Iya 'kan, Bee?" kata Cakra, berusaha mengambil hati Bianca yang tampak masih marah padanya.
Namun Bianca justru mengabaikan ucapan Cakra. Ia beranjak berdiri lalu pergi ke Dapur.
"Jaga sikap, Ma. Tolong hargai Mama Bianca sebagai Istri Papa di Rumah ini." tegur Malvin, yang kemudian beranjak pergi untuk mengambil tasnya di Kamar.
Begitu juga dengan Cakra yang menyusul Bianca ke Dapur.
Tidak ada yang berpihak pada Haura sekarang. Hal itu membuat perasaann Haura semakin kesal hingga kedua matanya berkaca-kaca, menahan tangis dan emosi.
Di Dapur, Bianca menata beberapa menu di dua kotak bekal untuk Cakra dan Malvin.
"Eh, Bapak se–"
Cakra membuat gestur agar Bik Karin dan Bik Hana pergi.
Sebuah lengan melingkari perut Bianca, "Maafkan aku, Bee." lirihnya.
Cakra menumpukan dagunya di atas pundak Bianca. Berharap bisa meluluhkan hati sang Istri yang sejak semalam terus mendiami.
Bahkan pasca percintaan panas mereka semalam, tidak membuat Bianca menerima keputusannya yang telah mengizinkan Haura tetap tinggal.
"Aku sudah memaafkan tanpa disuruh .."
"Tapi kamu tetap tidak peka, Cakra. Apa kamu masih mencintai Haura sampai mengizinkan dia tinggal di sini?"
Cakra membalik posisi hingga mereka berdiri saling berhadapan.
"Aku belum yakin tentang perasaanku padamu tapi aku bersumpah bahwa semua yang kulakukan ini demi Malvin ..."
"Aku hanya ingin Malvin menghilangkan kebenciannya pada Ibunya. Sebesar apapun kesalahan Haura di masalalu, Malvin tidak pantas membenci Ibu Kandungnya sendiri, Bianca."
"Tapi kamu tetap salah, Cakra. Kehadiran Haura bisa memicu konflik diantara kita. Malvin juga terlihat tidak nyaman dengannya. Kamu juga tahu itu."
"Bee, sudahlah. Ini masih pagi. Aku tidak ingin bertengkar lagi denganmu setelah apa yang kita lewati kemarin ..."
Cakra mengecup kilat bibir Bianca yang hendak memprotesnya lagi, "Buatkan bekal yang enak. Aku tunggu di luar, okay? Jangan marah-marah terus. Aku tidak mau Istriku jadi keriput."
Cakra sengaja bercanda agar situasi diantara mereka tidak terus-menerus menegang. Cakra mulai menikmati kehidupan pernikahannya yang sekarang.
Hingga kehadiran Haura bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, mengingat Cakra sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi terhadap Mantan Istrinya tersebut.
...•••• ...
Pukul 13.00
Haura kembali berulah dengan memecahkan pot bunga yang ada di halaman belakang.
"Ya ampun! Kenapa anda menendang pot itu, Bu Haura? Kalau sampai Bu Bianca tahu, beliau bisa marah." tegur Bik Karin yang tidak sengaja melihat Haura menendangi satu-persatu deretan pot yang berjejer di depannya.
Taman kecil itu hasil buatan Bianca satu bulan yang lalu. Setiap hari Bianca selalu merawatnya dan berpesan pada semua orang agar tidak menyentuh tanpa izin.
"Oh jadi taman jelek ini buatan wanit itu?"
Brugh!
Brugh!
Haura menyeringai puas saat kembali merusak tanaman lain dengan menjatuhkan pot gantung hingga hancur berkeping.
"Sudah, Bu Haura. Hentikan! Bu Bianca pasti murka melihat tanamannya hancur."
"Aku tidak peduli. Itu memang tujuanku. Menghancurkan wanita itu, haha."
Benar saja.
Byur!
Tiba-tiba dari arah belakang, Bianca mendorong Haura hingga tercebur ke kolam ikan, "Ini tidak seberapa. Lain kali aku bisa membalasmu lebih parah dari ini."
"Arghhh! Bianca, sialan!"
Haura tak menanggapi kemudian berjalan masuk untuk membersihkan bau amis yang mulai tercium
Bianca sialan, pikirnya.
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak bisa mencegah Bu Haura merusak tanaman anda." sesal Bik Karin.
"Bukan salah Bibik. Bantu aku membereskan semua ini."
Bik Karin tertegun, menatap penuh tanya, "Kenapa, Bik?" tanya Bianca.
"Anda tidak marah taman ini dirusak?"
Bukannya meluapkan emosi, Bianca hanya terkekeh. Melihat raut Bik Kari menegang.
"Haha. Jika aku marah, dia pasti akan semakin semangat mengerjaiku, Bik ..."
Bianca mengambil tanaman yang masih layak ditata lagi, "Abaikan benalu seperti dia. Bibik tenang saja, satu benalu sudah berhasil disingkirkan. Hanya tunggu waktunya saja untuk membuat wanita itu pergi dari Rumah ini."
"Iya, Bu. Saya kagum dengan kesabaran anda. Ternyata Bapak tidak salah pilih Istri."
Bianca tersenyum kecil meski hatinya harus menahan kesal atas perbuat Haura yang sudah kelewatan.
...CAKRA...
Bianca
Lihat kelakuan Mantan Istrimu itu ...
Sent pict.
...••••...
Selesai dengan semua pekerjaannya, Cakra bermaksud memeriksa ponselnya yang sejak tadi ia silent.
Ada pesan dari Istrinya.
...WIFE...
Wife
Lihat kelakuan Mantan Istrimu itu ...
Sent pict.
^^^Cakra^^^
^^^Aku sudah menyewa tukang kebun untuk membuatkan taman baru sesuai keinginanmu Bee ...^^^
^^^Cakra^^^
^^^Tidak usah diambil hati, Haura sengaja mencari masalah supaya kamu tidak nyaman^^^
^^^Cakra^^^
^^^Pokoknya abaikan saja!^^^
^^^Cakra^^^
^^^Jangan bertengkar! Akan kuusahakan pulang cepat hari ini^^^
^^^read.^^^
Bianca berdecak kesal dan hanya membaca pesan dari Suaminya tanpa berniat membalas.
Menurutnya sia-sia saja mengadu karena respon Cakra terlihat biasa saja.
"Ya Tuhan kapan ini berakhir." lirih Bianca dengan tatapan sendu saat melihat foto mendiang kedua orangtuanya yang tersimpan di Galeri ponselnya.
Andai waktu bisa diputar kembali, maka Bianca berharap Ayahnya tidak menikahi Bu Elina dan membuatnya terjebak pada pernikahan ini bersama Cakra.
...••••...
Malvin sudah mendengar cerita dari Bik Karin jika Ibunya kembali berulah lagi.
"Eh, Sayang. Kapan kamu pulang? Duduk! Mama buatkan es buah untukmu ya?"
"Tidak perlu. Berhenti mengganggu Mama Bianca, Ma."
Haura mengerutkan kening, "Apa maksudmu, Malvin? Mama tidak mengerti."
"Tsk! Tidak usah pura-pura. Mama 'kan yang sudah merusak taman milik Mama Bia?"
"Kenapa Mama tidak berubah? Aku berusaha menerima Mama di sini tapi bukan berarti Mama bisa bersikap seenaknya ..."
Malvin tampak marah. Ia jelas akan membela Bianca daripada Haura, Ibu Kandungnya.
"Kalau Mama tetap seperti ini, aku akan menyuruh Papa mengusir Mama seperti Nenek Elina kemarin." ancam Malvin setelah itu beranjak pergi menuju halaman belakang.
Sebab seharian ini, Bianca ada di sana. Membereskan kekacauan yang disebabkan oleh Haura.
Bianca lagi, Bianca lagi! Kenapa semua orang begitu membela wanita itu?
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!