
Pukul 14.00
Malvin bersama teman-temannya sedang mengerjakan tugas kelompok sepulang sekolah di Cafe seberang jalan.
Bersama Dean, Julian dan Achava.
"Malvin, mau tambah lagi tidak? Aku mau pesan kentang goreng dan americano lagi." tanya Julian menawari.
"Tidak. Aku sudah kenyang."
"Okay, okay! Satu jam lagi kita pulang ya, Guys! Mataku sudah panas melihat tumpukan buku dan laptop seharian ini."
Malvin terkekeh mendengar keluhan Julian. Padahal sejak tadi pemuda itu hanya sibuk menghabiskan makanannya tanpa membantu mengerjakan tugas mereka.
"Eum, ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Mama barumu, Malv?"
"Kenapa tiba-tiba kamu membahas soal ini?" Malvin balik bertanya pada Achava, si tukang gosip yang sialnya satu kelompok dengannya.
Raut wajah Malvin berubah masam. Begitu pun suasana hatinya menjadi tidak nyaman dan ingin secepatnya mengakhiri kerja kelompok mereka sekarang.
Dean sudah tahu cerita tentang keluarga Malvin pun langsung menyenggol kaki Achava di bawah meja sana agar gadis itu berhenti bicara dan meminta maaf pada Malvin.
"Ahaha, Julian lama sekali ya? Padahal aku sudah hampir mati kehausan." Dean tertawa seperti orang bodoh, berusaha mencairkan suasana ketegangan diantara keduanya.
"Kenapa diam, Cha? Apa urusanmu sampai harus menanyakan soal privasi keluargaku, huh? Kita tidak sedekat yang kamu pikirkan asal tahu saja."
Brak!
Achava memukul meja. Jelas kesal mendengar ucapan Malvin yang terdengar sinis padanya.
Gadis itu hanya bertanya dan ingin mengkonfirmasi gosip yang beredar di Sekolah jika Malvin tidak pernah setuju Ayahnya menikah lagi.
Karena jika berita itu benar, maka Achava memiliki gosip baru yang bisa dibahas bersama teman satu gengnya di Kelas.
"Aku hanya penasaran. Desas-desus yang beredar, kamu dan Mama Tirimu tidak akur." ejeknya lagi.
Brak!
Kali ini bunyi gebrakan meja itu terdengar cukup kencang hingga mengundang atensi pegawai Cafe dan beberapa pengunjung lain memandang ke arah meja ketiganya.
Dean beranjak dari duduk untuk meminta maaf atas keributan yang disebabkan kedua temannya itu hingga membuat pengunjung lain merasa terganggu.
"Teman-teman, sudahlah! Jangan bertengkar lagi."
"Not your business, Achava! Sepertinya aku salah memilihmu sebagai anggota kelompok kita!" desis Malvin, menatap Achava yang hanya mengendikkan bahu.
"Ah! Jadi itu benar ya? Kamu masih trauma karena perceraian orangtuamu dulu sampai kamu tidak ingin Om Cakra menikah lagi. Kasihan sekali!" ucap Achava, membuat Malvin semakin tersulut emosi lalu beranjak pergi meninggalkan keduanya.
"Mulutmu itu! Sampah!" tunjuk Dean tak suka.
"Dasar laki-laki lembek! Baru begitu saja sudah marah-marah. Tidak jelas!"
Dean mendengus kesal lalu berusaha mengejar Malvin yang berjalan sangat cepat sampai Dean harus setengah berlari agar bisa menghampirinya dan mengabaikan Julian yang memanggilnya untuk meminta bantuan.
"Yak! Dean! Bantu aku, hey!"
Julian berdecak pelan saat Dean mengabaikan panggilan itu dan kembali menghampiri Achava yang duduk sendirian untuk menanyakan masalah yang sedang terjadi.
Sebab tadi, Julian sekilas juga melihat siluet Malvin yang berjalan lebih dulu dengan raut marah, disusul Dean yang berlari mengejarnya di belakang.
"Malvin, tunggu!"
Napas Dean tersengal saat berusaha menghentikan Malvin yang hendak menyebrang.
Matanya terbelalak kaget ketika Malvin menyebrang tanpa menekan pelican crossing.
Hingga tidak menyadari jika dari arah kiri ada mobil pick up melaju dengan kecepatan kencang karena kondisi jalanan saat itu lengang.
Ckitttt!!
Brak!
Kecelakaan tidak dapat dihindari. Tubuh Malvin jatuh terpental membentur trotoar.
"MALVIN!"
Kejadian itu membuat orang-orang langsung berdatangan untuk segera menolong pemuda malang itu.
"Malvin!"
"Permisi, permisi! Dia teman saya."
Mata Dean berkaca-kaca melihat kondisi Malvin yang terkapar tak sadarkan diri dengan darah yang keluar dibagian kepalanya.
Sementara sopir pick up sudah diamankan oleh warga di pos keamanan terdekat guna dimintai keterangan lebih lanjut.
Julian mengedarkan pandangan dan terkejut melihat kerumunan orang-orang yang membawa Malvin masuk ke dalam mobil hitam sementara Dean tampak panik menghubungi seseorang.
"Ya Tuhan! Apa yang terjadi pada Malvin, Dean?"
"Dia tertabrak mobil. Aku sedang menghubungi Om Cakra tapi ponselnya sibuk terus. Jul, bagaimana ini? Aku takut Malvin meninggal."
Julian ikut panik melihat situasi tersebut.
"Mas, silahkan ikut kami ke Rumah Sakit. Temanmu mengalami pendarahan dan harus segera ditangani."
Mereka akhirnya berbagi tugas. Julian pergi ke rumah Malvin untuk mengabari orang rumah sementara Dean mengantar Malvin ke Rumah Sakit sebagai penjamin.
...••••...
Cakra terlihat gelisah dan tidak fokus dengan pertemuan hari ini.
Perasaannya tiba-tiba tidak enak karena terus memikirkan Malvin.
Iya. Cakra dan Sean sedang berada di Jakarta karena ada urusan pekerjaan di sana.
Namun diluar ekspektasi, pertemuan itu tak kunjung selesai sampai menjelang siang. Banyak masalah krusial yang perlu dibahas hingga Cakra tidak sempat memeriksa ponselnya.
Cakra tidak merespon. Sebab pikirannya sedang tidak berada di tempatnya.
"Pak Baswara?"
Sean berdehem untuk menarik atensi Cakra, "Sepertinya kita lanjutkan rapat ini setelah makan siang saja, bagaimana?" usul Sean. Karena jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.
Sean terkejut melihat Bosnya bersikap demikian.
Cakra selalu bersikap profesional dalam setiap pekerjaannya tapi kali ini berbeda.
"Okay. Kita lanjut setelah makan siang. Saya juga sudah lapar." kata Pak Anderson, memaklumi.
"Baiklah. Kalau begitu saya dan Sean pamit dulu. Ada hal lain yang harus kami urus juga soalnya."
"It's okay. Kita bertemu 1 jam lagi di tempat ini."
"Baik, Pak."
...••••...
Di sisi lain.
Bianca tampak cemas menunggu proses operasi Malvin yang sedang berlangsung.
"Ya Tuhan, tolong selamatkan, Malvin. Sembuhkan dia, aku mohon."
Bianca tidak dapat menahan tangisnya lagi. Ia berjalan mondar-mandir di depan ruangan tersebut dengan perasaan gelisah dan takut.
Takut Malvin bernasib sama seperti Ayahnya yang tidak bisa melewati masa kritisnya.
"Apa Cakra sudah bisa dihubungi, Bik?" tanya Bianca saat Bik Karin kembali dari kantin, membawa beberapa minuman dan makanan untuk diberikan pada kedua teman Malvin yang tadi mengantarnya.
Saat Julian datang dan memberitahu jika Malvin mengalami kecelakaan, Bianca bergegas menuju rumah sakit dan meminta kedua Asistennya menyiapkan keperluan Malvin.
Bianca juga berulang kali menghubungi Cakra namun nomornya sulit dihubungi.
"Nomor Bapak tidak aktif, Bu."
Dean dan Julian saling melirik sebab mereka memiliki pemikiran yang sama tentang Ibu Tiri Malvin.
Wanita itu terlihat tulus dan begitu mencemaskan keadaan Malvin.
Bahkan sejak tadi, Bianca tidak berhenti merapalkan doa supaya operasi Malvin berjalan dengan lancar.
Dean juga terharu melihat Bianca dengan ikhlas mendonorkan darahnya untuk Malvin tanpa berpikir lama.
Malvin, kamu harus melihat ini! Akhirnya! Kamu bisa merasakan ketulusan dan kasih sayang seorang Ibu yang sesungguhnya seperti impianmu selama ini.
Kamu harus berterimakasih pada Tante Bianca. Dia wanita yang baik.
Dia tulus menyayangimu seperti Putra Kandungnya sendiri, Malvin.
Ditengah kecemasan itu, Dokter keluar dari ruangan dan mengatakan kabar baik jika operasi Malvin berjalan sesuai harapan mereka.
"Pasien akan kami pindahkan ke Ruang Perawatan dulu setelah itu kalian bisa menjenguknya di sana."
Semua orang tersenyum, lega. Mendengar kabar baik itu, Bianca hampir terjatuh lemas jika Bik Karin tidak menahan tubuhnya.
Tuhan mengabulkan doa mereka.
"Iya. Terimakasih, Dokter."
...••••...
Beberapa jam kemudian, perlahan Malvin mulai sadar.
"H-haus." ucapnya dengan suara terbata-bata.
"Haus? Oh, tunggu sebentar. Mama ambilkan sedotan dulu."
Dengan sabar, Bianca membantu Malvin minum.
Bianca sudah memanggil Dokter agar memeriksa kondisi Malvin.
Semua ini berkat doa orang-orang yang menyayangi Malvin hingga ia bisa melewati masa kritisnya dengan cepat.
Malvin kembali terlelap setelah Dokter selesai memeriksanya.
Sementara itu, Bianca mencoba menghubungi Cakra lagi.
"Halo. Maaf, Bee. Rapat sialan itu membuatku sibuk seharian. Aku sudah membaca pesan yang kamu kirim tadi. Bagaimana kondisi Malvin? Apa kata Dokter? Apa operasinya berhasil?"
Bianca tersenyum tanpa Cakra sadari.
"Bianca! Halo? Kenapa diam saja? Tidak ter–"
"Malvin baik-baik saja, Cakra. Operasinya berjalan dengan lancar. Tidak usah khawatir. Dia anak yang kuat."
"Syukurlah. Aku lega mendengar itu. Maaf, sepertinya aku baru bisa pulang lusa."
Ada jeda sebentar sebelum Cakra kembali bersuara.
"Kamu ... Tidak keberatan 'kan menjaga Malvin sendirian? Nanti minta Bik Karin dan Bik Hana untuk bergantian menjaga di Rumah Sakit. Jangan sampai kamu sakit karena kelelahan."
Bianca tersenyum tipis mendengar Cakra tampak mengkhawatirkan dirinya, bukan hanya mencemaskan kondisi Anaknya saja.
"Jangan khawatir. Aku bisa mengatasi semuanya, Cakra. Lebih baik kamu selesaikan pekerjaan di sana. Tidak usah buru-buru."
Tanpa disadari, Malvin mendengar semua percakapan Bianca dengan Ayahnya.
Ternyata Mama Bianca benar-benar tulus menyayangiku.
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!