
Sore menjelang. Rutinitas Bianca selalu sama, menyiram kebun buah yang ada di halaman belakang.
Sejak menikah, Bianca sengaja meminta Cakra untuk mengubah halaman belakangnya menjadi kebun buah karena sejak dulu Bianca senang berkebun.
Brugh!
"Ahk!"
Mendengar suara teriakan itu, Bianca tergopoh mencari sumber suara dan mendapati Malvin terjatuh dipinggir kolam renang.
Sepertinya terpeleset.
"Ya Tuhan! Malvin!"
Bianca ingin membantu tapi kedua tangannya langsung ditepis kasar oleh Malvin.
"Aku bisa sendiri!"
"Ahk! Sial! Kenapa kakiku sakit sekali!?" adu Malvin seraya melihat pergelangan kakinya yang membiru.
Mata Bianca tidak lepas menatap Malvin yang tampak kesakitan saat berusaha bangkit sendiri.
"Biar Mama bantu, Malvin. Kakimu terkilir."
"Kubilang tidak usah ya berarti tidak usah! Jangan memaksa, minggir!"
Ditengah kesakitannya, Malvin tidak sengaja mendorong Bianca hingga tercebur ke dalam kolam.
Byur!
Itu tidak sengaja, Malvin bersumpah!
Sebab posisi mereka sedang berada dipinggir kolam.
Karena ini hari minggu, tentu saja Cakra sedang di rumah. Semenjak menikah lagi, Cakra lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah daripada di kantor.
"Astaga! Bianca!" teriak Cakra.
Karena Cakra melihat semuanya. Interaksi Malvin dan Bianca dari balkon kamar.
Ia sengaja tidak langsung turun ke bawah saat melihat Malvin terpeselet sebab diam-diam ingin mengawasi perubahan sikap Malvin pada Istrinya.
Apa benar-benar sudah berubah atau tidak?
Dan kini, Cakra sudah tahu jawabannya
"T-TOLONG! MALVIN—TOLONG! M-MAMA TIDAK B-BISA BERENANG!"
Iya. Bianca memang tidak berenang.
Hal itu membuat Malvin seketika panik. Awalnya Malvin biasa saja dan tidak merasa bersalah setelah mendorong Bianca namun saat melihat Bianca tidak bisa berenang, barulah Malvin dilana kepanikan yang luar biasa.
"Mama jangan bercanda! Aku tidak bisa membantu. Kakiku sak— MAMA BIANCA!" pekik Malvin ketika tubuh Bianca sudah tenggelam ke dasar.
Hanya menyisakan gelembung-gelembung kecil dipermukaannya. Pertanda jika sudah banyak air yang telah memenuhi pernapasan Bianca.
Byur!
Cakra langsung menyelam ke dalam dan segera berenang ke tepian dengan sebelah tangannya mengalung dileher Bianca.
"Bee, bangun!"
Napas Cakra tersengal. Ia memeriksa denyut nadi Bianca setelah memberikan napas buatan.
"Bianca, bangun! Jangan tinggalkan aku!"
Suara keributan itu mengundang penghuni lain di rumah itu yang berdatangan menghampiri mereka.
Bik Karin baru saja selesai masak. Jarak dapur dan kolam renang lumayan jauh.
Sementara Bik Hana sedang merapikan ruangan lain, tentunya ia tidak bisa mendengar teriakan Bianca.
Lalu Bu Elina?
Kegiatan wanita itu hanya sibuk berfoya-foya menghabiskan uang bulanan dari Cakra. Setiap hari berangkat pagi dan baru pulang saat malam.
"Uhuk, uhuk!"
Bianca terbatuk. Memuntahkan air kolam yang sempat terminum.
Pelukan hangat itu terasa menenangkan. Mata Cakra berkaca-kaca sambil terus membisikkan kata maaf berulang kali pada Istrinya.
"Maafkan aku, Bee. Maaf."
Bianca tidak menjawab. Ia masih terkejut dengan insiden barusan.
"Malvin ... Kaki Malvin terkilir, Cakra."
Mereka terlalu sibuk mencemaskan kondisi Bianca hingga lupa bahwa Malvin juga terluka.
"Bik Karin sudah membopongnya ke kamar. Maaf atas sikap kasar Malvin padamu, Bee. Aku belum bisa membuat Malvin menerimamu sepenuhnya, maaf."
"Mungkin ini sudah nasibku, Cakra. Aku dilahirkan untuk menanggung beban yang ditinggalkan Papa Justin ..."
Bianca berusaha bangkit dari posisinya, namun Cakra dengan sigap membantu, "Kamu tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja. Insiden ini tidak akan membuatku mati dengan cepat menyusul Papa dan Mama."
"Bianca!" bentak Cakra. Karena menurutnya, ucapan Bianca sudah melantur kemana-mana.
Bianca hanya terkekeh, tapi kedua sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Seolah ucapannya itu seperti sebuah lelucon.
"Berhenti bicara omong kosong. Kamu tidak pernah berhutang apapun padaku! Kamu Istriku! Jelas aku akan membantu Istriku saat dia kesulitan."
Cakra tidak ingin melanjutkan perdebatan mereka lagi. Lalu menggendong bridal tubuh Istrinya menuju kamar.
Bianca juga tidak memprotes. Tubuhnya masih terasa lemas karena terlalu banyak bergerak naik ke permukaan sehingga kini tenaganya benar-benar terkuras habis.
...••••...
"Sakit, sakit!"
Kesekian kalinya Malvin mengeluh kesakitan saat tukang pijat mengurut kakinya yang mulai terlihat membengkak.
"Kakinya sudah tidak apa-apa. 3 hari lagi akan sembuh. Tolong jangan banyak melakukan aktifitas dulu supaya bengkaknya cepat hilang." kata tukang pijat itu.
"Iya, Mbak. Terimakasih. Mari saya antar ke depan."
Saat keluar, mereka berpas-pasan dengan Cakra.
"Mas Malvin sedang istirahat, Pak."
"Hm. Saya hanya ingin melihat kondisinya saja."
Mendengar suara Ayahnya diluar, Malvin berpura-pura tidur supaya tidak dimarahi atas insiden tadi.
"Papa tahu kamu hanya pura-pura tidur. Bangun! Kita perlu bicara, Malvin."
Tidak ada pergerakan.
Malvin memainkan perannya dengan baik dan mengabaikan Ayahnya yang mulai kesal dengan sikapnya tersebut.
"Okay! Mulai besok, Papa akan cabut semua fasilitasmu. Saat sekolah, kamu hanya akan memakan bekal makanan yang dibuat dari rumah dan–"
"Papa tidak adil!"
Malvin mendudukkan diri dengan kesulitan. Melihat hal itu, Cakra langsung membantunya karena ia tidak mungkin tega melihat Anaknya kesusahan.
"Tindakan yang kamu lakukan pada Mama Bianca itu sudah keterlaluan, Malvin! Papa tidak suka!"
"Aku tidak sengaja, Pa." lirih Malvin.
Wajahnya tertunduk. Sebab dalam hati, Malvin juga merasa bersalah ketika melihat Bianca berusaha meminta tolong namun tidak ada yang bisa dilakukan dengan kondisi kakinya yang terkilir.
"Jelas sekali kamu mendorong Mama Bianca ke kolam, Malvin. Itu yang kamu bilang tidak sengaja?"
Malvin mendongak. Tidak suka jika sang Ayah terus menuduh padahal ia sudah menjelaskan yang sebenarnya.
"Aku serius! Itu tidak sengaja. Kenapa Papa tidak percaya padaku?"
"Karena Papa melihat semuanya. Mama Bia hanya ingin membantumu tapi kamu justru menepis tangannya dan membuat Mama Bia terjatuh ke kolam ..."
Cakra mulai beranjak dari duduk. Menatap kecewa atas sikap Malvin pada Bianca yang semakin keterlaluan, "Papa harap, insiden itu bisa membuatmu merenung bahwa kesalahanmu cukup fatal. Meskipun Papa sudah menikah lagi, rasa sayang Papa padamu tidak pernah berubah! Kamu tetap menjadi prioritas utama dihidup Papa. Ketakutanmu hanya akan membuat orang lain terluka, Malvin."
"Jadi menurutmu Papa, traumaku atas perceraian Papa dan Mama dulu tidak ada artinya?"
Kini giliran Malvin yang tampak kecewa dengan ucapan Ayahnya barusan. Seolah ketakutan yang dirasakan Malvin selama ini bukan sesuatu yang serius, yang harus dibesar-besarkan.
"Kamu tahu bukan itu maksud Papa, Malvin."
"Tapi Papa seolah benar-benar mengatakan itu." lirihnya dengan wajah tertunduk sebab kini Malvin berusaha agar tidak menangis.
"Lusa Papa akan mengantarmu ke Psikiater."
Malvin menatap Ayahnya dengan perasaan kecewa, "Papa pikir aku gila?"
"Papa tidak pernah beranggapan seperti itu. Papa hanya ingin kamu melupakan rasa sakitmu di masalalu dan mencoba berdamai dengan keadaan sekarang, Malvin."
Cakra memeluk Anaknya sebentar sebelum pergi, "Tidak semua wanita itu jahat seperti Mama Haura, Nak."
...••••...
Bianca duduk melamun di kebun belakang sendirian.
Kondisinya sudah lebih baik.
Hanya saja rasa lemas itu masih ada.
Airmatanya tiba-tiba menetes. Bianca langsung mengusapnya sebab tidak ingin ada yang melihat.
Kupikir setelah menikah, hidupku akan sedikit lebih baik ...
Tapi justru ini yang kudapatkan.
Jika tidak ingat dosa, rasanya Bianca ingin menyusul kedua orangtuanya saja di Surga. Sebab tidak ada gunanya Bianca hidup jika dikelilingi oleh orang-orang yang terus menyakitinya.
"Kasihan sekali Bu Bianca." gumam seseorang yang semenjak tadi memperhatikan Bianca dari kejauhan.
Ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh wanita itu.
"Aku harus membantunya lagi. Kali ini tidak boleh gagal." katanya, sebelum pergi dari tempat itu.
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!