Love Story Of Bianca Luvena

Love Story Of Bianca Luvena
HARI ITU



Hari pernikahan Cakra dan Bianca.


Sesuai janji Cakra, pesta pun digelar sangat sederhana.


Hanya ada keluarga inti dan saksi tetangga sekitar yang datang. Bahkan Cakra hanya mengundang beberapa rekan bisnisnya saja untuk menghadiri upacara pernikahan itu.


"Aku lelah."


Bianca mengeluh sakit pinggang. Padahal gaun yang dipakai tidak seberat gaun pengantin pilihan Bu Elina.


"Ya sudah. Kuantar ke kamar."


Cakra hendak melingkarkan lengannya di pinggang Bianca tapi belum sempat menyentuh, Bianca sudah menepisnya lebih dulu.


"Aku dengan Bik Hana saja."


Cakra menghela napas kecil. Tidak ada yang tahu jika sebenarnya pernikahan mereka tidak didasari rasa saling suka.


Hanya Bu Elina dan Bik Hana yang mengetahui masalah ini.


Serta hutang sebesar 40 milyar Pak Justin pada Zero Bank yang telah dianggap lunas oleh Cakra.


"Maaf, Pak. Bu Bianca sakit?" tanya Bik Karin, yang semenjak tadi memperhatikan mereka.


Hingga Cakra terkejut dan menjadi salah tingkah. Sebab takut jika Malvin mengetahui masalah hutang-piutang itu dari Bik Karin.


"Dia kelelahan. Tolong wakili saya untuk menemui para tamu, Bik. Sekalian temani Malvin juga."


"Sejak tadi Mas Malvin tidak keluar kamar lagi setelah acara ijab qobul, Pak."


"Ya Tuhan! Anak itu! Ya sudah, biarkan saja. Mungkin dia ingin sendiri. Bibik dan yang lain tetap di sini ya? Saya mau menemani Bianca dulu."


"Baik, Pak."


Setelah itu Cakra mempercepat langkahnya menuju kamar utama namun ditengah perjalanan, ia melihat Malvin duduk ditepi kolam ikan sambil melamun.


"Hai, jagoannya Papa!"


Malvin memaksakan diri untuk tersenyum, "Selamat atas pernikahan kalian."


"Malvin, kemari!"


Cakra merentangkan kedua tangannya. Memeluk tubuh Anaknya yang mulai beranjak dewasa.


Bahkan tinggi keduanya hampir sama, "Papa berharap, setelah ini kita semua selalu hidup bahagia."


"Jika Papa bahagia, aku juga akan ikut bahagia." jawabnya singkat.


Mereka saling memeluk dengan usapan lembut dipunggung.


Pemandangan mengharukan itu tidak sengaja dilihat oleh Bianca melalui balkon kamar utama yang menghadap ke arah halaman belakang.


...••••...


Satu bulan pernikahan mereka tidak ada yang berubah. Keadaan masih sama dan semakin terasa canggung bagi Bianca.


Belum lagi Bu Elina yang bersikap bossy pada seluruh pegawai Zero Four saat dirinya melakukan kunjungan kerja. Bersikap layaknya pemilik perusahaan yang sedang melakukan sidak.


Huek, huek!


Bianca menundukkan kepalanya sambil terus memuntahkan semua isi perutnya. Dua hari belakangan ini, perutnya terasa mual sekali.


Prang!


Bantingan sendok yang beradu dengan piring mengundang seluruh penghuni rumah berkumpul di ruang makan.


"Malvin! Ada apa?" tanya Cakra, yang baru saja turun dengan mata setengah mengantuk.


Disusul Bu Elina yang kebetulan kamarnya berada di bawah.


Serta Bik Karin dan Bik Hana yang baru selesai bersih-bersih dan berbelanja di tukang sayur depan.


"Ada apa, Mas Malvin?"


"Tanyakan saja pada Istri Papa itu!" ujar Malvin saat melihat Bianca yang berjalan menghampiri mereka yang kini menatapnya khawatir.


"Bee, kamu sakit? Kenapa wajahmu pucat sekali? Ayo duduk dulu."


"Perutku mual. Maaf! Aku baru saja muntah. Mungkin Malvin jijik mendengarku muntah-muntah di westafel dapur." lirihnya.


Kemudian pergi ke kamarnya lagi guna menetralkan emosi sebab sarapan paginya harus terhenti setelah mendengar suara muntahan Bianca di dapur yang berdekatan dengan ruang makan.


"Jangan diambil hati ya? Aku yakin Malvin hanya sedang tidak mood saja pagi ini."


Bianca tak menjawab. Kepalanya berdenyut pusing dan tubuhnya benar-benar terasa lemas. Jika saja Cakra tidak memeganginya, mungkin Bianca akan terjatuh.


"Kalau begitu biar saya buatkan teh hangat untuk Bu Bianca." ucap Bik Hana.


"Saya juga akan masak bubur. Apa perlu saya hubungi Dokter Samuel, Pak?" tanya Bik Karin, karena yang paling lama bekerja di rumah ini. Jadi Bik Karin lebih cepat tanggap soal keadaan darurat.


Bik Karin juga menyayangkan sikap Malvin yang dianggap kurang sopan. Mengingat satu bulan ini, hubungan Bianca dan Malvin tak kunjung mencair juga pasca Bianca resmi menjadi Ibu Tirinya.


Lalu Bu Elina?


Wanita pergi begitu saja setelah orang-orang tadi mengerjakan tugas masing-masing.


Kembali masuk ke kamar dan menyelami dunia mimpi yang tertunda dan akan bangun saat matahari sudah naik.


Entah kehidupannya yang sekarang bak seorang Ratu. Segala fasilitas yang diinginkan ada di rumah ini.


Dan lagi, Cakra juga tidak keberatan jika Bu Elina meminta jatah uang bulanan padanya. Padahal diawal pernikahan, Cakra sudah memberikan wanita itu sejumlah uang sesuai perjanjian dan Bu Elina bilang jika uang itu habis ditipu oleh investasi bodong yang direkomendasikan oleh salah satu teman arisannya.


Gila sekali bukan!


...••••...


Bianca sudah diperiksa oleh Dokter dan diberi resep juga.


Awalnya Cakra sempat berpikir jika Istrinya hamil mengingat satu minggu setelah menikah, keduanya melakukan hubungan intim.


Itu pun harus dengan paksaan sampai akhirnya Bianca mau melayani Cakra.


"Anda tidak perlu khawatir, Pak. Bu Bianca hanya perlu istirahat yang cukup dan jangan biarkan dia banyak pikiran dulu."


Kata-kata Dokter Samuel membuat Cakra menatap iba pada tubuh kurus Istrinya yang terbaring lemah di atas kasur.


"Pergi. Aku akan makan jika aku ingin." kata Bianca, menatap ke arah lain, kemana pun asal tidak bersitatap dengan mata Cakra.


Perlahan Cakra mulai mendekat. Jemari besar itu terulur menyelipkan rambut Bianca yang menutupi wajah ke belakang telinga.


"Kamu harus makan. Aku perhatikan, sejak kita menikah kamu kehilangan banyak berat badanmu, Bee ..."


"Jangan seperti ini. Semua orang mengkhawatirkanmu." lanjutnya.


"Kecuali Malvin." sela Bianca.


Berusaha bangun lalu menyandarkan punggungnya di headboard.


"Sudah kubilang padamu ... Seiring berjalannya waktu, Malvin pasti akan menerimamu sebagai Ibunya. Dia hanya perlu menyembuhkan luka di hatinya, Bee."


"Sampai kapan? Apa aku harus mati dulu baru dia bisa berubah, huh?"


Bianca menyeka airmata yang mulai turun membasahi pipi. Tidak ingin dianggap lemah oleh Suaminya.


"Sejak kita resmi menikah, sejak itu juga aku merasa bahwa hidupku semakin menderita ..."


"Semua fasilitas yang kamu berikan tidak sebanding dengan batinku yang tersiksa setiap hari. Melihatmu sebagai Suamiku; pria yang tidak kucintai. Dan menghadapi Malvin yang masih menolak kehadiranku! Semua itu membuatku terbebani, Cakra!"


"Aku pernah menawarkanmu untuk mencicil seluruh hutang Papa tapi apa? Kamu menolaknya! Aku tahu, kamu menikahiku hanya karena hutang dan rasa kasihan saja! Tidak benar-benar cin— eumph!"


Cakra muak mendengar celotehan Bianca yang terus menyudutkan dirinya.


Menganggap bahwa pernikahan mereka hanya sebuah permainan.


Benar.


Awalnya seperti itu tapi hati manusia siapa yang tahu jika bukan dirinya sendiri dan Tuhan?


Semua orang bisa berubah, termasuk urusan hati.


Mungkin Cakra belum menyadari benih-benih cinta yang mulai tumbuh dihatinya karena Cakra masih denial namun Cakra tidak sejahat itu menjadikan sebuah pernikahan sebagai candaan. Apalagi Bianca sudah menjalankan perannya sebagai Istrinya sekaligus menjadi Ibu yang baik bagi Malvin.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!