
Menjadi Presiden Direktur sebuah perusahaan besar tidak semudah yang dibayangkan orang-orang.
Banyak yang beranggapan, bahwa seorang Bos hanya perlu duduk manis di tempat dan uang tetap akan mengalir ke dalam rekening.
Itu benar.
Tapi Cakra Baswara bukan tipikal Bos yang suka berdiam diri. Jika pekerjaan di Kantor sudah selesai, maka Cakra akan melakukan sidak atau mendatangi lapangan langsung untuk melihat kinerja para pekerja lapangan dalam menjalankan job desk masing-masing.
"Sus, tolong beri saya waktu lagi. Lusa saya janji akan membayar sisa tagihan administrasinya, saya mohon."
"Tidak bisa, Kak. Kemarin pihak Rumah Sakit sudah memberi anda dispensasi waktu dan hari ini, anda harus membayar sisa tagihannya."
Bianca merapatkan kedua tangannya di depan dada sambil terus memohon supaya mereka mau memberi waktu 1 hari lagi untuk mendapatkan uang tersebut.
Sejak kemarin, Bianca sudah mencoba menghubungi Bu Elina tapi panggilan itu selalu ditolak dan sekarang nomor Bu Elina justru tidak aktif.
Bu Elina belum mengetahui kabar kematian Pak Justin karena wanita itu tidak pulang ke rumah semenjak Pak Justin sakit.
"Uang 200 juta itu banyak sekali. Beri saya waktu sampai besok lusa, saya mohon."
Namun petugas itu hanya menggelengkan kepala dan mengabaikan Bianca yang sudah berkaca-kaca hingga membuat pengunjung lain merasa kasihan pada Bianca.
"Ada apa ini?"
"Presdir-"
Mereka terkejut saat melihat kedatangan pemilik Rumah Sakit yang selalu berkunjung di waktu tertentu.
Apalagi timing kali ini tidak tepat bagi kedua pegawai tadi.
Bianca memperhatikan pria di sebelahnya dengan seksama.
"Ada masalah apa?" tanyanya lagi saat tidak mendapat jawaban dari mereka.
"Dia tidak bisa membayar sisa tagihan Rumah Sakit Ayahnya, Pak. Kami sudah memberikan keringanan dengan mengizinkan jenazah Ayahnya dibawa pulang untuk dimakamkan dan hari ini sudah waktunya untuk pelunasan, Pak."
"Benar begitu?"
Cakra— bertanya pada Bianca yang hanya tertunduk sedih. Berusaha agar tidak menangis di tempat umum.
Dunia sempit sekali.
"Masukkan tagihan itu ke pengeluaran perusahaan. Biar perusahaan yang membayar sisanya–"
"Tapi Pak ..."
Bianca tidak menyangka dengan kebaikan hati pria asing itu, "Ini perintah! Dan kamu, bisa kita bicara sebentar?"
"Eh? I-iya. Bisa."
Jantung Bianca berdebar kencang saat mengikuti Cakra menuju rooftop.
Debaran itu bukan debaran cinta pada pandangan pertama melainkan takut jika pria bernama Cakra akan berbuat macam-macam padanya di tempat sepi.
Hanya ada mereka di sana.
"Bianca Luvena."
Kening Bianca mengkerut, penuh tanya, "Anda mengenalku?"
"Tadi pagi ada seorang wanita bernama Elina yang datang menemuiku. Dia bilang, ingin menjodohkan Putri Tirinya untuk melunasi semua hutang atas nama Justin Luvena."
Tatapan sendu Bianca berubah menjadi kilatan emosi yang tertahan.
Ada kesedihan yang terselip pada sepasang mata indah itu dan Cakra menyadarinya.
Bagaimana pun, Bianca masih berduka atas kematian Ayahnya. Melihat itu, Cakra menjadi kasihan melihat kehidupan wanita itu yang sebatang kara.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu secepat di sini." ucap Cakra.
Matanya terpesona melihat kecantikan alami yang dimiliki oleh Bianca.
"Lalu apa jawaban anda Pak–"
"Cakra Baswara. Kamu bisa memanggilku Cakra."
Cakra Baswara?
Cakra?
Jadi, dia orang yang dimaksud!
"Apa jawaban yang anda berikan pada wanita itu?" tanya Bianca tak sabaran.
Cakra terdiam.
Tatapan Bianca begitu frustasi merasakan segala kepahitan yang terjadi dalam hidupnya pasca kematian Ayahnya dengan banyak hutang yang harus dilunasi.
"Apa dia menjualku padamu, hah? Katakan!" bentak Bianca yang mulai hilang kesabaran saat Cakra hanya terdiam mematung.
Kedua tangan Bianca mencengkeram kemeja putih yang dikenakan Cakra. Hingga meninggalkan bekas lipatan kusut pada kemeja pria itu.
"KENAPA HARUS AKU YANG MENANGGUNG SEMUA BEBAN INI, HKS! KENAPA?"
"Dia menawariku untuk menikah denganmu, Bianca. Maaf, aku harus mengatakan ini tapi aku tersinggung mendengar pertanyaanmu sebelumnya ..."
"Seolah kita sedang membicarakan bisnis perdagangan manusia, padahal faktanya tidak begitu." jawab Cakra santai seraya melepaskan cengkeraman kedua tangan Bianca.
Cakra menatap ke arah jalanan sekilas. Udara panasnya terasa menyengat dikulit. Apalagi keduanya juga melewatkan jam makan siang masing-masing.
"Menyedihkan! Aku tidak tahu siapa dan seperti apa keluargamu tapi jika kamu mau, aku bisa mempertimbangkan penawaran Ibumu. Aku akan men–"
Plak!
"Dengan seluruh penampilanmu yang mewah ini, aku yakin ... Kamu adalah orang yang berpendidikan tinggi tapi kenapa pemikiranmu sempit sekali? Memanfaatkan kesusahan orang lain demi kepentingan dirimu sendiri, Pak Cakra Baswara yang terhormat!"
Alih-alih marah, Cakra justru tersenyum tipis dan menatap Bianca dari atas ke bawah dengan tatapan remeh.
Seolah memberi penilaian buruk pada wanita arogan yang telah menamparnya dirinya.
Bahkan jika Bianca lupa, Cakra sudah membantunya membayar seluruh tagihan rumah sakit tanpa jaminan apapun.
"Kamu pasti akan menyesali ucapanmu itu, Nona Luvena. Kamu pasti akan butuh bantuanku! Memohon dan bahkan sampai datang merangkak padaku supaya aku mau menolongmu lagi. Dan jika nanti itu terjadi, maka ..."
Cakra berjalan mendekat dan membuat Bianca reflek memundurkan langkahnya hingga punggung sempit Bianca menabrak pagar beton di belakang sana.
Sial, posisi mereka tampak ambigu.
"Maka aku adalah orang pertama yang tertawa paling keras melihatmu melakukan itu, ingat baik-baik!" ancam Cakra, kemudian pergi meninggalkan Bianca yang sudah mengepalkan kedua tangannya di masing-masing sisi.
"SAMPAI MATI PUN, AKU TIDAK SUDI MEMINTA BANTUAN PRIA BRENGSEK SEPERTIMU, AKU BERSUMPAH!" teriaknya.
Namun sayang, Cakra sudah menghilang dibalik pintu tersebut.
Menyisakan hembusan angin yang menjadi saksi atas sumpah serapah Bianca pada Cakra yang bisa saja berbalik arah.
...••••...
Pukul 19.00.
Cakra dan Putranya, Malvin Baswara, sedang menikmati makan malam bersama seperti kebiasaan mereka jika Cakra tidak lembur bekerja.
"Malvin, setelah ini Papa tunggu di Ruang Kerja Papa ya."
Malvin yang berubah menjadi pendiam sejak perceraian kedua orangtuanya, hanya mengangguk pelan.
Jika Cakra sudah meminta Malvin datang ke Ruang Kerjanya, itu berarti ada hal serius yang ingin dibahas.
Dan Malvin berharap, semoga sesuatu yang akan dibicarakan tidak mempengaruhi kehidupan Malvin yang mulai membaik.
Atau remaja 15 tahun itu akan kembali terpuruk lagi saat Malvin kehilangan figur seorang Ibu di hidupnya, seperti dulu.
"Kenapa Papa memanggilku?"
"Duduk, Malvin."
Cakra menepuk sofa kosong yang ada di sebelahnya.
"Menurutmu, bagaimana soal Mama baru?"
Lama Malvin terdiam, hingga Cakra menganggap jika Putranya tidak menyukai topic semacam ini.
"Papa mau menikah lagi?" Malvin balik bertanya.
Sebab selama ini, keduanya memang tidak pernah membahas masalah ini.
Perceraian Cakra dan Haura dulu meninggalkan luka yang begitu membekas di hati Malvin.
Rasanya sulit bagi Malvin menggambarkan figur seorang Ibu yang baik.
Meskipun saat itu Malvin masih berusia 5 namun Malvin cukup pandai untuk memahami maksud dari perceraian kedua orangtuanya.
Bercerai itu berarti mereka harus berpisah. Tinggal di tempat yang berbeda.
Malvin sering mendengar itu dari cerita teman-temannya di Sekolah yang mengalami broken home.
"Papa belum bisa memutuskan itu tapi Papa minta pendapatmu, Malv."
"Ada pernikahan berarti ada luka baru yang akan Malvin rasakan lagi, Pa." lirihnya.
"Bukan begitu, Nak."
"Apa hidup berdua saja denganku tidak cukup bagi Papa? Kehadiran Papa di hidupku sudah lebih dari cukup. Aku tidak butuh Mama baru. Ada Bik Karin yang selalu mengurus keperluanku setiap hari, Pa."
Entah belajar dari siapa, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut bocah laki-laki yang mulai beranjak remaja tersebut.
Masalah rumah tangga yang terjadi antara Cakra dan Haura, membuat Malvin dipaksa untuk berpikir dewasa oleh keadaan sebelum waktunya.
Cakra menyesal karena dulu menyetujui begitu saja permintaan Haura yang ingin berpisah dan membuat Malvin menjadi korban keegoisan mereka.
Menyimpan lukanya sendiri yang entah sampai kapan, luka itu bisa sembuh.
"Papa tidak bermaksud membuka luka lama di hatimu tapi Papa juga tidak mau, kamu menyimpan dendam. Bagaimana pun, Mama Haura itu Mama Kandung kamu dan Mama yang sudah melahirkan kamu–"
"Cukup! Peran Mama hanya sebatas itu, Pa! Selebihnya, Mama Haura hanya orang asing bagiku."
"Malvin–"
Helaan napas kasar terdengar dari bibir yang paling tua. Cakra menarik Malvin ke dalam pelukannya.
Tidak mudah bagi Cakra untuk membuat Malvin mengerti bahwa Cakra juga membutuhkan seorang pendamping hidup yang bisa menemaninya kelak saat Malvin sudah semakin tumbuh menjadi pria dewasa.
Selama ini, Cakra berperan ganda; menjadi Ayah sekaligus Ibu bagi Malvin.
Dan cukup sulit bagi Cakra untuk menjalani dua peran secara bersamaan. Belum lagi, Cakra juga sibuk dengan pekerjaannya.
Itu sangat melelahkan.
"Kamu hanya perlu waktu untuk menyembuhkan luka itu, Sayang."
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!