
Bianca pergi ke Rumah Sakit ditemani oleh Malvin dan berharap ia mendapatkan bukti untuk membantah tuduhan perselingkuhan kemarin.
Sebab sampai detik ini, Cakra masih mendiaminya dan enggan bertatap muka dengan Bianca.
Pria itu akan pulang saat Bianca sudah tidur dan berangkat ke kantor pagi-pagi sekali.
Terdengar kekanakan dan aneh, menurut Bianca.
Hal itu cukup mengganggu. Mengingat keduanya tinggal satu rumah, rasanya tidak nyaman jika terus-menerus saling menghindar tanpa mencari jalan keluar dari masalah yang sedang terjadi.
"Coba diperiksa lagi, Pak. Siapa tahu cctv-nya sedang eror dan butuh diperbaiki dulu."
"Maaf, Bu. Tidak ada rekaman di lorong lantai tiga. Kemarin Dokter Megan juga meminta rekaman tersebut tapi seseorang telah menghapusnya tanpa sepengetahuan kami. Jadi saya tidak bisa membantu apa-apa."
"Bagaimana bisa kalian membiarkan orang luar masuk sembarangan ke tempat vital yang ada di Rumah Sakit ini?" Bianca menyalak, menatap tajam pada kedua staff itu, "Sekarang antarkan aku ke ruangan pimpinan kalian!"
Keduanya langsung panik dan saling melirik satu sama lain.
Mereka tahu siapa Bianca dan Malvin. Meskipun acara pernikahan Bianca dan Cakra diadakan sangat sederhana, namun berita pernikahan mereka telah tersebar di kota tersebut.
Tidak heran jika mereka ketakutan sekarang.
"Tunggu apalagi? Ayo antarkan aku ke sana."
"T-tolong jangan laporkan masalah ini, Bu. Kami minta maaf." ucap salah satu dari mereka.
"Kalian sudah melanggar SOP yang ada. Bagaimana bisa ruang cctv ditinggal begitu saja tanpa ada pengawasan dari staff pengganti?"
"Kalian berdua layak diberi sanksi su–"
"Cukup, Ma. Tidak perlu sampai mengancam. Aku yakin, mereka tidak sengaja melakukan itu dan membiarkan orang lain masuk begitu saja." sela Malvin.
Ia merasa kasihan melihat kedua staff itu tampak ketakutan setelah sang Ibu mengancam akan melaporkan masalah ini pada pimpinan mereka.
"Mama hanya ingin membuktikan bahwa tuduhan Papamu itu tidak benar, Malvin. Mama tidak pernah selingkuh dengan Dokter Megan."
"Ya, aku percaya Mama tidak mungkin melakukan itu. Kita cari cara lain ..."
Kemudian Malvin mengajak sang Ibu duduk di taman guna menenangkan pikiran. Ia juga meminta maaf pada dua staff tadi atas sikap Ibunya barusan.
"Cctv telah dihapus ... Kemungkinan kejadian itu sudah direncanakan oleh seseorang." kata Malvin.
"Hm. Andai Papamu juga berpikir hal yang sama dengan kita."
"Coba Mama ingat-ingat lagi. Apa Mama pernah membuat masalah dengan seseorang atau Mama punya musuh diluar sana? Bisa saja ini ulah seseorang yang tidak menyukai Mama."
Bianca terdiam sejenak. Memikirkan ucapan Malvin.
Sejak Pak Justin meninggal hingga lulus kuliah, Bianca sudah jarang berkumpul bersama teman-temannya lagi. Hanya sesekali bertukar kabar melalui pesan singkat.
"Sejak Mama menikah dengan Papamu, Mama jarang keluar rumah. Kecuali— ah! Sepertinya Mama tahu siapa yang melakukan ini, Malvin."
Kedua alis Malvin saling menukik ke depan, penasaran.
"Siapa, Ma?"
"Mama tidak bisa memberitahumu sekarang karena belum ada bukti yang kuat. Lebih baik kamu pulang dulu saja ya! Mama ada urusan di tempat lain ..."
Bianca segera menghubungi Ajun untuk menjemput Malvin, "Om Ajun dalam perjalanan. Doakan Mama supaya masalah ini cepat selesai. Kamu percaya Mama 'kan, Malvin?"
Bianca menatap si anak penuh harap. Setidaknya ia merasa sedikit lega jika ada seseorang yang mau berada dipihaknya sekarang.
"Aku selalu percaya jika Mama adalah wanita yang baik dan tidak mungkin tega berselingkuh dibelakang Papa."
Meskipun aku tahu, pernikahan kalian tidak berdasarkan cinta. batin Malvin.
Bianca terharu, tentu saja.
Ia memeluk Malvin sebelum akhirnya Ajun datang menghampiri mereka.
"Hati-hati dijalan. Titip Malvin ya, Jun. Pelan-pelan saja menyetirnya."
"Siap, Bu."
"Mama yakin tidak mau kutemani saja?" tanya Malvin sekali lagi.
Ia hanya tidak ingin sang Ibu kembali mendapat masalah yang sama. Setidaknya hanya untuk berjaga-jaga saja.
Namun Bianca juga tidak ingin melibatkan Anaknya ke dalam urusan orang dewasa.
Bianca menggeleng pelan seraya mengusap pucuk kepala Malvin, "Kamu harus banyak istirahat. Mama bisa mengatasi ini sendiri."
"Ya sudah. Mama juga hati-hati. Jika butuh sesuatu, kabari saja. Kadang Papa memang begitu, Ma. Umur saja yang tua tapi tingkahnya masih kekanakan, seperti anak kecil, hihihi." canda Malvin.
"Agree! Mama juga merasa begitu."
"Ma, apapun yang terjadi ... Tolong jangan pernah meminta cerai dari Papa ya? Aku juga akan berusaha membujuk Papa supaya tidak marah lagi." ucap Malvin dengan tatapan sendu.
Membuat Bianca tidak tega lalu memeluknya sekali lagi.
"Kami tidak akan berpisah hanya karena masalah seperti ini, Mama janji."
"Terimakasih, Ma."
"Sama-sama, Sayang."
...••••...
Semenjak tadi Cakra tidak berhenti memarahi para staff kantor saat mereka melakukan kesalahan kecil.
Bayangan kejadian kemarin membuat Cakra kesulitan mengontrol emosinya saat di Kantor.
"Pak, ini desain cincin yang telah disetujui oleh Pak Anderson untuk pameran yang akan datang ..."
Dirla menunjukkan beberapa gambar supaya Cakra bisa memilih desain yang akan dipasarkan melalui majalah fashion edisi yang akan datang.
"Kami sengaja memilih Aquamarine blue sesuai dengan tema yang diinginkan; keberanian dan kesehatan."
"Bukankah tahun lalu kita sudah memakainya? Ganti! Saya tidak suka dengan batu biru itu."
"Maaf Pak, tapi Pak Anderson–"
"Kamu tidak dengar? Saya tidak suka, Dirla! Kamu hanya perlu memberi Pak Anderson opsi lain. Mudah 'kan?"
Cakra beranjak dari kursi. Mengancingkan kembali jasnya yang terlepas, "Tolong kamu handle pekerjaan hari ini. Saya ada urusan lain diluar kantor."
"Baik, Pak."
Dirla hanya bisa mengelus dada setelah Cakra pergi.
Dalam hati mendumal karena Cakra tidak biasanya bersikap demikian.
Bahkan staff divisi keuangan tidak berani menemui Cakra secara langsung di Ruangannya dan hanya melapor melalui sambungan telepon.
...••••...
Bianca mendatangi restauran langganan Bu Elina yang sering didatangi bersama teman-temannya.
Tidak salah lagi.
Bianca menemukan seseorang yang dicari.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Bianca, tanpa permisi.
Semua teman-teman arisan Bu Elina berbisik dan menatap tak suka pada Bianca yang dianggap tidak sopan.
"Ekhem! Ibu-ibu, maaf ya saya permisi keluar sebentar."
"Iya, Bu Elin. Tidak apa-apa, silahkan."
Tatapan Bu Elina berubah tajam setelah mereka berada diluar restauran.
"Mama tahu kamu selalu bersikap kurang ajar pada Mama tapi tolong jaga sikapmu di depan teman-teman arisan Mama, Bianca. Jadi, kenapa kamu datang ke sini? Mama tidak punya banyak waktu untuk berdebat sekarang."
Bianca mendecih. Memperhatikan penampilan Bu Elina dari atas ke bawah.
"Anda 'kan yang sudah merencanakan semua ini? Mengaku saja!"
"Merencanakan apa? Mama tidak mengerti maksudmu."
"Halah! Tidak usah berpura-pura bodoh di depanku. Anda sengaja menyuruh orang untuk mengunciku di kamar rawat itu saat aku hendak mengambil obat Malvin yang tertinggal di Rumah Sakit ..."
"Karena anda tahu jika Dokter Megan ada di sana juga saat itu. Sehingga anda membuat kami seolah-olah sedang berduaan di dalam dan membuat Cakra berpikir aku berselingkuh."
Plak!
"Mama memang tidak menyukaimu tapi jangan menuduh Mama tanpa bukti. Kamu saja marah saat Cakra menuduhmu berselingkuh lalu bagaimana dengan Mama, Bianca! Mama juga tidak mengenal siapa Dokter Megan yang kamu bicarakan itu."
Bu Elina melirik ke arah teman-temannya yang tampak memperhatikan dirinya dan Bianca. Sebab pintu dan jendela restauran itu full kaca tembus pandang hingga siapapun bisa melihat pemandangan yang ada diluar.
"Kita bicara lagi setelah Mama pulang arisan."
Bianca terdiam cukup lama. Memegangi pipinya yang terasa perih. Dalam hati, Bianca sangat yakin jika semua ini adalah ulah Bu Elina untuk mengadu domba dirinya dan Cakra.
Namun Bianca belum mempunyai bukti yang kuat.
Ditengah kebingungan itu, Bianca merasakan seseorang menepuk pelan bahunya.
"Megan? Sedang apa di sini?"
"Aku baru selesai makan siang ..."
Megan melihat Bianca ditampar tapi tidak tahu siapa wanita itu.
"Itu pasti sakit. Ayo ikut ke mobil sebentar. Kita obati pipimu supaya tidak memar."
Bianca mengambil ponselnya, menjadikan benda itu sebagai kaca untuk melihat bekas tamparan Bu Elina.
"Maaf, aku tidak sengaja melihat wanita itu menamparmu. Siapa dia, Bi? Apa kalian punya masalah?"
Canggung.
Bianca malu mendengar Megan berkata demikian.
"Dia Elina, Ibu Tiriku. Mendiang Papaku menikah lagi dan sejak awal, hubungan kami memang tidak baik." lirih Bianca.
Megan mengangguk paham. Turut berduka atas meninggalnya Pak Justin.
Ia pun mengajak Bianca ke mobil supaya bisa mengobati memar dipipinya.
Tidak ada maksud lain.
Megan hanya mengobati Bianca saja. Sebagai Dokter ke pasiennya, hanya itu.
"Jika tidak keberatan, boleh aku mengantarmu pulang?" tanya Megan dengan hati-hati.
Bianca menggigit bibir bawah. Entah mengapa ada rasa khawatir yang menyelimuti perasaannya saat mendengar tawaran tersebut.
"Sekalian aku juga ingin menjelaskan kesalah pahaman kemarin. Aku tidak ingin melihat kalian bertengkar."
Ini masih jam kerja. Cakra pasti belum pulang.
"Tidak perlu. Aku naik taksi saja, Meg."
"Bianca, please! Jangan menolak. Bukan hanya kamu yang mendapat masalah atas kejadian itu tapi aku juga. Tadi aku melihatmu datang ke Rumah Sakit. Kamu pasti ingin meminta rekaman dilorong lantai tiga 'kan? Percuma! Seseorang sudah menghapus rekaman cctv itu ..."
"Satu-satunya cara adalah kita bertiga harus bertemu dan membicarakan kronologi yang sebenarnya dengan kepala dingin tanpa emosi seperti kemarin."
"Kamu benar tapi aku tidak yakin Cakra mau mendengar penjelasan kita, Megan."
"Kita coba dulu. Aku juga merasa tidak enak pada Suamimu dan ingin masalah ini cepat selesai."
Bianca akhirnya setuju untuk pulang bersama dengan Megan.
Tidak menyadari, sepasang mata lain menatap tajam ke arah mereka.
"Ikuti mobil itu."
"Baik, Pak."
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!