
Hal pertama yang dilakukan Cakra adalah pergi menemui Malvin di kamarnya dan memastikan si Anak baik-baik saja. Sebab Cakra begitu memahami betapa emosionalnya Malvin ketika berhadapan dengan Ibunya apalagi setelah sekian lama mereka tidak bertemu.
Cakra melihat Putranya tertidur dengan posisi meringkuk seperti bayi. Membuat hati kecilnya terenyuh.
"Maafkan Papa, Malvin." Tangan Cakra terulur mengusap pucuk kepala Malvin.
Kemudian ia membenarkan letak selimut Malvin yang melorot ke bawah agar Malvin tidak kedinginan.
Cklek!
Cakra menoleh ke arah pintu dan mendapati Istrinya hanya berdiri mematung di sana.
Bianca mengurungkan niatnya yang ingin masuk ke kamar itu setelah melihat Cakra duduk di sebelah Malvin yang sedang terlelap.
"Aku hanya ingin memastikan dia bisa istirahat dengan nyaman setelah semua kekacauan yang terjadi hari ini."
Setelah berucap demikian, Bianca kembali ke kamarnya sendiri sebab tidak ingin membuat keributan di kamar si Anak.
Seakan mengerti, Cakra bergegas menyusul Bianca. Banyak hal yang harus mereka berdua bicarakan.
"Apa maksudmu menyuruh Ajun pergi ke Rumah Sakit? Apa selingkuhanmu itu tidak punya uang untuk menyewa Suster penjaga?"
Sudah Bianca duga.
Masalah ini tidak akan selesai jika Bianca tidak mempunyai bukti yang kuat untuk menyangkal semua tuduhan perselingkuhan yang dilayangkan oleh Cakra padanya.
"Megan bukan selingkuhanku, Cakra. Berhenti menuduhku yang macam-macam." desis Bianca.
Belum lagi, Bu Elina tak kunjung pulang dan beralasan salah satu teman arisannya mendadak mengajaknya pergi ke luar kota untuk urusan bisnis.
Padahal Bianca tahu itu hanya alasan Bu Elina saja agar tidak diinterogasi perihal kecurigaannya.
Sebab selain menjadi beban di Rumah, kegiatan Bu Elina sehari-hari hanya sibuk menghamburkan uang bulanan dari Suaminya. Jadi tidak heran jika Bianca tidak mudah percaya begitu saja, bahkan sejak dulu.
"Kalau bukan selingkuhan, lalu untuk apa kamu repot mengurusnya? Bahkan kamu tidak meminta izin padaku saat menyuruh Ajun menjaga pria itu. Gila, gila!"
"Aku melakukan ini karena tidak ingin menjadi janda muda jika Megan melaporkanmu ke polisi atas kasus kekerasan yang kamu lakukan padanya ..."
Cakra terdiam sejenak.
"Seharusnya kamu berkaca diri, Cakra. Ada satu hal penting lain yang perlu kita bahas juga sekarang."
"Tentang apa?"
Seketika raut wajah Cakra berubah menjadi penasaran.
"Ini soal Haura. Kapan dia akan pergi dari sini? Jujur, aku kasihan pada Malvin. Dia terlihat tidak nyaman dengan kehadiran Ibu Kandungnya yang pemaksa itu–"
"Pemaksa? Apa maksudmu?"
Jantung Cakra berdebar tidak karuan. Khawatir jika Haura akan merealisasikan ucapannya yang sempat mereka bahas sebelumnya.
"Tadi Haura masuk ke kamar Malvin dan mengajaknya untuk membicarakan sesuatu tapi Malvin menolak. Haura tetap memaksa. Untungnya saat itu aku mendengar perdebatan mereka jadi aku langsung menghampiri mereka dan mengusir Haura keluar ..."
"Lebih baik suruh dia cepat pergi dari sini. Tidak enak jika tetangga melihatnya. Ya meskipun kita tinggal di perumahan yang lingkungannya individual tapi tetap saja, itu bisa memicu konflik di–"
Drtt!
Drtt!
Bianca mengambil ponselnya yang bergetar di atas kasur.
"Halo, Jun?"
"....."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"....."
Bianca melirik Cakra sekilas. Kedua alis Cakra menukik tajam.
"Okay. Aku akan segera ke sana. Tolong jaga dia dulu.
Kemudian Bianca menutup sambungan itu lalu mengambil tas dan memesan taksi online sebab ia belum memiliki mobil pribadi untuk berpergian sendiri.
"Mau kemana? Kita belum selesai bicara, Bianca."
"Ke Rumah Sakit. Ajun memberitahuku jika ada seseorang yang berusaha melukai Megan lagi. Untung ada Suster Penjaga yang memergokinya saat itu."
"Jadi kamu lebih memilih pria lain dibanding menyelesaikan masalah kita?"
Bianca menghela napas jengah, "Aku melakukan ini atas dasar rasa kemanusiaan saja, tolong mengerti. Megan sama sepertiku, dia sebatang kara dan tidak punya saudara dekat yang bisa mengurusnya ..." Tatapan Bianca berubah menyelidik, "Ini bukan ulahmu 'kan, Cakra?" curiganya.
"Kamu menuduhku?"
Cakra menunjuk dirinya sendiri, tak suka mendengar Bianca menuduhnya seperti itu.
"Tidak tahu! Dia masuk Rumah Sakit juga karenamu. Tidak usah playing victim. Aku hanya bertanya. Dan soal Haura ... Kita bahas lagi setelah aku pulang."
Cakra menatap marah pada Bianca yang tidak menuruti ucapannya sebab ia merasa tidak dihormati sebagai Suami.
"Apa? Tidak usah melotot seperti itu! Silahkan kalau mau ikut. Aku tidak keberatan." lanjut Bianca.
"Terserah. Mulai sekarang lakukan apapun sesukamu, begitu juga sebaliknya. Kamu mau berselingkuh dengan Dokter itu? Silahkan! Aku tidak peduli lagi, Bee."
Brak!
Sepertinya Cakra mulai terjebak dengan perasaannya sendiri dan belum ingin mengakui itu.
...••••...
"Terserah. Mulai sekarang lakukan apapun sesukamu, begitu juga sebaliknya. Kamu mau berselingkuh dengan Dokter itu? Silahkan! Aku tidak peduli lagi, Bee."
Brak!
Haura mengurungkan niatnya yang ingin menemui Malvin saat mendengar suara bantingan pintu yang berasal dari kamar utama.
Ia tidak sengaja melihat Cakra keluar dari kamarnya dengan raut marah. Hingga rahangnya tampak mengeras.
Samar, Haura juga sempat mendengar Cakra menyebut kata selingkuh.
Itu berarti hubungan mereka sedang tidak baik.
"Dasar pelakor!" maki Bik Hana ketika melihat Haura berdiri di depan kulkas untuk mengambil minum.
Mendengar hal tersebut, jelas membuat Haura tersinggung.
"Mas Cakra, kemari sebentar.
Tanpa permisi, Haura bergelayut manja di lengan Cakra.
"Lepas, Haura."
"Pembantumu kurang ajar sekali, Mas. Dia baru saja mengataiku pelakor. Kamu harus memecatnya sekarang." adunya, seraya merapatkan tubuhnya ke Cakra.
Mata Bik Hana mendelik tajam saat melihat Haura sengaja menggoda Suami majikannya tersebut dengan menempelkan dadanya.
Cakra yang sedang tidak akur dengan Istrinya, mulai terhasut ucapan Haura sebab Bik Hana adalah Asisten yang dibawa oleh sang Istri.
"Apa benar Bibik mengatakan itu?" Cakra melihat siluet Istrinya menuruni tangga.
"Tidak benar, Pak. Tadi saya hanya menirukan dialog yang ada di drama yang berjudul orang ketiga. Saya tidak mungkin berani mengatai Bu Haura dengan sebutan itu."
Meskipun itu fakta! Dia 'kan memang pelakor. Berani sekali dia mengadu ke Pak Cakra, cih!
"Bohong! Jelas-jelas aku mendengar dia menyebutku pelakor, Mas. Potong gaji saja kalau kamu tidak mau memecatnya." rengek Haura lagi.
Jelas, percakapan mereka didengar oleh Bianca yang kemudian menginterupsi.
"Siapa kamu sampai berani memerintah di Rumah ini, Haura?"
Bianca menyuruh Bik Hana melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Tentu saja aku masih memiliki kuasa di sini karena aku Ibu Kandungnya Malvin jika kamu lupa, Bianca. Pembantu bermulut kurang ajar seperti Hana pantas dipecat. Dia sudah berani mengataiku pelakor. Itu tidak sopan. Iya 'kan, Mas?"
Bianca tersenyum remeh.
"Kadang sadar posisi itu penting. Statusmu hanya Mantan Istri dari Suamiku. Lagi pula, Malvin juga tidak senang bertemu denganmu lagi ..."
Bianca beralih menatap ke arah Cakra, "Apa kamu berniat membalasku? Jadi siapa di sini yang telah berselingkuh? Dengar, Cakra! Jangan pernah mengusik Bik Hana. Dia sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Bik Hana tidak akan bicara sembarangan jika itu bukan fakta." sindir Bianca pada Haura yang tampak kesal padanya.
"Aku dan Haura sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Berhenti menyalahkan orang lain untuk menutupi kesalahanmu sendiri."
"Ya, ya. Terserah kalian saja. Aku lelah dan tidak ada waktu berdebat lagi."
"Bianca–"
Langkah Cakra tertahan saat Haura menggenggam tangannya.
"Tidak usah dikejar, Mas. Biarkan dia pergi."
Cakra tak bergeming ketika Haura menuntunnya menuju meja makan, "Aku ingin makan malam berdua denganmu, Mas. Seperti dulu ..."
"Bilang saja kalau mau tambah lauknya. Biar aku yang ambilkan." lanjut Haura lagi.
Entah mengapa, suara selembut beledu itu mampu membuat Cakra luluh dan menurut saja ketika Haura mulai menyiapkan piring untuknya lalu mengisinya dengan hidangan yang tersaji.
Pemandangan itu tidak luput dari tatapan sebal Bik Karin dan Bik Hana yang diam-diam memperhatikan mereka dari dapur.
"Kita harus bertindak sebelum pelakor itu berbuat semakin jauh, Mbak."
"Kamu benar, Hana. Tidak biasanya Bapak menurut saja apalagi sama Bu Haura ..."
"Mungkin Pak Cakra dipelet sampai menurut seperti itu." sela Bik Hana.
Sementara Bik Karin hanya mengendikkan bahu.
Berharap Haura segera pergi agar situasi di Rumah itu bisa kembali tenang
"Kita bicarakan soal ini dengan Mas Malvin saja, Han."
"Hm, aku setuju."
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!