Love Story Of Bianca Luvena

Love Story Of Bianca Luvena
JALAN-JALAN



Kejadian kemarin membuat hubungan Bianca dan Malvin semakin canggung.


Bahkan saat di meja makan, Malvin hanya mengambil porsi lebih sedikit dari biasanya agar bisa segera kembali ke kamar sebab tidak ingin terlalu lama bertatap muka dengan Bianca.


"Jangan diambil hati. Aku sudah mengajak Malvin ke Psikiatri untuk berkonsultasi. Cepat atau lambat, Malvin pasti bisa menyembuhkan trauma itu dan bisa menerimamu sebagai Ibu Sambungnya, Bee."


"Bagaimana kalau kita sudahi saja semua ini?" tanya Bianca, menatap dalam pada Cakra yang tampak bingung mendengar ucapannya.


"Apa maksudmu?"


"Ayo kita bercerai! Sebagai gantinya, aku akan berusaha melunasi hutang Papa Justin. Aku akan menjual rumah peninggalan Papa dan sisa aset yang ada ..."


Raut wajah Bianca berubah semakin serius, "Mungkin jika ditotal jumlahnya tidak sampai 40 milyar tapi tolong beri aku waktu, Cakra! A-aku ... Akan mencari pekerjaan secepatnya dan membayar sisa hutangku padamu." Bianca mendadak gugup saat Cakra tidak bereaksi apapun.


Brak!


Cakra memukul meja makan hingga bunyi gebrakan meja itu membuat Bik Karin dan Bik Hana yang kebetulan menguping pun terperanjat, kaget.


"Tutup mulutmu, Bianca!"


Itu bukan suara Cakra.


Melainkan Bu Elina yang tampak sudah bersiap-siap pergi sambil menyeret koper besar di belakangnya.


Ia menarik satu kursi dan duduk saling berhadapan. Menatap Bianca dan Cakra bergantian.


"Mama tidak pernah mengajarkanmu kawin cerai meskipun Mama selalu bersikap buruk padamu. Tidak boleh ada yang mengajukan perceraian tanpa persetujuan Mama."


"Kenapa tidak? Anda bukan Mama kandungku jika anda lupa." ketus Bianca.


Tadinya ia agak takut melihat raut kemarahan diwajah Suaminya namun semua berubah ketika Bu Elina ikut campur urusan rumah tangga mereka.


"Jadi ini hasil didikan Jasmine semasa hidupnya? Memiliki Putri yang suka melawan nasehat orangtua. Cakra, jangan dengarkan dia! Pokoknya kalian tidak boleh bercerai."


"DIAM, BRENGSEK! JANGAN BAWA-BAWA MENDIANG MAMA JASMINE DI SINI!"


Tidak bisa.


Bianca tidak suka jika seseorang menyeret nama Ibunya yang sudah meninggal ke dalam masalah yang tidak ada hubungannya dengan sang Ibu.


Bianca hanya lelah menghadapi sikap Malvin yang terus-terusan menganggapnya manipulatif dan membawa pengaruh buruk dalam hidupnya dan Cakra. Bukan itu saja, Malvin juga memusuhinya. Tak banyak yang tahu, Malvin kerap melontarkan sindiran pedas dan menyebut Bianca wanita matrealistis setelah Malvin mengetahui fakta jika pernikahan Cakra dan Bianca terjadi karena hutang Ayah Bianca yang mencapai milyaran.


Bu Elina tersenyum sinis ketika Bianca beranjak dari kursi seraya menyeka airmatanya dan meninggalkan meja makan tanpa sepatah kata apapun.


"Mama tidak perlu ikut campur urusan rumah tangga kami ..."


Cakra melirik koper besar yang ada di belakang Bu Elina, "Aku sudah mengirim uang sesuai permintaan Mama. Jadi, silahkan pergi sekarang!"


"Sebentar. Mama mau cek dulu. Takut kamu berbohong."


Cakra hanya menatap datar Bu Elina yang sibuk memeriksa transferan uang yang semalam dikirim melalui e-banking.


Tidak masalah berapa banyak uang yang diminta Bu Elina padanya, Cakra tetap akan memberikan itu. Toh, uang yang diminta juga tidak akan membuatnya bangkrut dalam sekejap.


Setidaknya dengan begitu, Bu Elina tidak akan berani macam-macam.


Iya. Bu Elina selalu mengancam akan mencelakai Bianca dan Malvin jika keinginannya tidak dituruti. Sebetulnya Cakra bisa saja melaporkan wanita itu ke polisi tapi mengingat Cakra malas berurusan dengan hukum, Cakra lebih baik mengalah dulu. Mencari waktu yang tepat untuk mengusir Bu Elina.


Dan membiarkan Bu Elina tinggal di kediaman Baswara dengan catatan Bu Elina tidak boleh bersikap melebihi batas.


Itu terbukti.


Meskipun sesekali, Bu Elina masih suka menyela saat ada perdebatan kecil di rumah ini.


...••••...


Kembali pada Bianca yang sudah membenamkan diri dibawah selimutnya sambil menangis terisak.


"Bajingan itu benar-benar tidak bisa menjaga mulutnya." ucap Bianca disela tangisnya yang belum mereda.


Cklek!


"Bee ..."


Cakra bisa mendengar suara isak tangis Bianca dibawah selimut itu.


Entah mengapa, dua bulan tinggal bersama memunculkan gelenyar aneh di hatinya tanpa disadari.


Cakra duduk di sisi ranjang sambil mencoba menarik selimut putih yang menutupi tubuh Istrinya.


"Bianca."


"Pergi! Aku butuh waktu sendiri."


"Baiklah. Hari ini aku tidak ke kantor. Kalau mau, kita bisa pergi jalan-jalan."


Cakra hendak beranjak pergi sesuai permintaan Bianca namun sebuah tangan menahan lengannya hingga Cakra kembali terduduk pada posisi semula, "Mau ke kebun binatang." lirih Bianca dengan mata dan hidung memerah.


Mengusap pipinya yang basah karena terlalu banyak menangis.


Cakra mengulas senyum. Tangannya terulur menyelipkan rambut Bianca ke belakang telinga. Jika begini, istrinya tampak lucu seperti anak kecil.


"Ya sudah. Aku tunggu di bawah. Kamu siap-siap dulu."


Sekilas, mereka terlihat mesra layaknya pasangan sungguhan yang saling mencintai.


Namun sayang, salah satu dari mereka masih denial akan perasaannya sendiri dan menganggap jika semua itu semata-mata hanya perasaan kasihan, tidak lebih.


...••••...


30 menit berlalu.


Bianca dan Cakra sudah siap pergi. Mereka tidak sengaja melihat Malvin sedang menonton televisi di ruang utama. Hari ini Malvin belum bisa masuk sekolah karena kakinya masih dalam proses penyembuhan.


"Papa dan Mama mau pergi. Kalau ada apa-apa, telepon saja ya!"


"Kemana?"


"Ke Kebun Binatang. Sayang sekali, kamu tidak bisa ikut, Malvin." sahut Bianca. Ia tetap ingin menunjukkan kepeduliannya pada si Anak meskipun Malvin begitu membenci dirinya.


"Tidak lihat kakiku sedang sakit, huh?" jawab Malvin agak membentak.


"Malvin–"


Cakra berdehem saat menyadari nada suaranya meninggi, "Maksud Mama Bianca bukan seperti itu, Nak. Andai kamu tidak sakit, kami pasti akan mengajakmu jalan-jalan bersama."


"Jadi Papa bolos kerja hanya untuk menemani dia jalan-jalan? Seperti bocah saja!" cibir Malvin dengan mata yang tetap fokus menonton televisi.


"Malvin, kamu–"


Bianca menahan Cakra agar tidak terpancing emosi dan berakhir keduanya kembali bertengkar.


"Sudah. Tidak apa-apa. Kita pergi sekarang ..." Bianca melempar senyum namun Malvin hanya melengos.


"Kami berangkat dulu. Kalau ingin titip sesuatu, hubungi kami, Malvin."


"Iya."


Malvin mengalami krisis kepercayaan terhadap wanita yang dipanggil Ibu.


Hingga ia beranjak remaja, Cakra juga tidak pernah menjelaskan alasan perceraiannya dengan Haura sampai membuat Malvin beranggapan jika sang Ibu tidak mempedulikan dirinya.


Buktinya saja, sudah 10 tahun berlalu, Haura tidak ada kabar. Sekedar menjenguk Malvin pun tidak pernah dilakukan.


...••••...


Bianca lebih banyak diam padahal ia sendiri yang meminta untuk datang ke tempat ini.


"Kamu pasti kepikiran soal Malvin."


Mata Bianca tertuju pada tangan besar Cakra yang menggenggam jemarinya dengan lembut.


Seolah menyalurkan kekuatan agar Bianca bisa lebih bersabar menghadapi Putranya.


"Kenapa kamu sangat baik padaku, Cakra? Padahal sejak awal, kita tidak pernah menginginkan pernikahan ini terjadi."


Cakra tersenyum tipis, "Kamu salah."


"Hm?"


"Iya. Kamu salah jika beranggapan seperti itu. Awal aku memang tidak tertarik saat Mama mengajukan penawaran gila itu padaku tapi ..."


Ragu.


Lidah Cakra mendadak terasa keluh saat ingin melanjutkan ucapannya lagi.


"Tapi apa?"


"Tidak ada. Kita ke sana yuk! Di sini panas!" alibinya, kemudian menggandeng Bianca agar mereka bisa berjalan bersama seperti pasangan romantis lainnya.


Bianca tidak memprotes dan membiarkan pria yang telah menjadi Suaminya itu bersikap manis padanya seharian ini.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!