Love Story Of Bianca Luvena

Love Story Of Bianca Luvena
MEGAN



Satu minggu kemudian kondisi Malvin semakin membaik. Bekas jahitan di kepalanya berangsur mengering.


Hari ini Malvin terus saja merengek ingin pulang sebab sudah bosan mencium bau obat-obatan rumah sakit.


"Tapi setiap minggu kamu harus rajin kontrol ya, Malvin. Saya hanya ingin memastikan tidak ada cidera serius akibat benturan itu."


"Iya, Dokter. Saya pastikan dia akan datang check up setiap minggu." ucap Bianca.


Sementara Cakra sibuk mengurus pembayaran administrasi.


Bik Karin dan Bik Hana diminta menyiapkan kejutan kecil di Rumah untuk merayakan kepulangan Malvin.


"Itu Papa."


"Iya, Mama melihatnya juga."


Malvin melambaikan tangan saat melihat Cakra berdiri di depan pintu keluar, menunggu mereka.


"Biar aku saja."


Cakra mengambil alih kursi roda Putranya. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju parkiran.


Banyak pasang mata yang menatap iri pada Bianca. Karena menganggap Bianca sangat beruntung dinikahi oleh Cakra Baswara yang terkenal sulit didekati oleh wanita mana pun.


Brugh!


Cakra menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Melihat Istrinya terjatuh karena bersenggolan dengan pengunjung lain.


Posisi mereka tidak terlalu dekat karena Bianca sempat pergi ke toilet dulu.


"Sebentar, Nak. Papa bantu Mama Bia dulu."


Malvin hanya mengangguk dan membiarkan Ayahnya berlari kecil menghampiri sang Ibu.


"Maaf, saya tidak sengaja— eh, Bianca?"


Bianca mendongakkan kepala saat seseorang itu menyebut namanya.


"Megan?"


Keduanya sama-sama terkejut. Tidak menyangka jika mereka bisa berjumpa lagi setelah sekian lama lulus sekolah.


Pria bernama Megan itu tersenyum senang sebab Bianca masih mengingat dirinya.


"Kamu Megan Tama 'kan? Ketua Kelas IPA II yang jago sains itu?" tanya Bianca memastikan, banyak yang berubah dari penampilan Megan.


Dia jauh lebih tampan dari jaman SMA dulu.


"Iya. Apa kabar, Bi? Aku pikir, kamu sudah lupa denganku. Maaf ya! Aku buru-buru jadi tidak melihatmu tadi."


"Seperti yang kamu lihat, kabarku baik. Maaf juga karena aku kurang hati-hati."


Keduanya tertawa kecil dan tidak sadar jika pemandangan itu tak luput dari tatapan Cakra yang menahan kesal saat melihat interaksi mereka.


Megan mengambil barang-barang milik Bianca yang jatuh berserakan lalu mengulurkan tangan, sekedar membantu Bianca berdiri.


Namun tangannya justru ditepis, "Biar aku saja." ucap Cakra dengan tatapan dingin.


Bianca mendelik tajam ke arah Suaminya karena merasa tak enak pada Megan yang tampak tersenyum canggung sekarang.


"Cakra Baswara, Suami Bianca."


Belum selesai dengan itu, Bianca kembali dibuat terkejut saat Cakra tiba-tiba memperkenalkan diri tanpa diminta.


Membuat Megan bingung namun tetap membalas jabatan tangan Cakra, "Megan Tama, teman SMA Bianca."


"Oh teman sekolah ..."


Tidak ingin merasa semakin canggung, Bianca pun menginterupsi.


"Maaf, Meg. Kami harus pergi. Anakku sudah menunggu."


Megan mengikuti arah pandangan Bianca yang menunjuk pada remaja laki-laki yang duduk dikursi roda, "Dia mengalami kecelakaan satu minggu yang lalu dan pagi ini Dokter baru mengizinkan dia pulang." lanjut Bianca.


"Aku turut sedih mendengar itu. Semoga kondisi Anakmu cepat pulih ya ..." Megan memaksakan tersenyum meskipun sorot matanya menyiratkan kekecewaan, "Aku juga baru pindah tugas ke Rumah Sakit ini."


Bukan hal yang mengejutkan jika Megan menjadi seorang Dokter. Pria itu cukup populer dan terkenal akan kepintarannya di Sekolah.


"Ah begitu rupanya. Okay! Lain kali kita ngobrol lagi. Sampai jumpa, Megan."


Megan tersenyum kaku melihat kepergian Cakra dan Bianca. Banyak kejutan yang ia dapatkan dari wanita yang pernah disukainya dulu.


Terbesit rasa kecewa setelah tahu Bianca sudah menikah dan mempunyai anak seusia Malvin.


Pertanyaan lain muncul dibenak Megan tentang; sejak kapan Bianca menikah? Hingga ia mempunyai anak sebesar itu.


Megan masih menatap kepergian Bianca dengan tatapan sendu.


Tak jauh dari tempat Megan berdiri, seseorang memperhatikan ketiganya semenjak tadi dengan seulas senyum licik disudut bibirnya.


Kena kamu sekarang!


...••••...


Sepanjang perjalanan, tak ada yang memulai pembicaraan. Malvin menyadari sesuatu yang salah diantara kedua orangtuanya.


"Pa, besok pulang kerja jam berapa?"


"Jam empat, seperti biasa. Kenapa?"


"Eum, aku ingin makan malam bersama Papa dan Mama diluar, boleh?"


Mendengar hal tersebut, Cakra mengangguk setuju. Berbeda dengan Bianca yang tidak menyahut sama sekali.


"Tentu saja boleh."


Pikirannya entah kemana sehingga tidak sadar jika mobil sudah berhenti.


Bersamaan itu, Bu Elina juga baru sampai di Rumah.


"Malvin, bagaimana keadaanmu? Maaf ya! Nenek sangat sibuk, tidak sempat menjengukmu di Rumah Sakit."


"Sibuk menghabiskan uang Papaku, itu 'kan maksudmu?"


"Malvin! Tidak boleh bicara seperti itu. Tidak sopan, Nak." tegur Cakra.


"Maaf, Pa."


"Malvin tidak salah. Bik, tolong antar Malvin ke kamarnya." sahut Bianca, membela Malvin.


Sebab apa yang dikatakan Malvin memang sesuai kenyataannya. Bu Elina sama sekali tidak peduli dengan situasi di rumah dan hanya sibuk bersenang-senang, menghabiskan uang pemberian Suaminya.


Sejak awal Malvin tidak menyukai Bu Elina.


Jika Malvin hanya bersikap dingin pada Bianca tanpa berbicara kasar, perlakuan Malvin justru berbeda terhadap Bu Elina.


Malvin tidak segan berbicara ketus melebihi saat Malvin berbicara dengan Bianca, dulu.


"Jangan ajari Cucuku bersikap kurang ajar sepertimu, Bianca."


"Siapa yang kurang ajar?"


"Tentu saja kamu–"


"Cukup! Tidak usah bertengkar lagi. Bee, masuk!"


Bianca mendengus kesal, "Semakin kamu membelanya, semakin wanita ular itu besar kepala dan tidak tahu diri, Cakra."


Kemudian pergi menuju kamarnya. Disusul oleh Cakra di belakang.


Bu Elina mendecih, melihat kelakuan Bianca yang semakin menjadi-jadi padanya.


Ia pun mendial nomor seseorang guna memulai rencana jahat yang telah disusun.


...••••...


Pukul 19.00


"Kenapa baru diinfokan malam? Oh begitu! Baik! Saya akan segera ke sana untuk mengambilnya. Terimakasih atas informasinya."


Semua orang menatap ke arah Bianca yang baru saja mematikan sambungan teleponnya.


Mereka sedang makan malam bersama namun Bianca tiba-tiba beranjak dari kursi.


Mengundang tatapan bingung Cakra, "Mau kemana?"


"Ke Rumah Sakit. Kata petugas di sana, obat Malvin ketinggalan di ruang rawatnya ..."


"Benarkan, Malvin? Obatmu ketinggalan? Mama belum melihatmu minum obat siang tadi." tanya Bianca.


"Iya, Ma. Aku pikir, tidak perlu minum obat lagi, hehe."


"Ya sudah. Aku yang akan mengantarmu ke Rumah Sakit."


Bianca terdiam sejenak. Menatap Cakra yang kini sudah beranjak dari kursi.


Bianca ingin menolak tapi terlalu malas berdebat karena Cakra pasti tidak akan mengizinikan ia pergi sendiri.


Apalagi setelah tahu ada Megan yang bekerja sebagai Dokter baru di Rumah Sakit itu.


"Bee, kenapa melamun? Ayo!" tegur Cakra, saat melihat Bianca berdiri mematung di depan meja makan.


"I-iya. Aku ambil tas dulu."


Bianca tidak ingin terlalu percaya diri namun satu hal yang membuat Bianca merasa aneh— sadar atau tidak, Cakra mulai memiliki rasa padanya.


Bagaimana pun, mereka adalah pasangan Suami dan Istri, tidak heran jika benih cinta mulai tumbuh antara salah satu dari mereka.


Kecuali Bianca.


Yang memang sengaja membatasi diri agar tidak terbawa perasaan dengan setiap perlakuan pria itu.


...••••...


"Kamu tunggu di sini saja. Biar aku yang mengambilnya."


"Kenapa petugas rumah sakit tidak menitipkannya ke bagian apoteker atau administrasi? Aneh!"


Bianca mengendikkan bahu lalu berjalan menuju lantai 3, tempat ruangan Malvin selama dirawat.


Beruntungnya Cakra tak banyak protes dan mau mengalah.


Duduk di Lobby sambil memeriksa ponsel.


Lima belas menit telah berlalu. Bianca tak kunjung kembali.


"Ini gila! Waktu aku ingin mengganti selimut di kamar VVIP 04, aku melihat mereka saling menindih badan di atas brankar."


"Benarkah? Ini 'kan rumah sakit! Mesum sekali mereka."


"Yang kudengar, Dokter tampan itu pengganti Dokter Jenanda."


"Percuma tampan kalau tidak tahu tempat! Bercinta di ruang pasien. Apa mereka tidak punya uang untuk sekedar menyewa kamar hotel terdekat, tsk!"


Ketiga petugas tadi langsung pergi setelah Cakra menatapnya tajam. Seingat Cakra, kamar 04 itu adalah kamar inap Malvin.


Cakra mendial nomor Bianca namun tidak diangkat.


"Sial! Beraninya dia selingkuh dibelakangku."


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!