Love Story Of Bianca Luvena

Love Story Of Bianca Luvena
DIHAPUS



Brak!


Cakra membuka kasar pintu ruangan tersebut. Membuat dua orang yang berada di dalam terkejut dan menatapnya bingung.


"Apa yang kamu— Cakra! Lepas, sakit!"


"Diam!"


Cakra menarik Bianca ke belakang tubuhnya lalu mendorong Megan dengan kasar sampai punggung pria itu membentur ujung meja.


"Hentikan, Cakra! Jangan keterlaluan!"


"Kamu yang keterlaluan, Bianca! Beraninya kalian selingkuh di belakangku."


"Apa maksudmu, Cakra?" sela Megan, tak terima.


Megan tidak mengerti dengan ucapan Cakra yang menuduhnya berselingkuh dengan Bianca.


"Tidak usah pura-pura terkejut. Aku sudah mendengar semuanya." bentak Cakra, seraya menyeret paksa Istrinya keluar.


Beruntung rumah sakit tidak terlalu ramai sehingga tidak banyak yang melihat keributan mereka.


"Lepas! Sakit, Cakra!"


Bianca berusaha melepaskan diri namun cengkeraman Cakra begitu kuat.


Tubuhnya didorong masuk ke dalam mobil.


Tanpa banyak bicara, Cakra mengendarai mobilnya bak orang kesetanan. Rahangnya terlihat mengeras dan kedua tangannya mencengkeram kuat kemudi.


Bianca ketakutan.


Namun tidak bisa berbuat apa-apa selain merapalkan doa dalam hati supaya Tuhan melindunginya.


"Keluar!"


Mereka tiba di rumah lebih cepat. Cakra kembali menarik lengan Bianca menuju kamar.


Pemandangan itu disaksikan oleh Malvin yang kebetulan sedang menonton televisi karena sengaja menunggu kedua orangtuanya pulang.


"Astaga! Ini sakit, Cakra! Lepas!"


Cakra menulikan telinganya dan tetap menarik Bianca menuju kamar.


Brak!


Suara bantingan pintu terdengar sangat keras. Hingga semua orang berjingkat kaget.


"Bik, kenapa mereka bertengkar?"


Bik Karin tidak tahu apa-apa hanya menggelengkan kepala dan menyuruh Malvin masuk ke kamar.


"Lebih baik Mas Malvin istirahat. Ini sudah malam."


"Aku takut, Bik." lirih Malvin dengan tatapan sendu.


"Takut kenapa?"


"Takut Papa dan Mama Bianca berpisah."


Sebab Malvin masih mengingat jelas awal perceraian kedua orangtuanya dulu dimulai dengan sebuah pertengkaran kecil yang sering terjadi dan Malvin tidak mengetahui penyebab kedua orangtuanya selalu pulang dalam keadaan bertengkar hebat.


Hingga pada puncaknya kala itu, Haura memutuskan pergi dari rumah meninggalkan Malvin yang menangis, memohon agar Haura tetap tinggal tapi permintaannya sama sekali tidak didengar.


"Pertengkaran itu hal yang wajar bagi setiap pasangan, Mas Malvin. Mereka hanya salah paham saja. Percaya dengan saya."


"Tapi dulu Papa dan Mama Haura juga bertengkar dan hal itu yang membuat mereka akhirnya bercerai, Bik."


Bik Karin memahami ketakutan yang dirasakan Malvin.


"Bu Bianca adalah wanita yang penuh pertimbangan. Beliau tidak mungkin gegabah mengambil keputusan saat emosinya tersulut." sahut Bik Hana menjelaskan.


"Saya mengenal betul sifat Bu Bianca. Tidak ada yang perlu anda khawatirkan. Mereka tidak mungkin berpisah hanya karena masalah sepele." imbuhnya.


Membuat perasaan Malvin sedikit lega. Karena hal yang ditakutkan tidak akan pernah terjadi.


...••••...


"Tega sekali kamu selingkuh dengan Dokter itu, Bianca!"


"Apa salahku sampai kamu bermain gila, hah? Kamu membuatku malu, Bianca. Bisa-bisanya kamu berbuat mesum dengan pria itu di kamar pasien ..."


"Jawab!! Punya mulut 'kan? Jangan diam saja kamu!" bentak Cakra lagi.


Bianca yang dituduh macam-macam, langsung tak terima lalu menampar pipi Suaminya.


Plak!


"Apa serendah itu aku dimatamu? Menuduh tanpa bukti itu namanya fitnah! Justru kamu yang tega, mengataiku berbuat mesum di Rumah Sakit!"


"Oh ya? Lalu apa yang sudah kalian lakukan selama 15 menit di dalam sana? Kalian pasti berbuat tidak senonoh selama itu 'kan?"


"SIAPA YANG MENGATAKAN ITU? KAMI TERKUNCI! SESEORANG BERUSAHA MENJEBAKKU DENGAN MENGUNCI PINTU ITU DARI LUAR, CAKRA!"


Teriakan Bianca terdengar hingga dari luar.


Kamar Malvin berseberangan dengan kamar orangtuanya jadi ia bisa mendengar teriakan sang Ibu disertai isak tangis.


Dejavu.


Ingatan Malvin kembali ditarik pada kejadian 10 tahun yang lalu, saat Malvin kecil tidak sengaja mengintip kedua orangtuanya yang sedang bertengkar di ruang utama.


Unknown


Sisa uangnya sudah aku transfer.


...••••...


Megan sedang berada di ruang cctv. Ia tidak menemukan jejak rekaman yang menyorot ke arah lorong di lantai tiga.


Seseorang telah menghapus rekaman itu.


"Maaf, Dokter Megan. Saat itu saya berjaga sendiri. Saya hanya meninggalkan ruangan ini selama lima menit saja."


"Lain kali kamu tidak boleh teledor. Meninggalkan ruang cctv tanpa penjagaan. Kalau kejadian seperti ini, siapa yang bisa disalahkan?"


"Saya benar-benar minta maaf, Dokter."


"Sudahlah. Jangan diulangi lagi."


"Iya, Dokter Megan."


Di hari pertamanya bekerja, Megan harus mendapat masalah karena kelalaian staff lain sehingga Megan tidak mempunyai bukti untuk menyangkal tuduhan perselingkuhan yang dikatakan Cakra padanya.


Demi Tuhan!


Megan tidak pernah berpikir untuk merusak hubungan rumah tangga Bianca dan Cakra.


Apalagi rumor perselingkuhan itu sudah tersebar di Rumah Sakit sampai Megan dipanggil oleh pimpinan Rumah Sakit untuk diminta mengklarifikasi masalah tersebut.


...••••...


Bianca terbangun dan mendapati sisi ranjangnya sudah kosong.


Sepertinya Cakra sengaja bangun lebih pagi untuk menghindarinya karena masih marah.


Ketukan pintu kamar terdengar.


"Masuk. Pintunya tidak dikunci."


Itu Malvin.


"Selamat pagi, Ma."


"Selamat pagi, Malvin. Duduklah."


Bianca menyuruh Malvin duduk di sisi ranjang kosong.


Perasaannya menghangat saat melihat perubahan sikap Malvin padanya sejak mereka berdamai.


"Papa sudah pergi ke Kantor pagi-pagi sekali ..."


"Dan aku sengaja membuat sarapan untuk Mama supaya Mama tidak perlu repot memasak karena Papa juga sudah berangkat."


"Mama tidak pernah merasa direpotkan siapa pun. Terimakasih ya."


"Ma, sebetulnya ada yang ingin aku tanyakan."


"Soal apa?"


Malvin mendadak ragu. Tidak seharusnya ia ikut campur urusan orang dewasa tapi Malvin juga tidak bisa membiarkan kedua orangtuanya bertengkar terlalu lama setelah melihat Ayahnya berangkat pagi-pagi sekali tanpa berpamitan.


"Kenapa Papa dan Mama bertengkar semalam?"


"Jujur, itu membuatku takut, Ma. Aku ..." suara Malvin tercekat ditenggorokan, ia sedang menahan tangis. Malvin benar-benar takut kebahagiaan yang baru saja dirasakan akan hilang begitu cepat, "Aku mendengar semuanya. Papa menuduh Mama berselingkuh. Apa itu benar?"


Bianca memaki Cakra dalam hati. Jika saja ia tidak terpancing emosi, mungkin Malvin tidak akan merasa ketakutan seperti sekarang karena mendengar pertengkaran mereka semalam.


Sebelah tangan Bianca terulur mengusap surai hitam Putranya. Dengan lembut, Bianca menjelaskan bahwa semua itu tidak benar.


Cakra salah paham. Mereka hanya butuh waktu untuk mendinginkan pikiran masing-masing.


"Kira-kira siapa pelakunya, Ma? Apa Om Megan juga tidak melihat wajah orang itu?"


Bianca menggeleng pelan, "Kejadiannya begitu cepat. Tidak ada siapapun di Ruangan itu selain Mama lalu Om Megan tidak sengaja lewat dan ya, seseorang tiba-tiba menutup pintunya dari luar, Malvin."


"Hari ini Mama berencana pergi ke Rumah Sakit lagi. Mama ingin meminta rekaman cctv di lorong lantai tiga."


"Boleh aku ikut? Aku hanya ingin melindungi Mama dan berjaga-jaga agar hal seperti ini tidak terulang lagi."


Bianca terharu mendengar Malvin yang berpihak padanya.


Tidak langsung menyalahkan Bianca atas apa yang telah terjadi kemarin.


Karena Malvin percaya, Bianca adalah wanita yang baik seperti ucapan Bik Hana.


Bianca tidak mungkin mengkhianati Cakra meski wanita itu tidak mencintainya.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!