Love Story Of Bianca Luvena

Love Story Of Bianca Luvena
TAWARAN



Bunyi alat penunjang kehidupan yang terpasang ditubuh Pak Justin tidak bisa menghentikan tangis Bianca yang semenjak tadi duduk di sebelah brankarnya.


"Harusnya dulu Papa mendengar ucapanku ..."


Satu minggu telah berlalu dan kondisi Pak Justin masih tetap sama, tidak menunjukkan perkembangan apapun.


Kedua matanya masih betah terpejam kendati Dokter rutin memeriksa kondisinya dan menyarankan agar Pak Justin harus segera melakukan tindakan pemasangan ring dalam waktu dekat supaya kondisinya bisa kembali pulih.


Namun untuk satu pemasangan ring saja, Bianca membutuhkan biaya sebesar 150 juta. Itu nominal yang sangat besar.


"Papa pasti shock setelah mengetahui kebusukan yang dilakukan orang-orang kepercayaan Papa dan wanita ular itu!"


Bianca Luvena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu keuangan perusahaan Ayahnya agar kembali stabil seperti dulu.


Ia juga kesulitan mengakses keuangan kantor, termasuk ATM pribadi milik Pak Justin.


Semua telah diambil alih oleh Ibu Tirinya, Elina Chalandra.


Entah berapa banyak suap yang diterima oleh staff keuangan hingga mau memanipulasi data keuangan dan menggelapkan banyak dana perusahaan.


Meskipun Bianca mempunyai tabungan tapi tidak bisa mencukupi seluruh biaya perawatan Pak Justin yang sangat mahal.


Bianca menyeka airmata yang menggenang di pelupuk matanya, "Aku bingung, Pa. Aku tidak tahu harus melakukan apalagi unt–"


"Kamu bisa menikah dengan Pak Cakra, Bia. Hanya itu satu-satunya pilihanmu sekarang."


Suara itu!


Suara yang sangat dibenci oleh Bianca sampai ke ubun-ubun. Tidak perlu menoleh ke belakang untuk memastikan si pemilik suara yang kini berdiri di belakangnya. Memasang ekspresi datar.


"Rentenir mana lagi yang anda peras uangnya demi memuaskan gaya hidup mewah anda?" ketus Bianca.


"Tsk! 40 milyar bukan nominal yang kecil, Bianca ..."


Bu Elina memberikan sebuah dokumen yang membutuhkan persetujuan dari keluarga kandung pasien, "Kamu hanya perlu tanda tangan maka masalah kita akan selesai."


"Gila!" lirih Bianca setelah membaca dokumen yang berisi surat izin untuk mencabut seluruh alat bantu Pak Justin.


Bianca berdiri dengan tatapan marah.


"Beraninya anda menyuruhku untuk membunuh Papaku sendiri! Apa anda sudah tidak waras, hah?" bentak Bianca.


"Sampai-sampai anda tega menyuruhku melakukan ini. Papa Justin itu Suami, Tante! Satu-satunya keluarga yang aku punya setelah mendiang Mama!"


"KALAU BEGITU BUAT SEMUANYA MENJADI LEBIH MUDAH, BIANCA! BIARKAN PAPAMU MATI MENYUSUL JASMINE DAN KAMU BISA MENIKAH DENGAN CAKRA BASWARA SUPAYA KITA BISA HIDUP ENAK TANPA TERLILIT BANYAK HUTANG LAGI!"


Keributan mereka berdampak pada kondisi Pak Justin yang baru saja siuman namun hal pertama yang ia lihat justru Istri dan Anaknya yang sedang bertengkar hingga membuat kondisinya kembali memburuk.


"B-bianca ..."


Mereka menoleh bersamaan dan terkejut ketika melihat Pak Justin sudah sadar dan berusaha menggapai lengan Bianca agar tidak meladeni Bu Elina.


"Iya. Aku di sini, Pa. Tolong bertahan! Dokter sedang dalam perjalanan."


"M-maaf."


Napas Pak Justin tersengal.


Dadanya terasa sakit hingga pria itu kesulitan untuk bernapas meski telah dipasang nebulizer.


Sementara Bu Elina pergi begitu saja tanpa mempedulikan keadaan Suaminya yang sedang sekarat.


Bianca dan Cakra harus segera menikah! Aku tidak mau hidup miskin!


...••••...


Bunyi ketukan ujung fantofel saling beriringan saat memasuki ruang rapat yang terasa hening.


Presiden Direktur mereka terlihat tampan dan auranya sangat berwibawa seperti biasa namun satu hal yang membuatnya kurang— Cakra Baswara merupakan duda satu anak yang masih betah sendiri pasca perceraiannya dengan sang Istri 10 tahun yang lalu.


Bukan waktu yang singkat.


Cakra terlalu nyaman dengan status dudanya dan memilih mengurus Anaknya seorang diri.


Padahal Cakra mempunyai segala yang dibutuhkan oleh setiap wanita; tampan, pintar dan kaya.


"Sean, coba kirim contoh desain satu set perhiasan baru yang akan di launching bulan depan ke email saya."


"Baik, Pak."


Karena tidak ada satu pun wanita yang bisa menarik perhatiannya selama ini.


Mereka yang datang hanya menyukai uang Cakra dan menganggumi paras tampan yang dimilikinya. Tidak ada yang benar-benar tulus menyayangi Cakra dan Anaknya, Malvin Baswara.


"Oh ya, Dirla! Cari model yang cocok untuk iklan produk kita kali ini ..."


"Cari yang sesuai dengan gaya Black Jewelry; elegan tapi misterius." lanjut Cakra.


"Siap, Pak."


Selesai mendengarkan presentasi para staffnya, Cakra beranjak keluar menuju ruangannya.


"Apa jadwal saya selanjutnya, Dirla?"


Dirla dengan sigap memeriksa tablet di tangan kirinya dan memberitahu Cakra bahwa ada pertemuan dengan salah satu debitur Zero Bank di Sushi Te.


"Luvena Plastic? Seingat saya Zero Four tidak bekerja sama dengan perusahaan itu, Dirla."


"Maaf, Pak. Mereka salah satu debitur yang melakukan pinjaman dalam jumlah besar pada Zero Bank dan Istri dari pemilik perusahaan itu sudah berulang kali meminta saya untuk mengatur pertemuan dengan anda."


Sekedar informasi, Zero Four merupakan perusahaan Cakra yang memiliki banyak anak perusahaan yang bergerak diberbagai bidang.


Salah satunya Black Jewelry dan Zero Bank. Serta satu lagi, Honam Hospital.


"Dan kamu setuju tanpa meminta izin lebih dulu pada saya?"


Dirla langsung menundukkan wajah merasa bersalah, "Maafkan saya, Pak."


"Jika itu bukan kamu, sudah pasti saya akan menyuruh HRD memberimu surat peringatan, Dirla. Urusan dengan debitur itu tugas divisi keuangan bukan dengan saya, paham?"


Dirla mengangguk pelan, "Iya. Sekali lagi, saya minta maaf, Pak."


Cakra bukan tipikal Bos galak yang bersikap sesuka hati pada anak buahnya, seperti kebanyakan cerita di novel romance selama ini.


Tergantung situasi.


"Kali ini saya maafkan. Jangan diulangi lagi, Dirla."


"Iya, Pak."


Cakra tidak akan segan menegur langsung pada siapa saja yang bekerja tidak sesuai dengan aturan yang ada.


Setelah mengatakan itu, Cakra meminta Dirla agar menghubungi Ajun, sopirnya.


"Ke Sushi Te sekarang." perintah Cakra, seraya memeriksa perkembangan grafik saham perusahaan yang setiap hari terus melonjak naik.


"Baik, Pak."


...••••...


Gundukan tanah di depannya masih basah seiring isak tangis Bianca yang mulai berhenti.


Terlalu lelah meratapi nasib hidupnya yang kini sebatang kara setelah kepergian Pak Justin untuk selama-lamanya.


3 jam yang lalu ...


"Papa yang kuat! Papa harus bertahan! Demi aku dan perusahaan kita, Pa."


"M-maaf."


"Aku tidak butuh kata maaf, aku hanya ingin Papa bertahan dan selalu berada di sampingku. Maaf, seharusnya aku bisa lebih tegas melarang Papa agar tidak menikahi wanita ular itu ..."


Bianca diminta keluar oleh Suster namun ia menolak karena tidak ingin meninggalkan Ayahnya berjuang sendirian.


"K-kamu harus m-menikah dengan C-cakra."


Napas Pak Justin semakin tersengal. Nyawanya terasa berada diujung tenggorokan.


Bianca menggelengkan kepala dengan airmata yang terus membasahi pipi.


"Aku tidak mau! Aku tidak mengenal pria itu, Papa. Berhenti membicarakan nama dia!"


Pak Justin ikut menangis disela rasa sakitnya. Merasa bersalah pada Bianca yang harus menanggung semuanya sendiri.


"Ini tidak adil! Kenapa harus aku yang menanggung beban seberat ini, Papa? Kenapa?"


"M-maaf! J-jika kamu menikah dengan Ca— uhuk, uhuk! C-cakra bisa membantumu m-menyelamatkan perusahaan k-kita, Bianca."


Cakra, Cakra, Cakra.


Kenapa nama itu yang Bianca dengar sejak tadi?


"Papa mengenal Cakra? Siapa dia? Pa, aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak kucintai! Aku tidak mau menyesal seumur hidupku. Pa— hks! Aku tidak mau!"


Melihat situasi itu, Dokter segera mengambil tindakan tegas dan meminta Suster agar membawa Bianca keluar dari ruangan tersebut supaya tidak mengganggu konsentrasi para tim medis.


Namun sepertinya, Tuhan lebih menyayangi Pak Justin.


Tepat saat jemari Bianca hendak memutar knop pintu, suara alat bantu pernapasan Pak Justin berhenti berdetak dan membuat Bianca berteriak histeris.


"PAPA!"


...••••...


"Terimakasih sudah meluangkan waktu anda untuk datang ke sini."


"Ada urusan apa sampai anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Cakra, seraya melirik jam rolex yang melingkari pergelangan tangannya.


Seolah tak minat berbasa-basi dengan wanita yang ada di hadapannya tersebut.


"Saya sempat membaca artikel tentang kehidupan pribadi anda, Pak Cakra."


"Lalu?"


Dengan tetap tersenyum, Bu Elina menunjukkan surat perjanjian hutang antara Pak Justin dan Zero Bank.


"Saya ingin mengajukan sebuah penawaran pada anda."


"Penawaran apa?"


Cakra merasa jika wanita itu mempunyai rencana licik untuk mendapatkan keuntungan secara pribadi melalui penawaran yang diajukan.


"Saya ingin menjodohkan Putri Tiri saya dengan anda tapi dengan syarat, anda harus menganggap lunas semua hutang atas nama Justin Luvena pada Zero Bank dan ..."


Sudah Cakra duga sebelumnya.


Cakra tersenyum sinis menanggapi Bu Elina yang tampak begitu percaya diri mengatakan hal itu, "Beri saya tambahan dana lagi untuk modal usaha baru saya, Pak. Karena sepertinya, perusahaan Suami saya akan segera pailit."


Bu Elina menyesap segelas americano dingin untuk membasahi tenggorokannya disela percakapan itu, "Tidak banyak. Hanya 10 milyar sebagai modal awal."


"Dan anda pikir, saya tertarik dengan penawaran itu? Hutang Pak Justin pada Zero Bank sebesar 40 milyar belum dibayar lalu sekarang, anda meminta tambahan dana lagi sebesar 10 milyar untuk usaha yang tidak saya ketahui bidang dan profitnya? Lucu sekali!" ejek Cakra.


Bukannya merasa malu setelah mendapat penolakan, Bu Elina justru semakin gencar menawarkan Bianca pada duda kaya satu anak tersebut.


"Ini foto Putri saya. Namanya Bianca Luvena. Dia Mahasiswi jurusan bisnis dan bulan depan hari kelulusannya ..."


Foto berukuran sedang itu ia tunjukkan pada Cakra, "Tidak usah buru-buru mengambil keputusan. Anda bisa mempertimbangan dulu penawaran ini, Pak."


Cakra tidak merespon ucapan Bu Elina. Ia terkejut dihadapkan dengan situasi seperti ini.


Pertama kalinya Cakra bertemu dengan wanita semacam itu. Yang tega menukar Anaknya demi lembaran uang yang tidak ada apa-apanya, menurut Cakra


"Okay! Akan saya pikirkan dulu soal ini."


Bu Elina tersenyum lega. Meskipun belum ada kesepakatan diantara mereka tapi ini sudah cukup membuatnya yakin jika Cakra pasti akan tertarik dengan Bianca.


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Terimakasih atas waktu anda, Pak Cakra."


...••••...


Jgn lupa tambahin ke library kalo suka sma cerita ini, thankyou!


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!