
Sekeras apapun sebuah batu, jika setiap hari terus-menerus ditetesi air maka batu itu akan berlubang juga.
Begitu pun dengan hati seseorang. Akan melunak dan luluh seiring berjalannya waktu.
Bianca memperhatikan Malvin yang sedang disuapi oleh Bik Karin. Sebab Malvin masih canggung jika berinteraksi dengan Bianca terlalu dekat.
Meskipun sudah berdamai, Malvin tetap butuh waktu untuk menyesuaikan diri.
"Bik Hana boleh pulang sekarang. Ajun sudah menunggu di Lobby."
"Lalu bagaimana dengan anda, Bu? Lebih baik saya di sini saja membantu menjaga Mas Malvin. Saya khawatir, anda kelelahan jika menjaga Mas Malvin sendirian."
Bianca menggeleng pelan. Memberikan beberapa lembaran uang seratus ribu pada Bik Hana, "Tolong besok buatkan Bubur Ayam untuk Malvin. Dia tidak suka makanan Rumah Sakit ..."
"Bibik juga tidak usah khawatir. Ada Bik Karin di sini. Kita bisa gantian berjaga. Besok Bik Hana juga boleh datang agak siang kalau masih repot. Minta Ajun yang mengantar buburnya ya."
"Baik, Bu. Ada lagi?"
Bianca terdiam sejenak. Sebenarnya ia malas menanyakan wanita itu tapi Bianca juga penasaran.
"Elina kemana, Bik? Apa dia di rumah?"
"Loh, anda belum tahu?"
"Soal apa?"
"Bu Elina 'kan sedang pergi ke luar negeri. Tepatnya dua hari yang lalu beliau berangkat."
Wanita itu benar-benar keterlaluan.
"Cakra tahu soal ini?" tanya Bianca lagi.
Bianca melirik ke arah Malvin. Takut pemuda itu mendengar pembicaraan mereka.
"Bapak sudah tahu."
Untungnya Malvin kembali tertidur karena efek obat yang diminum.
"Kemarin Bu Elina juga minta uang ke Bapak, Bu." sahut Bik Karin.
"Iya. Kami tidak sengaja menguping pembicaraan mereka, maaf."
Dalam hati, Bianca memaki Bu Elina yang terus-menerus memeras Suaminya. Jangan dikira Bianca tidak tahu sifat busuk wanita itu jika menyangkut soal uang.
"Ya sudah. Bibik bisa pergi sekarang. Takut kemalaman di jalan."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
"Hm, hati-hati di jalan."
Bianca segera mendial nomor Suaminya guna menegur pria itu agar tidak sembarangan memberikan uang pada si Ibu Tiri.
...•••• ...
Pagi menjelang.
Bianca tidak bisa tidur, ia terjaga semalaman. Apalagi kalau bukan demi mengawasi Malvin. Takut anak itu bangun dan membutuhkan sesuatu.
"Ma ..." panggil Malvin.
"Ada apa, Nak? Kamu butuh sesuatu?"
Malvin terdiam sejenak, menatap Bianca dengan tatapan sendu, "Kenapa, Malvin? Apa ada yang sakit? Sebentar, biar Mama pang–"
"Maaf."
"Untuk apa meminta maaf, hm?" usapan lembut Bianca membuat Malvin semakin diliputi perasaan bersalah.
Sebab selama ini, Malvin tidak pernah menunjukkan sikap yang baik terhadap Bianca. Bahkan Malvin juga hampir membuat Bianca celaka meskipun insiden itu tidak disengaja.
Tetap saja, Bianca bisa meninggal karena tenggelam jika saat itu Cakra tidak segera menolongnya.
"Maaf! Karena selama ini aku menganggap Mama hanya berpura-pura baik di depan Papa dan aku. Aku juga sering membuang bekal makanan yang Mama buatkan dengan susah payah ..."
"Ma, aku benar-benar minta maaf. Aku egois dan tidak cukup dewasa untuk mengerti perasaan kalian. Aku ..."
"Hey, tidak apa-apa! Lihat Mama, Malvin. Kamu hanya perlu menyesuaikan diri untuk bisa berdamai dengan apa yang telah terjadi di masalalu. Mama sangat memahami perasaanmu."
Rasa sakit itu membuat Malvin tidak mempercayai siapa pun yang ingin menjadi Ibu Sambungnya, termasuk Bianca.
Malvin takut ditinggal pergi lagi saat sudah merasa nyaman.
Tanpa mereka sadari, seseorang menguping semua pembicaraan mereka dibalik pintu ruangan tersebut.
...••••...
Pukul 10.00
Kali ini Malvin lebih banyak tersenyum. Bik Karin ikut bahagia melihat interaksi kedua majikannya, seperti Ibu dan Anak yang saling menyayangi.
"PAPA!" pekik Malvin saat melihat Ayahnya tiba-tiba datang dengan seulas senyum.
Bianca ikut menoleh, terkejut melihat kedatangan Suaminya. Sebab Cakra tidak mengabari jika akan pulang cepat.
"Tetap berbaring, Sayang. Bagaimana keadaanmu? Maafkan Papa ya! Tidak menemanimu saat operasi kemarin."
"Ada Mama Bianca yang menjagaku. Papa tidak usah khawatir. Iya 'kan, Ma?"
Bianca hanya mengangguk. Bersyukur jika sekarang Malvin lebih sering mengajaknya bicara.
"Wah! Sepertinya Papa melewatkan sesuatu yang menyenangkan ya." goda Cakra hingga membuat Malvin tersenyum malu.
Namun berbeda dengan ekspresi Bianca yang menatapnya dingin. Seolah banyak hal yang ingin disampaikan pada Suaminya.
Mama memang sudah menganggapmu seperti Anak Kandung Mama sendiri, Malvin.
Tapi maaf! Mama belum bisa mencintai Papamu.
Dan Cakra tahu arti tatapan tersebut.
Oleh karena itu, Cakra meminta Bik Karin untuk menjaga Malvin sebentar dan mengajak Bianca berbicara diluar.
"Ada apa?"
"Aku senang karena Malvin akhirnya mulai bisa menerimaku tapi aku minta, jangan berharap apa-apa. Cinta, misalnya! Karena sejak awal, pernikahan ini bukan keinginanku, Cakra."
Mendengar hal itu, Cakra menatap kecewa pada Bianca namun enggan mengatakannya secara langsung.
"Aku pikir kamu mau bicara apa. Ternyata hanya ini?" jawab Cakra sekenanya.
"Ada hal lain yang perlu aku tanyakan padamu."
Kening Cakra mengkerut, "Tentang apa?"
"Ini tentang Elina ..."
"Kenapa kamu memberinya uang lagi, Cakra? Dia itu matrealistis dan licik! Buktinya sudah jelas. Harta Papaku habis digunakan untuk berfoya-foya. Seharusnya kamu tidak perlu menuruti keinginan wanita itu. Elina akan semakin kurang ajar jika kamu selalu memberikan semua yang diinginkan."
"Aku punya alasan kenapa aku melakukan itu."
"Apa alasannya? Kukira, kamu pria cerdas yang tidak mudah tertipu oleh ucapan licik Elina."
"Tidak semua hal di dunia bisa dijelaskan, Bianca. Sudah! Jangan dibahas lagi. Tadinya aku senang melihatmu dan Malvin bisa akur tapi begini sambutanmu pada Suami yang baru pulang kerja?"
Bianca merotasikan malas kedua matanya. Ia ingin mendebat lagi namun ponselnya berdering.
Panggilan dari Bu Elina.
"Apa?"
"Mama butuh 100 juta. Transfer ke rekening Mama sekarang, Bianca."
"Haha, lucu sekali! Kamu pikir, aku mesin uang? Bisa dengan mudah kamu mintai berapa pun yang kamu inginkan, hah?" bentak Bianca.
Membuat kedua alis Cakra menukik, bingung. Dilihat dari nada bicaranya, Cakra bisa menebak dengan siapa Bianca berbicara.
"Anak tidak tahu diri. Jika bukan karena bantuan Mama, mungkin kamu akan mendekam di penjara, Bianca. Ingat! Mama yang membantumu sampai Cakra setuju menikahimu, bodoh! Jadi anggap saja, ini sebagai imbalan atas usaha Mama yang menjodohkan kalian."
"Terserah. Lama-lama, aku muak melihat kelakuanmu itu, Elina."
Panggilan ditutup sepihak.
Bianca geram mendengar mulut sialan Bu Elina yang terus mengungkit masalah hutang itu.
"Siapa? Mama Elina yang meneleponmu?"
"Ya. Dia minta uang 100 juta tapi aku menolak memberikannya. Kamu juga harus sepertiku atau aku akan marah kalau sampai kamu memberinya uang lagi–"
Ponsel Bianca kembali berdering namun kali ini, Bianca langsung memblokir nomor tersebut agar tidak mengganggunya lagi.
"Apapun yang terjadi, kamu harus diskusikan dulu denganku, paham?"
"Kenapa kamu jadi mengaturku, Bee?"
"Kenapa harus bertanya? Aku Istrimu dan aku punya hak atas dirimu juga, Cakra."
Membuat Cakra tersenyum dalam hati sebab secara tidak langsung, Bianca mengakuinya sebagai Suami meskipun sering mengatakan ia menyesal dengan pernikahan ini.
...••••...
TOUCH VOTE LIKE COMMENT!