
Selama perjalanan pulang, Bianca dan Cakra tak saling bicara. Mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.
Entah kehidupan pernikahan seperti apa yang akan mereka jalani jika Malvin terus bersikap dingin pada Bianca.
"Soal Malvin, tidak usah kamu pikirkan, okay! Aku yakin, cepat atau lambat dia pasti akan menerimamu sebagai Ibunya setelah kita menikah."
Bianca menghela napas panjang dan tidak memberi komentar apapun. Ia lelah. Butuh banyak energi untuk menjalani aktifitas hari ini.
Yang paling lelah adalah hatinya.
"Bee–"
"Apa?"
"Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu padaku sebelum masuk ke dalam?"
Tidak mungkin Cakra sungguhan jatuh cinta padaku. Batin Bianca.
"Apa yang ingin kamu dengar, Cakra?"
Jengah.
Bianca mendengus kesal saat Cakra hanya mematung. Menatapnya tak berkedip.
Cahaya lampu yang remang tidak menutupi kecantikan Bianca hingga membuat Cakra terpesona.
Chup!
Tanpa permisi, Cakra mengecup bibir cherry itu lalu tersenyum tipis sebab itu diluar kesadarannya.
"M-maaf." gugup Cakra sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Brengsek!"
Setelah mengumpat, Bianca keluar dari mobil dengan perasaan marah dan malu.
Berani sekali Cakra menciumnya sebelum mereka resmi menikah.
"Cakra, Cakra, bisa-bisanya kamu kelepasan tadi, astaga."
Kegiatan mereka terekam jelas melalui cctv yang dipasang di gerbang depan.
"Ekhem! Aku senang hubungan kalian berjalan sesuai rencana ..."
Bianca mengabaikan ucapan Bu Elina yang tengah menggoda dirinya.
Tidak perlu ditanya, wanita itu pasti melihat adegan barusan melalui layar monitor.
"Setelah kalian menikah, aku ikut tinggal bersamamu dan Cakra ya!"
Bianca menghentikan langkahnya lalu menatap sengit Bu Elina yang sedang rebahan membaca majalah fashion di sofa panjang dengan kedua kaki selonjoran.
"Coba katakan sekali lagi."
"Aku bilang ingin tinggal bersamamu dan Cakra, tuli?"
Bianca diam cukup lama. Menatap muak pada sosok wanita yang menjadi benalu dikehidupannya.
Bahkan pasca kematian Pak Justin, wanita itu semakin menjadi-jadi dan tidak mau pergi dari rumah ini.
"Kenapa? Kamu keberatan?"
Decihan terdengar, "Dasar tidak tahu malu."
Karena malas berdebat lagi, Bianca memilih pergi ke kamarnya dan berharap pernikahan itu tidak akan pernah terjadi.
Bayangkan jika diposisi Bianca, menghadapi Bu Elina saja sudah cukup membuatnya habis kesabaran. Ditambah dengan kehadiran Malvin yang menambah beban pikirnya karena sebenarnya pemuda itu juga tidak menginginkan Cakra menikah lagi sebab masih trauma dengan perceraian kedua orangtuanya sepuluh tahun yang lalu.
Iya. Setelah makan malam itu, Cakra menceritakan semuanya tentang Haura dan alasan mereka berpisah hingga membuat Malvin bersikap demikian pada setiap wanita yang dekat dengan Cakra, tanpa terkecuali Bianca.
...••••...
Pukul 5.30.
Malvin bangun lebih cepat dari biasanya. Ia juga membuat sarapan sendiri sebab Bik Karin masih berbelanja bahan makanan di pasar.
"Eh, Mas Malvin sudah bangun. Mau saya buatkan sarapan, Mas?"
"Tidak usah, Bik. Aku sudah membuat nasi goreng sendiri ..."
Benar. Ada bekas piring kotor yang baru saja diletakkan di westafel, "Aku mau siap-siap berangkat ke sekolah dulu, Bik."
"Mas Malvin–"
Malvin menoleh ke samping. Melihat Bik Karin mengulas senyum padanya.
"Duduk dulu yuk. Ini masih terlalu pagi untuk datang ke sekolah."
Seperti dihipnotis, Malvin hanya menurut lalu diminta menunggu Bik Karin di halaman belakang.
"Bu Bianca cantik ya, Mas?"
"Sopan dan ramah juga. Saya senang Bapak bisa bertemu wanita sebaik Bu Bianca ..."
"Biasanya wanita yang datang ke rumah ini berlaku seenaknya. Minta ini dan itu sesuka hati, tapi Bu Bianca berbeda." lanjut Bik Karin, berusaha mengambil hati Malvin agar sedikit mau melunak.
"Beda apanya?"
Dalam hati, Bik Karin tersenyum senang melihat reaksi Malvin yang mulai tertarik mendengarkan ceritanya tentang Bianca.
"Jadi semalam Bu Bianca membantu saya membereskan meja makan dan mencuci piring kotor sebelum beliau pulang, Mas. Lalu sisa makanan dan kue yang masih ada, diminta untuk dibagikan ke tetangga. Baik sekali 'kan? Bu Bianca juga berpesan supaya saya membuatkan bekal makanan untuk Mas Malvin setiap hari. Ya Tuhan! Saya terharu melihatnya, Mas."
"Jangan naif! Itu karena mereka belum resmi menikah. Coba lihat setelah menikah nanti, Bik."
"Kata Bapak, Bu Bianca memang kelihatannya galak diluar tapi aslinya lembut dan penuh kasih sayang, Mas."
"Masa? Aku tidak percaya jika belum melihatnya sendiri."
Padahal selama ini Malvin tidak pernah sekali pun meragukan ucapan Bik Karin.
Ia selalu percaya pada wanita itu, seratus persen. Tidak ada kebohongan pada sepasang mata itu.
Jika Bik Karin mengatakan Bianca adalah orang yang baik, maka itulah kebenarannya bahkan mata Bik Karin terlihat berbinar saat membayangkan wajah cantik Bianca.
Seulas senyum itu tersungging, "Tidak apa-apa. Memang butuh adaptasi lagi. Perlahan, Mas Malvin akan menyadari ketulusan Bu Bianca."
Bik Karin melihat siluet Cakra yang berjalan menghampiri mereka.
"Permisi, Pak."
Cakra hanya balas mengangguk.
Mendudukkan diri di kursi kosong yang ada di sebelah Malvin.
"Maaf ..."
"Papa tidak akan memaksamu lagi untuk menyetujui pernikahan Papa–"
"Aku setuju!"
Secepat Malvin berbicara, secepat itu juga Cakra menoleh ke samping, "Maksudnya?"
"Aku setuju Papa menikah lagi tapi tolong, jangan memaksaku untuk bersikap ramah pada Tante itu apalagi menyuruhku dekat-dekat dengannya. Aku tidak mau!"
Malvin beranjak dari kursi. Meninggalkan Cakra yang masih bingung akan ucapan si anak yang membuatnya terkejut.
Aku bingung harus menganggap ini kabar baik atau justru kabar buruk.
...••••...
Pertemuan dadakan itu dilakukan di Restauran Cina yang tempatnya berdekatan dengan kantor Cakra.
Bianca dan Bu Elina diminta datang untuk membahas pesta pernikahan yang akan digelar minggu depan.
"Kenapa harus buru-buru? Apa ini tidak terlalu cepat? Cakra! Aku ingin pesta pernikahan kita dibuat sederhana saja. Sesuai kesepakatan kita diawal." protes Bianca, menutup kembali katalog yang dibawa oleh salah satu WO terbaik di kota tersebut.
"Sederhana kepalamu!"
Bu Elina melipat bibirnya lagi saat menyadari Cakra menatapnya, "Maaf. Maksud Mama, kita tidak mungkin menggelar pesta biasa-biasa saja, Bianca. Apa kata para kolega Pak Cakra jika tahu konglomerat seperti dia menikah secara sederhana? Bisa mencoreng nama baik keluarga Baswara jika kamu sadar."
"Yang menikah itu aku bukan Tante! Jadi tidak usah banyak mengaturku atau kita batalkan saja pernikahan ini." ketus Bianca.
Ia juga kesal sebab sejak mengetahui Malvin menyetujui pernikahan itu, Bu Elina langsung sesumbar dan memanggil dirinya dengan sebutan Mama atau Nenek.
Supaya lebih akrab dan dekat, katanya.
"Tidak bisa! Jangan mempermalukan calon Suamimu dengan ide konyolmu itu, Bianca. Mama ingin konsep kalian dibuat sangat mewah. Bahkan lebih mewah dari pernikahan crazy rich Asian."
Bianca memutar malas kedua matanya.
Menyuruh staff WO itu segera membereskan semua katalog yang berceceran di meja lalu memberinya sejumlah uang tip sebagai permintaan maaf karena tidak jadi menyewa jasa mereka.
"Bianca! Kamu benar-benar membuatku hilang kesabaran!"
"Cukup! Berhenti berdebat lagi!" ucap Cakra menengahi.
Saat melihat Bianca hendak bersuara namun tidak jadi dan membuang muka ke luar jendela.
Ia tidak suka diatur.
Sejak dulu atau pun sekarang, Bianca memang tidak terlalu suka dengan pesta yang memicu keramaian dan membuatnya lelah nanti.
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!