Love Story Of Bianca Luvena

Love Story Of Bianca Luvena
KEBERATAN



Bianca berjalan menyusuri trotoar dengan langkah gontai. Ia juga menolak diantar pulang oleh Cakra.


Tiba-tiba saja Bianca berjongkok seperti anak kecil dan menyembunyikan kepalanya diantara kedua lutut.


Lantas Cakra menyuruh Ajun untuk menghentikan mobilnya ditepi jalan yang tidak jauh dari tempat Bianca.


"Dia aneh!" gumam Cakra yang masih didengar Ajun.


"Anda mau turun, Pak?"


"Tidak. Kita awasi dulu."


Tentu saja Cakra gengsi untuk menunjukkan perhatiannya secara terang-terangan pada wanita keras kepala itu.


Hingga Bianca kembali berdiri sebab kedua kakinya terasa kesemutan jika terus berjongkok terlalu lama menggunakan sepatu heels.


Ia pun berjalan ke tepi jalan guna mencegat taksi namun tidak ada satu pun yang mau berhenti.


"Masuk!"


Bianca berpura-pura tidak melihat Cakra dan sibuk mencegat kendaraan lain asal tidak berada di mobil yang sama dengan pria itu.


"Jangan menguji kesabaranku, Bee."


Bianca mendengus kesal saat Cakra menyeretnya masuk ke dalam mobil.


"Aku belum bisa menentukan tanggal pernikahan kita ..." kata Cakra membuka topic pembicaraan.


Itu bagus!


Tidak ada respon yang keluar dari bibir cherry tersebut.


Bianca benar-benar menguji kesabaran Cakra yang setipis benang jahit.


"Dan selama menunggu, aku ingin kamu tinggal bersamaku sementara waktu."


"Ah! Jadi ini salah satu kebiasaan burukmu yang baru saja kamu tunjukkan padaku?" ucap Bianca dengan nada mengejek.


"Apa?"


"Apanya yang apa?" Bianca melirik tajam ke arah Ajun yang tampak sedang menguping pembicaraan mereka melalui pantulan kaca di depannya, "Mengajak wanita asing tinggal bersama tanpa status yang jelas, bukankah itu namanya kumpul kebo?"


Cakra agak tersinggung mendengar ucapan Bianca. Seolah menganggap Cakra itu pria mesum.


"Kumpul kebo katamu?"


"Iya! Kenapa? Kamu marah?"


"Apa hanya ini isi otak Mahasiswi lulusan S1 sepertimu?" sindir Cakra tak kalah sinisnya.


Bianca mengernyit, tak suka jika seseorang mulai menyinggung jenjang studinya ke dalam topic yang tidak jelas seperti ini.


"Lalu apa tujuanmu mengajakku tinggal bersama jika bukan untuk melakukan hal-hal tertentu? Pria dan wanita tidak bisa tinggal bersama tanpa melakukan sesuatu, Cakra."


Ucapan Bianca membuat Cakra terdiam dan enggan melanjutkan pembicaraan itu lagi. Padahal tuduhan Bianca tidak sepenuhnya benar.


...••••...


Pukul 5 sore.


Malvin tak kunjung memberi kabar pada Cakra jika akan pulang terlambat.


Berkali-kali Cakra menghubungi Malvin namun tidak ada jawaban.


Membuat Cakra semakin cemas sebab si anak tidak biasanya seperti ini. Apalagi kemarin mereka sempat berdebat soal rencana pernikahan itu.


Cklek!


Malvin baru saja pulang dengan kondisi sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Bahkan celana yang dikenakan pemuda itu sobek dibagian lutut serta kepalanya juga terbalut perban.


"Ya Tuhan, Malvin! Apa-apaan ini? Kenapa kamu bisa terluka seperti ini?"


Malvin meringis kesakitan ketika Cakra menyentuh luka di keningnya. Ia melihat Ayahnya tampak khawatir dan hal itu membuat Malvin merasa bersalah.


"Aku dan Dean jatuh dari motor karena menghindari Ibu-ibu, Pa."


"Begini akibatnya kalau kamu menolak Papa jemput. Mulai besok biar Om Ajun yang menjemputmu di Sekolah."


Kemudian Cakra menuntun Malvin menuju kamarnya.


Tidak lupa, Cakra meminta Bik Karin menyiapkan air hangat untuk membersihkan bekas noda darah yang ada ditubuh Malvin.


"Papa mau minta maaf soal semalam. Malvin, Papa tidak bermaksud membuka luka lama dihatimu tapi Papa hanya ingin kamu mendapat perhatian dari kedua orangtua yang lengkap seperti teman-temanmu di Sekolah ..."


"Papa juga berharap, kamu tidak menyimpan dendam pada Mama Haura dan tidak menjadikan perceraian kami sebagai trauma yang sulit disembuhkan."


Hati Malvin berdenyut sakit ketika Cakra mengatakan semua itu dan menganggap luka yang dirasakannya bukanlah apa-apa.


Malvin salah mengartikan keputusan Cakra yang ingin menikah lagi. Menjadikan semua itu terasa rumit bagi Cakra yang ingin memberikan kejelasan hubungannya dengan Bianca.


Sebenarnya Cakra bisa saja membantu Bianca tanpa harus menikahi wanita itu tapi ada sesuatu yang membuat Cakra tertarik dan ingin melindungi Bianca, terutama dari Bu Elina yang tega menawarkan Bianca padanya demi melunasi hutangnya pada Zero Bank.


"Pikirkan ini baik-baik, Nak. Papa hanya ingin keluarga kita menjadi lengkap dan bahagia."


"Papa bisa keluar sekarang." kata Malvin, dengan wajah tertunduk lesu.


"Papa akan memberimu waktu untuk memikirkan semuanya."


Cakra mencium kening Putranya dengan penuh kasih sayang. Berharap bisa meluluhkan hati si anak dan sebagai bukti jika Cakra akan tetap selalu menyayangi Malvin meski ia sudah menikah nanti.


Itu tidak akan mengubah hubungan baik diantara keduanya.


...••••...


Masih di pagi yang sama seperti sebelumnya.


Selesai sarapan, Cakra langsung mengantar Malvin ke sekolah dan mulai hari ia juga akan menjemput Malvin.


Cakra khawatir insiden kecelakaan itu kembali terulang lagi. Beruntung Malvin tidak mendapat luka serius seperti Dean yang harus mendapat banyak jahitan sebab kebetulan saat itu posisinya berada di belakang hingga tubuhnya terpental agak jauh dari motor karena belum sempat berpegangan pada Malvin yang memboncengnya.


"Kalau masih sakit, kamu bisa istirahat di UKS. Papa sudah memberitahu wali kelasmu soal kecelakaan kemarin."


"Iya, Pa. Terimakasih."


"Pulang sekolah Om Ajun akan menjemputmu. Papa tidak bisa ikut karena harus bertemu klien–"


"Pa, sudah ya! Aku harus masuk sekarang!"


Cakra terkekeh melihat wajah kesal Anaknya. Rasanya jarang sekali melihat mereka mengobrol santai seperti ini disela kesibukkan Cakra yang harus bangun pagi dan pulang malam sehingga mereka jarang melakukan quality time bersama.


...••••...


Bianca mendengar suara pintu kamarnya diketuk.


Itu suara Bik Hana.


"Masuk, Bik."


"Maaf, Mbak. Ada Mas Cakra di depan."


"Cakra?"


Bik Hana tersenyum "Iya, Mbak. Katanya mau mengajak Mbak Bia sarapan bubur ayam di kedai depan gang komplek."


Bianca mendengus kesal. Melanjutkan kembali acara tidur paginya yang diganggu.


Byur!


Keduanya memekik kaget saat Bu Elina tiba-tiba datang dan mengguyur Bianca dengan ember yang dibawa dari dapur.


"Bangun! Jangan membuat Pak Cakra menunggu wanita malas sepertimu, Bianca!"


Telinga Bianca berdengung sebab air guyuran itu memasuki telinganya.


"TANTE!" bentak Bianca.


"Bu Elina tidak sepantasnya anda bersikap seperti ini pada Mbak Bianca!" protes Bik Hana juga.


Lalu mengambilkan handuk untuk membantu Bianca mengerikan rambut, "Saya siapkan air hangat dulu ya, Mbak."


Kemudian Bik Hana menatap marah pada Bu Elina yang berdiri di depan pintu tapi Bik Hana masih tahu batasan untuk tidak memaki majikannya tersebut.


"Kamu hanya pembantu di Rumah ini. Jadi berhenti bersikap sok berkuasa, Hana."


"Tidak usah pedulikan parasit ini, Bik."


"Iya, Mbak. Tunggu sebentar ya."


Bu Elina tidak sakit hati mendengar sebutan itu sebab dirinya juga sadar bahwa julukan parasit memang cocok untuknya.


Ia juga harus menjaga image di depan Cakra supaya dianggap sebagai Ibu Tiri yang baik.


Tentu semua itu memiliki maksud dan tujuan yang bisa menguntungkan Bu Elina jika Cakra dan Bianca sudah menikah.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!