Love Story Of Bianca Luvena

Love Story Of Bianca Luvena
HAURA



Emosi Cakra kian memuncak. Rahangnya tampak mengeras dengan kedua tangan saling mengepal di atas paha.


Bersiap melayangkan pukulan diwajah Megan.


Mobil yang diikuti berbelok menuju kawasan komplek kediamannya.


"Beraninya dia terang-terangan membawa pria lain ke rumahku."


Brak!


Bunyi bantingan pintu mobil itu membuat keduanya terperanjat kaget.


Bianca melotot saat melihat Cakra berjalan menghampiri dirinya dan Megan dengan raut marah.


"Jangan salah paham. Aku dan— CAKRA!" pekik Bianca ketika Suaminya melayangkan sebuah pukulan diwajah Megan.


Bugh!


Bugh!


"Beraninya kamu mengajak bajingan itu saat aku tidak ada di Rumah!"


Bugh!


"Apa pantas seorang wanita pulang bersama pria lain tanpa meminta izin Suaminya?"


Bugh!


Bugh!


Ajun yang baru selesai makan siang langsung berlarian menghampiri keduanya dan berusaha menjauhkan tubuh Cakra dari Megan.


Cakra memukuli Megan secara membabi buta sebab perasaannya sudah diliputi kecemburuan dan emosi yang tidak bisa ditahan lagi.


"Cakra, hentikan! Dia bisa mati." bentak Bianca.


"LEBIH BAIK DIA MATI SUPAYA KALIAN TIDAK BISA BERSELINGKUH LAGI!"


Megan sudah terkapar tak sadarkan diri dengan wajah babak belur. Ia tidak sempat melawan karena Cakra tidak memberinya jeda sama sekali.


"Pak, sudah. Dia bisa mati kehabisan darah." kata Ajun yang mulai mengkhawatirkan kondisi Megan.


Ajun berusaha sekuat tenaga menahan tubuh jangkung Cakra dan menariknya menjauh.


Mendengar suara ribut diluar, Malvin, Bik Karin dan Bik Hana pun merasa penasaran dan mereka bergegas melihat apa yang terjadi di sana.


"Ya Tuhan, ada apa ini?" bisik Bik Hana pada Bi Karin yang hanya menggelengkan kepala.


Sedangkan Malvin tergopoh menghampiri Ibunya yang menangis di samping tubuh Megan yang telah pingsan.


"Malvin, bantu Mama membawa Om Megan masuk."


"I-iya, Ma."


Malvin gugup saat tidak sengaja bersitatap dengan Ayahnya yang tampak marah melihat Malvin menolong pria selingkuhan sang Ibu.


"Satu langkah kamu berani membawa dia masuk ke rumahku ..."


Cakra menepis kasar tangan Ajun yang memegangi tubuhnya hingga terlepas, "Maka detik itu juga aku akan membunuh dia di depan matamu, Bianca Luvena."


Mendengar ancaman itu, seketika keberanian Bianca muncul. Tangisnya mulai berhenti.


Bianca beranjak berdiri lalu menghampiri Cakra yang sedang menatapnya tajam.


Plak!


Mereka semua terkejut saat Bianca menampar Cakra, tanpa terkecuali Malvin.


Bik Hana dan Bik Karin menggegat bibir, takut. Jika kedua majikannya akan kembali bertengkar lagi.


Tidak ada yang tahu penyebab pertengkaran mereka. Hanya Malvin yang mengetahui masalah yang terjadi diantara kedua orangtuanya.


"Ternyata selama ini diamku tidak membuatmu sadar, Cakra! Jangan kamu berpikir, aku diam karena takut padamu. Tidak! Aku tidak pernah takut menghadapi siapa pun, termasuk pria kekanakan sepertimu!"


Mereka saling menatap tajam.


"Kupikir, kamu adalah pria cerdas yang bisa memahami situasi yang terjadi tapi ternyata aku salah! Megan datang karena dia ingin menjelaskan kesalah pahaman diantara kita! Tidak ada maksud lain, Cakra."


Cakra tersenyum mengejek, lalu raut wajahnya berubah semakin dingin dengan sorot mata yang menatap tajam.


"Bianca, Bianca! Aku bukan bocah kemarin sore yang bisa kalian bodohi ..."


"Jika kalian berniat menjelaskan semuanya, kenapa tidak langsung datang ke Kantorku saja? Kenapa kalian justru datang ke Restauran tanpa sepengetahuanku?"


Semua orang menatap penuh tanya pada Bianca yang hanya mengerutkan kening, tidak suka. Mendengar ucapan Cakra yang menyudutkan dirinya di depan semua orang.


Terlebih ada Malvin yang kini menatapnya dalam diam.


"Kenapa tidak menjawab? Apa semua ucapanku itu akhirnya membuatmu sadar jika kamu dan pria itu memang berselingkuh, hm?"


"TERSERAH! AKU DAN MEGAN TIDAK PERNAH BERSELINGKUH SEPERTI YANG KAMU TUDUHKAN, CAKRA!"


Bianca tidak peduli dengan semua ini. Yang ada dipikirannya sekarang hanya membawa Megan ke Rumah Sakit guna mendapatkan pertolongan sebelum hal buruk terjadi pada pria itu.


"Mau kemana kamu? Kita belum selesai bicara, Bianca."


Cakra mencengkeram tangan Bianca hingga terlihat guratan merah pada pergelangan tangannya.


Mendapat perlakuan itu, Bianca menatap tak bergeming. Atensinya beralih pada Malvin yang kini menatap kedua orangtuanya sendu.


Sebab pertama kalinya, Malvin melihat Ayahnya hilang kendali dan menyakiti orang lain di depan matanya sendiri.


Dan hal itu membuat Bianca kasihan pada Malvin.


"Buta matamu? Kalau Megan mati kehabisan darah, kamu bisa dituntut atas tuduhan pembunuhan. Lepas! Jangan halangi aku membawanya ke Rumah Sakit, Cakra."


"Kamu–"


Ucapan Cakra menggantung ketika melihat sebuah mobil putih berhenti di depan gerbang.


Bukan mobil itu yang membuat tubuhnya seketika menegang. Namun seseorang yang baru saja keluar dari mobil itulah yang membuat Cakra terkejut setengah mati.


"Mama." lirih Malvin dengan mata mulai berkaca-kaca.


Sementara Bianca tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia bergegas menyalakan mesin lalu melajukan mobil setelah membunyikan klakson sekali.


Urusan dengan Cakra biar dipikirkan nanti. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Megan.


...••••...


Selesai mengurus administrasi, Bianca bergegas kembali ke ruang perawatan Megan. Ia juga sempat mampir ke kantin Rumah Sakit untuk membeli makanan dan kopi.


"Hai."


Bianca tersenyum membalas sapaan Megan yang baru saja sadar dari pingsan, "Bagaimana kondisimu, Megan?"


Sorot mata Bianca memancarkan kekhawatiran. Hal itu membuat Megan senang.


Tapi Megan kembali ditampar oleh kenyataan bahwa wanita yang disuka sudah menikah.


Megan tidak boleh menyukai wanita yang sudah bersuami.


"Sudah lebih baik. Tidak perlu sampai rawat inap." Senyum diwajah manisnya luntur saat melihat cincin yang melingkari jari manis Bianca.


"Maaf atas kekacauan yang terjadi. Jika saja aku tidak mengusulkan ide itu ... Kamu dan Cakra tidak mungkin bertengkar lagi."


Bianca menggeleng pelan, "Bukan salahmu. Semua ini salah Cakra! Seharusnya dia tidak bersumbu pendek dan mencari tahu kebenarannya lebih dulu."


"Lalu apa rencanamu selanjutnya, Bianca? Apa perlu aku–"


"Tidak usah. Kamu harus banyak istirahat untuk memulihkan kondisimu ..."


Bianca meringis ngilu melihat beberapa lebam yang menghiasi wajah Megan, "Aku sudah meminta Ajun datang ke sini untuk menjagamu. Soal Cakra, biar aku yang mengurusnya. Kamu tidak perlu khawatir."


"Tapi aku merasa bersalah karena sudah membuat Suamimu salah paham, Bianca."


"It's okay. Itu reaksi wajar saat seseorang tidak sengaja melihat pasangannya berduaan dengan orang lain."


Meskipun aku tidak yakin, Cakra melakukan semua ini atas dasar cinta atau justru hanya ingin mempertahankan harga dirinya yang terluka. Entahlah! Sikap Cakra membuatku semakin bingung. Batin Bianca.


Megan memaksakan senyum. Melihat gurat kesedihan terpancar pada sepasang mata indah milik Bianca.


Itu menandakan jika keduanya saling mencintai begitu dalam.


Tanpa tahu alasan dibalik pernikahan mereka yang sebenarnya.


"Kamu benar, Bia. Aku juga tidak menyalahkan Cakra atas sikapnya padaku. Dia berhak cemburu karena aku juga akan bersikap yang sama jika melihat Istriku bersama dengan pria lain."


Bianca tak menyahut lagi. Hanya menyunggingkan senyum yang terkesan dipaksakan. Sebab Bianca tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Megan.


"Kalau begitu, aku pulang dulu ya? Nanti sore Ajun akan menemanimu. Sementara menunggu, aku sudah meminta Suster penjaga untuk mengawasimu ..."


Bianca beranjak dari kursi, "Kalau butuh apa-apa, tekan tombol emergency. Oh ya! Mobilmu sudah kuparkir di area khusus pegawai dan kuncinya sudah kutitipkan security."


"Kenapa tidak kamu pakai saja mobilku?"


"Tidak usah. Aku sudah pesan taksi online. Lagipula, Cakra bisa semakin marah jika tahu aku pulang memakai mobilmu."


"Okay. Aku mengerti. Hati-hati dijalan, Bianca. Terimakasih sudah membawaku ke Rumah Sakit."


"Hm, sama-sama. Cepat sembuh, Megan."


"Iya, terimakasih."


...••••...


Suasana di Rumah Cakra semakin memanas saat melihat kedatangan Haura secara tiba-tiba.


Wanita yang begitu dibenci oleh Cakra dan Malvin.


"Apa tujuanmu datang ke Rumahku lagi?" tanya Cakra.


Berusaha tetap tenang meski hatinya gelisah.


"Bertemu dengan kalian, tentu saja."


Lalu Malvin?


Pemuda itu menghilang entah kemana.


Sebab begitu melihat Haura datang, Malvin langsung berlari masuk ke dalam dan setelahnya, Malvin mengurung diri di dalam kamar. Ia juga mengunci pintu kamarnya agar tidak ada yang bisa menerobos masuk.


Aku benci wanita itu.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!