Love Story Of Bianca Luvena

Love Story Of Bianca Luvena
DOMPET



Pukul 11 siang.


Bianca baru saja keluar dari salon langganannya setelah melakukan perawatan mingguan seperti biasa.


Ia juga berniat mampir ke Kafetaria yang ada di seberang jalan untuk mengisi perut.


Brugh!


Seseorang tidak sengaja menabrak Bianca hingga barang bawaan mereka sama-sama terjatuh.


"Maaf, Tante. Aku tidak sengaja."


Bianca tidak marah. Justru membantu pemuda itu mengambil bukunya yang jatuh berserakan.


"Lain kali hati-hati. Saya juga minta maaf."


"Iya. Terimakasih."


Kemudian pergi dengan terburu-buru sampai tidak sadar jika dompetnya terselip diantara kaki meja.


"Hey— dompetmu!" pekik Bianca tapi pemuda itu sudah berlalu memasuki taksi.


Bianca berniat memeriksa isi dompet tersebut, mencari kartu identitas yang bisa dihubungi guna mengembalikan pada pemiliknya.


Namun Bianca dikejutkan dengan isi dompet itu yang membuatnya seketika naik pitam.


"Dasar bajingan!"


...••••...


Sesampainya di Kantor Cakra, Bianca langsung menuju lantai sepuluh.


Berbeda dari pertama kali datang, kunjungan Bianca kali ini disambut hangat oleh para pegawai yang sudah mengetahui jika Bianca adalah calon Istri Bos mereka.


Sebab Cakra sudah mengumumkan dihari selanjutnya ketika Cakra menyetujui tawaran perjodohan itu.


Tidak heran jika mereka juga menghormati Bianca saat tidak sengaja berpapasan di Lobby maupun di lift.


Ting!


Pintu lift kembali terbuka. Kebetulan yang diharapkan saat Bianca berpapasan langsung dengan Cakra dan Dirla yang hendak keluar kantor untuk menemui salah satu klien.


"Dirla, bisa tinggalkan kami sebentar?" tanya Bianca.


Dirla mengangguk singkat dan buru-buru pergi setelah melihat aura Bianca yang tak bersahabat.


Kilatan emosi itu tampak pada sorot mata Bianca yang menatap tajam ke arah Cakra.


Mereka pasti bertengkar lagi.


"Ada apa?"


Cakra dan Bianca duduk saling berhadapan.


Brak!


Kedua alis Cakra menukik ke depan. Mengenali dompet yang pernah ia pesan dari Italia secara khusus sebagai hadiah ulangtahun dan tentu saja Cakra juga tahu siapa pemilik dompet tersebut.


Sebab ada inisial huruf M dibagian ujung dompet.


"Apa maksudnya ini?"


"Aku memang pernah menikah dan memiliki 1 anak laki-laki ..."


"Kamu sudah bertemu dengan Malvin? Kapan dan dimana?" tanya Cakra lagi.


Seolah masalah ini tidak perlu dibesar-besarkan mengingat Cakra sedang mencari waktu yang tepat untuk mengenalkan Bianca pada Malvin.


"Dasar penipu! Tega sekali kamu menyembunyikan hal sepenting ini dariku, Cakra."


"Aku butuh waktu untuk membicarakan soal ini denganmu. Lagipula apa kamu tidak membaca artikel tentang keluarga Baswara?"


Cakra agak dongkol melihat reaksi Bianca yang tidak tahu apa-apa tentang ia dan keluarganya.


Padahal dulu media sempat menyoroti kabar perceraian Cakra dan Haura.


"Aku tidak suka membaca gosip murahan asal kamu tahu."


Bianca bangkit dari tempat duduk. Dengan mata berkaca-kaca, menahan tangis. Merasa kecewa pada Cakra yang telah menutupi status dudanya.


Tidak masalah jika Cakra pernah menikah, hanya saja Bianca membenci pria yang tidak jujur saat memulai sebuah hubungan yang serius dengannya.


"Duduk. Jangan bertingkah kekanakan!"


"Kamu yang kekanakan! Aku sadar kalau pernikahan kita hanya karena hutang tapi setidaknya jangan membuatku terlihat seperti wanita bodoh yang tidak mengenali calon Anak Tiriku sendiri."


"Lalu apa maumu sekarang? Aku masih berusaha membujuk Malvin agar dia setuju aku menikah lagi. Karena itu aku mencari waktu yang tepat untuk mengenalkanmu padanya, Bianca."


Jadi anak Cakra juga menentang pernikahan ini. Itu bagus!


"Kalau begitu batalkan saja pernikahan kita. Soal hutang itu, aku berjanji akan mencicilnya sampai lunas setelah mendapat pekerjaan."


"Bianca!" bentak Cakra.


"Kenapa marah? Jangan-jangan kamu mulai jatuh cinta padaku ya." ejek Bianca.


"Berhenti bicara omong kosong! Aku hanya kasihan padamu. Pasti rasanya tidak enak hidup menjadi sebatang kara bukan?"


Anggap saja Cakra denial tentang perasaannya pada Bianca yang perlahan mulai tumbuh tanpa ia sadari.


Mendengar hal itu, Bianca jelas tersinggung dan marah. Karena nada bicara Cakra terdengar mengolok-ngolok.


Mentertawakan kehidupannya yang tampak begitu menyedihkan. Tidak pernah merasa bahagia semenjak mendiang Pak Justin menikah dengan Bu Elina yang serba matrealistis.


"Kamu tidak tahu apapun soal hidupku!"


Setelah mengatakan itu, Bianca beranjak pergi. Mengabaikan panggilan Cakra yang memintanya tetap duduk guna menyelesaikan kesalah pahaman yang terjadi.


...••••...


Malvin baru saja bangun. Ia langsung turun ke bawah untuk mengambil air minum di kulkas.


"Kenapa masak banyak sekali, Bik?"


Ada rendang, udang saus padang, sate dan beberapa kue basah yang baru dibeli dari toko langganan keluarganya.


Semua tampak menggiurkan.


"Kata Bapak ada tamu yang mau datang, Mas. Permisi."


Malvin menarik kursi saat ia tergoda melihat risol mayo kesukaannya yang berjejer di atas piring.


"Mas Malvin mau makan malam sekarang?"


"Nanti saja sekalian dengan Papa. Aku hanya ingin makan risol satu, Bik."


"Makan kuenya yang banyak, Mas. Kebetulan masih ada sisa di dapur."


Lalu tak lama, Cakra datang bersama seorang wanita.


Wanita yang sama, yang ditemui Malvin di Kafetaria.


"Malvin, kenalkan ... Ini Tante Bianca, calon Istrinya Papa."


Iya. Setelah meeting, Cakra langsung mendatangi rumah Bianca dan mengajaknya bertemu dengan Malvin agar masalah mereka cepat selesai.


Tentu saja dengan sedikit ancaman hingga Cakra berhasil menjinakkan wanita keras kepala itu.


"Hai, Malvin. Senang bertemu denganmu lagi."


Bianca tersenyum sembari mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.


"Bukannya Tante yang ada di Kafetaria tadi siang?" tunjuk Malvin.


"Kamu benar. Maaf ya! Tante tidak sempat mengenalimu."


Bianca tersenyum kaku dan langsung menarik tangannya lagi saat tidak mendapat respon yang baik dari Malvin.


Interaksi mereka tidak luput dari perhatian Cakra dan Bik Karin yang tampak senang bertemu dengan calon Nyonya Baru di Rumah ini.


Selain cantik, Bianca juga terlihat ramah dan memiliki sisi keibuan. Tatapannya begitu teduh saat wanita itu memandang Malvin.


Ya, meskipun Malvin menunjukkan sikap sebaliknya.


"Aku lapar. Kita makan saja, Pa."


"Ya sudah kita makan dulu." ujar Cakra.


Menarik satu kursi untuk Bianca sebelum mendudukkan diri dikursi paling ujung.


Tidak ada yang bersuara lagi.


Suasana di meja makan terasa canggung dan hening. Apalagi Malvin sengaja mengambil makanan dalam porsi sedikit supaya bisa kembali ke kamar lebih cepat.


"Selesai makan, kita mengobrol di ruang utama ya."


"Aku ada PR yang harus dikerjakan, maaf, Pa."


Bianca mencengkeram sendok dan garpunya.


Berusaha terlihat baik-baik saja meski sakit hati melihat sikap Malvin yang begitu terang-terangan menolak kehadirannya.


"Malvin–"


"Tidak apa-apa. Tugas sekolah lebih penting dari urusan lain. Kita bicarakan masalah itu besok saja ..."


"Belajar yang rajin ya! Kalau ada kesulitan, Tante bisa membantumu mengerjakan tugas itu, Malvin."


"Hm, terimakasih."


Cakra tersenyum lega mendengar perhatian Bianca yang terdengar tulus pada Putranya.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!