Love Island

Love Island
Bab 9. Pertemuan Pertama.



Lilyana tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, saat mendapati bahwa jarak dari jendela kamarnya di lantai dua ke tempat ia jatuh hanya setinggi kepala saja. Ternyata rumah Cael dibangun di atas tanah pulau yang tidak rata.


"Siaal, kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya!" umpat Lilyana dengan wajah memerah malu. Ia sama sekali tidak memeriksa dengan saksama saat pertama kali datang ke kamar ini. Gadis itu kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada si pria yang sedang melanjutkan aksi brutalnya (setidaknya itu yang dilihat Lilyana).


Lilyana penasaran setengah mati. Terlebih, pria itu sama sekali tidak takut dipergoki orang. Alhasil ia pun memutuskan untuk menyusul.


Hal pertama yang Lilyana lihat adalah genangan daaraah di sebuah lubang yang pria itu buat ... dan dua ekor ayam yang tergeletak tak bernyawa di sana. Ternyata pria misterius itu sedang menyembeliih hewan.


Melihat kedatangan Lilyana, si pria menoleh sejenak lalu kembali meneruskan kegiatannya. Kali ini ia akan menutup lubang tersebut agar darraah ayam tersebut tidak ke mana-mana.


"Kenapa kau memotong hewan di sini? Apa lagi ini sudah malam. Kau bisa membuat orang salah paham, tahu!" seru Lilyana.


Pria itu lalu berdiri seraya membawa ayam tersebut di tangan kirinya. Lilyana yang berdiri di sebelah kanan si pria sontak terkejut, ketika mendapati wajah yang sama dengan pria yang tadi mengobrol bersama Cael di toko.


"Kau teman Cael?" tanyanya.


Si pria tidak menggubris. Ia malah memilih berjalan meninggalkan Lilyana begitu saja.


"Hei, tunggu aku ... siaal!" Lilyana hampir tersandung akar pohon saat berusaha menyusul pria itu.


"Hei, manusia tidak tahu adab! Setidaknya kau harus bertanggung jawab karena telah membuatku terjatuh dari kamar!" pekik Lilyana kesal. Tangannya senantiasa bertolak pinggang seraya menatap pria tampan itu tajam.


Si pria berhenti lalu berbalik ke arah Lilyana. "Kau lah yang ceroboh, Nona ... dan tarik kembali panggilanmu itu padaku!"


Mendengar hal tersebut, Lilyana mengambil langkah lebar-lebar demi menghampiri si pria. Tubuh tinggi menjulang si pria membuat Lilyana harus mendongakkan kepalanya. "Kau lah yang sudah mengganggu waktu istirahat orang. Apa lagi penampilanmu cukup membuat orang lain salah paham!"


Si pria terdiam sejenak, sebelum akhirnya berbalik kembali. "Masuk lewat pintu depan saja!" ucapnya dingin.


"Ck, pintu depan sudah dikunci jadi ... oyy!" Belum sempat Lilyana menyelesaikan perkataannya, pria itu tiba-tiba mengangkat tubuh Lilyana bak karung beras dan menurunkan tepat di bawah jendela kamar.


"Jangan kurang ajar ya? Aku belum selesai bicara!" pekik gadis itu lagi. Namun, bukannya meminta maaf, si pria malah berjongkok di hadapan Lilyana.


"Duduk di pundakku!" titah si pria.


Lilyana mengerutkan keningnya. "Untuk apa? Jangan macam-macam ya!"


"Ck, mau masuk tidak!" Si pria yang kesal refleks menatap tajam Lilyana, dan sukses membuat gadis itu bergidik.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Lilyana pun duduk di pundak si pria dengan berpegangan pada lehernya. Sedetik kemudian, pria itu berdiri dengan mudah, seolah Lilyana hanya seringan bulu.


Tubuh si pria yang tinggi menjulang memudahkan Lilyana naik kembali ke kamar tidurnya.


Setelah sampai di dalam kamar, tanpa berkata apa-apa pria itu pergi meninggalkan Lilyana.


...**********...


Suasana di pelabuhan San Amor terlihat masih memiliki aktifitas, meski hari sudah semakin larut. Para pria-pria berpakaian hitam sedang sibuk memindahkan puluhan karton ke dalam sebuah kapal ikan yang tampak tidak terawat. Di sisi lain tak jauh dari sana, Alexander tengah duduk di atas sebuah tong minyak sembari mengamati para anak buahnya yang menyeret keluar beberapa orang gadis dari mobil box.


Mereka semua dihempaskan persis di hadapan Alexander. "Ini wanita-wanita yang Anda minta, Tuan!" ujar salah seorang anak buahnya.


Alexander membuang cerutu dan menginjaknya, lalu memghampiri belasan wanita-wanita muda tersebut. Ia memeriksa satu persatu penampilan para wanita muda yang rencananya akan diselundupkan ke luar negeri itu.


Alexander mencengkeram pipi para wanita dan menelisik penampilannya dengan seksama.


"Tuan, ampuni aku ... ampun!" pekik salah seorang wanita yang kini sedang berhadapan dengan Alexander. Dengan tubuh gemetaran, ia meminta Alexander untuk melepaskan dirinya.


"Air matamu tidak akan berpengaruh apa-apa untukku!" Sebuah tamparan mendarat di pipi si wanita hingga membuat sudut bibirnya terluka.


Alexander menghempaskan wanita muda itu menuju wanita berikutnya, dan sama seperti wanita tadi, sepenggal kalimat permohonan kembali keluar dari mulutnya. Namun, ada satu hal yang membuat Alexander terkejut.


"Saya sedang hamil, Tuan! Saya mohon, lepaskan saya!"


Alexander dengan wajah bengis menatap si wanita. "Berani sekali kau berbicara omong kosong padaku!" katanya.


Wanita tersebut sontak menggeleng-gelengkan kepalanya lalu dengan cepat merogoh saku rok, dan mengeluarkan selembar foto usg untuk ditunjukkan pada Alexander.


"Ini Tuan, saya tidak berbohong!"


Alexander terbelalak. Ia lantas mengalihkan pandangannya pada sang anak buah yang tadi membawa wanita itu.


"Anu, Tuan, saya pikir gadis ini berbohong, jadi ... anu ...."


Belum sempat pria itu bicara, sebutir peluru segera melesat menembus daada kanannya. Jerit ketakutan dari pada wanita pun tidak terelakkan. Mereka semua mulai menangis sesenggukkan, seraya memohon pada Alexander untuk dilepaskan.


"DIAM!" teriak Alexander yang langsung membungkam mulut wanita-wanita itu.


Alexander kemudian mempersilakan si wanita yang sedang hamil tersebut untuk pergi dari sana.


"Terima kasih, Tuan! Terima kasih!" ucap si wanita yang langsung pergi berlari meninggalkan Alexander.


Alexander berdiri sembari menatap si wanita yang kini berlari pontang-panting menjauhinya. Lalu dengan gerakan perlahan, ia mengangkat pistool yang ada dalam genggamannya ke arah si wanita tadi dan ... sebuah tembakan terdengar kembali.


Tubuh gadis itu roboh seketika.


"Bereskan!" ucap Alexander seraya meninggalkan tempat.