
Tepat pukul tujuh malam, Lilyana, Mike, Irene, dan Cael memasak makan malam bersama di belakang rumah. Pemandangan di belakang rumah sebenarnya cukup bagus jika saja tak ada pohon kelapa yang menjulang tinggi yang menghalangi.
"Ke mana Lilyana? Apa belum selesai?" tanya Cael, ketika mendapati Lilyana tak juga keluar dari rumah. Gadis itu bertugas membersihkan kerang-kerang laut di dapur, sementara mereka bertiga masing-masing menyalakan api dan mengolah hidangan lain.
"Sepertinya ia kesulitan membersihkan kerang tersebut," kata Irene.
"Kalau begitu, aku akan menyusulnya!" Cael hendak berdiri dari kursi kecilnya, tetapi Mike segera menahan.
"Biar aku saja!" Tanpa menunggu jawaban dari Cael, pria itu pun bergegas masuk ke dalam rumah.
Benar saja apa yang dikatakan Irene tadi. Lilyana memang tampak kesulitan membersihkan kerang-kerang berukuran cukup besar itu.
"Sini!" Tiba-tiba Mike merebut kerang dari tangan Lilyana dan dengan telaten membersihkannya. "Pastikan tak ada pasir di sana, kalau kau tak ingin memakannya sebagai bumbu tambahan," ucap Mike.
Lilyana memiringkan bibirnya. Mike si bermulut pedas kembali beraksi. Gadis itu pun memilih duduk di atas kitchen set persis di sebelah Mike agar bisa melihat dengan jelas proses pembersihan kerang.
"Jangan duduk saja, cepat bantu!" kata Mike ketus.
Lilyana menggelengkan kepala. "Tidak. Aku lebih suka menjadi penonton saja!" Sebaris senyum menyebalkan terpatri di wajah cantiknya.
Mike tampak mendengkus, tetapi ia enggan menanggapi celotehan Lilyana agar tidak memercik keributan lagi.
Tak butuh waktu lama, kerang-kerang itu pun selesai dibersihkan.
"Kalian lama sekali!" keluh Cael yang sudah tidak sabar menunggu kerang matang.
"Jangan salahkan aku, kerang yang ia bersihkan tak sampai lima ekor!" sahut Mike.
Lilyana mencibir tapi tidak bisa membalas. Mereka pun mulai melanjutkan acara makan malam dengan menyenangkan.
...**********...
"Ren, sepertinya Cael sudah cukup mabuk," ujar Lilyana sembari menatap Cael yang kini terkulai di kursi.
"Bawalah ke dalam!" titah Mike.
"Baiklah, setelah kita bersihkan tempat ini," jawab Irene.
"Tidak perlu, biar aku saja yang membersihkannya. Kalian semua beristirahat lah," ucap Mike.
Irene menguap. Ia hendak menolak tetapi kantuk di matanya tidak dapat tertahan. "Baiklah, besok aku akan meneraktirmu sarapan pagi. Ayo, Lily!" ajaknya.
"Aku akan membantu Mike. Kau duluan lah."
Irene mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu mulai memapah tubuh Cael ke dalam rumah dan menutup pintu.
Kini hanya ada mereka berdua di sana. Duduk bersebelahan sembari menikmati sisa-sisa api unggun yang masih menyala.
Lilyana terlihat sedikit berbeda. Sejak Cael membahas soal keluarga masing-masing, gadis itu jadi lebih pendiam. Sesekali ia bahkan terlihat gelisah, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Mike.
Lilyana mengalihkan pandangannya pada Mike. "Mike, sesakit apa rasanya kehilangan orang tua? Apa kau tidak berniat mencari tahu untuk membalaskan dendam?" tanya gadis itu tiba-tiba. Matanya menatap dalam-dalam Mike.
Setelah mendengar cerita Mike tentang kehilangan kedua orang tuanya akibat persaingan bisnis, tentu saja membuat Lilyana merasa senasib. Lilyana memang tidak tahu apa alasan kedua orang tuanya dibvnvh. Namun, ia memiliki berbagai spekulasi dan salah satunya adalah persaingan bisnis.
"Tidak ada. Aku hanya cukup kagum denganmu. Aku pikir, kau hanya bisa bersikap dingin dan menyebalkan."
Mike menarik sudut bibirnya sedikit.
"Lalu, sampai kapan kau akan berencana tinggal di sini?" tanya Lilyana lagi. Ia kini berusaha mengorek informasi soal diri Mike.
"Tidak tahu. Mungkin sampai aku tua dan mati!" jawabnya.
"Tanpa menikah?"
Mike mengangkat bahunya sedikit.
"Aku dengar, kau dingin terhadap wanita-wanita di sini? Kenapa? Kau normal, kan?" Lilyana tertawa kecil.
Mike mendengkus. "Aku hanya tak suka pada wanita yang suka cari perhatian. Rata-rata wanita di pulau ini senang sekali mencari perhatian agar aku melihat mereka!" jawabnya.
Cih, sombong sekali! Batin Lilyana. "Kalau begitu, aku termasuk salah satu wanita yang kau tidak sukai?"
Mike mengalihkan pandangannya pada Lilyana. "Memangnya kau sedang mencoba mencari perhatianku?" kata Mike.
Lilyana mengangkat alisnya. "Tergantung kau mengartikannya!"
"Kalau begitu, tidak! Lagi pula, selama ini aku hanya menganggapmu sebagai anak-anak remaja yang memiliki keingintahuan tinggi hingga cukup mengganggu."
Mendengar pendapat Mike, Lilyana terbelalak. Kesedihannya soal Joseph dan Maria menguap begitu saja. "Hei, aku bukan anak kecil! Usiaku sudah dua puluh tahun!" serunya keras.
"Itu artinya, kau nyaris setengah dari umurku."
Lilyana terdiam. Entah keberanian dari mana, ia bangkit kursi kecilnya lalu berdiri di hadapan Mike. Gadis itu lalu menarik tangan Mike, hingga mereka berdua berdiri berhadap-hadapan.
"Kau benar-benar meremehkanku! Akan kubuktikan, kalau aku bukan gadis kecil!"
Mike mengerutkan keningnya. "Dengan apa?"
Lilyana terdiam sejenak, sebelum kemudian menaiki undakan batu yang berada tak jauh dari sana. Dalam satu tarikan cepat, Lilyana mendekatkan diri ke arah Mike dan menempelkan bibirnya di atas bibir pria itu.
Mike terkesiap. Ia berjuang melepaskan diri dari kungkungan gadis kecil itu, tetapi Lilyana malam mencengkeram erat lengan baju Mike.
Satu hal yang Mike dapatkan dari tingkah aneh Lilyana adalah, gadis itu ternyata sedang mabuk. Terang saja, sebab bau alkohol menyeruak tajam dari mulutnya.
Beberapa detik kemudian Lilyana melepaskan diri. "Kau mengerti sekarang?"
Mike bungkam.
Mengetahui tidak ada jawaban dari Mike, Lilyana berusaha mengguncang-guncang tubuhnya. "Aih, jangan-jangan itu alasanmu saja, kan?"
Mike lagi-lagi terdiam. Ia hanya mendengarkan Lilyana yang mulai berceloteh panjang lebar, sampai akhirnya Mike melakukan hal paling mendebarkan hanya untuk membuat Lilyana diam.
Apa lagi kala bukan membagi ciumannya dengan gadis itu? Entah setan dari mana, tiba-tiba Mike menarik tubuh Lilyana dan mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir tipisnya.
Kali ini Lilyana lah yang terbelalak. Tubuhnya sontak membeku, sebab kini, Mike tak hanya menempelkan bibirnya saja, melainkan memainkan bibir tipis gadis itu.