
Aaron kembali melakukan pencariannya setelah mengetahui bahwa penyelidikan soal kehilangan Estelle dan Laura jalan di tempat. Pria itu sempat mencurigai sesuatu terjadi di pihak sana. Namun, ia sama sekali tidak bisa sembarangan menuduh karena tidak memiliki bukti.
Aaron kini harus berfokus terlebih dahulu pada keberadaan Estelle, Laura, dan tidak lupa Lilyana juga.
Baru saja Aaron melangkah keluar dari rumah, ponselnya tiba-tiba berdering. Rupanya Donnie yang menelepon. Ia adalah seorang kenalan Aaron yang memang dimintai tolong oleh Aaron untuk membantu menyelidiki keberadaan gadis-gadis itu.
"Bagaimana Don?" tanya Aaron tanpa basa-basi. Ia dengan saksama mendengarkan tiap kata yang meluncur dari lawan bicaranya.
"Hah!" Aaron refleks memekik dan langsung menutup sambungan telepon Donnie. Sedetik kemudian pria itu langsung melesat masuk ke dalam rumah. Entah apa yang dibicarakan Donnie, yang jelas Aaron kini seperti orang kepanikan.
...**********...
Suara gemuruh dan teriakan dari para penghuni pulau tak bernama, menghiasi pagi yang seharusnya tenang ini. Mereka semua ternyata sedang berusaha mengusir Luke, pria pembuat onar yang pernah datang ke sana dan menggoda Lilyana juga Irene.
Luke rupanya kembali datang ke pulau dengan mengajak puluhan anak buahnya, untuk menuntut balas pada Cael dan Mike atas kejadian yang pernah mereka lakukan waktu itu.
Akan tetapi, usaha dari para penghuni pulau sepertinya tidak membuahkan hasil, sebab anak buah Luke yang terlihat sama menyeramkan dengannya, berhasil menumbangkan pria-pria penghuni pulau tak bernama itu.
Sementara Irene dan Lilyana saat ini sedang berusaha menahan Luke yang hendak masuk ke dalam toko. Mereka berdiri menghalangi pintu toko untuk mencegah pria bertubuh besar itu.
"Sudah kami bilang, Cael dan Mike tidak ada di sini!" tegas Lilyana. Gadis itu menatap wajah Luke tanpa sedikit pun rasa takut.
Sejak kemarin pagi, Cael dan Mike memang sedang pergi untuk menjual beberapa barang ke kota dan belum juga kembali. Sebagai karyawan yang baik, Lilyana bertanggung jawab memegang toko dan memastikan keamanannya.
"Jangan berdusta, gadis bodoh! Tidak ada jadwal penyebrangan minggu ini!" desis Luke dengan raut wajah menjijikan.
"Mereka pergi sendiri menggunakan speedboat Cael!" jawab Lilyana. "Hei, jauhkan tangan kotormu itu darinya!" teriak gadis itu ketika tanpa sengaja matanya menangkap salah seorang anak buah Luke sedang menggoda gadis remaja. Ia pun meminta sang gadis untuk pergi dari sana.
Melihat Lilyana yang sama sekali tidak terlihat gentar berhadapan dengannya, membuat Luke naik pitam. Ia dengan beringas menghancurkan kaca jendela toko menggunakan batu yang ditemukan di sana dan masuk begitu saja.
"Hei!" pekik Lilyana. Gadis itu hendak melangkah menghampiri Luke, tetapi Irene keburu menahannya.
"Lily, jangan gegabah!" serunya ketakutan.
"Tapi keselamatan kita lebih penting, Lily!" sentak Irene yang terlihat ingin menangis.
Lilyana sontak memegang tangan Irene yang sedang mencengkeram lengannya. Dengan lembut Lilyana menurunkan tangan tersebut seraya tersenyum. "Aku akan meminta pada mereka untuk pergi. Mereka pasti akan pergi setelah tahu Cael memang tidak ada."
Setelah berkata demikian, Lilyana pun masuk ke dalam toko. Ia bisa melihat anak buah Luke menggeledah tiap tempat, termasuk lantai dua di mana mereka tinggal.
"Tidak ada Bos!" seru salah seorang buah Luke yang baru saja turun dari lantai dua.
Luke mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Nah, anak buahmu sendiri sudah memeriksanya, kan? Kalau begitu, kalian semua bisa pergi dari sini. Aku tidak akan meminta biaya ganti rugi untuk jendela itu!"
Mendengar perkataan Lilyana, Luke dan orang-orang tersebut sontak tertawa keras. Mereka berbondong-bondong menghampiri Lilyana untuk mengintimidasinya.
"Lily!" pekik Irene dari ambang pintu toko. Ia terlihat bingung bagaimana menolong sahabat baiknya tersebut. Namun, Lilyana sama sekali tidak terlihat gentar, meski rasa takut menghantui dirinya, Lilyana tidak akan memperlihatkan.
"Selagi menunggu, bagaimana kalau kita bermain-main dulu, Lily?" Luke menyeringai. Tangannya dengan lancang menyentuh dagu Lilyana dan mengelusnya.
Lilyana refleks menepis. Dengan cepat ia mengambil tongkat baseball yang memang sengaja dipersiapkan untuk berjaga-jaga.
"Menjauh dariku!" teriak Lilyana sambil mengacungkan tongkat tersebut.
Luke mundur dan tertawa. "Kau pikir, benda itu bisa melumpuhkan kami?" katanya.
Belum sempat Lilyana bereaksi, Luke sudah berhasil merebut tongkat baseball dari genggamannya. Lilyana pun terpojok.
"Kau ini benar-benar gadis nakal yang pemberani. Namun, aku suka dengan keberanianmu!" Begitu mengatakan hal tersebut, Luke mengangkat tubuh Lilyana bak karung beras dan pergi menaiki anak tangga.
Lilyana berteriak histeris, begitu pula dengan Irene. Para warga yang tersisa berusaha masuk ke dalam toko untuk membantu Lilyana. Namun, para anak buah Luke yang jauh lebih besar dengan mudah menumbangkan mereka.
Irene menjerit memanggil-manggil nama Mike dan Cael.