
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lilyana dengan raut wajah terkejut.
"Lily, cepat pergi dari sini! Dia akan menghabisimu!" pekik Aaron tanpa mengindahkan pertanyaan Lilyana. Pria itu terus saja berteriak hingga Alexander yang merasa kesal dengan tegas meneemmbak kaki Aaron.
Aaron menjerit kesakitan.
"Aaron! Hei, hentikan!" seru Lilyana marah. Ia hendak mengambil p1stol yang disimpannya, tetapi segera diurungkan.
"Lepaskan dia! Apa salahku padamu, Breengseekm Mengapa kau melakukan ini pada keluargaku?" teriak Lilyana dengan mata berlinang.
Alexander tertawa sinis. "Serius kau ingin tahu apa yang telah keluargamu lakukan, hah?"
Lilyana tidak menjawab.
Alexander kemudian berjalan mendekat ke arah Lilyana, dan Lilyana dengan sigap menjauhkan diri. Kendati demikian, jarak mereka kini hanya tersisa kurang dari sepuluh meter saja.
"Kau mungkin berpikr bahwa keluargamu adalah orang baik-baik, terutama ayahmu, kan? Tanpa kau sadari, dia adalah pria yang jauh lebih biaddaab!" Alexander diam-diam mengarahkan tangannya ke belakang guna menggapai kembali p1stol yang ia letakkan di sana selepas menembakk kaki Aaron.
"Apa maksudmu?" tanya Lilyana.
"Tahukah kau semua harta kekayaan keluargamu berasal dari bisnis haram yang dijalankan ayahmu! Dia sebenarnya sudah gulung tikar beberapa tahun lalu. Namun, harga dirinya yang setinggi langit membuat dia enggan mengakui kepada keluarganya. Saat itu lah ia menawarkan kerjasama denganku!"
Lilyana tersenyum sinis. "Cih, jangan bercanda! Jelas-jelas aku masih sering mengunjunginya di kantor!"
"Dasar bodoh, kantor itu sudah dibeli oleh keluargaku, dan dia meminta izin untuk tetap bersandiwara di hadapan keluarganya!" seru Alexander.
Lilyana terdiam mematung.
"Kau tahu, manusia memang tidak bisa diberi hati sedikit. Ayahmu yang dulu merangkak di kaki ayahku, tiba-tiba berulah dan menginjak kepalanya! Dia berusaha menggelapkan dana dan berkhianat. Ayahku jelas saja murka dan di—"
"Tapi bukan berarti kau bisa membvnvh keluargaku!"
"Karena ayahmu lah yang membvnvh ayahku terlebih dahulu, siaalaaan!"
Mendengar pernyataan Alexander.
Lilyana tersentak kaget.
"Dia lah yang lebih dulu mengambil nyawa ayahku, saat beliau hendak mengajaknya bicara! Jadi, sudah sepantasnya aku membalaskan dendam. Karena dia lah aku kehilangan segalanya, dan kini aku akan menghabisimu juga!" Alexander kembali bersuara, sementara Lilyana bungkam. Tangannya yang semula bersiap mengambil p1stol Bardon yang berada di belakang, kini terkulai lemas.
Saat itu lah, Alexander mengambil p1stol miliknya dan mengarahkan pada Lilyana.
"Sekarang, bersiaplah untuk menyusul kedua orang tuamu di neraka!" Setelah berkata demikian, terdengar suara tembakkan.
Lilyana memejamkan matanya. Dalam deraian air mata gadis itu memasrahkan diri bila memang ayahnya lah yang bersalah.
Suara debuman pun terdengar. Namun, bukan dari arahnya. Tak ada rasa sakit sedikit pun dari tubuhnya.
Ia kemudian menoleh ke belakang, di mana Mike sedang berdiri seraya memegang p1stol yang terlihat berasap, menggunakan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya tetap memegangi perut.
"Mike!" teriak Lilyana saat tubuh Mike merosot jatuh. Rupanya meski dalam keadaan terluka parah, ia masih mampu menghabisi anak buah Alexander.
"Mike, apa yang kau lakukan!"
Mike tersenyum. "Sejak dulu aku memang ingin melakukannya," kata pria itu sebelum akhirnya terkulai dengan mata terpejam.
"MIKE!"
...**********...
Empat bulan kemudian.
Seorang gadis berpakaian hitam meletakkan sebuket bunga krisan di atas makam kedua orang tuanya. Gadis itu kemudian terlihat berdo'a di sana selama beberapa saat, sebelum meninggalkan makam.
Lilyana berhasil menjalani hidupnya kembali. Penyelidikan tentang kematian kedua orang tuanya pun berbuah manis. Meski sang pelaku utama telah maatti, tetapi Lilyana berhasil membongkar seluruh kebusukan kartel Dereck, termasuk siapa-siapa saja yang terlibat dalam memuluskan setiap langkah mereka.
Tak hanya itu saja, Aaron juga berhasil menemukan adiknya, Estelle, dan beberapa korban perdagangan m4nusi4 lainnya. Namun sayang, mereka belum berhasil menemukan Laura.
Sementara itu kondisi Mike masih tetap sama. Pria itu dinyatakan koma dua hari setelah berjuang melewati masa kritis pasca operasi, dan hingga kini belum juga sadar.
Lilyana masih setia mengunjungi Mike dan menantinya bangun. Ia tahu dari salah seorang anak buah Alexander, bahwa Mike tidak terlibat dalam upaya pembvnvhan keluarganya. Justru kedatangan Mike malam itu adalah untuk menghentikan usaha sang kakak.
Itu lah mengapa Alexander membuangnya ke pulau tak bernama.
Pengakuan Mike yang telah tinggal lama di pulau tak bernama adalah sebuah kebohongan belaka. Ia lah yang meminta seluruh penghuni untuk membantunya berbohong jika ada yang menanyakan hal tersebut, dan kebetulan Lilyana datang ke sana.
"Pagi," sapa Lilyana sembari masuk ke dalam ruang perawatan Mike. Gadis itu dengan telaten mengganti bunga dalam pot dan mengelap tubuh Mike.
Hampir setiap pagi Lilyana berada di sana dan baru akan pulang sore harinya. Gadis itu telah berjanji tidak akan meninggalkan Mike dan akan terus bersamanya.
"Bangunlah, aku menunggumu," bisik Lilyana lirih sambil mengarahkan tangan Mike ke perutnya.
.......
.......
.......
.......
.......
...TAMAT...