Love Island

Love Island
Bab 8. Pria Asing Menakutkan.



Irene sontak mengikuti arah pandang Lilyana. Ia tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan gadis itu. "Setahuku rumah itu kosong semenjak pemiliknya meninggal dunia. Mungkin ada pendatang baru atau keluarga sang pemilik yang memutuskan tinggal di sini."


"Oh." Sahut Lilyana singkat. Pantas saja rumah tersebut terkesan kelam di antara puluhan bangunan. Mungkin si pemilik baru belum bterhiasa berbaur dengan penduduk sekitar.


Setelah puas berjalan-jalan dan berkenalan dengan beberapa warga, kedua gadis itu pun kembali pulang ke rumah Cael.


Di sana keduanya mendapati Cael sedang berbincang hangat dengan seorang pria matang berwajah tampan yang memiliki tubuh tinggi nan atletis, di meja kasir.


"Ah, kalian sudah pulang rupanya!" seru Cael sumringah. Pria tampan tersebut mengikuti arah pandang Cael.


Irene dan Lilyana termangu saat melihat jelas ketampanan pria asing tersebut. Mata birunya yang jernih menatap mereka dalam-dalam.


"Cael, aku pergi dulu. Terima kasih atas kopinya." Pria itu mengangkat kopinya dan berbalik pergi menuju pintu keluar. Ia berjalan begitu saja melewati Irene dan Lilyana tanpa menyapa.


Melihat tingkah dingin si pria, Irene mencibir. "Cih, siapa dia? Sombong sekali jadi orang!"


Cael melambai-lambaikan tangannya. "Jangan tersinggung. Dia memang begitu. Kalian sebaiknya tidak terlalu dekat dengannya."


"Memangnya siapa pria itu, Cael?" tanya Lilyana.


"Dia baru satu tahun tinggal di sini. Rumahnya ada di ujung sana, menempati rumah kosong milik mendiang Tuan Cander."


Mendengar penjelasan Cael, Irene pun bergumam keras. "Oh, jadi pria tampan tadi menghuni rumah itu? Pantas saja rumahnya terlihat suram, sama persis dengan perilakunya."


Cael tertawa kecil. "Memang begitu lah dia! Ya sudah, jangan dipikirkan. Sekarang, bantu aku menutup toko!" Cael menepuk kedua tangannya seraya keluar dari meja kasir.


"Cepat sekali tutupnya, baru juga pukul delapan!" celetuk Irene.


"Ck, kau tidak lihat etalase-ku sudah kosong semua? Jadi untuk apa aku buka lebih lama kalau bisa beristirahat lebih cepat!"


Betul juga apa yang dikatakan Cael. Keduanya pun bergegas membantu Cael menutup toko rotinya dan pergi beristirahat.


"Selamat malam semua. Besok kita mulai bekerja!" ucap Cael sebelum masuk ke dalam kamar utama yang berada di ujung tangga. Lilyana dan Irene membalas dengan lambaian tangan mereka.


"Ren," panggil Lilyana ketika mereka sudah di ambang pintu kamar masing-masing.


Irene menoleh. "Ada apa Lily?" tanyanya.


"Terima kasih," ucap gadis itu tulus. Matanya menatap Irene penuh haru.


Irene tersenyum tipis. Ia berjalan mendekati Lilyana dan memeluknya erat. "Aku senang bisa mengenalmu, Lily," ujarnya.


Lilyana menganggukkan kepala. Ia berusaha keras untuk tidak menitikkan air mata.


...**********...


Malam semakin larut. Namun, Lilyana belum jaga dapat memejamkan matanya. Ada banyak hal ia pikirkan saat ini, dari mulai kedua orang tuanya sampai kondisi Leo dan Anna pasca penyerangan malam kemarin. Gadis itu sangat berharap keadaan mereka baik-baik saja.


Beruntung di sini Lilyana bisa mendapatkan pekerjaan, jadi uang pemberian Anna dan Leo utuh tak tersentuh.


Saat sedang sibuk meratapi kerinduannya, tiba-tiba suara asing tertangkap indera pendengaran gadis itu.


Lilyana terkejut, sebab suaranya persis di luar jendela kamarnya. Trauma membuat gadis itu dengan sigap bersikap waspada. Meski ia yakin orang-orang misterius itu tidak akan mengejarnya sampai ke sini, tetap saja rasa takut menyelimuti diri Lilyana.


Suara itu kembali terdengar, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Lilyana gemetar ketakutan, tetapi ia juga sangat penasaran. Berusaha mengalahkan rasa takutnya, ia memutuskan untuk membuka jendela dan melihat apa yang terjadi.


Perlahan ia pun membuka pengait jendela kayu tersebut. Angin dingin yang langsung berembus sontak membuka daun jendela kamar gadis itu lebih lebar.


Lilyana mengerutkan keningnya, tatkala mendapati bayangan seorang pria tampak sibuk melakukan sesuatu.


"Sedang apa pria itu?" gumamnya penasaran. Sebab pria itu seperti sedang mengayunkan senjata tajam menggunakan tangan kanannya, sementara tangan kirinya sedang memegang sesuatu.


Lilyana terbelalak lebar. Pria itu sedang membvnvh seseorang!


Ya, di pulau kecil ini ternyata tinggal seorang psikopat kejam.


Jantung Lilyana sontak berdebar keras kala memikirkannya. Terlebih bayangan sang ayah dan ibu kembali berkeliaran di benak Lilyana.


Lilyana harus menghindar. Pembvnvh itu tidak boleh memergoki dirinya. Sekuat tenaga ia menutup kembali jendela kamarnya dengan gerakan perlahan. Namun, angin kencang kembali berembus hingga membuat jendela tersebut terbuka lebar menghantam dinding.


Suaranya yang keras kontan mengalihkan perhatian si pria. Ia menoleh ke sumber suara dan mata birunya yang menyala membuat tubuh Lilyana kaku seketika.


Mata itu sekilas mirip dengan mata pria yang telah menghabisi nyawa kedua orang tuanya.


Lilyana luar biasa panik, saat pria itu kini berdiri dari posisinya dan berjalan menghampiri gadis itu. Cepat-cepat ia langsung menggapai daun jendela guna menutupnya. Namun, angin kencang membuat daun jendela tersebut sulit digapai.


Lilyana yang panik berusaha naik agar bisa menggapai ujung daun jendela. Namun, keseimbangan tubuhnya yang kurang bagus membuat Lilyana terjun keluar dari jendela kamarnya.


Lilyana memejamkan matanya kuat-kuat, saat tubuhnya terhempas begitu saja ke bawah.


Dalam hati ia memikirkan nasib malang yang kini menimpanya. Terang saja, baru saja sehari tinggal di pulau, ia sudah harus mati konyol karena terjatuh dari lantai dua. Namun, ada yang aneh. Pasalnya ia sama sekali tidak merasakan sakit begitu tubuhnya mendarat di tanah.


"Hei, bangun!" Suara seorang pria seketika membuka mata Lilyana.


Pria itu ternyata adalah pria psikopat yang tadi dilihatnya. Ia kini berjongkok di sebelah Lilyana sembari mengatainya bodoh. "Berhenti mengkhayal kau sudah mati, Bodoh!"


Lilyana tercengang! Dari mana ia tahu Lilyana sedang memikirkan hal tersebut. Baru saja ia hendak membalas, tiba-tiba pria itu bangkit dan pergi meninggalkanya.


"Hei, tunggu!" Lilyana refleks berdiri dari tempatnya. Namun, seketika gadis itu merasakan pijakan kakinya tidak seimbang. Ia menoleh ke arah kakinya dan mendapati sesuatu yang aneh di sana.


"Hah!"