Love Island

Love Island
Bab 13. Tanggung Jawab.



Mike hanya terdiam mematung saat Lilyana dengan serius mengobati luka di kepalanya. Pria itu ternyata yg tidak benar-benar mengibati luka tersebut. Ia hanya asal menempelkan perban dan plester tanpa membersihkannya terlebih dahulu. Alhasil, Lilyana harus memberi pengobatan dari awal.


Gadis itu dengan telaten membersihkan darraah Mike yang sudah mengering menggunakan alkohol. Ia juga membubuhkan obat merah sebelum akhirnya menutup luka tersebut dengan perban dan plester yang benar.


Jarak wajah mereka yang sangat dekat membuat Mike dapat melihat dengan jelas tiap garis muka Lilyana. Mike terdiam saat Lilyana menggigit bibirnya karena meringis. Gadis itu mungkin sedang membayangkan betapa perihnya luka yang ia rasakan, padahal sama sekali tidak demikian.


Sadar akan sorot mata Mike yang terus membuntuti tiap gerak-geriknya, Lilyana kontan melirik ke arah pria itu. "Apa?" kata Lilyana seraya mengangkat alisnya tinggi-tinggi.


Bukannya menjawab, Mike refleks membuang muka. Mereka pun saling menjauhkan diri setelahnya.


"Selesai. Kau harus menggantinya setiap hari sampai lukamu kering. Kau punya kotak P3K, kan di rumah?" tanya Lilyana kemudian.


"Tidak." Jawab Mike singkat.


"Kalau begitu bawalah kotak P3K ini bersamamu, tetapi jangan lupa dikembalikan," ujar Lilyana seraya mengangkat kembali kotak P3K miliknya yang sudah ia masukkan ke dalam lemari.


"Tidak perlu!" kata Mike tegas. "Omong-omong, berhati-hati lah pada orang-orang itu. Bisa saja mereka akan kembali lagi nanti. Usahakan kau dan temanmu tidak pergi sendirian," sambung Mike.


"Memangnya siapa mereka?" tanya Lilyana penasaran. Tadi ia memang sempat menanyakan hal tersebut pada Cael, tetapi Cael sepertinya tidak sudi membahas.


"Mereka juga penduduk di pulau tak bernama ini, sebelum akhirnya diusir keluar karena melakukan berbagai tindak kriminal."


Mendengar jawaban Mike, Lilyana terperangah. Gadis itu tiba memandang dirinya dengan tatapan penuh antusias, hingga membuat Mike heran sendiri.


"Ada apa?" tanya Mike dengan wajah risih yang tidak terlalu kentara.


"Rasanya baru kali ini aku bisa benar-benar mendengar suaramu. Selama ini kau terlalu irit bicara!" seru Lilyana sembari tersenyum.


Mike tersentak. Ia pun kembali terdiam dan bergegas hendak pergi meninggalkan kamar Lilyana.


"Hei, Paman?" panggil Lilyana.


Mike berdecak kesal. "Sejak kapan aku menikah dengan bibimu? Berhenti memanggilku 'Paman', aku tidak setua itu!"


"Tapi kau lebih tua dariku ... jauh, 17 tahun!" Tanpa merasa bersalah, Lilyana malah menjelaskan perbedaan usia di antara mereka.


"Kalau begitu aku akan memanggilmu 'Bocah'!" kata mike tegas.


Lilyana memekik kecil. "Hei, usiaku sudah 20 tahun dan aku bukan bocah!"


"Dan aku belum 40 tahun, jadi aku bukan paman!" balas Mike sengit.


Helaan napas pun keluar dari mulut Lilyana. "Oke, aku mengalah. Maafkan aku, tetapi kau juga harus meminta maaf soal kejadian malam itu!" katanya.


Mike lantas mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Kau masih membahas hal tersebut?"


Lilyana mengangguk cepat. "Ya! Aku tidak akan melupakannya!" tegas Lilyana.


Mike mendengkus. Ia memandangi Lilyana dengan sorot mata tajam. "Oke, aku minta maaf! Aku lah yang bersalah! Puas?"


Mendengar perkataan Mike, Lilyana tersenyum lebar. Walau kentara sekali tidak ikhlas, tetap saja mampu membuat hati Lilyana dipenuhi kelegaan.


Setelah berkata demikian, Mike pun mulai menaiki jendela dan melompat keluar begitu saja. Pendaratannya yang mulus membuat Lilyana sempat ternganga selama beberapa saat.


Lilyana pikir, setelah kejadian itu Mike dan dirinya tidak akan pernah bertemu lagi. Namun, ternyata tidak demikian. Sebab, malam berikutnya ternyata Mike juga datang ke kamar pribadi Lilyana.


"Mau apa kau datang kemari?" tanya Lilyana yang terkejut mendapati Mike muncul tiba-tiba, sesaat setelah membuka gorden.


"Aku tidak punya kotak P3K dan aku tidak mau repot-repot meminjam barang orang lain!" jawab Asher santai.


Lilyana melongo selama beberapa detik. Ia kini memahami maksud dari kedatangan Mike.


"Cih, kupikir kau terlalu jual mahal untuk tidak menerima pengobatanku," kata Lilyana mencibir.


"Aku hanya tak ingin mengeluarkan banyak uang demi luka kecil ini!" balas Mike singkat.


Lilyana melirik kesal. Mau tak mau ia pun menggantikan perban Mike sebagai bentuk tanggung jawab dan terima kasih. sebab, biar bagaimana pun juga Mike terluka karena melindungi dirinya.


Alhasil, dengan telaten Lilyana mengganti perban Mike. Namun, demi menghilangkan kekesalannya, ia sengaja menggunakan plester anak-anak bergambar boneka di dahi Mike.


Melihat Lilyana tertawa kecil, Mike refleks mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak ingin repot-repot mencari tahu. Baginya gadis itu memang selalu bertingkah aneh tiba-tiba.


"Selesai!" seru Lilyana.


Mike bangkit dari ranjang Lilyana. Tanpa berkata apa-apa ia segera pergi dari kamar gadis itu.


"Sama-sama!' teriak Lilyana sembari menatap kepergian Mike yang berjalan santai meninggalkannya.


"Cih, dasar pria menyebalkan. Untung saja aku masih bisa menahan diri karena kau telah menolongku!" ketus Lilyana seraya menutup pintu jendela kamarnya keras-keras.


Total Mike mendatangi Lilyana ke kamarnya sebanyak lima kali. Untuk yang terakhir kali, Lilyana bahkan keheranan, sebab hanya untuk membuka plester saja harus Lilyana yang melakukannya.


Saat Lilyana bertanya, Mike dengan enteng menjawab, Kalau itu sudah menjadi tugas Lilyana.


Lilyana sempat mengumpat kesal, tetapi tetap menuruti perkataan Mike untuk melepas plester di kepalanya.


"Sudah selesai! Seharusnya sudah tidak ada gangguan lagi. Kau sudah sembuh dan aku sudah terbebas dari tanggung jawab!" seru Lilyana sumringah.


Mike yang kini duduk bersandar di atas meja kecil Lilyana, sontak turun. Ia pun berniat pergi meninggalkan Lilyana kembali.


"Hei!" panggil Lilyana.


Mike menoleh.


"Aku sempat ingin menanyakan hal ini sejak awal bertemu denganmu, tetapi selalu saja merasa kurang tepat."


Mike terdiam menunggu Lilyana melanjutkan perkataannya. "Jadi, sebenarnya apa pekerjaanmu? Mengapa kau sering mendatangi tempat ini untuk menyembelih ayam?" tanya Lilyana tiba-tiba.


Mike tampak enggan menjawab pertanyaan Lilyana yang terbilang sangat privasi. Namun, Lilyana malah terus mendesaknya tanpa malu.


"Aku mengerjakan apa pun yang aku bisa." Hanya itu sepenggal kalimat yang terlontar dari mulut Mike, sebelum kemudian melompat keluar dari kamar Lilyana.


Lilyana bungkam. Ia tak bisa mengajukan pertanyaan lain lagi, karena Mike sudah terlanjur pergi.


"Cih, pria aneh!" gumam gadis berusia dua puluh tahun itu dengan nada jengkel.