
Sesosok pria berjaket hitam dengan tas besar di punggungnya terlihat sedang berdiri di depan makam Joseph dan Maria, kedua orang tua Lilyana. Pria itu tampak serius berdoa sebelum kemudian meletakkan sebuket bunga di atas makam tersebut.
"Maaf, aku tidak bisa menemukan Lilyana, Uncle, Aunty," ucap pria bernama Aaron tersebut. Ia lah satu-satunya sahabat baik Lilyana semasa sekolah dulu. Mereka berdua akhirnya berpisah ketika Aaron mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri, dan mengharuskannya meninggalkan tanah air.
Begitu mendengar berita soal keluarga Lilyana dari salah satu kerabatnya, Aaron memutuskan terbang kembali ke tanah air untuk menemukan gadis itu. Namun, Lilyana telah pergi. Polisi bahkan sempat mencurigai keterlibatan gadis bermata coklat itu, jika saja mereka tidak menemukan bukti bahwa sahabatnya tersebut ternyata tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Joseph dan Maria.
Sejak saat itu lah, Aaron memutuskan untuk pergi mencari Lilyana. Ia sempat berhasil menemukan tempat persembunyiannya selama beberapa minggu di rumah perkebunan milik pensiunan militer, Leo. Namun, Lilyana ternyata telah pergi.
Leo sendiri tidak mengetahui keberadaan Lilyana karena tidak memiliki petunjuk apa pun.
Pencarian pun otomatis terputus. Untuk saat ini Aaron tidak memiliki banyak waktu di sini karena harus kembali melanjutkan kuliahnya. Oleh sebab itu, dengan diliputi perasaan bersalah, Aaron pergi ke makam kedua orang tua Lilyana untuk meminta maaf.
Embusan napas terdengar dari mulut Aaron yang putus asa. "Aku akan kembali ke sini lagi begitu selesai mengurus cuti kuliahku," ujar Aaron. Pria berusia dua puluh satu tahun tersebut membungkukkan badannya dalam-dalam sebelum pergi meninggalkan makam. Ya, ia berniat akan mengambil cuti kuliah untuk melanjutkan pencariannya terhadap Lilyana.
Pria itu yakin Lilyana bersembunyi dengan baik di rumah salah seorang kenalannya. Ia tak yakin Lilyana berani mengambil langkah lebih jauh dari itu.
...**********...
Suasana bar terkenal yang ada di kota semula terasa sangat menyenangkan, sebelum kemudian mendadak berubah mencekam, setelah kedatangan Alexander. Dengan kejam anak buahnya menghajar para penjaga bar dan orang-orang suruhannya yang berjumlah lebih dari dua puluh orang.
Para pengunjung berlari tunggang langgang meninggalkan bar, saat melihat kedatangan Alexander, mafia paling ditakuti di sana. Siapa yang tak kenal dengan Alexander Dereck, sang pemimpin kartel Dereck yang baru saja menggantikan ayahnya dua tahun lalu. Kebiadaban Abaddon tentu menurun pada putra sulungnya tersebut.
Kinerjanya pun tidak main-main. Hanya dalam dua tahun kepemimpinannya, Alexander mampu menggulung beberapa komplotan dan menguasai seluruh wilayah mereka.
Alexander duduk dengan angkuh di salah satu sofa bar, sementara dua anak buahnya menghampiri bartender yang sedang berdiri ketakutan di balik meja bar.
"Mana bosmu?" tanya salah seorang suruhan Alexander.
"D d dia s se sedang tidak ada, Tuan," jawab si bartender dengan tergagap.
Pria suruhan tersebut menjambaak rambut si bartender dan membenturkannya ke meja hingga pingsan. Di saat yang bersamaan, seorang pria berkepala pelontos tampak diseret kasar dari ruang belakang. Pria tersebut hanya mengenakan celana pendek saja.
Seorang wanita kemudian keluar dari sana dalam keadaan kacau balau sembari menenteng high heels miliknya, lalu melarikan diri.
Pria botak itu di dorong hingga jatuh tepat di bawah kaki Alexander.
"T t tuan Alexander!" sapanya ketakutan. Ia berusaha tersenyum menyambut kedatangan pria itu.
"Jeremy, sudah berapa kali aku bilang untuk mengangkat teleponmu, jika aku menghubungi?" ujar Alexander sambil melipat kedua kakinya dengan santai.
Alexander memgangkat tangannya kepada salah seorang anak buah, guna meminta sesuatu.
Seolah mengerti, si anak buah segera mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan memberikan benda tersebut kepada Alexander.
Alexander tampak serius mengutak-atik ponsel di tangannya dan beberapa saat kemudian ... bunyi dering telepon pun terdengar.
Jeremy sontak terkejut kala dering telepon itu terdengar dari kantong celananya. Dalam sekejap kebohongan pria itu terbongkar.
Memgetahui hal tersebut, Alexander dengan kejam menginjak kepala Jeremy dan menekannya ke lantai bar. Teriakan Jeremy sontak terdengar keras.
"Kau bisa bebas berciinnttaa dengan jaaallang tanpa memikirkan perjanjian kita? Good!" kata Alexander sembari terus menekan kepala Jeremy.
"Arrghh! Tuan maafkan saya! Saya tidak bermaksud demikian!" teriak Jeremy.
"Kapan kau akan membayar lunas hutang-hutangmu?" tanya Alexander sinis.
"Segera, Tuan, segera!" jawab Jeremy cepat. "Namun, beri saya waktu. Beberapa orang masih belum membayar lunas barang-barang kita!" sambungnya.
Mendengar itu, Alexander tertawa sinis. Ia pun memanggil tangan kanannta yang berdiri tak jauh dari sana.
Hilda, sang wanita yang merupakan salah seorang tangan kanan Alexander, memberikan sebuah buku catatan kepadanya.
"Lalu, ini apa?" Alexander melempar buku itu hingga terjatuh tepat di hadapan Jeremy.
Jeremy melirik buku itu dan terbelalak ketakutan. Sebab buku itu adalah buku transaksi miliknya.
Di sana tertera bahwa semua organisasi yang berbisnis dengan mereka sudah melunasi uang tersebut. Kesimpulannya, Jeremy berusaha menggelapkan uang milik Alexander.
Jeremy bergetar ketakutan. Ia memohon pada Alexander untuk memaafkannya. Ia pun mengakui bahwa uang tersebut dipakai untuk investasi.
"Aku berjanji akan mengembalikannya dua kali lipat, Tuan!" seru Jeremy.
Alexander menatap Jeremy tajam. "Kau pikir ini semua semata-mata hanya karena uang?" Pria itu kemudian berdiri dan berjongkok di depan kepala Jeremy. "Kau tahu benar, aku tak suka rekan bisnis yang suka melanggar perjanjian!" Setelah berkata demikian, Alexander menarik tangan Jeremy dan meletakkannya di atas meja.
"Tuan, apa yang ingin Anda lakukan! Tolong, jangan Tuan!" teriak Jeremy sembari memberontak. Namun, Alexander sama sekali tidak mengindahkan. Dibantu beberapa orang anak buahnya yang langsung memegang tubuh Jeremy, dengan kejam Alexander meneebaass tiga jari tangan pria berkepala pelontos tersebut.
"AAARRGGHHHH!" Jerit kesakitan pun menggema memenuhi seantero bar.