Love Island

Love Island
Bab 7. Tiba di Pulau.



Rumah yang mulai saat ini menjadi tempat tinggal Lilyana memiliki dua lantai dengan luas yang berbeda. Cael membaginya dengan baik antara lantai satu dan lantai dua. Lantai satu yang lebih luas digunakan Cael untuk toko rotinya, sedangkan lantai dua khusus untuk tempat tinggal.


Lilyana dan Irene menempati dua kamar di antara empat kamar yang ada. Ukuran masing-masing kamar tidak terlalu besar. Luasnya hanya cukup untuk tempat tidur dan lemari pakaian saja. Namun, terasa sangat nyaman karena memiliki jendela besar yang langsung menghadap ke bukit hijau dan hamparan laut yang jauh terbentang.


Cael mengizinkan kedua gadis itu (terutama Lilyana) untuk mandi dan beristirahat terlebih dahulu sebelum makan malam tiba.


Selesai mandi, Lilyana memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Suasana dan hawa yang sejuk membuat Lilyana tidak merasa tinggal di pulau terpencil, melainkan rumah tepi pantai yang indah dan estetik.


Matanya menerawang, menatap langit-langit kamar yang terbuat dari kayu tersebut. "Ayah, Ibu, aku sekarang tinggal jauh dari rumah. Lindungi tiap langkah kakiku. Maaf, aku belum bisa mengunjungi makam kalian." Lilyana menarik napasnya yang mulai berat. Maklum saja, setiap kali mengingat kedua orang tuanya, Lilyana selalu diliputi perasaan takut dan bersalah. Terlebih, ia sama sekali belum pernah mengunjungi makam mereka. Lokasi pemakaman pun diketahui Lilyana melalui berita di televisi.


Sementara untuk harta benda milik keluarganya, dari yang pernah ia dengar melalui Leo, pemerintah akan mengambil alih seluruhnya. Lilyana tidak peduli akan hal itu. Lagi pula, bagi Lilyana harta paling berharga hanya lah Maria dan Joseph, kedua orang tua yang sangat ia cintai.


Satu hal yang patut ia syukuri saat ini adalah, kebaikan orang-orang yang ia temui. Lilyana harap ketenangan dapat menyertai hidupnya mulai saat ini.


"Lily!" Irene tiba-tiba memanggilnya sambil mengetuk pintu kamarnya.


Lilyana sontak bangkit dari ranjang dan membuka pintu kamar.


"Makan malam sudah siap. Kau ingin makan bersama kami atau di atas saja. Biar aku bantu ambilkan nanti."


Mendengar tawaran baik itu, Lilyana sontak menggelengkan kepala. Irene benar-benar gadis yang baik dan ia tak bisa memanfaatkan kebaikannya untuk melakukan hal-hal kecil.


"Kita makan malam bersama saja," jawab Lilyana seraya tersenyum. Keduanya pun pergi menuju meja makan dimana Cael sudah menunggu.


Bayangan Lilyana tentang makanan yang dihidangkan ternyata salah. Ia pikir Cael akan memasak segala jenis seafood. Namun, rupanya ada berbagai hidangan lain di sana seperti daging dan ayam.


"Kau pasti heran ya?" Seolah tahu apa yang dipikirkan Lilyana, Cael bersuara.


Lilyana menganggukkan kepala seraya meringis.


"Di dekat bukit kami membangun peternakan yang dikelola bersama-sama. Awalnya memang sulit, tetapi lama kelamaan tidak lagi." Kata Cael menjelaskan.


Lilyana terperangah. Ia tidak menutupi rasa kagumnya pada para penduduk pulau yang mampu beradaptasi. Tak hanya itu saja, Cael juga menceritakan berbagai macam hal tentang pulau kepadanya sembari menikmati makan malam yang sangat lezat.


Makan malam yang mengingatkannya pada Leo dan Anna.


"Berarti kau tidak memiliki nama keluarga ya?" tanya Cael saat mereka membahas tentang hidup masing-masing.


Lilyana menggeleng. "Sebenarnya sang pemilik panti memberikan nama keluarganya untukku, tapi aku menolak!" kilah gadis itu.


Cael dan Irene mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Keduanya turut perihatin sekaligus takjub, sebab diusia semuda ini Lilyana sudah mampu berkelana jauh sekali.


Lilyana hanya tersenyum kecil. Entah apa yang akan terjadi pada mereka bila ia menceritakan hal yang sesungguhnya.


"Baiklah kalau begitu, kita mulai pembahasan bisnisnya!" seru Cael.


"Lilyana, katamu, kau tidak bisa memasak, kan?" Cael menunjuk Lilyana dengan semangat.


"Tidak apa, tidak apa! Itu berarti kau bertugas sebagai kasir. Sementara Irene berkutat di dapur denganku. Oh, Lilyana juga harus memastikan stok roti kita tidak habis ya ...!"


Lilyana lagi-lagi mengangguk, begitu pun dengan Irene.


Beberapa ketentuan pun tak lupa dibahas mereka bertiga, termasuk gaji yang akan dibayar Cael. Untuk hal yang satu itu Lilyana tidak mempermasalahkan apa pun, sebab baginya bisa tinggal dan makan di sana saja sudah lebih dari cukup.


Selesai makan malam, Cael meminta Irene untuk mengajak Lilyana berkeliling tempat terlebih dahulu agar lebih mengenal lingkungan ini. Irene dengan senang hati menuruti, kebetulan ia sudah mengenal beberapa orang dan tempat di sini karena pernah datang berkunjung.


"Aku pikir, kakak sepupumu sudah menikah, Irene?" tanya Lilyana penasaran, ketika mereka baru saja keluar dari toko roti.


Irene meringis kecil. "Ia bukan pria yang menyukai komitmen, lagi pula kau tidak akan menyangka tipe pasangan yang disukainya."


Lilyana mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Memangnya seperti apa?"


Irene mengalihkan pandangannya pada Lilyana sembari memasang wajah misterius. Ia lalu mendekatkan diri ke telinga gadis itu dan berbisik.


Sedetik kemudian, Lilyana membelalakkan matanya begitu selesai mendengar bisikan Irene.


"Oh, my ...." Lilyana nyaris mengumpat sebelum akhirnya tertawa kecil.


Irene turut tertawa. "Jadi, kau tidak perlu khawatir juga. Sebab ia tak akan pernah menyukaimu!" Tawa kembali terdengar dari mulut gadis itu.


Lilyana menggelengkan kepala seraya sesekali meminta Irene untuk diam dan fokus menjelajahi tempat.


Bagi Lilyana, suasana malam hari di pulau ini justru sangat indah. Lampu warna-warni yang terpasang di hampir seluruh penjuru tempat membuat suasana semakin syahdu.


"Irene, kapan kau datang?" Seorang pria bertubuh tambun tiba-tiba menyapa mereka.


"Paman Patrick! Aku baru saja datang tadi sore!" jawab Irene ceria. Gadis itu kemudian mengenalkan Lilyana padanya.


"Paman, ini temanku dari desa, Lily. Dia akan bekerja membantu Cael di toko." Irene lalu mengalihkan pandangannya pada Lilyana. "Lily, ini Paman Patrick, pemilik toko perkakas yang letaknya di ujung sana,' kata gadis itu seraya menunjuk ke arah depan mereka.


"Salam kenal, Tuan Patrick," ujar Lilyana sopan seraya membungkukkan badannya.


Patrick tertawa kecil. "Hei, jangan seformal itu. Panggil saja aku, seperti Irene," pintanya.


Lilyana tersenyum malu lalu mengangguk. Keduanya berbincang sejenak selama beberapa saat, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan kembali.


Ada banyak tempat yang mereka kunjungi, seraya berkenalan dengan para pemiliknya. Dari mulai toko kelontong yang menjual berbagai macam kebutuhan rumah tangga, toko pakaian, bar, sampai salon kecil. Bahkan taman bermain untuk anak-anak pun ada di sana.


Pulau tak bernama ini benar-benar memiliki fasilitas yang nyaris lengkap. Sekali lagi ia salut terhadap para penduduk yang mampu beradaptasi.


Saat mereka kembali berjalan, perhatian Lilyana tertuju pada satu rumah berukuran cukup besar yang hanya diterangi lampu teras sana. Sepertinya sang pemilik sengaja meminta lampu hias tidak terpasang di depan rumahnya.


"Ren, rumah siapa itu?" tanya Lilyana penasaran.