
Lilyana sejak bangun dari tidur hanya sibuk berguling-guling sambil menutup seluruh wajahnya dengan bantal.
Bagaimana tidak, ia sedang panik memikirkan kejadian semalam bersama Mike. Walau dalam keadaan mabuk, bukan berari Lilyana lupa akan peristiwa romantis yang terjadi di antara mereka berdua.
Lilyana sendiri sengaja berbuat seperti itu duluan, karena terpancing emosi dengan ejekan Mike soal usianya yang masih muda. Namun, hal tersebut justru membuat Lilyana enggan keluar dari kamar.
"Bodoh, bodoh, bodoh!" umpat Lilyana dengan suara parau seperti hendak menangis. Ia berharap bisa mengubur diri selama beberapa tahun ke depan, atau kabur keluar dari pulau tak bernama ini.
Suara ketukan pintu pun tiba-tiba terdengar. "Lily, ayo, bangun! Kita sarapan!" teriak Irene dari balik pintu.
Lilyana buru-buru bangkit dari ranjangnya dan berbenah diri. "Sebentar!" Ia pun bergegas mengambil handuk dan pakaian ganti, lalu keluar dari kamar.
"Kau baru bangun?" tanya Irene.
Lilyana hanya tertawa kecil. "Cael mana?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya dia akan bangun siang." Jawab Irene.
"Baiklah. Kalau begitu, aku mandi dulu!" Dengan gerakan secepat kilat, Lilyana meluncur pergi menuju toilet, sementara Irene membuat sarapan di dapur.
Selesai sarapan, mereka pun mulai membuka toko roti tanpa Cael.
Tak lama, suara lonceng di pintu toko terdengar.
"Selamat si ... ang ...." Wajah Lilyana sontak memerah begitu melihat pelanggan pertama mereka. Siapa lagi kalau bukan pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya?
Mike berjalan santai menuju meja kasir untuk memesan kopi dan roti. Pria itu sama sekali tidak terlihat canggung mau pun kaku, seolah tidak ada sesuatu hal yang terjadi di antara mereka.
"Kau kenapa?" tanya Mike begitu mendapati rait wajah aneh Lilyana.
Lilyana refleks mengernyit. "Kenapa, apanya?" katanya.
"Wajahmu ... merah sekali!"
Mendengar jawaban Mike, wajah Lilyana semakin merah. Ia pun berusaha mengabaikan keberadaan pria itu dengan membantu Irene menyiapkan pesanannya.
Melihat tingkah aneh Lilyana, diam-diam Mike tersenyum tipis. Tak ada yang tahu, bahwa pagi tadi Mike pun sempat merasa gelisah dengan apa yang ia lakukan semalam. Namun, pria itu berusaha melupakannya agar tidak menjadi bahan olok-olokan Lilyana.
"Aku akan ke belakang dulu," kata Irene setelah membuatkan kopi untuk Mike. Lilyana mau tidak mau mengangguk. Tanpa melihat wajah pria itu, Lilyana menyerahkan kopi tersebut dan menghitung bill-nya.
Transaksi berjalan dengan lancar, tetapi Mike tak juga kunjung pergi.
"Masih ada yang kau inginkan?" tanya Lilyana. Ia terpaksa mengangkat wajahnya untuk melihat Mike.
"Ke mana Cael? Apa dia baik-baik saja?" tanya Mike.
Lilyana merengut. Dari sekian banyak peristiwa kecil yang mereka alami kemarin, pria itu malah menanyakan kabar Cael bukan dirinya.
"Baik. Cael mungkin akan bangun siang nanti!" jawab Lilyana dingin.
Mike terdiam sejenak, seraya terus memerhatikan raut wajah Lilyana yang selalu saja membuang muka padanya.
"Kenapa melihatku terus? Pergi sana!" usir Lilyana.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Mike dengan nada yang lembut dan bersahabat. Sepertinya baru kali ini ia mendengar ucapan lembut Mike.
"Kita baru bertemu semalam dan kau sudah menanyakan kabarku?" Sinis Lilyana.
"Kau tahu maksud pertanyaanku yang sebenarnya. Apa perlu aku perjelas di sini?"
Lilyana melotot. Ia bergegas mengusir Mike dari sana. Namun, Mike malah memilih duduk di salah satu kursi pelanggan sembari menikmati kopi panasnya.
...**********...
Matahari sudah hampir tenggelam, ketika Estelle dan Laura berjalan santai menuju halte bus. Pelajaran tambahan di sekolah membuat kedua gadis itu terlambat pulang.
Tak lama kemudian, hujan pun turun.
"Siall, kita tidak membawa payung!" seru Estelle.
"Sepertinya tidak akan lama. Lagi pula, busnya sebentar lagi akan tiba," ucap Laura. Keduanya pun memilih duduk di tengah-tengah halte yang sepi tersebut, agar tidak terkena air hujan.
Saat sedang asyik berbincang sembari menunggu kedatangan bus, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan mereka. Seorang wanita cantik berpenampilan anggun dengan rambut pirang, turun dan menghampiri mereka.
"Girls, bisa kalian beritahu ke arah mana Distrik Verona?" tanya wanita cantik tersebut.
Laura lah yang menjawab pertanyaan itu. Dengan telaten ia menunjukkan arah. Namun, wanita asing tersebut rupanya susah memahami penjelasan Laura meski telah berkali-kali diberitahu.
"Bagaimana kalau kalian berdua ikut denganku dan menunjukkan tempatnya?" tawar wanita itu.
Laura dan Estelle terdiam. Keduanya saling melempar pandangan ragu. "Jangan! Kau tahu kan, soal berita-berita yang sedang wara-wiri di televisi?" kata Estelle.
"Aku tahu, tapi sepertinya wanita itu bukan orang jahat. Lihat saja penampilannya. Dia pasti orang kaya. Mana mungkin orang kaya melakukan penculikan hanya demi segenggam uang!" Laura mencoba berpikira positif. Ia meyakinkan Estelle bahwa mereka akan baik-baik saja.
Gadis itu pun kemudian berdiri dan berjalan menghampiri si wanita. Namun, Estelle lagi-lagi berusaha mencegahnya.
Melihat hal tersebut, si wanita tersenyum ramah. "Tidak apa-apa, saya bukan orang jahat." Ia kemudian membuka pintu mobil dan memperlihatkan orang-orang di dalamnya yang ternyata adalah sepasang orang tua dan seorang supir pribadi. "Saya datang bersama orang tua saya," ucapnya.
Laura yang merasa tak enak hati akhirnya meminta maaf. Ia pun sempat memarahi Estelle karena secara tidak langsung sudah berlaku tidak sopan kepada mereka.
Merasa bersalah, Estelle pun meminta maaf dan akhirnya ikut masuk ke dalam mobil. Kendati demikian, hati gadis remaja berusia 16 tahun itu tak juga tenang.
Tak ada hal yang mencurigakan di dalam mobil. keempat penghuni mobil tersebut tampak ramah berbincang dengan Estelle dan Laura. Namun, ketika mereka hendak sampai di distrik yang dimaksud, mobil tiba-tiba beralih ke jalan lain.
"Pak, bukan ke sini arahnya, tapi ke kiri tadi!" seru Estelle.
Si wanita yang duduk di sebelah Laura pun menoleh dan berkata, "seharusnya kau mendengar kata-kata temanmu itu!"
Dari belakang dua orang pria muncul dan menyuntik leher Estelle dan Laura bersamaan. Mereka pun pingsan.
...**********...
Vivian hanya bisa menatap cemas ponsel yang berada dalam genggamannya. Wajar saja, sebab sudah satu setengah jam berlalu dan Estelle belum juga tiba di rumah. padahal jarak dari sekolah ke rumah paling lama hanya yg tiga puluh menit saja.
Ia pun berusaha menghubungi Estell lagi, tetapi ponselnya kini malah tidak aktif. Kepanikan sontak saja melanda hati ibu dua orang anak itu. Secepat kilat ia berlari menuju ke rumah Laura untuk menanyakan kepulangan kedua gadis tersebut.
Akan tetapi, hasilnya sama saja. Laura belum juga pulang ke rumah.
Mereka berusaha menghubungi sekolah guna menanyakan kabar Laura dan Estelle. Sekolah memberitahu bahwa mereka sudah pulang sejak tadi.
Tanpa pikir panjang, Vivian dan kedua orang tua Laura melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib.
Akan tetapi, jawaban tidak memuaskan pun harus diterima Vivian dan kedua orang tua Laura. Sebab, mereka belum bisa memproses laporan kehilangan dan harus menunggu selama dua puluh empat jam.
Vivian hanya bisa menangis meratapi kekhawatirannya. Dalam hati ia berharap Estelle hanya pergi main dan akan pulang setelahnya.
"Ke mana kau, Nak? Ibu benar-benar mencemaskan dirimu!" gumam Vivian dengan lelehan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Secarik kertas berisi foto Estelle yang sempat ia bawa dari rumah, kini hancur dalam genggamannya.