Love Island

Love Island
Bab 20. Pencarian Aaron.



Mike bukanlah pria yang mudah jatuh cinta, apa lagi pada wanita-wanita yang terang-terang mengganggu dirinya. Namun, terhadap Lilyana, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Ada hal yang selalu menggelitik hatinya tiap kali bertemu dengan gadis yang lebih pantas dianggap sebagai keponakan itu.


Mike semula berusaha menyangkal, tetapi bayangan Lilyana semakin dalam mengusiknya. Entah bagaimana ceritanya hubungan mereka pun semakin dekat.


Sejujurnya Mike memang membutuhkan seseorang yang mampu mengalihkan pikirannya dari masa lalu yang pahit, dan ia menemukan itu di diri Lilyana.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lilyana dengan mata melotot. Gadis itu terkejut ketika mendapati Mike datang tiba-tiba ke kamarnya tanpa pemberitahuan. Pasalnya, pria itu diketahui ikut pergi bersama penghuni pulau lain untuk membeli bahan pokok.


"Kau sudah kembali? Bukankah kau ikut Aunty Merry dan baru akan kembali besok?" tanya Lilyana.


"Tidak. Aku menyelesaikan pekerjaan dengan cepat karena harus melakukan sesuatu." Jawab Mike ambigu.


"Menyelesaikan apa?" Lilyana mengerutkan keningnya.


Mike tidak menjawab. Ia hanya menatap Lilyana dalam-dalam lalu mendekati dirinya perlahan.


"Mike?" Lilyana hendak mundur satu langkah, tetapi Mike segera menahan gadis itu. Dengan satu gerakan singkat, pria berusia 37 tahun tersebut mendaratkan ciumannya ke bibir Lilyana.


Lilyana terkesiap dengan mata melotot. "M mi mike!" seru gadis itu sambil melepaskan diri. "Apa maksudmu? Kau pikir bisa seen—"


"Aku menyukaimu, Lilyana!" Potong Mike tiba-tiba.


Mendengar pengakuan tersebut, Lilyana tertawa kecil. "Jangan bergurau Mike, aku tak butuh lelucon seperti itu!" Kendati tertawa tapi mata gadis itu menatap tajam Mike.


"Aku sedang tidak bergurau, Lily!" ucap Mike serius.


Lilyana mendengkus. "Setelah mengataiku anak kecil pengganggu, kini kau menyatakan cinta? Kau pikir aku percaya!" sahut gadis itu sengit.


Mike bungkam. Kekecewaannya sempat hadir menyelimuti diri. Apa yang harus ia lakukan? Mengapa Lilyana bisa tidak memercayai pengakuannya, padahal jelas-jelas ia mengatakan hal tersebut dengan sungguh-sungguh.


"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?" tanya Mike.


Lilyana langsung terdiam. Ia sendiri bingung menjawabnya. Jauh di dalam lubuk hati Lilyana, ia sebenarnya memercayai perkataan Mike. Namun, entah kenapa ada sesuatu yang ia takuti.


Mike kembali mendekati Lilyana dan menghimpit tubuhnya di lemari pakaian gadis itu. Ia kemudian menempelkan keningnya pada kening Lilyana. Terdiam beberapa saat dalam posisi demikian.


Perlahan tapi pasti, Mike kembali mendekati wajah Lilyana, dan kali ini Lilyana sama sekali tidak menghindari. Seolah terhipnotis, gadis itu menerima pagutan mesra yang dilakukan Mike.


Sambutan Lilyana membuat Mike yakin, bahwa gadis itu telah menerima cintanya.


**********


Dua mobil polisi baru saja pergi ketika Aaron tiba di rumah. Pria itu tampak sangat panik mengetahui adiknya Estelle dan sahabat baiknya, Laura, menghilang setelah pulang dari sekolah.


Begitu mendapat kabar dari sang ibu, Vivian, Aaron lamgsung mengambil penerbangan saat itu juga menuju tanah air.


Melihat kepulangan putranya, Vivian menangis. Wanita itu memeluk tubuh Aaron erat sembari menyebut nama Estelle.


"Estelle pasti akan baik-baik saja, Bu," ucap Aaron berusaha menenangkan hati beliau. Ia pun mengajak ibunya masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.


Di sana lah Vivian bercerita soal kronologi kejadian sebelum Estelle dan Laura meninggal. Menurut kepolisian, mereka sama sekali tidak menemukan petunjuk. CCTV di halte bus yang biasa digunakan kedua gadis itu pun sudah lama rusak.


"Kalau mereka memang tak mampu menemukan Estelle dan Laura, biar aku yang mencarinya, Bu! Aku juga akan meneruskan pencarian terhadap Lilyana!" kata Aaron tegas.


Vivian sontak menggelengkan kepala. "Mencari satu orang saja sudah beresiko Nak, apa lagi mencari mereka bertiga. Ibu tak ingin kau terluka!"


Aaron memegang kedua bahu sang ibu. "Aku laki-laki dan bisa menjaga diri, Bu. Tidak dengan mereka bertiga. Doakan saja semoga aku bisa menemukan mereka bertiga sekaligus. Ya, Bu?" ujar Aaron.


Vivian menarik napasnya sejenak, lalu menganggukkan kepala. Ia kembali memeluk sang putra seerat mungkin.


Sebelum benar-benar pergi, Aaron meminta Vivian untuk mengungsi terlebih dahulu ke tempat salah seorang kerabat mereka. Sementara ia memeriksa beberapa petunjuk dan surat kabar yang memuat pemberitaan tentang kehilangan sang adik.


"Estelle dan Laura selalu pulang bersama. Aku dan yang lainnya terkadang ikut menunggu di halte bersama, tetapi hari itu aku tidak ikut pelajaran tambahan dan teman-teman yang lain membawa kendaraan sendiri." Jawab salah seorang teman sekelas Estelle.


Aaron mengunci jawaban tersebut dan berterima kasih. Kepada penjaga sekolah dan security pun, Aaron mengajukan beberapa pertanyaan singkat. Baru setelah itu ia pergi menuju halte, tempat terakhir di mana Estelle dan Laura ditengarai keberadaannya.


Benar apa yang dikatakan sang ibu tadi, bahwa CCTV di halte tersebut rusak. Bahkan di jalanan sekitarnya pun tidak terpasang CCTV. Aaron mencoba mengikuti ke mana arah bus pergi dengan berjalan kaki kemudian mencatatnya. Tak lupa ia juga mencatat seluruh jadwal bus.


"Estelle dan Laura pulang pukul enam lewat tiga puluh menit dan bus datang pukul enam lewat tiga puluh lima menit," gumam Aaron. Pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu, sebelum kemudian memekik kecil. Sepertinya ia tahu harus pergi ke mana.


**********


"Persiapan sudah selesai, Tuan Alexander," ucap Hilda pada Alexander yang baru saja datang ke gudang peti kemas yang berada di pelabuhan.


"Ada berapa?" tanya Alexander.


"Tujuh orang, sesuai permintaan Tuan Marcel." Hilda kembali menjawab.


Alexander kemudian memerintahkan anak buahnya untuk membuka peti kemas kapal yang akan dikirim itu.


Ketika peti terbuka, terdapat tujuh orang gadis tergeletak di sana tanpa daya. Beberapa orang di antara terlihat pingsan karena sengaja dicekoki minuman beralkohol. Alexander menyipitkan matanya, tatkala melihat ada dua gadis berseragam sekolah di sana.


"Tanggalkan seragam mereka dan bakar! Jangan bodoh, tak ada yang boleh mengetahui identitas mereka, sekali pun itu Marcel!" ucap Alexander dingin.


Hilda meminta maaf dan langsung merobek paksa pakaian mereka. Ia meminta sehelai pakaian pada salah seorang rekannya dan segera memakaikan ke tubuh dua gadis itu.


"Tutup! Pastikan pria brenggseek itu puas menerimanya!"


Hilda menganggukkan kepala. Alexander pun pergi meninggalkan tempat menuju gudang pabrik yang tak jauh dari sana. Pabrik yang ia miliki merupakan pabrik tekstil, tetapi hanya segelintir orang yang tahu bahwa di dalamnya terdapat gudang obat-obatan terllarraang.


Dari gudang itu lah, sumber utama pundi-pundi uang keluarga Dereck.


...**********...


Aaron mengerutkan keningnya saat mendapati tak ada satu pun dari pihak pengelola bus yang bersedia bertemu dengannya. Aaron bahkan sempat tidak diperbolehkan masuk saat mengatakan tujuannya datang ke kantor pengelola bus tersebut.


"Pimpinan kami sedang tidak berada di tempat, Tuan." Hanya itu sepenggal kalimat yang ia dapatkan di sana. Tidak menyerah, Aaron memutuskan untuk mencari sendiri supir bus yang harusnya tiba di halte tersebut.


Aaron yakin benar kalau supir bus itu sebenarnya melihat kejadian yang menimpa Estelle dan Laura, karena jarak kehilangan mereka dengan kedatangan bus tidak lah jauh. Minimal, dashcam bus bisa ia periksa.


"Pak, apa Anda pernah melihat kedua gadis ini?" tanya Aaron tanpa basa-basi begitu menemukan sang supir bus.


Si supir melihatnya dan menggelengkan kepala. "Tidak."


"Saat Anda tiba di terminal 788, apa Anda melihat sesuatu yang janggal di sana? Bagaimana keadaan di tempat itu?" tanya Aaron kemudian.


"Sepi. Tak ada satu pun orang yang menunggu di halte, jadi saya tidak menghentikan bus," jawabnya lancar.


"Jadi, Anda sama sekali tidak melihat apa-apa?" Aaron meyakinkan si supir.


"Tidak. Sudah ya, saya harus keluar lagi," ucapnya sembari berlalu. Namun, Aaron buru-buru mencegah.


"Pak, apa saya boleh melihat dashcam di bus Anda?" tanya Aaron.


"Maaf, tidak bisa. Kami tidak bisa menunjukkan kepada sembarang orang. Lagi pula dashcam itu sudah diperiksa polisi dan tidak ditemukan apa-apa." Si supir yang mulai terlihat risih akhirnya pergi meninggalkn Aaron begitu saja.


Aaron lantas mengikuti dan ikut naik ke dalam bus untuk pulang ke rumah.


Ia duduk di kursi paling belakang dekat dengan jendela. Aaron sama sekali tidak menyadari bahwa sang supir sesekali memerhatikan dirinya melalui kaca spion.