Love Island

Love Island
Bab 25. Fakta Menyakitkan.



Mike meradang, pria itu tiba-tiba menghajar salah seorang anak buah Luke hingga terjungkal dari atas kapal. Namun, Luke dengan cepat memelintir tangan Mike hingga ke belakang tubuhnya.


Lilyana menjerit. "Jangan libatkan dia! Urusanmu adalah denganku! Aku tidak peduli bila bosmu mau membvnvhku juga asal kau melepaskannya!"


Mendengar permintaan Lilyana, Bardon tertawa. "Tidak ada urusannya katamu? Hahahaha!" Pria itu lalu mengalihkan pandangannya pada Mike. "Sepertinya kalian berdua saling mengenal dengan baik ya? Atau jangan-jangan kalian memiliki hubungan? Kalau memang iya, sungguh ironis sekali!" Bardon berjalan mendekati Mike dan mengambil alih tubuhnya.


Ia memaksa Mike untuk berlutut di hadapan Lilyana, dan menjambak rambutnya keras.


"Hei gadis, apa kau tahu siapa dia sebenarnya?" tanya Bardon.


Lilyana terdiam.


"Jangan bilang tebakanku benar?" Bardon mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Ck, ck, ck, dasar gadis bodoh! Dia ini—"


"Hentikan omong kosongmu!" Mike dengan cepat memotong perkataan Bardon sambil berusaha memberontak, tetapi Bardon malah mengeratkan cengkeraman pada rambutnya.


"Cih, rupanya kau takut gadismu itu mengetahui segalanya ya?" Senyum sinis terpatri di wajah Bardon.


Bardon kembali menatap Lilyana dengan senyum misteriusnya. "Kau tahu, gadis bodoh, dia adalah adik dari bosku, Alexander! Pria yang telah dibuang ke pulau ini karena tak becus menjadi penerus keluarga Dereck! Dia bahkan ikut datang ke rumahmu malam itu!"


Mendengar pernyataan yang meluncur dari mulut Bardon, Lilyana terkesiap. Tubuhnya mendadak kaku tak mampu bergerak, bersamaan dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


Mike menatap Lilyana penuh arti. Meski dalam diam, Lilyana tahu benar Mike memintanya untuk mengerti dan berharap mau menunggu penjelasannya.


Bardon dan Luke tertawa keras. Mereka bahkan bertepuk tangan ketika melihat air mata Lilyana. Namun, hal tersebut membuat mereka lengah.


Mike mengambil kesempatan untuk melepaskan diri dan melakukan serangan terhadap Bardon dan Luke.


Pria itu berhasil mengambil pisav yang ada di saku Luke dan menvsvknya. Perkelahian tidak bisa dihindarkan. Mike sukses menumbangkan sebagian besar penghuni kapal dan hanya menyisakan empat orang saja termasuk dirinya, Lilyana, dan Bardon.


Mike berlari ke arah Lilyana, tetapi Lilyana segera menghindari.


"Lily, please, dengarkan aku dulu!" kata Mike dengan raut sendu.


"Aku tak butuh penjelasan apa-apa. Fakta bahwa kau terlibat dalam pembvnvhan kedua orang tuaku sudah cukup membuatku membencimu, Bajjjinnggaan!" teriak Lilyana.


"Aku memang ikut pergi malam itu, tetapi bukan untuk membantunya, Lily!" seru Mike membela diri.


"Apa salah kedua orang tuaku, hah? Apa?" Lilyana kembali berteriak.


Mike terdiam. Pria itu berusaha mendekati Lilyana lagi. Namun, Lilyana semakin menjauh. Saat itu lah Bardon mengambil kesempatan untuk mengarahkan p1stol yang sejak tadi ia bawa ke arah Lilyana.


Pria itu tidak peduli bila Alexander marah karena telah membvnvh Lilyana tanpa menyerahkannya hidup-hidup. Ia bisa mengarang cerita, yang penting ia bisa menyingkirkan keduanya dan terbebas.


Sesaat kemudian peluru pun melesat cepat ke arah Lilyana. Mike yang menyadari hal tersebut segera berlari dan mendorong Lilyana jatuh.


"MIKE!" teriak Lilyana kala peluru tersebut menembus perutnya. Mike tumbang.


Lilyana kemudian menghampiri Mike dan memangku kepalanya. Kini hanya tinggal mereka berdua dan seorang anak buah Luke. Sambil menodongkan s3njata, Lilyana meminta orang tersebut untuk mengantarnya ke Alexander. Gadis itu bertekad akan balas dendam.


"Ma maafkan aku, Li lily," ucap Mike terbata. Sorot matanya diliputi perasaan bersalah yang mendalam. Meski ia adalah anak dari keluarga Dereck, tetap saja ia bukan pria jahat seperti ayah dan kakaknya.


"Ada ba banyak h hal yang ha harus aku ceritakan!" sambungnya.


"Diamlah! Aku tidak menyuruhmu bicara!" seru Lilyana marah. Air mata masih mengalir membasahi pipinya.


"Li—"


"DIAM! AKU TAK PEDULI PADA ALASANMU, SEBAB YANG AKU TAHU, KAU SAMA SAJA DENGAN MEREKA! JADI DIAM DAN SIMPAN TENAGAMU, SIAALLAN!" teriak Lilyana. Kendati bersikap kasar, gadis itu tetap memangku Mike dan membantu menekan lukanya agar daarrah tidak banyak keluar. Ia bahkan menggunakan kaosnya untuk mengikat perut Mike seerat mungkin.


Mike merintih kesakitan.


Beberapa saat kemudian, kapal mereka bersandar di sebuah dermaga yang tidak terpakai.


Lilyana menyembunyikan p1stol Bardon di belakang celananya dan bersiap pergi.


"Jangan pergi!" pinta Mike sambil menahan tangan Lilyana.


"Lepaskan aku, aku harus menyelesaikan semua ini!" ucapnya tegas. Ia sama sekali tidak peduli ada banyak anak buah Alexander yang berjaga di sana.


Mike tidak berdaya menahan Lilyana.


Melihat ada seorang gadis asing turun dari kapal, beberapa pria berjas hitam langsung mengepungnya.


"Katakan pada bosmu, aku, Lilyana, datang untuk menemuinya!" Entah dari mana keberanian itu datang, Lilyana terus melangkah maju.


Salah seorang dari pria-pria itu lalu masuk ke dalam sebuah bangunan tua dan keluar beberapa saat kemudian. Pria itu meminta rekan-rekannya untuk memberikan jalan.


Lilyana berjalan santai melewati mereka semua.


Sementara itu, terdengar jeritan keras dari dalam bangunan. Aaron dalam keadaan terikat menjerit kesakitan saat Alexander mematikan rokok di tangan pria itu.


Alexander rupanya berhasil menangkap Aaron yang hampir saja menemukan jejak mereka dalam menyelidiki adiknya. Entah kebetulan atau tidak, Aaron dan Lilyana ternyata saling mengenal satu sama lain. Hal itu membuat Alexander memutuskan untuk membawa Aaron ke dermaga agar bisa bertemu dengan Lilyana.


Beberapa saat kemudian Lilyana muncul. Alexander cukup terkejut mendapati Lilyana datang seorang diri tanpa Bardon.


"Mencari anak buahmu?" tanya Lilyana sinis. "Menyelam lah hingga ke dasar lautan!" sambungnya. Kendati dalam hati ketakutan, tetapi Lilyana tak ingin menunjukkannya.


Alexander lantas mengangkat alis tinggi-tinggi. "Wow, ke mana gadis cengeng yang waktu itu? Sepertinya ia sudah menjelma menjadi gadis pemberani!" kata Alexander. Ia sama sekali tidak menyangka ada seorang gadis mampu mengalahkan Bardon. Alexander harus waspada.


"Lilyana!"


Mendengar seseorang memanggil, Lilyana sontak mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. "Aaron!"