
Mendengar jawaban Lilyana yang ambigu tentu membuat Mike mengerutkan keningnya dalam-dalam. Gadis aneh ini sepertinya sudah gila, apa maksud perkataannya?
Sepertinya ia tidak boleh terlalu dekat dengan gadis aneh ini, alhasil Mike memilih masuk ke dalam bar kembali. Namun, Lilyana dengan cepat menghampiri dirinya dan menahan pegangan pintu bar.
"Lepaskan, aku sedang bekerja!" seru Mike dingin.
"Aku tahu," jawab Lilyana.
"Lalu?" Mike berusaha menarik pintu tersebut, tetapi Lilyana dengan sekuat tenaga menahan.
"Kau ini benar-benar pria tak beradab ya? Sudah berbuat gaduh hingga nyaris membuatku mati, tetapi tak ada sepatah kata maaf pun keluar dari mulutmu!" seru Lilyana.
"Jadi, kau mengejar-ngejarku hanya untuk menuntut permintaan maaf atas apa yang telah kau lakukan?"
Mendengar perkataan tersebut, Lilyana sontak terbelalak. "Hah? Bagaimana, bagaimana? Sepertinya aku salah dengar!" seru Lilyana tanpa repot-repot menyembunyikan raut kekesalannya.
Mike terdiam. Alih-alih menjawab, pria itu malah membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Lilyana.
Lilyana terkesiap. Tubuhnya mendadak kaku kala mata biru Mike menatap dalam-dalam matanya. Wajah tampan pria itu benar-benar membuat Lilyana terhipnotis ke dalam dunianya.
Mike terus mendekatkan bibirnya pada telinga Lilyana lalu berkata dengan nada pelan dan datar, "kau tidak tuli dan dapat mendengar jelas perkataanku tadi."
Lilyana tersentak. Angan indahnya buyar seketika, tergantikan dengan perasaan kesal luar biasa yang tidak terbendung. Dalam satu tarikan napas, Lilyana menginjak kaki Mike dan meninggalkan pria itu begitu saja.
Mike merintih kesakitan. Ia mengumpati gadis tak tahu diri tersebut.
"Kau habis dari mana, Lily?" tanya Irene ketika melihat Lilyana kembali bergabung bersama mereka.
"Toilet." Jawab Lilyana singkat. Ia menenggak habis minumannya dan menaruh gelas kosong tersebut secara kasar di atas meja. Beruntung temaramnya lampu bar membuat Irene dan Cael tidak bisa melihat jelas raut kekesalannya sekarang.
Menjelang tengah malam ketiganya pun memutuskan pulang ke rumah. Cael terpaksa harus dibopong kedua gadis itu karena meminum lumayan banyak alkohol.
"Menyusahkan sekali pria ini!" Irene tampak bersungut-sungut. Pasalnya, mereka hampir saja harus membayar makanan di bar sendiri-sendiri karena Cael sudah keburu mabuk. Untunglah mereka akhirnya bisa menemukan dompet Cael yang terselip di balik bajunya.
"Untuk apa menyimpan dompet di sana? Jangan-jangan dia hendak mengerjai kita!"
Lilyana hanya bisa meringis mendengar celotehan kesal Irene selama perjalanan pulang. Untung saja jarak antara bar dan rumah mwreka tidak terlalu jauh.
Sesampainya di sana, Irene dan Lilyana langsung menidurkan Cael di sofa dekat dapur toko. Mereka tak sanggup membopong pria itu menaiki tangga. Meski tubuhnya kecil, ternyata Cael memiliki bobot yang cukup berat.
Selesai menyelimuti Cael, keduanya pun akhirnya masuk ke dalam kamar masing-masing.
Sebelum tidur, Lilyana memutuskan untuk berganti pakaian terlebih dahulu tanpa menyadari bahwa jendela kamarnya kini hanya tertutupi virtase saja. Ia lupa menutup gorden terlebih dahulu. Kendati tidak terlalu tampak, tetapi tetap saja bayangan tubuhnya terlihat jelas.
Hal ini lah yang membuat konsentrasi Mike buyar seketika. Siapa sangka bahwa pria itu ternyata sedang berada di sana, hendak melakukan kegiatan yang sama, yaitu menyembelih ayam.
Mike termangu, tatkala bayangan Lilyana tampak jelas memperlihatkan lekuk tubuh proporsionalnya. Sadar bahwa tindakannya barusan sangat kurang ajar, Mike pun buru-buru pergi dari sana dan hendak mencari tempat lain.
"Shiit! Gadis bodoh!" maki Mike pelan.
...**********...
Cael tentu saja pasang badan. Namun, ia juga memanfaatkan kepopuleran Lilyana dan Irene untuk menagih hutang para pelanggan yang belum lunas. Hal tersebut nyatanya berhasil. Cael dengan bahagia bisa mendapatkan uangnya kembali.
"Hahaha, sering-sering saja begini! Kalian benar-benar membantuku!" seru Cael, yang tingkahnya kini mirip dengan centeng pasar.
"Cih, dia membela tapi dia juga yang memanfaatkan kita!" gumam Irene kesal. Gadis itu benar-benar takjub dengan otak bisnis Cael.
Lilyana tertawa kecil melihat kekesalan Irene. "Tidak apa, Ren. Dengan begitu, kakakmu tak perlu lagi mencemaskan uang modalnya yang belum kembali, kan?" kata Lilyana.
"Ya, karena kita lah yang selanjutnya cemas!"
Lilyana lagi-lagi tertawa. Bersamaan dengan itu, lonceng pintu kembali berbunyi, pertanda kedatangan pelanggan.
"Selamat pa ... gi." Lilyana yang sempat bersemangat menyambut kedatangan sang pelanggan, tiba-tiba mengecilkan suaranya ketika mendapati bahwa sosok Mike lah yang masuk ke dalam toko.
"Mike!" sapa Cael semangat. Ia meninggalkan tumpukan uangnya begitu saja di meja pelanggan. Irene bergegas duduk menggantikan Cael agar uang tersebut tidak hilang.
"Seperti biasa, Cael," ucap Mike sembari melirik Lilyana sekilas.
"Oke!" Cael dengan sigap menyiapkan pesanan Mike. Sementara pria itu berdiri di depan etalase, persis sebelah Lilyana.
Tak ada teguran atau sapaan yang keluar dari mereka. Seolah-olah mereka memang tidak pernah saling kenal.
"Ini dia!" Cael meletakkan secangkir kopi panas dan roti kopi di hadapan Mike.
Mike menerimanya. Ia kemudian bergeser ke meja kasir tempat di mana Lilyana berada.
Lilyana segera memasukkan pesanan Mike ke dalam komputer, dan Mike membayarnya menggunakan uang virtual melalui ponsel.
Selesai membayar, ia duduk di salah satu meja pelanggan ditemani oleh Cael. Keduanya tampak asik berbincang di sana.
Suasana yang sepi membuat Lilyana dan Irene bosan. Lilyana bahkan sampai menguap di meja kasir.
Tanpa sengaja Mike melihatnya dan diam-diam mendengkus geli.
Saat itulah, tiba-tiba segerombolan pria berpenampilan urakan masuk ke dalam toko roti Cael.
"Hei, Cael, kami dengar ada dua karyawan baru cantik yang bekerja di sini ya?" tanya salah seorang pria bertubuh besar dan memiliki tato naga di lengannya.
Cael dengan sigap berdiri. "Luke? Apa yang membuatmu kemari? Bukankah kau dilarang memasuki pulau ini lagi?" kata Cael dengan wajah keheranan.
"Siapa yang melarang? Si tua bangka yang sudah mati itu? Hahaha, tak ada yang bisa melarangku kemari, Bodoh!" ucap pria bernama Luke tersebut. Ia dan teman-temannya kemudian maju menghampiri Lilyana yang berada di meja kasir. Sementara Irene sudah berlari masuk ke belakang untuk menyelamatkan uang Cael.
"Wow, ternyata benar kata orang-orang, bahwa kau memiliki karyawan yang sangat cantik dan segar!" seru Luke seraya menilik tubuh Lilyana dari atas ke bawah. Pria itu sama sekali tidak mengindahkan tatapan bengis yang dilancarkan Lilyana. Luke malah mencoba menyentuh wajah Lilyana, tetapi Irene buru-buru datang dan menarik tubuhnya.
"Jangan lancang kau, pria gendut!" teriak Irene marah.
Mendengar hinaan Irene, Luke naik pitam. Dengan wajah menyeramkannya, ia berjalan memasuki meja kasir hendak menghampiri kedua gadis itu.
"Hei, jangan ganggu adik-adikku!" teriak Cael.