Love Island

Love Island
Bab 17. Breaking News.



"Breaking News! Seorang gadis remaja berusia 15 tahun dilaporkan hilang pada jumat malam kemarin. Diketahui remaja tersebut sudah hilang lebih dari dua puluh empat jam setelah melakukan kerja kelompok di kediaman salah satu teman sekelasnya.


Ini merupakan penculikan ketiga yang terjadi selama satu minggu terakhir. Hingga kini pihak berwajib masih mendalami motif penculikan dan keterkaitan antara korban pertama sampai korban ketiga."


Alexander menyesap kopi panasnya dalam diam. Pria itu tampak sedang menikmati acara sarapan paginya seorang diri dengan tenang. Sementara Hilda menunggunya tak jauh dari sana.


Sedetik kemudian suara dering telepon terdengar dari ponsel Hilda. Wanita itu meminta izin sejenak untuk menerima telepon.


Tak sampai satu menit, Hilda telah kembali. "Semua aman terkendali. Anda tidak perlu khawatir, Tuan," ucapnya dengan oenuh keyakinan.


Alexander tidak menjawab, tetapi Hilda tahu, sang bos mendengar betul perkataannya.


...**********...


"Kakak kapan akan kembali ke sini?" Seorang gadis berseragam sekolah terlihat sedang menelepon di meja makannya.


"Aku masih harus menunggu pengajuan cuti disetujui. Mungkin minggu depan baru bisa pulang." Terdengar jawaban dari seorang pria dari balik sambungan telepon.


"Baiklah. Sampai nanti, Kak!" ujar si gadis.


"Ya, sampai nanti! Sampaikan salamku untuk ibu!"


"Oke!" jawabnya sebelum kemudian mengakhiri telepon mereka.


"Estelle, apa kata kakakmu, Nak?" tanya Vivian, wanita cantik berusia nyaris lima puluh tahun, kepada putri bungsunya.


"Kakak masih menunggu, Bu. Minggu depan sepertinya dia akan pulang," jawab gadis bernama Estelle tersebut.


Mendengar jawaban sang putri, Vivian sontak mengembuskan napas lega. "Syukurlah! Sampai kakakmu datang, kau harus menahan diri untuk tidak keluar rumah, Estelle! Keadaan sedang tidak baik-baik saja di kota kita. Penculikan di mana-mana dan Kau cuma punya ibu," ucap Vivian dengan nada tegas sekaligus khawatir.


"Aku mengerti, Bu," jawab Estelle.


Tak lama setelah itu, suara Laura, sahabat baik sekaligus teman sekelasnya, memanggil. Mereka berdua memang biasa berangkat dan pulang sekolah bersama.


"Laura sudah datang! Aku berangkat dulu, Bu!" Secepat kilat Estelle bangkit dari tempat duduknya dan pergi keluar rumah. Tak lupa ia mencium pipi sang ibu tercinta terlebih dahulu.


Vivian masih berdiri di ambang pintu rumahnya, meski Estelle telah pergi. Dalam hati ia berharap, sang putri akan baik-baik saja.


...**********...


"Kau sudah siap, Lily?" tanya Irene. Kedua gadis itu tampak semangat dengan barang bawaan masing-masing berupa alat menyelam sederhana dan sebuah pancingan. Mereka bersama Cael dan Mike rencananya akan menghabiskan hari libur di laut.


Setelah hampir dua minggu tinggal di sana, Lilyana sudah mulai mampu beradaptasi dengan lingkungan dan para warganya. Ia bahkan terlihat semakin dekat dengan Mike.


Cael dan Irene sebenarnya terkejut dengan fakta tersebut, sebab mereka sama sekali tidak pernah melihat interaksi keduanya. Apa lagi Mike dikenal sebagai pria yang sangat sulit didekati wanita.


Ada banyak wanita menaruh perhatian pada pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu, tetapi tak satu pun digubris Mike. Hanya Lilyana lah satu-satunya gadis yang bahkan bisa membuat Mike berceloteh panjang lebar.


Lilyana sendiri sebenarnya tidak terkejut dengan fakta tersebut. Pesona pria itu memang mampu memikat lawan jenis dari berbagai usia. Lalu, bagaimana dengan Lilyana?


Entah lah, untuk saat ini ia hanya merasa nyaman berdekatan dengan pria itu. Lagi pula jarak usia di antara mereka terpaut cukup jauh, yaitu tujuh belas tahun.


"Siap!" jawab Lilyana semangat. Kedua gadis itu pun bergegas lari menuju Cael dan Mike yang sedang sibuk menyiapkan Speedboat.


"Wah, bagus juga speedboat milikmu!" puji Irene. Speedboat yang dimiliki Cael memang bukan model terbaru, tetapi cukup nyaman untuk digunakan karena pria itu memang merawatnya dengan baik.


Dulu, Cael membelinya pada seorang warga tak bernama yang hendak pindah dari sana dengan harga terjangkau.


Cael bergegas masuk ke dalam Speedboat, disusul oleh Irene. Sementara Lilyana masuk dibantu oleh Mike.


"SUDAH SIAP SEMUANYA?" Cael menyerukan teriakannya.


"SIAP!" Lagi-lagi Lilyana dan Irene menanggapi dengan senang hati, sedangkan Mike hanya terdiam di dekat mereka.


Keempatnya tidak pergi terlalu jauh dari pesisir pulau tak bernama, karena mereka terikat peraturan. Para warga memang hanya diperbolehkan keluar dari pulau menggunakan kapal motor yang akan datang setiap satu bulan sekali.


Entah siapa yang memulai membuat peraturan tersebut, tetapi para warga dengan tertib mengikutinya.


Setelah menemukan tempat yang dirasa memiliki banyak sekali hewan laut, Mike pun bergegas menyiapkan peralatan menyelam sederhana miliknya, yaitu Snorkel dan Fins. Sementara Irene dan Lilyana menambahkan rompi apung ditubuhnya, karena ia tidak terlalu pandai berenang.


Irene yang memang seorang atlit renang saat masih duduk di bangku sekolah menenangah pertama, lebih dulu menceburkan diri ke laut.


"Wow, segar sekali! Lily, ayo!" kata Irene sbari melambai-lambaikan tangannya pada Lilyana. Sepertinya gadis itu lupa akan tujuan utamanya ke tempat ini.


"Kau yakin bisa?" tanya Mike.


Tempat ini tak jauh berbeda dengan kolam renang di rumahku! gumam Lilyana tanpa suara. Bersama Mike keduanya menjatuhkan diri ke dalam laut.


Lilyana berseru senang, begitu tubuhnya basah oleh air laut. Setelah memastikan keadaan gadis itu, Mike pun melepaskan diri untuk menyelam guna mencari hewan laut yang akan mereka olah malam nanti.


"Bagaimana?" Cael yang duduk di ujung speedboat melontarkan pertanyaannya.


"Asik sekali!" jawab Lilyana sumringah. Ia kemudian mencoba bergerak perlahan sembari sesekali menyelam untuk mencari keberadaan Mike.


Sedetik kemudian, Mike muncul ke permukaan sembari mengangkat dua ekor gurita berukuran sedang. Cael buru-buru menyiapkan ember dan menerima gurita tersebut. Kegiatan itu Mike lakukan berulang-ulang kali hingga mendapatkan berbagai macam hewan laut dengan jumlah yang cukup banyak.


"Sepertinya kita punya stok makanan untuk dua hari kedepan," ujar Cael dengan mata berbinar. Terang saja, pria pecinta kerang laut itu mendapatkan banyak sekali makanan kesukaannya teronggok di ember besar yang ia bawa.


Irene, Lilyana, dan Mike pun akhirnya kembali masuk ke dalam speedboat.


Cael segera membawakan nampan berisi minuman dingin yang menyegarkan.


"Kau sepertinya pandai menyelam?" tanya Lilyana pada Mike.


"Aku memiliki sertifikat menyelam," jawab Mike singkat.


Lilyana mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pantas!"


Keduanya tampak asyik mengobrol, seolah Irene dan Cael tidak ada di sana.


"Katamu, kau tidak suka kalau aku dan Lilyana mendekati Mike?" bisik Irene pada kakak sepupunya.


"Memang. Namun, mau bagaimana lagi, Mike tampaknya nyaman berada di dekat Lilyana, Asal mereka berdua tak saling menyakiti, kurasa tidak apa-apa," jawab Cael santai.


"Kau tidak cemburu?" tanya Irene penasaran.


"Hah?" Cael sontak mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Apa maksudmu?" tanyanya kemudian.


"Bukankah kau sangat dekat dengan Mike. Aku pikir, kau ...?" Irene sengaja tidak meneruskan kalimatnya. Kendati demikian, Cael cukup mengerti apa yang dimaksud sang adik sepupu.


"Kau gila! Mike teman baikku. Lagi pula, meski aku tidak menyukai wanita, bukan berarti aku menyukai Mike!" sergah Cael kesal. Ia berusaha tidak meninggikan suaranya agar Mike dan Lilyana tidak mendengar.


Irene mengerutkan keningnya. "Kau tidak menyukai wanita, tetapi juga tidak menyukai Mike yang notabene seorang pria... jadi, mahluk seperti apa yang kau sukai?"


Cael mencibir. "Mau tahu saja!" Kalau saja gadis di hadapannya ini bukan adik sepupu, ia pasti sudah menenggelamkannya di laut!