
Lilyana dengan saksama memerhatikan bagaimana Mike dengan membersihkan ayam-ayam tersebut dari bulunya, sebelum kemudian mengeluarkan semua isi perut. Sesekali ia juga menyuruh Lilyana untuk membantu dirinya.
Lilyana semula menolak. "Kenapa harus aku? Aku ke sini hanya untuk menonton, bukan membantu!" katanya tegas.
"Kalau begitu kau bisa pulang sekarang juga. Aku tak butuh penonton!" kata Mike dingin, sembari mendorong Lilyana menggunakan kakinya.
Kurang ajar! Batin gadis itu. Namun, ia enggan beranjak dari sana. Entahlah, mungkin karena ia butuh teman bicara. Alhasil gadia itu pun memilih menuruti kemauan Mike. Namun, ia menolak dengan tegas saat Mike menyuruhnya memegang ayam-ayam tersebut.
Beberapa saat kemudian, ayam-ayam itu pun selesai dikerjakan. Kini Mike sedang membersihkan diri sekaligus berganti pakaian, selagi Lilyana menunggu di ruang televisi.
Rumah yang Mike tempati saat ini tidak terlalu kecil tetapi juga tidak terlalu besar. Dalamnya terlihat luas karena antara ruang tamu, ruang televisi, dan dapur sama sekali tidak memiliki pembatas. Sementara kamar terlihat berada di sebelah ruang televisi, dan toilet berada di paling belakang rumah.
Interior rumah yang unik khas pesisir pantai membuat Lilyana betah berlama-lama di sana. Apa lagi, barang-barang pajangan yang dimiliki Mike cukup memanjakan matanya.
Mike sepertinya pria yang percaya tahayul, sebab ia memiliki berbagai macam hiasan Dream Cathcer dengan desain dan ukuran berbeda-beda. Semua terpajang apik di dinding rumah dan juga jendela. Tak hanya itu saja, terdapat berbagai macam pisau yang memiliki ukiran unik di sisi pegangannya.
Lilyana menunjukkan minatnya pada satu pisau kecil yang memiliki motif naga di gagangnya. Ia pun mengambil pisau itu dan membuka sarung pisaunya.
Lilyana sontak mengerutkan dahi, ketika tanpa sengaja matanya menangkap sebuah ukiran nama di mata pisau.
"D—"
"Aw! Kau bisa memperingatiku baik-baik, kan? Bukan dengan merebutnya seperti ini!" seru Lilyana marah. Ia bergegas lari menuju keran air di dapur untuk membersihkannya.
Mike yang merasa bersalah mencoba membantu mengobati tangan Lilyana, tetapi gadis itu dengan tegas menolak.
Mike terdiam. Ia hanya memerhatikan dari belakang, bagaimana Lilyana mengeluarkan daraahhnya. Begitu tahu bahwa daarrah di jari Lilyana tak juga kunjung berhenti, pria itu dengan cepat mengambil jarinya dan menghissap darraah tersebut.
Lilyana tercengang. Ia berusaha melepaskan diri, tetapi Mike menahannya. Suasana pun hening selama beberapa saat.
Hangat yang ia rasakan di jarinya membuat jantung Lilyana berdebar tak karuan. Wajah Mike yang sangat dekat membuatnya lagi-lagi bisa melihat dengan jelas ketampanannya.
Mike adalah tipe pria dewasa yang ideal dan pekerja keras. Kekurangannya hanya satu, yaitu bermulut pedas nan ketus.
Tak lama Mike pun melepaskan diri dan membuang darraah Lilyana. "Aku tak punya plester," katanya dengan suara serak yang terdengar seksi.
Lilyana berdeham. "Tidak masalah, aku punya banyak!" Gadis itu kemudian berjalan menuju pintu keluar. "Kalau begitu, aku permisi dulu!" Buru-buru ia meninggalkan rumah Mike sembari memegangi tangannya yang masih terasa nyeri.
Mike sendiri hanya berdiri di ambang pintu rumah. Memerhatikan dengan saksama kepergian Lilyana hingga menghilang dari pandangannya.