Love Island

Love Island
Bab 15. Mike dan Lilyana.



"Tuan ... Tuan Marcel." Hilda memberikan ponselnya kepada Alexander, ketika mereka baru keluar dari bar milik Jeremy. Jalanan di distrik tersebut sepi begitu melihat sosok Alexander. Tak ada satu pun orang yang berani keluar ke jalan, sebelum pria itu pergi.


Alexander menerima ponsel Hilda.


"Halo, Alex!" sapa Marcel, salah seorang rekan bisnis mendiang ayahnya.


"Ada apa?" tanya Alexander dingin.


"Seperti biasa, dingin dan tidak bersahabat! Omong-omong, aku dengar kau baru saja menghilangkan beberapa jari Jeremy. Baguslah, karena dia juga bermasalah denganku. Namun, seharusnya kau sekalian menghilangkan rudalnya itu, agar ia tak bisa lagi bersenang-senang di ranjang!" Tawa menggelegar terdengar dari mulut Marcel.


Alexander terlihat kesal. Pria tua itu pasti memata-matai dirinya lagi. "Aku melakukan itu bukan untukmu! Katakan apa maumu, atau aku akan menutup sambungan telepon ini!" desis Alexander sinis.


"Wow, tenang dulu Alex. Kau akhir-akhir ini begitu sensitif. Apa kau sudah mulai lelah dengan pekerjaanmu? Tentu saja, sebab kartel besar seperti itu tak bisa kau pegang sendirian. Sayang sekali adikmu tidak bisa diandalkan ya?" Kali ini tawa Marcel terdengar lebih keras dan lebih menyebalkan.


Alexander yang sangat sensitif membahas orang yang paling dibencinya pun mulai naik pitam. "Tutup mulutmu, Orang tua! Katakan apa keperluanmu! Ingat, aku bersikap lunak padamu karena murni ingin menghormati mendiang ayahku. Namun, bukan berati aku tidak bisa melakukan sesuatu!"


"Wow, wow, wow, kau benar-benar menakutkan Alex! Baik-baik, sepertinya kau benar-benar sangat sensitif jika membahas adikmu itu." Marcel terdengar mendengkus. "Baiklah, aku hanya ingin memberi kabar padamu, kalau para VVIP menyukai wanita-wanita yang kau kirim waktu itu. Apa kau bisa mengirim beberapa wanita lagi?" tanyanya.


Alexander terdiam sejenak. "Oke, berapa yang kau butuhkan?"


"Tidak perlu banyak-banyak, tapi usahakan yang masih wangi." Jawab Marcel.


"Oke!" sahut Alexander cepat.


"Ahh, kalau boleh, mungkin kau juga bisa menyediakan satu untukk—"


Belum sempat Marcel menyelesaikan perkataannya, Alexander segera memutuskan sambungan telepon. "Tua bangka tak tahu diri!" umpatnya keras. "Bersiaplah, Marcel meminta kita melakukan pengiriman lagi!" katanya kemudian pada Hilda.


Hilda menganggukkan kepalanya mantap.


...**********...


Hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam di pulau tak bernama. Seperti biasa, Mike akan mulai memotong beberapa ayam untuk kemudian diberikan kepada para pelanggan. Pria itu memang sering dimintai tolong oleh warga di sana untuk melakukan beberapa pekerjaan serabutan. Mulai dari menjagal hewan, menyelam, hingga menjadi pelayan bar. Ia juga pernah beberapa kali diminta menjaga toko perkakas milik Patrick.


Setelah persiapan matang, Mike pun keluar dari rumahnya. Rumah yang ia tempati adalah rumah paling ujung yang tidak tersentuh lampu hias jalanan. Rumah yang bagi Lilyana cukup aneh dan menakutkan.


Mike berjalan santai melewati pemukiman dan bar yang sudah tutup. Bar di sana memang tidak setiap hari buka. Ada kalanya bar hanya buka satu minggu sekali, tetapi terkadang juga bisa buka sampai lima hari berturut-turut seperti minggu lalu.


Tempat yang dituju Mike adalah bukit yang persis di belakang rumah Cael. Bukit tersebut memang khusus digunakan untuk berternak hewan, seperti sapi, babi, dan ayam. Namun, sapi dan babi yang mereka ternak sudah habis karena tidak dikelola dengan baik oleh pemuda-pemuda di sana.


Atas kesepakatan bersama, Mike berniat memulainya kembali sekaligus mengurusnya seorang diri. Ia hanya tinggal menunggu kedatangan hewan-hewan tersebut yang rencananya akan tiba minggu depan.


Malam ini Mike membutuhkan empat ekor ayam berukuran besar untuk diberikan pada penjual rumah makan di sana.


Setelah menemukan ayam yang tepat, ia mulai menyembellih mereka. Saat sedang sibuk membersihkan darraah hewan tersebut, suara langkah kaki seseorang tiba-tiba terdengar.


Mike terkejut ketika mendapati Lilyana sedang berdiri persis di belakangnya. Tubuh mungil gadis itu tampak tenggelam di dalam jaket tebal miliknya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mike tanpa repot-repot menyembunyikan kekesalannya. Ia pikir, gadis itu sudah tertidur pulas karena jendela kamarnya tertutup rapat.


"Aku sengaja ingin melihat pekerjaanmu," jawab Lilyana.


"Untuk apa? Pulanglah!" titah Mike tegas.


Mike tak kuasa melarang, karena Lilyana mengancam akan terus meneror Mike. Alhasil, ia membiarkan gadis itu melihat pekerjaannya.


"Peternakan ini milik siapa?" tanya Lilyana.


"Milik Tuan Carter, tapi sebagian besar warga turut menyumbang hewan dan menitipkannya ke sini. Mereka memiliki perhitungan sendiri dalam membagi hasil." Jawab Mike.


Lilyana menganggukkan kepalanya. Tak heran bila Tuan Carter lah si pemilik peternakan, sebab pria itu memang orang terkaya di pulau tak bernama.


Sementara untuk perkebunan buah dan sayuran, mereka mengelolanya bersama-sama tanpa embel-embel membagi komisi. Semua warga bebas menanam dan memanen hasil buah dan sayur secara bebas.


Itu lah mengapa toko swalayan kecil yang ada di sana tidak menjual sayur dan buah. Toko tersebut baru akan menjualnya jika stok sedang menipis atau belum masa panen.


"Menyenangkan sekali ya tinggal di tempat ini!" celetuk Lilyana.


Mike terdiam. Ia sama sekali tidak memedulikan celotehan-celotehan yang keluar dari mulut Lilyana, dan hanya sibuk membersihkan ayam-ayam tersebut.


Tak butuh waktu lama, Mike pun selesai mengubur darraah ayam-ayam itu. Kini ia bergegas membawa pulang empat ekor ayam itu ke rumahnya.


"Kau mau ke mana?" tanya Lilyana.


"Pulang. Urusanku sudah selesai di sini," jawab Mike.


"Kau tidak membuang bulu-bulu ayam itu dulu?" tanya Lilyana sembari menunjuk ayam-ayam yang ada di kedua tangan Mike.


"Ayam ini harus diberi air panas dulu, baru bisa dicabut bulu-bulunya."


Mendengar jawaban Mike, Lilyana mengangguk-anggukkan kepala. Maklum, ia tak pernah tahu bagaimana proses mengolah ayam hidup menjadi ayam mati yang siap dimasak.


Lilyana pun ikut melangkah keluar dari bukit. "Ayo!" katanya semangat.


Mike mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Ayo, apa?" tanyanya.


"Ayo, aku ingin ikut denganmu dan melihat prosesnya!" sahut Lilyana cepat.


"Tidak!" sergah Mike tegas. "Pulang dan tidurlah! Aku akan melakukan ini di rumah!" sambungnya seraya berjalan meninggalkan Lilyana.


Lilyana mengembuskan napas kesal. Dalam hati ia mengumpat keras sifat Mike yang sangat menyebalkan. "Kau pikir, aku akan menurutimu begitu saja!" gumam gadis itu. Alhasil, Lilyana diam-diam mengikuti langkah kaki Mike.


Mike bukannya tidak tahu bahwa ia sedang diikuti oleh Lilyana. Sembari menahan kekesalannya, Mike terus berjalan cepat hingga membuat Lilyana nyaris kehilangan jejak pria itu.


"Kau benar-benar gadis keras kepala!" sentak Mike, begitu mereka tiba di depan rumahnya.


Lilyana tentu saja terkejut. Ia pikir, Mike tidak menyadari kehadirannya. "Sejak kapan kau tahu kalau aku sedang mengikutimu?" tanya Lilyana.


"Sejak tadi! Lagi pula, orang bodoh mana yang mengikuti seseorang tanpa menyembunyikan suara langkah kakinya?" ujar Mike sinis.


"Kau mengataiku bodoh!" Lilyana lagi-lagi mengeluarkan celotehannya yang mampu membuat kepala Mike pening luar biasa.


Pria itu merasa energinya selalu terkuras habis bila berhadapan dengan Lilyana. Alhasil, ia diperbolehkan melihat proses selanjutnya meski hanya satu jam. Mike tentu tidak ingin ada seseorang yang memergoki mereka berada di rumahnya.