Love Island

Love Island
Bab 12. Pertolongan Mike.



Mendengar teriakan tegas Cael, Luke berhenti dan tertawa. "Wah, gadis-gadis kurang ajar ini ternyata adik-adik sepupumu, Cael? Pantas saja kelakuan mereka sama persis denganmu. Namun, tidak apa, wajah manis mereka masih bisa kumaafkan, asal mau menemaniku di bar malam ini."


Luke dengan cepat menarik tangan Lilyana lalu mendekatkan wajahnya ke leher gadis itu guna menghirup bau tubuh sang gadis.


Cael yang marah bergegas lari menghampiri Luke, tetapi tubuhnya sontak berhenti, tatkala Mike dengan cepat melesat melewatinya dan mendorong tubuh besar Luke hingga terjerembab di lantai.


Mike berdiri di depan Lilyana dan Irene, melindungi mereka. Tangannya bahkan menggenggam erat tangan Lilyana. "Kau sama sekali tidak berubah Luke! Seharusnya kau sadar diri untuk tidak datang lagi kemari, sebab tempat ini tak pantas untuk pria brenggseek seperti dirimu!" desis Mike sinis.


Lilyana yang berada di belakang Mike, sesekali menatap kedua tangan mereka yang saling tertaut.


Dibantu anak buahnya, Luke bangkit dan berdiri menghadap Mike. "Berkaca lah sebelum mulai bicara, Mike! Kau lah yang tak pantas tinggal di tempat ini, dasar keturunan keluarga iblis!"


Mendengar penghinaan Luke atas keluarganya, Mike naik pitam. Ia melepaskan genggaman tangannya pada Lilyana lalu melancarkan tinjuan ke rahang pria bertubuh besar tersebut.


Luke mundur dua meter dan berhenti setelah menghantam dinding toko dengan keras. Meski tubuh mereka tidak seimbang, tetapi kekuatan Mike mampu menumbangkan Luke.


Beberapa anak buah Luke yang tidak terima sontak menghampiri Mike untuk menghajarnya. Namun, Cael dengan sigap melancarkan beberapa tendangan ke tubuh mereka. Satu orang bahkan pingsan setelah tanpa sengaja menyenggol pot bunga hingga terjatuh mengenai kepalanya.


Keributan tersebut rupanya menarik perhatian para warga di sana. Mereka masuk untuk membantu menyeret Luke dan anak buahnya keluar dari toko.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Gonzales, salah seorang penghuni pulau yang merupakan salah satu pemilik bar.


Mike mengangguk. Ia pun menoleh ke arah Lilyana dan Irene yang masih berdiri di belakang tubuhnya. "Kalian tidak apa-apa?" tanya Mike.


Irene dan Lilyana kompak mengangguk.


Mike pun berjalan meninggalkan mereka, mengikuti Cael yang tengah bersumpah serapah karena tokonya kini berantakan akibat kedatangan pria-pria busuk itu. Mereka sejenak lupa, bahwa masih ada salah seorang anak buah Luke yang belum diseret keluar dari sana.


Mengetahui Mike sedang lengah, pria itu dengan sigap mengambil pot bunga kecil dan hendak menghantamkannya ke kepala Mike.


"Awas!" teriak Lilyana. Namun, terlambat. Darraah kini mengalir membasahi kepala Mike.


Seolah tak terjadi apa-apa, Mike meninju hidung pria itu sampai pingsan. Pria itu kemudian diseret keluar oleh para penghuni lain.


Cael, Lilyana, dan Irene serempak menghampiri Mike. "Kau tidak apa-apa?" tanya Cael khawatir.


Mike mengangguk. "Ini hanya luka kecil," ucapnya sembari membersihkan darraah tersebut menggunakan tangannya. Namun, Lilyana segera menepis tangan Mike dan memberikan serbet bersih kepadanya.


Mike menerima serbet tersebut dan berterima kasih. Ia pun pamit pulang.


"Biar kuobati dulu, Mike!" sergah Cael.


"Tidak perlu, aku bisa mengobatinya sendiri," ujar Mike seraya keluar dari toko.


...**********...


Di sepanjang hari ini Lilyana tampak uring-uringan. Gadis itu tampak khawatir dengan kondisi Mike dan terus menerus memikirkannya. Bahkan, saat malam tiba ia lebih memilih membuka jendela kamar dan menanti kemunculan pria itu, dari pada beristirahat.


Kendati Mike merupakan pria menyebalkan, tetapi bukan berarti Lilyana bisa dengan mudah melupakan satu kebaikannya. Apa lagi kebaikan itu cukup besar bagi Lilyana.


Akan tetapi, Mike tidak juga muncul di sana.


Lilyana mengembuskan napas pasrah. "Ya, siapa yang sudi berkeliaran jika kepalamu baru saja dihantam pot bunga!" seru Lilyana pada dirinya sendiri.


Lilyana menoleh ke kanan dan ke kiri sekali lagi, sebelum akhirnya memutuskan untuk menutup jendela. Namun, siluet tubuh seseorang yang sangat familiar membuat Lilyana menghentikan gerakannya.


Lilyana bergegas mengambil batu kerikil di atas pot bunga dan melemparnya ke arah Mike. Namun, sayangnya lemparan tersebut meleset.


Butuh beberapa kali usaha sampai akhirnya lemparan batu tersebut mengenai punggung Mike.


Mike berbalik. Dahinya tampak ditutup perban yang tidak beraturan.


"Paman, sini!" panggil Lilyana.


"Ck!" Mike berdecak kesal. Meski kesal dengan panggilan Lilyana, tetapi pria itu tetap melangkah menghampirinya.


"Aku bukan pamanmu!" seru Mike dingin, sesampainya di depan jendela kamar Lilyana.


Alih-alih menanggapi keluhan Mike, gadis itu malah mengangkat kotak P3K yang dimilikinya ke arah Mike.


"Sebagai ucapan terima kasihku. Setidaknya aku masih tahu diri!" kata Lilyana.


Mike mengerutkan kening sejenak lalu menggelengkan kepala. "Tak perlu!" tolaknya.


Lilyana meletakkan kasar kotak P3K tersebut. "Hei, sebagai seorang manusia, seharusnya kau menerima niat baikku!"


"Aku tidak butuh niat baikmu!"


Mendengar perkataan Mike, emosi Lilyana mulai mendidih. Ia pun mulai mengoceh panjang lebar soal harga diri dan kebaikan yang telah dikorbankannya hanya untuk Mike. Ia juga mengatai Mike dengan sebutan kurang ajar seperti, 'Paman tua tak beradab' atau 'Pria tua labil'.


Hal itu tentu saja memantik kekesalan Mike.


"Jadi seha—"


"Mundur!" potong Mike.


Lilyana mengerutkan keningnya. "Hah? Mundur? Apa yang mundur?" tanyanya.


"Mundur!" Mike kembali mengulang perkataannya.


Lilyana yang tidak mengerti sama sekali lagi-lagi menanyakan maksud perkataan Mike. "Mundur apanya? Aku—"


Belum selesai Lilyana bicara, Mike dengan gerakan cepat dan tangkas naik dan masuk ke dalam jendela kamar gadis itu. Lilyana sontak terbelalak, sebab tubuh mereka berdua kini saling berhimpitan.


Mike ternyata bermaksud menyuruh Lilyana untuk mundur agar ia bisa naik ke sana.


"Kau ... naik ...?" Lilyana tak mampu menyusun kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Kau berniat mengobatiku, kan?" kata Mike seraya mengangkat alisnya.


Lilyana salah tingkah. "Eh, anu, iya sih ... hanya ... kau, kan bisa masuk lewat depan dan aku akan mengobatimu di sana!" Lilyana hanya mampu meneruskan kalimatnya dalam hati.


"Tidak jadi? Ya sudah, aku pergi dulu!" Mike hendak keluar dari jendela. Namun, Lilyana dengan sigap menahannya.


"Tunggu dulu!"


Entah apa yang ada dipikiran Lilyana, gadis itu akhirnya memutuskan untuk mengobati Mike di sana ... di kamar pribadinya.