Love Island

Love Island
Bab 6. Teman Baru, Tempat Baru.



"Hei, kau bukan orang sini ya? Rasanya aku tidak pernah melihatmu sebelumnya." Lilyana yang sedang duduk di kursi sambil memejamkan mata, sontak terkejut ketika mendapati seorang gadis seusianya datang menyapa. Gadis itu terlihat sangat cantik meski berpenampilan sederhana dengan rambut terkepang.


Lilyana menegakkan tubuhnya. "Ya, saya sedang merantau," jawab gadis itu sopan.


Gadis itu tertawa. "Tidak perlu terlalu formal, santai aja. Omong-omong namaku Irene, siapa namamu?" tanya si gadis.


"Namaku Lily." Lilyana dengan ramah menyambut uluran tangan gadis manis bernama Irene tersebut. Keduanya berbincang sejenak mengenai tujuan mereka pergi ke pulau tak bernama.


"Kedua orang tuaku baru saja meninggal karena sakit keras. Kakak sepupuku kebetulan tinggal di sana dan membuka toko roti, jadi aku berniat membantunya." Irene menjelaskan secara singkat tujuannya. "Bagaimana denganmu, Lily?" tanyanya kemudian.


Lilyana terdiam sejenak. Nasib Irene ternyata kurang lebih sama dengannya, yaitu menjadi anak yatim piatu.


"Aku baru saja keluar dari panti dan memutuskan untuk hidup mandiri."


Mendengar jawaban Lilyana, Irene tercengang kaget. "Kau gadis yang hebat Lily. Bagaimana kalau kau ikut aku saja? Kebetulan kakak sepupuku membutuhkan dua orang untuk mengelola toko roti, tetapi aku tidak bisa menemukan teman lain. Lagi pula kau juga pasti membutuhkan tempat tinggal, kan?" Irene memandang Lilyana dengan penuh harap.


Lilyana terdiam sejenak. Sepertinya itu bukanlah ide yang buruk, mengingat ia sendiri tidak tahu harus bagaimana sesampainya di sana. Seraya memasang senyum ramah, Lilyana pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Terima kasih atas tawaranmu, Irene."


Alih-alih menjawab dengan perkataan, Irene justru memeluk tubuh gadis itu erat. "Aku lah yang berterima kasih, karena dengan begitu aku tak perlu menyiapkan seribu alasan hehehe ...."


Lilyana ikut tertawa kecil. Ia merasa beruntung bisa bertemu dengan Irene di sana. Kepribadiannya yang ceria membuat Lilyana merasa nyaman berinteraksi dengan gadis itu.


"Irene, omong-omong, mengapa nama pulau itu 'pulau tak bernama'?" Lilyana yang penasaran akhirnya mengajukan pertanyaan.


"Ah, aku tidak tahu soal itu. Mungkin karena sang pemilik terdahulu memang sengaja tidak menamakannya agar terdengar misterius, padahal pulau itu layaknya desa kecil pada umumnya. Hanya saja memiliki akses sangat terbatas." Irene menjelaskan apa yang ia ketahui dari sang kakak sepupu.


"Pulau itu memiliki pemilik?" tanya Lilyana lagi.


Irene mengangguk. "Ya, sebenarnya itu adalah pulau pribadi milik saudagar kaya raya. Namun, sang saudagar beserta keluarganya tiba-tiba diserang secara keji oleh musuh bebuyutan mereka. Sebelum meninggal, si saudagar memberikan pulau tersebut kepada sahabatnya. Alhasil sahabatnya membangun desa kecil di sana dan memperbolehkan siapa pun untuk tinggal."


"Tapi sepertinya tidak banyak orang yang tinggal di sana ya?" terka Lilyana.


"Ya, siapa yang mau tinggal di pulau kecil dengan akses terbatas? Transportasi kapal saja hanya dibuka sebulan sekali. Namun, kendati demikian, hidup mereka sudah cukup modern, kok! Jadi, kau tak perlu khawatir tinggal di sana." Irene menjelaskan dengan baik tentang pulau tersebut kepada Lilyana. Sekali lagi Lilyana merasa bersyukur karena ia bisa pergi ke sana dan bertemu dengan gadis seperti Irene.


Puas berbincang, kedua gadis itu memutuskan untuk makan sebelum kapal menepi di pelabuhan. Barulah setelah itu, pria yang tadi meminta uang kepadanya, tiba-tiba berteriak guna memberitahukan pernumpang bahwa mereka sudah sampai di tujuan.


"Ayo, Lily!" seru Irene dengan raut wajah bahagia. Tangannya dengan sigap menggandeng tangan Lilyana.


Lilyana tersentak kaget. Rasanya sudah lama sekali ia tidak berinteraksi dengan teman sebayanya. Perasaan haru kontan timbul di benak Lilyana, tetapi sedetik kemudian ia berusaha menekannya kuat-kuat.


Begitu turun dari kapal, Lilyana memandang takjub suasana di pulau tak bernama itu. Lampu-lampu hias terpasang apik di hampir seluruh tempat. Belum lagi bangunannya yang rata-rata terbuat dari kayu. Pulau ini seperti membawa para penghuninya kembali ke beberapa puluh tahun silam.


Akan tetapi, seperti yang dikatakan Irene sebelumnya, kehidupan modern juga terlihat di sana. Mulai dari peralatan elektronik yang digunakan sampai kendaraan kecil seperti Hoverboard dan Electric Unicycle.


Kesimpulannya, desa kecil ini layaknya hidup di dua dunia yang berbeda. Namun, terasa harmonis.


"Indah bukan?" tanya Irene yang kini sedang terkikik mendapati raut wajah penuh kekaguman Lilyana.


Irene tertawa kecil. "Sudah pasti! Ayo, cepat! Kita keliling lagi setelah menaruh barang-barang di rumah kakak sepupuku!" Tanpa menunggu jawaban Lilyana, Irene segera menarik gadis itu memasuki wilayah yang cukup ramai.


Rumrah-rumah minimalis terlihat di sisi kiri kanan jalan, berdampingan dengan beberapa toko di sana.


Lilyana dan Irene kemudian berhenti di depan sebuah toko kue yang tempatnya cukup luas. Lilyana membaca dengan saksama nama toko yang tertulis di kaca. "Flower's Bakery?" gumamnya seraya mengerutkan dahi.


"Kau pasti akan mengerti apa arti nama itu!" Setelah berkata demikian, Irene mengajak Lilyana masuk ke dalam toko.


Bunyi lonceng terdengar cukup nyaring saat mereka membuka pintu.


"Selamat datang ... Irene?" Seorang pria bertubuh tinggi kurus dengan kulit seputih kapas tampak berdiri dari meja kasir. Sebuah apron bunga yang manis terpasang apik di tubuh rampingnya.


"Cael!" sapa Irene seraya berlari menuju pria berwajah cantik tersebut.


Cael menyambut pelukan hangat sang adik keponakan dan mengecak surainya lembut.


Lilyana kini mengerti mengapa toko tersebut memiliki nama yang unik, sebab di dalamnya dipenuhi banyak sekali tanaman bunga, mulai dari hiasan pot hingga lukisan-lukisannya.


"Lama sekali kau datang!" Suara Cael terdengar kesal.


"Ck, aku sibuk tahu! Sudah berdebatnya nanti saja." Irene mengalihkan pandangannya ke belakang untuk memanggil Lilyana. "Lily, sini!"


"Temanmu?" tanya Cael.


Irene mengangguk semangat. "Sesuai yang aku janjikan, aku membawa seorang teman untuk membantu di toko."


Cael pun beralih sepenuhnya pada Lilyana yang kini berdiri canggung di hadapan mereka. Pria itu menelisik penampilan Lilyana yang sedikit urakan.


"Aku sangat menjunjung tinggi keindahan, Irene," ucap pria itu seraya memegang dagunya.


"Ck, Lily itu seorang backpacker, jadi wajar saja jika penampilannya kurang feminim! Lagi pula kita bisa menandaninya nanti!" celetuk Irene.


Cael mengangguk-anggukkan kepalanya. "Benar juga! Oke, baiklah ...!" Tanpa diduga pria cantik itu mengulurkan tangannya pada Lilyana.


Lilyana dengan gerakan canggung menerima uluran tangan Cael.


"Selamat datang di tokoku!" Senyum ramah pun terbit di wajahnya. Hal tersebut tentu membuat Lilyana terheran-heran.


"Anda tidak ingin mewawancaraiku dulu?" tanyanya.


Cael mengangkat sebelah alisnya. "Untuk apa? Lagi pula aku percaya pada teman Irene."


Lilyana diam-diam mengembuskan napa lega. Ia berterima kasih pada Cael yang mau menerima kehadirannya tanpa menaruh curiga.