
Hidup Lilyana yang semula terasa suram kini sedikit berubah sejak kehadiran Mike. Kesedihan dan keterpurukan yang dirasakan gadis itu sekarang perlahan menutup. Kendati tak hilang, tetapi cukup mengobati perasaan sakit yang membelenggu.
Akan tetapi, ada satu hal yang mengganjal pikiran Lilyana saat ini. Yaitu tentang identitas Mike. Memang sebagian besar penduduk di sini merupakan orang-orang yang hendak memulai kehidupan baru tanpa embel-embel keluarga mereka. Namun, entah mengapa ia sungguh-sungguh penasaran dengan Mike.
Sementara Mike sendiri terlihat berhati-hati setiap kali Lilyana mencoba membahas tentang latar belakang mereka. Lilyana tahu, ia juga berbohong soal hal tersebut. Namun, setidaknya gadis itu masih bisa mengarang cerita palsu.
Lilyana bahkan sempat mengajak Mike untuk menyebutkan nama keluarga mereka. Namun, Mike menolaknya dengan tegas.
"Mengapa? Kita tak saling mengenal, jadi hal tersebut tentu tidak akan bermasalah bagimu, bukan?" tanya Lilyana yang kini berada di dalam pelukan Mike. Setelah memperjelas hubungan mereka berdua, pria itu jadi lebih sering menyelinap ke kamar Lilyana, walau hanya untuk berpelukan seperti ini.
"Tidak. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang baru, tanpa mengungkit-ungkit kembali nama keluargaku," jawab Mike datar. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang sulit dibaca.
"Kau keberatan dengan itu?" tanya Mike tiba-tiba. Pandangan pria itu beralih pada sosok Lilyana yang tengah kini sedang memandangnya.
Lilyana menggelengkan kepala. "Maafkan aku. Aku tahu, sebagian besar orang yang pindah ke pulau ini ingin memulai hidup baru, termasuk kita berdua. Jadi, tidak sepantasnya aku membahas ini."
Senyum tipis terpatri di wajah tampan Mike. Sambil mengeratkan pelukannya, ia meminta Lilyana untuk tidak memikirkan apa pun selain kehidupan mereka berdua di tempat ini.
"Aku mengerti, tapi bagaimana dengan Cael dan juga Irene? Mereka tidak tahu soal kita," kata Lilyana.. Gadis itu merasa sedikit cemas karena Mike sering datang kamarnya. Bagi Lilyana lebih baik mereka mengumumkan hubungan tersebut kepada Cael dan Irene.
"Kita akan memberitahu mereka nanti," jawab Mike.
"Apa kau tidak khawatir dengan ... kau tahu ... usia kita?" tanya Lilyana lagi.
Seakan mengetahui apa yang akan dilakukan Mike selanjutnya, Lilyana pun segera memejamkan mata.
Sedetik kemudian pagutan manis dari Mike tersemat di bibir gadis cantik tersebut.
...**********...
Aaron kembali ke rumah dengan wajah kusut. Pencarian hari ini sama sekali tidak membuahkan hasil, padahal nasib Estelle dan Laura sedang dipertaruhkan. Pihak berwajib pun sepertinya menemukan jalan buntu.
Tak ingin menyerah begitu saja, Aaron segera menghubungi salah satu teman lamanya untuk dimintai pertolongan. Tampaknya pria itu tidak bisa hanya mengandalkan pihak kepolisian saja.
"Terima kasih, Don! Tolong hubungi aku segera," ucap Aaron sebelum menutup sambungan teleponnya.
Pria itu kemudian berjalan menuju meja televisi di mana terdapat beberapa buah bingkai foto yang terpajang di sana. Tangan Aaron lantas mengapai sebuah bingkai foto berisi potret dirinya dan Estelle.
Sang adik tampak ceria dirangkul olehnya.
Saat sedang sibuk memikirkan Estelle, mata Aaron tanpa sengaja menangkap potret seseorang yang lain. Siapa lagi kalau bukan Lilyana.
Lilyana terlihat sangat cantik di antara barisan siswa-siswi angkatan sekolahnya.
"Tolong, berikan aku petunjuk di mana kalian berada?" gumam Aaron sembari memijat keningnya.