Love Island

Love Island
Bab 10. Mike.



Alexander tiba di rumah besarnya pukul empat pagi. Saat berjalan menuju kamar tidurnya, ia melewati sebuah bingkai foto berukuran sedang yang terpajang di atas meja televisi.


Alexander mengangkat bingkai tersebut dan menatapnya dalam-dalam. Seberkas sorot kerinduan hadir, kala mata pria itu menangkap sosok mendiang ayah dan ibunya. Namun, raut wajahnya seketika berubah ketika beralih pada sosok seorang pria lain yang ada di sana.


Alexander membanting bingkai foto tersebut ke lantai lalu meninggalkannya begitu saja.


...**********...


Lilyana yang baru saja keluar dari kamar tanpa sengaja berpapasan dengan Irene. Keduanya sudah tampak rapi.


"Pagi, Lily," sapa Irene sambil memamerkan senyum lebarnya yang manis.


"Pagi." Lilyana membalas senyuman Irene ramah.


"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya gadis itu pada Lilyana.


"Cukup nyenyak. Aku hanya butuh sedikit beradaptasi dengan angin malamnya," jawab Lilyana jujur.


"Kau benar. Bagi kita yang belum terbiasa tinggal di pesisir pantai pasti kurang nyaman."


Mendengar jawaban Irene, Lilyana menyetujuinya. Mereka berdua pun pergi menuju dapur untuk membantu menyiapkan sarapan pagi. Lilyana lah yang berinisiatif membuatkan sarapan untuk mereka sebagai tanda terima kasih karena sudah diizinkan tinggal dan bekerja di sini. Sebagai orang asing ia cukup tahu diri untuk tidak berleha-leha di tempat itu.


Sarapan pagi yang Lilyana buat tidak lah sulit. Hanya omelette telur dan daging ham. Tak lupa seteko teh hangat juga dibuat olehnya.


"Lilyana, sepertinya kau pandai memasak," puji Cael.


"Tidak juga. Aku hanya bisa membuatkan makanan yang mudah-mudah saja tanpa banyak bumbu atau proses memasak." Kata Lilyana menjelaskan.


"Itu sudah bagus, dari pada tidak bisa membuat sama sekali, kan?" ujar Cael seraya melirik adik sepupunya yang tampak lahap menghabiskan sarapan.


Merasa sang kakak tengah menyindir, Irene langsung melempar serbet makan yang hendak ia gunakan. Namun, Cael dengan sigap menangkapnya.


Interaksi kedua kakak beradik sepupu itu tentu menjadi hiburan tersendiri bagi Lilyana di pagi yang cerah ini. Rasa iri jelas terselip, mengingat keluarganya pun tak kalah heboh saat di meja makan.


Mendung sontak menyelimuti diri Lilyana. Bayangan kedua orang tuanya terakhir kali menjadi bagian paling menyakitkan yang selalu ia ingat. Tanpa sadar tangan Lilyana yang sedang memegang garpu bergetar hingga menyebabkan piring makannya berbunyi.


Hal tersebut membuat Irene dan Lilyana berhenti tertawa.


"Lily, ada apa?" tanya Irene dengan wajah terkejut, tatkala mendapati Lilyana terdiam mematung dengan wajah penuh air mata.


Lilyana tersentak kaget. Ia pun menghapus air matanya cepat-cepat. "Tidak, aku hanya merindukan orang-orang di panti," dustanya.


Irene langsung memeluk tubuh Lilyana erat, begitu pula dengan Cael yang mengelus tangan gadis itu. "Mereka pasti juga merindukanmu. Kau bisa pulang kapan pun kau mau, dan aku tidak akan melarangnya," ucap pria berwajah cantik tersebut.


Lilyana mengangguk. Sekali lagi ia berterima kasih kepada Irene dan Cael yang sudah sudi membantunya.


...**********...


Suasana Flower's Bakery pagi ini terlihat lebih ramai dari biasanya. Semua itu berkat kehadiran dua gadis muda cantik, Irene dan Lilyana. Beberapa orang pria bahkan terang-terangan menggoda mereka dengan mengajaknya makan malam atau hanya sekadar mengobrol ringan di tepi pantai. Namun, Cael dengan wajah galak melindungi dua gadis itu.


Lilyana sempat tidak memercayai sifat galak yang dimiliki Cael. Pasalnya, dari luar, pria itu terlihat sangat gemulai dan lembut.


"Aku bisa menebak pikiranmu, Lily!" bisik Irene tiba-tiba. "Dilihat dari luar, dia memang seperti wa wanita. Namun, jangan salah, dia itu mantan atlet taekwondo dan jujitsu!" sambungnya sembari menyeringai.


Lilyana sontak terbelalak. Cael benar-benar pria cantik yang misterius.


Setelah dua jam non-stop melayani para pelanggan, akhirnya Cael, Lilyana, dan Irene bisa beristirahat juga. Mereka kini sedang duduk menyebar di kursi toko dengan wajah lelah. Toko roti Cael memang tidak pernah sepi dari pelanggan, tetapi baru kali ini mereka sampai kehabisan stok. Mungkin saja seluruh penghuni pulau berbondong-bondong datang ke sana.


"Aku yakin lima puluh persennya bukan ingin memakan rotiku, melainkan melihat kalian berdua!" seru Cael seraya bertopang dagu di atas meja.


"Baguslah, setidaknya kecantikanku dan Lilyana mampu menarik banyak pelanggan. Dengan begitu pundi-pundi uang akan semakin mengalir, kan!" sahut Irene dengan nada sombong.


Cael membenarkan walau sambil mencibir.


"Lalu, apa bonus yang kita dapatkan, Bos? Lelah, nih!" kata Irene seraya mengangkat alisnya berkali-kali.


"Cih, baru pertama kali kerja sudah minta bonus! Baiklah, malam ini aku akan meneraktir kalian di bar!"


Mendengar itu, baik Irene dan Lilyana bersorak senang. Keduanya bahkan bertukar high five karena berhasil mendapatkan bonus menyenangkan di hari pertama bekerja.


...*********...


Lilyana, Cael, dan Irene memilih tempat duduk yang tidak jauh dari panggung.


"Apa yang ingin kalian pesan?" tanya Cael.


"Terserah kau saja," jawab Lilyana.


"Kalau aku tentu minuman terenak di sini. Percuma saja ditraktir kalau tidak memanfaatkan!" seru Irene sembari tertawa keras, yang langsung membuat Cael mendelik kesal. Namun, kendati demikian ia tetap memesankan beberapa minuman dan camilan untuk mereka berdua.


Setelah menunggu beberapa saat, seorang pria bertubuh atletis datang ke meja mereka sembari membawa pesanan.


"Mike? Malam ini kau di kafe?" tanya Cael ketika melihat sosok tersebut.


Lilyana ikut terkejut. Pasalnya, pria bernama Mike tersebut adalah pria yang semalam bertemu dengannya.


"Ya." Jawab Mike singkat. Ia meletakkan pesanan mereka bertiga di meja tanpa berkata apa-apa. Bahkan Mike bertingkah seolah tidak mengenali Lilyana, padahal gadis itu sudah memberinya kode.


"Silakan dinikmati," ucap Mike datar, sebelum pergi meninggalkan meja mereka.


Lilyana mencibir. Matanya sinis menatap kepergian Mike.


"Dingin sekali pria itu!" celetuk Irene.


"Kan, sudah kubilang untuk tidak tersinggung. Dia memang begitu. Satu lagi, jangan coba-coba menggodanya ya!" kata Cael memperingati.


"Memangnya kenapa?" tanya Irene penasaran.


"Kalian itu masih bocah! Cari yang seumuran dengan kalian saja, banyak kok di sini!" jawab Cael.


"Memangnya berapa usia pria itu?" Kali ini Lilyana lah yang membuka suaranya.


"Nyaris empat puluh tahun, tepatnya tiga puluh tujuh."


Mendengar jawaban Cael, Irene dan Lilyana tak bisa menahan pekikan mereka. Irene bahkan nyaris menumpahkan minuman yang dipegang gadis itu. Maklum saja, siapa yang percaya dengan usia Mike jika melihat fisiknya.


"Kau bohong ya?" tuding Irene seraya menunjuk wajah Cael.


Cael menepis tangan Irene. "Untungnya apa untukku kalau berbohong! Lagi pula, kenapa kalian seheboh itu? Jangan-jangan kalian sedang bekerja sama untuk menggodanya ya?" Cael balik menuding mereka berdua dengan tatapan menyelidik.


"SEMBARANGAN!" seru Lilyana dan Irene kompak.


"Walau tampan, seleraku bukan om-om, tahu!" ketus Irene. Sementara Lilyana mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


"Halah, jangan tarik kata-kata kalian ya?" Cael melipat kedua tangannya di dada dan menyeringai. Ia dan Irene kembali berdebat lucu, sedangkan Lilyana kembali menjadi penonton setia mereka.


...**********...


"Hei, Paman!"


Mike yang sedang sibuk membersihkan tempat sampah di belakang bar, terdiam sejenak saat mendengar panggilan aneh itu.


Siapa yang paman? pikirnya. Merasa bukan ia yang dipanggil, Mike kembali melanjutkan kegiatannya.


"Paman, jangan pura-pura tuli!" Suara itu kembali terdengar. Namun, Mike terus merapikan tumpukan sampah dan mengumpulkannya.


"Ck, setelah semalam menjadi tukang jagal, rupanya kau juga menjadi pelayan sekaligus OB ya? Tak kusangka, kau multitalenta!"


Mike mengerutkan keningnya. Pria itu lantas menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah sang gadis yang ternyata Lilyana.


"Jangan sembarangan memanggil orang lain yang tidak dikenal!" ujar Mike datar.


Lilyana mengangkat bahu lalu berjalan menghampiri Mike. "Kau memang setua itu, kan? Aku tahu dari Cael!"


Mendengar hal tersebut, Mike meremas sebotol minuman kaleng yang sudah kosong, lalu melemparnya ke dalam plastik sampah. Dalam hati ia mengutuk Cael yang sembarangan memberi informasi tentangnya kepada orang asing.


"Mau apa kau?" tanya Mike dingin.


"Mau kau!" jawab Lilyana singkat tanpa beban.