Love In Bangkok Thailand

Love In Bangkok Thailand
bagian delapan belas



JANGAN PELIT PELIT NGASIH VOTE DONG SAYANG <3


Pagi hari Stevy biasanya keluar untuk lari pagi, namun untuk kali ini Stevy tidak pergi lari pagi karena dia masih demam namun untungnya demamnya sudah sedikit menurun. Stevy sedang bersantai di gazebo yang ada di taman belakang. Stevy sedikit sedikit belajar untuk ujiannya nanti.


Di sisi lain Verrel sedang bersiap siap untuk pergi ke rumah Stevy. Verrel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tidak berapa kemudian Verrel telah sampai di rumah Stevy.


Ting... nong...


Suara bel rumah Stevy berbunyi, yang membuka pintu rumah itu adalah shavyra karena dia kebetulan sedang berada di ruang tamu.


"Hai ka verrel, mau cari siapa" tanya Shavyra.


"Stevy ada?" Tanya Verrel balik.


"Ada kak lagi di belakang mau vyra anterin ga?" Tawar Shavyra.


Shavyra mengantarkan Verrel ke halaman belakang. "Sedang apa dia" tanya Verrel sambil berjalan.


"Tadi shavyra liat ka Stevy lagi belajar" ucap Shavyra.


"Oh" ka Verrel.


Verrel telah di antarkan Shavyra menemui Stevy, Verrel melihat Stevy sedang melamun memandang ke kolam berenang.



"Stev" ucap Verrel mengagetkan Stevy.


"Eh Verrel" ucap Stevy kaget.


"Stev gue mau ngomong sama lo" ucap Verrel.


"Oke bentar lo duduk aja disana gue bawain dulu cemilan." Ucap Stevy. Stevy tidak menyuruh pelayan yang ada di rumah itu, Stevy mengambil cemilan itu sendiri.


"Non mau apa? Biar bibi siapin" ucap bi ijah.


"Mau ambil cemilan, bibi tolong buatin teh hangat nya 2 ya" ucap Stevy.


"Baik non, non Stevy udah sehat?" Tanya bi ijah.


"Udah mendingan bi" sahut Stevy.


"Ini non teh nya, mau bibi bawain ga" tawar bi ijah.


"Ga usah bi, biar Stevy aja yang ambil" ucap Stevy sambil tersenyum.


Stevy berjalan ke taman belakang sambil membawakan dua teh hangat dan cemilan.


"Mau ngomong apa rel" tanya Stevy. Stevy mungkin sudah tidak marah lagi ke Verrel.


"Maafin gue stev buat yang" kata Verrel namun di potong oleh Stevy.


"Udah rel, lupakan saja, gue udah maafin lo kok" seru Stevy memotong pembicaraan Verrel sambil tersenyum.


"Makasih stev" ucap Verrel lembut.


"Udah, mending lo minum nih teh nya" perintah Stevy. Verrel tersenyum bahagia karena kedatangannya tidak sia sia.


"Stev lo lagi ngapain disini" tanya Verrel.


"Gue lagi ngapalin buat ujian nanti" jawab Stevy.


"Lo mau masuk kedokteran stev?" Tanya Verrel.


"Iya rel, gue disuruh sama bokap" Jawab Stevy.


"Katanya lo pengen jadi MUA?" Ucap Verrel.


"Iya sebenarnya gue pengen jadi MUA, nasib mau gimana lagi orang ga di izinin." Jawab Stevy pasrah Verrel hanya mengangguk anggukan kepalanya.


"Demam lo udah mendingan" tanya Verrel sambil meraba jidat Stevy.


"Udah rel, sekarang dah mendingan" Seru Stevy.


Mereka berbincang bincang dan saling bersenda gurau cukup lama. Bi ijah melihat Stevy dan Verrel yang tidak bertengkar pun bahagia mungkin karena semalam Mereka bertengkar.


"Stev" ucap Verrel sambil menatap lekat wajah Stevy.


Stevy yang sedang memainkan ponsel segera mematikan ponselnya. "Ya?" Tanya Stevy.


"Gapapa gue bahas tentang mantan lo?" Tanya Verrel memastikan.


"Hah mantan? Emm emang kenapa?" Tanya Stevy.


"lo harus jujur tapi ya. Apakaj lo masih suka sama Reino?" tanya Verrel.


Stevy menundukan kepalanya, lalu dia mengangkat kepalanya sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"oke gue jujur, gue masih suka sama Reino, gue masih cinta sama Reino, gue masih sayang sama Reino dan sebagai buktinya gue sayang sama Reino adalah gue jenguk dia kemaren, padahal hati gue sebenarnya sakit sekali karena kita putus ada orang ke tiga dan sekarang dia udah meninggal. Kalo gue udah ga sayang lagi sama dia, gue ga mau buat jenguk dia rel. Dan menurut gue kita ga akan pernah bersatu lagi, sebenarnya gue masih pengen bersama dia namun hm ya lo pikir aja lah rel masa gue balik sama si brengsek itu" ucap Stevy.


"okey okey gue sekarang udah paham perasaan lo" ucap Verrel.


"stev makan siang diluar yu" ajak Verrel.


"hm boleh, tapi cuma makan siang aja ya" ucap Stevy.


"okey, lo siap siap dulu sana" seru Verrel.


"baik monsterku" ucap Stevy sambil lari, karena stevy takut kalo Verrel akan mengerjainya balik.


Stevy pergi ke kamarnya untuk mengganti bajunya.


"Vyr... vyra..." teriak Stevy waktu keluar dari kamar.


"Jangan teriak teriak dong, ada apaan?" Ucap Shavyra.


"Kaka mau keluar bareng Verrel dulu ya" uca Stevy sambil membalikan badannya menuju tangga.


"Hm" jawab Shavyra singkat.


****


"Yo" sahut Verrel.


Di rumah makan


Mereka memesan makanan kesukaanya masing masing. Setelah memesan makanan mereka berbincang bincang di barengi dengan canda tawa.


Makanan pesanana Stevy dan Verrep akhirnya datang, mereka langsung melahapnya dengan senang hati. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya.


Dia berjalan ke arah Stevy dan Verrel duduk. Dia berjalan dengan membawa api cemburu, hati nya sudah panas.


"Heh pelakor" ucap wanita itu. Ya wanita itu adalah Sisil.


"Oh jadi ini yang katanya calon pacar verrel tuh" ucap Stevy sambil berdiri dan menekankan kata itu.


Verrel yang kaget akan datangnya Sisil pun segera berdiri. "Sisil? Ngapain lo ke sini" tanya Verrel.


"Gue mau memberantas pelakor sayang" ucap Sisil manja.


"Hilih sayang sayangan" ucap Stevy sambil duduk.


"Rel kenapa lo tega banget sih ngeduain gue?" Ucap Sisil.


Verrel tersenyum meremehkan." Haha lo gatau gue yang sebenarnya ya? Em pantesan" ucap Verrel.


"Rel jangan gitu dong, ayo pulang rell" ucap Sisil sambil menggoyang goyangkan tangan Verrel.


"Apasih lo, mending lo pergi deh" usir Verrel.


"Rel lo berubah kek gini gara gara si peLkor itu kan?" Ucap Sisil menuduh Stevy.


Stevy yang sedang meminum jus tersedak Stevy segera menyemburkan jusnya ke arah Sisil.


Pruft...


"Awww jorok sekali, woy pelakor bisa ga rada sopan dikit kek" ucap Sisil meninggikan suaranya.


"Hey wanita murahan, bisa ga engga ganggu kita yang lagi makan?" Ucap Stevy.


"Awas aja lu dasar pelakor." Ucap Sisil.


"Hey heyy kenapa gue disebut pelakor yah?" Tanya Stevy.


"Jangan so pura pura lo" ucap Sisil.


"Lo sadar diri dong, gue juga tahu kalo lo deketin Verrel cuma ma hartanya doang. Iya kan?" Ucap Stsvy menyindir.


Pret...


Sisil lagi lagi menamlar pipi Stevy. Sisil yang sudah kesal sia keluar dari rumah makan itu.


"Ahw" Stevy meringis kesakitan karena pipinya ditampar keras oleh Sisil.


"Stev mana yang sakit, maafin gue stev" ucap Verrel sambil memegang pipi Stevy namun segera ditepis kasar oleh Stevy.


"Gue ga mood makan lagi gue mau pulang, cepat buka mobilnya" ucap Stevy lurus.


Verrel segera memberikan kunci mobilnya kepada Stevy karena dia mau membayar makanan nya dulu.



Itu foto Verrel waktu antri untuk membayar makanannya. Stevy sudah berada di dalam mobil, ia menunggu kedatangan Verrel.


Di dalam mobil


"Stev please jangan marah ya, kita baru aja baikan masa harus marahan lagi stev?" Ucap Verrel merayu.


"Gue belum tidur siang jadi bisakah segera berangkat?" TanyabStevybsambil menatap Verrel. Dan verrel pun akhirnya menjalankan mobilnya, sesekali dia melirik ke arah Stevy.


"Stev lo ga marah kan" tanya Verrel.


"Ga" sahut Stevy singkat.


"Serius stev, tapi lo kelihatannya marah gitu" ucap Verrel.


"Gue lagi bad mood" sahut Verrel.


Verrel menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah mengantarkan Stevy pulang Verrel seger bergegas untuk pulang juga.


****


"Hallo sayang" ucap Aulia di balik telpon itu.


"Hallo, kamu udah makan siang belum?" Tanya Steven.


"Udah" ucap Aulia.


"Yang kamu besok cuti kan ya?" Tanya Aulia. Sebenarnya dia sudah tahu bahwa besok Steven mengosongkan jadwalnya untuk pergi bersama Aulia.


"iya sayangg" seru Steven.


"temenin aku belanja dong. boleh yaaa" pinta Aulia.


"oke oke besok siang aku jemput" ucap Steven lalu memutuskan panggilan itu.


Maaf sebelumnya kemarin kemarin ga up, author masih belum bisa mengatur jadwal😊


_BERSAMBUNG_


▪︎


▪︎


▪︎


JANGAN LUPA VOTE SAMA LIKE NYA YAA:(