
Saat di tengah-tengah ketegangan terdengar suara yang akan masuk ke dalam kelas, dan semua orang langsung duduk ke tempatnya masing-masing.
"Selamat pagi Anak-anak"sapa guru tersebut.
Sementara itu Mutiara yang duduk paling belakang, sehingga gurunya tidak melihat dirinya.
Temannya di sebelahnya membisikkan sesuatu pada dirinya"awas lo kalo ngasih tau Bu Nita soal ini"ancamnya.
Tidak tahan dengan tatapan tajam semua orang kearah,Ia memberikan diri ke depan berbicara kepada Bu Nita. Dan semua orang langsung panik melihat keberanian Mutiara maju ke depan.
"Duh, gawat pasti dia akan ngasih tau Bu Nita atas tindakan gue tadi"
"Duh, pasti si Ara mau ngasih tau Bu Nita soal ancaman gue.
Begitulah pikir mereka dalam hati
"Bu, Aku... belum sempat meneruskan tiba-tiba ada seseorang yang menyela ucapannya.
"Bu, Mutiara mau ijin ke toilet"sambung yang lain.
"Silahkan, balas singkat Bu Nita tanpa melihat ke arahnya Mutiara karena sibuk merapikan kertas-kertas ujian Minggu kemarin.
"Sanah ke toilet Ara jangan di tahan-tahan"ucap salah satu temannya dan yang lainnya memberikan kode supaya segera keluar.
Untung saja saat berjalan menuju toilet tidak ada orang yang melihatnya.
Di toilet Mutiara meluapkan segala sesuatu yang mengganjal di hatinya dengan terus menerus menangis tanpa henti, Dirasa sudah cukup lama dirinya berada di toilet kemudian Mutiara kembali ke kelasnya dengan menundukkan kepala supaya tidak ada orang yang melihat wajahnya. Beruntung jam sekolahnya hanya sebentar karena kebanyakan para guru sedang sibuk merekap nilai para muridnya dan hanya sedikit guru yang mengajar itu pun untuk memberi tugas remedial.
sampai akhirnya pulang sekolah pun tiba, semua orang berbondong-bondong untuk pulang, dan begitu pun dengan Mutiara. dirinya sedang berjalan menuju gerbang belakang sekolahnya tiba-tiba ada beberapa teman kelasnya mencegat dirinya dan menarik paksa tangannya menuju gudang belakang.
"Lepasin aku tolong"teriak Mutiara namun suasana di sekolah sudah sepi sehingga tidak ada orang yang bisa menolongnya.
Kemudian Mutiara di dorong hingga terjukal dan dirinya sangat ketakutan saat salah satu temannya menjambak rambutnya, Mutiara berusaha memohon kepada beberapa temannya agar melepaskan dirinya. Tapi sayang hati mereka sudah dipenuhi dendam hanya karena tidak beri kunci jawaban saat ujian.
Tindakan mereka sudah sangat keterlaluan karena sama saja sudah termasuk kategori perundungan, Mutiara sangat menyesali kebodohan dirinya. Seharusnya tadi dirinya melaporkan tindakan itu pada gurunya saat dikelas atau pada pada pihak sekolah, bukannya malah terus-terusan berdiam diri saja jika seseorang menindas kita. Dan malah bersembunyi dari semua orang dan hanya menangis-menangis aja menahan sendiri beban masalah yang dihadapinya.
***
Saat mutiara tiba di depan pintu, dirinya tidak sengaja berpapasan dengan kakaknya tepat di depan mata. Sementara itu Dimas juga tak kalah terkejut saat melihat keadaan adiknya yang berpenampilan kacau seperti itu dengan rambut acak-acakan, pakaiannya berantakan, pipinya seperti lebam, dan bibirnya sedikit berdarah. Dalam hatinya jenis bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya.
"Mutiara, ada apa denganmu dan itu pipimu yang lebam dan bibirmu berdarah seperti itu apa yang terjadi?"ucap Dimas khawatir, tapi mutiara tidak menjawab apapun pertanyaan dari Kakaknya itu hanya diam saja sehingga membuat Dimas tambah khawatir dan merasa geram karena adiknya terus saja diam sehingga Ia menggoyangkan tumbuh adiknya.
"Mutiara jawab pertanyaan Kakak apa yang telah terjadi denganmu kenapa kamu hanya diam saja"sambungnya lagi, tapi Mutiara menjawabnya dengan ketus"lepasin aku apa pedulimu kepadaku lagian siapa yang merusak aku sehingga membuatku jadi seperti ini hah..Huhuhu..."setelah mengatakan hal itu mutiara langsung berlari kearah kamarnya dan menguncinya, sementara Dimas juga mengejar adiknya tapi sayangnya Mutiara malah mengunci pintunya Dimas berusaha mengetok pintu tapi tidak ada sahutan dari dalam saat Ia hendak mengetok lagi tiba-tiba ada panggilan masuk sehingga Dimas dengan terpaksa mengangkat telepon dari temannya itu.
Dimas menjawab telepon dari temannya"Bro Lo lagi di mana cepat ke kampus, lo lupa sekarang ada sidang sebentar lagi di dimulai "
"Iya lo bawel amat Lo, Gue lagi otw udah ya gue tutup dulu teleponnya"
"Dasar nih anak main tutup telepon aja"ucapnya kesal.
Sementara itu Dimas dengan terpaksa harus meninggalkan adiknya karena urusanmu perkuliahannya, Dimas hendak keluar dirinya berpapasan dengan bi Idah yang sedang menenteng beberapa belanjaan sayuran di tangannya.
"Syukurlah bibi sudah datang"batinnya
"Bi aku pergi ke kampus dulu, tadi Mutiara udah datang dan sekarang dia ada di kamarnya"kemudian masuk ke dalam mobilnya dan melaju cepat menuju kampus.
Selama di kampus dirinya masih kepikiran dengan adiknya itu.
Setelah pulang dari kampus dirinya berjalan menuju kamar Mutiara untuk mengecek keadaannya"semoga saja tidak dikunci"gumamnya
Kriet
"Hah, benar tidak dikunci"perlahan membuka pintu dan mendapati adiknya yang sedang tertidur. Lalu dia menutup lagi pintunya secara perlahan dan bergegas ke kamarnya mencari kotak P3K.
_
Kemudian Dimas mengobati luka adiknya dengan keterampilan dirinya sebagai calon dokter.
perlahan-lahan Dimas mengobati Mutiara agar tidak membangunkannya, tapi tiba-tiba Dimas mengerutkan dahinya saat melihat pada dada Mutiara yang terlihat memar. kemudian Dimas mencari-cari pada tangan dan kaki adiknya apakah ada memar yang sama di bagian yang lain? Ternyata benar saja di bagian kakinya juga terdapat memar yang sama, hati Dimas sangat sakit melihat kondisi adiknya itu tangisnya pecah melihat keadaan mutiara yang memprihatinkan.
Mutiara maafkan atas kekhilafanku, hatiku merasa sangat bersalah sekali sejak saat itu, sebenarnya aku ingin memberitahukan kejadian itu pada Mamamu. Tapi aku tidak mempunyai keberanian untuk mengatakannya, dan juga aku memikirkan keselamatan dirimu. Papahku pasti tidak akan tinggal diam aku tidak ingin mengambil resiko untuk itu, Aku sangat tahu watak papaku itu.
Karena itu aku hanya diam saja, tapi aku janji sama kamu mutiara suatu hari nanti jika kamu sudah cukup umur dan lulus sekolah aku akan sebagai bentuk tanggung jawab dan untuk menebus kesalahanku. Disamping itu aku juga akan mencari tahu dan menyelidiki kenapa kamu bisa mendapatkan tindak kekerasan dan akan memberi pelajaran kepada mereka yang melakukannya.
Dimas kemudian mengelus rambut mutiara lagi lagi yang menemukan benjolan di kepala mutiara"sepertinya benjolan di kepalanya disebabkan karena benturan"pikirnya.
Dimas menyadari mutiara tidurnya terusik, karena itu dirinya segala keluar dari kamar adiknya. Tapi tiba-tiba tangannya dicekal oleh mutiara, sebenarnya mutiara sudah menyadari keberadaan kakaknya tapi dirinya pura-pura tidur.
"Mutiara maaf aku masuk ke kamarmu tanpa ijin"Dimas mengatakannya dengan gelagapan.
"Tolong rahasiakan ini dari semua orang Kak"ucapnya lirih dan terpaksa Dimas mengiyakan permintaan adiknya
"Baiklah aku akan merasakannya tapi katakan siapa yang melakukan hal ini padamu"
"Jangan bahas itu lagi Kak Aku ingin istirahat" Dimas menghembuskan nafas kasar, mendengar jawaban dari adiknya.