
Kemudian dokter Frans menanyakan tentang keluhannya.
"Dek, apa keluhannya"
"Akhir-akhir ini saya kesulitan makan dok, karena setiap makanan yang masuk selalu saya Muntahkan lagi, terus saya sering tiba-tiba merasa pusing dan saya kadang merasa cepat letih saat melakukan aktivitas berat"kemudian dokter Frans menanyakan beberapa pertanyaan.
"Kapan terakhir kali Adek datang bulan?"
"Hehehe... gak inget dok ,Tapi dok sebenarnya waktu dulu pernah datang bulan tidak lancar seperti sebuah dua kali, terus pernah juga dua bulan nggak datang bulan"dokter Frans yang mendengarnya jadi ragu dengan keputusan yang sebelumnya.
Kemudian dokter menyuruh Mutiara untuk melakukan USG, dan Mutiara hanya menurut saja apa yang di katakan dokter itu.
Kemudian proses USG pun dimulai, Mutiara sedikit membuka baju di bagian perutnya yang buncit dan dokter Frans yang juga melihat perut buncit Mutiara membuat keyakinannya semakin kuat, bahwa gadis belia ini sepertinya sedang mengandung.
Dan benar saja dugaannya, ternyata di layar monitor USG itu ada janin yang masih kecil ukurannya.
Deg deg deg
Mutiara yang juga melihat jantungnya berdegup kencang, nafasnya menderu tak beraturan dirinya sangat syok mengetahui kenyataan pahit ini, dirinya sedang mengandung janin hasil perbuatan kakaknya pada kejadian naas itu.
Selain itu juga dokter Frans tidak kalah terkejutnya bagi dirinya ini adalah pengalaman pertama dirinya menangani seseorang yang masih belia tapi sudah mengandung, sementara gadis itu seperti masih polos dilihat dari mukanya.
Tapi kenapa gadis itu bisa sampai mengandung seperti ini, apa mungkin ada sesuatu yang di sembunyikan" Kemudian dokter Frans memcoba memancing gadis itu untuk speak up.
"Selamat ya, Adek sekarang sedang mengandung. janinnya sehat usia kandungannya sekitar dua mingguan, nanti saat cek up kehamilan disarankan didampingi dengan pasangan adek ya.
"Gak ada mati"Mutiara menyela ucapannya,
" Terus Adek kesini sama siapa?"tanya dokter Frans.
"Kakek dan nenek"jawabnya singkat.
"Boleh saya bertemu mereka ?"
kemudian Mutiara menemui kake dan neneknya membawanya ke ruang konsultan.
Sementara Mutiara dalam hati merasa cemeas, bagaimana dengan mereka jika mengetahui jika mengetahui fakta cucunya hamil di luar nikah.
"Ada apa ya dok sampai memanggil kami kesini, apa seserius itukan penyakit cucu kami".
"Cucu anda tidak mengalami penyakit apapun, hanya saya sekarang cucumu sedang mengandung jadi, beberapa keluhan yang dialami Dek Mutiara itu sama dengan keluhan yang dialami kebanyakan ibu hamil lainnya".
Kakek Neneknya yang mendengarnya langsung syok, bagaimana tidak syok coba mereka yang baru saja dipertemukan dengan cucunya haru kenyataan pahit ini.
"Enggak mungkin dokter pasti salah"bantah Lastri
"Kalau gitu kita lakukan USG ulang"
Kemudian dokter Frans melakukan sekali lagi dan barulah mereka memercayai ucapan dokternya.
Gimana ini pasti mereka sangat marah padaku, dan yang buruknya lagi jika sampai aku diusir karena hamil terus gimana nasibku"
Dan juga apakah ini berkah atau bencana yang sedang aku hadapi, ya...tuhan cobaan apa lagi yang kau berikan.
Setelah itu dokter Frans menjelaskan tentang seputar kehamilan diusia yang masih muda, juga resiko yang mungkin nanti akan di hadapi Mutiara nanti.
***
Saat mereka sudah pulang dari rumah sakit,
"Jadi siapa ayah dari bayi yang kamu kandung"ucap Tirto dengan marah, sedangkan Lastri hanya bisa menangis sambil memeluk cucunya.
"Nak jawab saja jangan takut, kita butuh penjelasanmu"terang Lastri barulah Mutiara buka mulut dan mulai menceritakannya.
"Apa...."
Bugh
Kek Tirto meninju pintu untuk meluapkan amarah dalam hatinya, dirinya sangat syok mengetahui yang melakukannya adalah anak Hartanto yang jadi kakak tiri Mutiara.
" Huhuhu... Mereka benar-benar jahat sekali pada cucuku"Lastri mengatakannya dengan lirih dan menenangkan cucunya yang sedang menangis.
"Ara.. kamu tenang saja kita berdua menerima kehadiran calon cicit Kami yang ada disini, mulai sekarang kamu jangan terlalu banyak pikiran yah"ucap Lastri sambil mengelus perut cucunya.
"Syukurlah kakek dan nenek bisa menerimamu nak"batin Mutiara dan mengelus perutnya, dirinya sendiri sudah menerima kehadiran calon anaknya dan bertekad akan membesarkan.
Sementara itu di rumah keluarga Hartanto.
Semenjak kepergian Mutiara rumah ini terasa sangat sepi, dan juga Kirana yang merasa sangat kesepian tidak ada anaknya disisinya.
Kadangkala dirinya sering melamun kolam renang memikirkan keadaan anaknya disana .
"Ara, kenapa kamu pergi nak Mamah sangat merindukan. Apa karena mamah jarang berada di rumah, makannya kamu tidak betah tinggal disini. Aku memang orang tua yang tidak becus menjaga anaknya, selalu mementingkan pekerjaan, daripada anak sendiri"Kirana sangat menyesalinya sekarang, kadang dirinya sering mengirim pesan ke hp Mutiara tapi tidak pernah di balas dan juga kadang menghubunginya tapi tidak pernah diangkat.
-
Matahari bersinar menembus tirai jendela kamar Mutiara sehingga membangunkan dirinya yang sedang berada di alam mimpi,
Hoamm... Mutiara meregangkan otot-ototnya kemudian menetap sekitar kamarnya, lalu
Hoeeek hoeeek
Mutiara selama beberapa hari ini sering sekali muntah-muntah, bahkan dirinya sering sensitif terhadap sesuatu walaupun itu hal sepele. juga kian hari perut Mutiara membesar walaupun masih bisa di sembunyikan, dan perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya.
" Kenapa payudara aku semakin besar dan kencang, aku jadi merasa sesak karena ukuran branya kekecilan"Mutiara mengeluhkan hal itu.
Sementara nek Lastri sedang mengikuti senam pagi di balai desa , setelah selesai teman- teman geng Lastri mendekati Dirinya.
"Jeng, jeng ada berita yang panas yang menggegerkan desa ini udah tau belum"
"Belum, berita apa?"
Itu loh jeng anaknya jeng xxx ketahuan sudah hamil di luar nikah, sekarang satu desa sedang membicarakannya.
Deg
"Terus sekarang anaknya gimana?" Tanya Lastri
Saya dengar katanya sih anaknya di usir dari desa ini oleh warga, karena dianggap aib di kampung ini"
Deg
Lastri menelan salivanya saat mendengar hal itu, dirinya merasa khawatir dengan cucunya. Bagaimana kalau semua orang tahu tentang hal ini. Dia tidak ingin lagi harus berpisah dengan cucunya, setelah bertahun-tahun tidak tidak bertemu.
Lastri juga merasa kesal dengan orang-orang di desa ini, kenapa mereka selalu menganggap bahwa perempuan hamil tanpa suami dianggap aib dan malah kadang ada juga yang dianggap pembawa petaka. padahal mereka tidak tahu kejadian yang sebenarnya yang terjadi pada perempuan itu, bisa saja perempuan itu hamil di sebabkan karena menjadi korban pelecehan seksual sama seperti yang dialami oleh cucunya. Bayangkan saja bagaimana kondisi tekanan mental yang harus dihadapinya, bukannya di support oleh orang sekitar tapi malah diJudge negatif karena stigma buruk oleh warga disini dari pemikiran kolot mereka.