
Tak berselang lama kemudian Dimas juga telah menyelesaikan makanya dan pamit untuk kembali ke kamarnya, saat Ia berjalan melewati pintu Adiknya dirinya melihat sang Adik sedang termenung duduk di dekat jendela dan menatap langit-langit luar dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Entah mengapa hatinya terasa perih melihat adiknya begitu seperti ada rasa bersalah mendalam pada dirinya. ingin sekali Ia berbicara dengan Adiknya untuk meminta maaf dan mengungkapkan semuanya kepada Mamah tirinya tapi karena rasa takut terhadap Ayahnya selalu menjadi penghalang dirinya melakukan hal itu.
Kemudian Ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Adiknya itu
Tok
Dimas bertanya "Mutiara boleh Aku masuk"
Tetapi orang yang di dalam tidak menyahut panggilan Kakaknya, dan malah Ia dikagetkan dengan suara benda yang dilemparkan ke arah pintunya.
Praang
"Pergi dari sini"usir Mutiara, dan Dimas yang mendengarnya langsung menjauhi pintu tersebut dan kembali ke kamarnya.
Sementara Kirana yang sedang mencuci piring di dapur dikejutkan dengan suara benda pecah dari lantai atas.
"Suara apa tadi Mas?"tanyanya
"A... Paling itu cuma suara gelas pecah oleh anak anak"jawab Hartanto
***
Kemudian matahari bersinar terang menandakan waktu sudah mulai siang, sementara semua penghuni di rumah ini masih terlelap dalam tidurnya karena hari ini adalah hari weekend jadi mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya masing-masing.
Mutiara yang sudah mulai terbangun dari tidurnya berjalan ke kamar mandi dan berendam di bathtub nya
"Ayolah Ara kamu harus sabar dan tegar dalam menghadapi ujian ini, jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan itu tida ada gunanya. Lagian kamu kan perempuan yang kuat dan tahan banting dalam menghadapi ujian sebelumnya masa sekarang kamu jadi lemah gini"gumamnya memberi semangat pada dirinya sendiri.
setelah selesai Ia turun ke bawah dan melihat Bi Idah sedang membuatkan sarapan untuk semua orang.
"Selamat pagi Bi"sapanya sambil memeluk bibi yang dianggap sudah menjadi keluarganya,"kenapa bibi lama banget balik kesini" gerutu Mutiara sambil memanyunkan bibirnya.
"Maafkan bibi non Ara, Anak bibi dikampung sakit jadi bibi harus merawatnya sampai sembuh baru bibi balik lagi kesini"Mendengar penjelasan bibi Idah, Mutiara hanya menjawabnya dengan membuka mulut berbentuk "O".
" Bibi masak apa"?
" Ini bibi masak nasi goreng spesial untuk Non Ara" Bi Idah mempersilakan Mutiara duduk"
Setelah itu semua orang mulai turun ke bawah untuk makan siang bersama, sementara Bi Idah yang sudah selesai masak dan menyajikan makanan kembali ke aktivitas lain yaitu mencuci. Saat Bi Idah sedang memasukkan cucian baju kotor ke dalam mesin cuci, Bi Idah merasa heran dengan sprei dan selimut Den Dimas terdapat bercak darah.
"Kenapa sprei Den Dimas ada bercak daranya"celetuk Bi Idah, dan ucapan Bi Idah masih bisa didengar oleh semua orang yang berada di meja makan tidak jauh dari tempat cucian baju.
Tiba-tiba ketegangan dan kecemasan Mulai melanda ketiga orang yang berada di meja makan itu.
"Bi, darah apa yang bibi maksud"tanya Kirana
" Ini nyonya darah di sprei Den Dimas"
Mendengar pertanyaan dari Mamahya membuat Dimas gelagapan saat menjawabnya"Emmm,I-itu Aku..."
Kemudian Hartanto menyenggol kaki Mutiara dan Dimas di bawah meja.
"Ouh, itu Kakak kemarin malam mimisan?" Ucap Mutiara menyela ucapan Dimas.
"Kenapa kamu bisa mimisan sayang, apa kamu sakit"tanya Kirana
"Mungkin hanya karena kecapean mengerjakan skripsi Mah"balas Dimas dengan perasaan bersalah membohongi Mamah tirinya. Setelah itu terdengar
Ddrrzzz
Kirana memberitahukan kepada Suaminya"Mas, itu ada telepon"
"Aku angkat dulu"kemudian Hartanto menerima panggilan telepon ,namun tak lama Ia kembali lagi.
"Kirana bersiap-siaplah kita harus ke perusahaan sekarang, disana sedang ada masalah" terpaksa Hartanto harus mengajak Istrinya karena jika dibiarkan nanti bisa saja Ia kecolongan, jikalau salah satu dari mereka menceritakan kejadian itu pada Kirana maka bisa saja rumah tangganya bersama Kirana jadi taruhannya.
"Tunggu sebentar Aku ambil tas dulu"sebelum pergi Kirana mencium kening Mutiara,"Mamah pergi dulu sayang cup,dan juga kalian yang akur ya". Suasana pun menjadi tegang kembali, tidak tahan dengan suasananya Mutiara memilih pergi keluar untuk menghindari Kakaknya.
Matahari yang bersinar belum begitu terik cocok untuk melakukan aktivitas berjemur begitu pun yang dilakukan Mutiara, berjemur di tepi kolam renang sambil merendam kakinya walaupun sebenarnya Mutiara tidak bisa berenang. Lain halnya dengan kakaknya yang sedang bersantai di atas balkon kamar sambil menatap serius ke arah laptopnya. Dirasa mataharinya sudah mulai panas Mutiara beranjak dari tepi kolam namun hal yang tidak terduga terjadi
Byuuurrr, Tolonggg
Mutiara tidak sengaja terpeleset hingga tercebur ke kolam renang. Dimas menghentikan aktivitas mengetiknya saat mendengar ada suara orang minta tolong dari arah kolam renang, lalu Dimas melihat kebawah dari atas balkonnya dan alangkah terkejutnya didapati Mutiara yang sudah hampir tenggelam dengan menyisakan tangan ke atas seperti memberikan kode. Dengan seperkian detik Langsung saja Dimas melesat pergi menuju kolam renang untuk menyelamatkan Adiknya
Cebyuuurr
Dimas menceburkan dirinya dan masuk kedalam air, lalu melihat ada Adiknya yang sedang mengambang di bawah air. Dimas membawanya ke permukaan air dan menggendong Mutiara yang sudah tidak sadarkan dan membawanya ke tepi kolam renang untuk memberikan pertolongan pertama pada Adiknya, Dimas mendekatkan telinganya ke mulut dan hidung Mutiara untuk mengecek pernafasan Adiknya apakah masih ada hembusan udara.
"Syukurlah kamu masih bernafas walaupun nafasmu terasa berat" setelah itu Dimas akan melakukan (CPR) resusitasi jantung paru dengan menekan-nekan dada Mutiara namun sayang masih tidak ada respon dari Adiknya saat Ia melakukan CPR, sehingga dengan terpaksa Akhirnya Dimas harus menggunakan cara terakhir yakni memberikan nafas buatan untuk Mutiara.
Ia mulai menjepit hidung Adiknya dan menempatkan bibirnya diatas mulut Mutiara. Dan akhirnya
Uhuk uhuk uhuk
Untung saja Mutiara sudah menunjukkan respon bahwa Ia mulai sadar, lalu Mutiara memuntahkan air yang ada di perutnya. Dimas menghela nafasnya melihat Adiknya sudah sadar, lalu Ia langsung mendekap adiknya dalam pelukannya dan mengelus rambut Mutiara.
"Syukurlah kamu sudah sadar Aku sangat mengkhawatirkan dirimu"ucap Dimas lirih, dan Mutiara hanya bisa membisu saat Kakaknya memeluknya karena kesadaran dirinya belum pulih sepenuhnya. Mutiara merasakan detak jantung Kakaknya yang berdegup kencang dan hembusan nafas hangat Dimas, disitulah Ia mulai menyadari sesuatu"Menjauhlah dariku dan jangan kamu sentuh aku"bentak Mutiara sambil mendorong Kakaknya sekuat tenaga hingga terjukal. "Mutiara aku hanya ingin menolongmu, tidak ada maksud lain sungguh"Dimas mencoba menjelaskan kepada Adiknya tapi Mutiara tidak menggubrisnya dan malah berlari ke Kamarnya.
Sementara Dimas memilih diam membisu tanpa ada rasa marah saat dirinya di bentak Mutiara.
Dan secara diam-diam kejadian tadi di perhatikan oleh BI Idah Dirinya Juga merasa heran dengan perubahan sikap Non Ara kepada Den Dimas yang biasanya selalu penurut dan sekarang malah berani membentaknya, ada apa sebenarnya dengan mereka?"batin Bi Idah Kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.