Little Mom

Little Mom
Bab 16 Lembaran Baru



Sayangnya Lastri tidak bisa berbuat banyak, karena percuma meskipun Lastri meluruskan pemikiran mereka tetap saja mereka keras kepala dan kekeh pada pemikiran mereka sendiri seperti paling benar, Lastri memaklumi hal itu karena kurangnya pendidikan di desanya, sehingga rata-rata pendidikan orang disana hanya sampai SMA sederajat setelah keluar langsung mengurusi ladang orang tuanya dan tidak ada minat untuk kuliah sehingga jarang sekali ada lulusan sarjana disana mungkin hanya ada beberapa orang saja. Termasuk dirinya dan sang suami, beruntung dulu orang tua Lastri tidak memiliki pemikiran kolot seperti mereka, tapi justru pemikiran maju untuk masa depan anaknya. Sehingga Lastri sekarang sangat bersyukur berkat orang kedua tuanya yang menguliahkan dirinya, sekarang dia bisa menikmati hidup tanpa harus Sulit untuk mencari uang, karena Lastri sekarang punya beberapa usaha diantara toko sembako yang di urus suaminya juga beberapa kebun, ladang dan sawah sehingga keluarga mereka sangat segani di desa itu bisa di sebut dengan istilah beunghar kampung.


Di tambah lagi dengan dirinya dan sang suami yang merupakan seorang pensiunan PNS, membuat mereka tidak perlu capek-capek kerja di usia senja karena setiap bulan uang pensiunan jalan, jadi mereka tinggal menikmati masa tua dengan damai bersama cucu dan cicitnya kelak.


Setelah itu nek Lastri pulang dari acara senamnya, dirinya menyuruh suami, cucunya dan Bi Inah untuk berkumpul di meja makan.


Lastri kenapa kamu menyuruh kita berkumpul, ada apa?


Kita sekarang akan melakukan sidang keluarga, yang Akan membahas mengenai masalah ini.


"Maksudnya?"tanya suaminya


"Jadi gini tadi kan aku dengar berita tentang gosip jeng xxx yang anaknya diusir oleh warga sini karena hamil diluar nikah, jujur aku juga kaget pas dengernya dan teringat dengan nasib cucu kita bagaimana? Makanya kita kumpul disini untuk mencari solusi agar warga sini tidak mengetahui tentang kehamilan cucu kita Tirto"jelas Lastri panjang lebar, akhirnya Tirto mengerti dengan ucapan istrinya dan mencoba mencari solusinya.


"Begini saja bagaimana kalau untuk sementara waktu Mutiara kita pindahkan ke kota disana aku akan menyewa rumah, kemudian saat Mutiara sudah melahirkan kita akan membawanya kembali ke desa ini dan membuat acara selamatan atas lahirnya cucu kita bukan cicit kita, dan Ara... Maafkan nenek yah nanti kamu harus menganggap anakmu sebagai Adikmu. Nenek terpaksa melakukan hal itu supaya kelak kalian tetap bersama kita, karena kalian adalah harta paling berharga yang kami punya" kemudian nek Lastri memeluk cucunya, Mutiara juga membalas pelukan dari nenek itu.


Akhirnya semua anggota keluarga telah sepakat dengan rencana Nek Lastri, dan besok kek Tirto akan mengurusi kepindahan Mutiara ke kota sedangkan Istrinya akan mengurusi perlengkapan yang dibutuhkan cucunya sedangkan Bi Inah akan ikut bersama Mutiara ke kota untuk mengurusi cucunya dan menjaganya. Dan nanti sering-sering kek Tirto dan nek Lastri akan mengunjungi cucunya dikota.


***


Mutiara memulai kehidupannya di kota


Minggu-minggu telah Mutiara lewati dan untuk mengisi waktu luangnya, dirinya belajar secara online dan juga mengikuti Kelas ibu hamil private secara rutin, fasilitas itu semua diberikan oleh kakek dan neneknya. Kadang juga Mutiara sering check up kehamilannya rutin ke dokter Frans, yang sudah menjadi dokter kepercayaan kakek dan nenek Mutiara.


Hari weekend Mutiara sedang berjalan-jalan di taman, sambil mengenakan masker dan kacamata. Dan ada juga berapa orang di sekitar sana yang berbisik-bisik membicarakan dirinya, tapi mutiara tidak menghiraukan.


Kemudian Mutiara melihat seseorang yang sangat ia kenali, dirinya mendekati orang tersebut.


"Bro, maaf yah gue gak bisa hadir ada urusan mendadak"kemudian temannya menutup telepon.


"Selamat pagi dokter Frans"sapa Mutiara sambil menepuk punggung dokter Frans.


"Pagi, Mutiara"jawabnya ramah


"Dokter sendirian aja disini?"tanya Mutiara


"Tidak juga, tadinya saya sempat janjian dengan seseorang hanya saja orang itu tidak bisa hadir"


"Jadi jika kamu mau kita jalan-jalan yuk"ajak dokter Frans.


"Mau dok yuk"Mutiara langsung menjawab tanpa pikir panjang. Mereka bersama berjalan-jalan di sekitaran taman, karena mereka berdua memang sudah akrab.


Setelah capek berjalan jalan Mutiara duduk di bangku taman, kemudian dokter Frans menghampirinya untuk memberika air botol minuman pada mutiara.


"Ini minumnya mutiara"


"Terima kasih dokter Frans"dan Ia menerima. Saat hendak minum dirinya melihat anak kecil sedang makan eskrim sambil menjilatinya, Mutiara yang melihatnya sampai ngiler entah kenapa? tapi saat ini ia sangat ingin makan eskrim itu.


Dok Frans yang melihatnya hanya tersenyum kemudian mengajak Mutiara membeli eskrim.


"Kamu mau beli eskrim" Mutiara hanya mengangguk kepada.


Sesampainya di rumah, ternyata kakek dan neneknya sudah berada di Rumahnya.


"Kakek, Nenek"panggil Mutiara


"Ara sini peluk nenek"


"Bagaimana kabarmu nak, saat kami tidak ke sini"


"Aku baik nek, Bi Inah mengurusku dengan baik"


"Oh yah, ini dokter Frans tadi dia yang mengantarku pulang nek"


"Benarkah? terima kasih nak Frans, kita masuk ke dalam yuk untuk ngobrol-ngobrol sebentar"ajak nek Lastri


Kemudian dokter Frans menerima ajakan dari nek Lastri. Dan dirinya melihat-lihat beberapa foto yang menempel didinding itu


Termasuk foto Mutiara yang sedang berfoto dengan kedua orangtuanya, tapi yang paling ia perhatikan adalah foto ibunya Mutiara.


"Nak Frans ?"ucap kek Tirto, seketika Frans langsung tersadar dari lamunannya.


"Sini ngobrol sama kakek"


Sementara itu Mutiara sedang membawakan minuman untuk kakeknya dan dokter Frans, sedangkan neneknya sedang membantu Bi Inah memasak di dapur.


"Ini silakan diminum"ucap Mutiara setelahnya mereka kembali melanjutkan obrolannya dan Mutiara kepada kedapur.


"Nek, Bi aku bantuin yah"


"Jangan, kamu pasti capek karena udah jalan-jalan. Jadi kamu istirahat aja, ingat loh yang ada diperut"


"Iya nek"


Kemudian Mutiara memilih menonton TV sambil istirahat.


"Kakek kayaknya udah akrab banget ngobrol sama dokter Frans, sampai kedengaran suara ketawa mereka dari ruang tamu"


"Setelah beberapa lama kemudian nek Lastri memberitahukan kepada suaminya makan siang sudah siap"


"Nak Frans ayo ikut makan siang bersama kami"


Frans yang tidak enak menolaknya akhirnya menuruti ajakan kek Tirto.


Mereka semua berkumpul di meja makan bersama, menyantap makanan yang telah dihidangkan terutama Mutiara yang sangat lahap sampai nambah porsi makannya terus.


Semua orang yang melihatnya hanya menggelengkan kepala, melihat pipi Mutiara yang penuh dengan makanan.


Mohon dukungannya dengan cara like, vote, favorite ,dan beri hadiah untuk memberi semangat authornya, dan mohon maaf juga jika masih ada typo dalam penulisannya😅


Terimakasih 🤗