
Kemudian Dimas mempererat genggaman tangan adiknya saat mutiara hendak melepaskannya. Tiba-tiba terdengar MC suara mempersilakan hadirin yang sudah datang untuk duduk pada kursi yang telah dipersiapkan, mendengar intruksi MC tadi Dimas dan mutiara segera mencari tempat duduk yang nyaman. Setelah itu datang cewek-cewek kehadapan Dimas untuk menggodanya.
"Hai ganteng"salah satu cewek itu berusaha menggoda dirinya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Sementara Dimas di dalam hatinya bergidik geli memperhatikan bocil-bocil itu yang menggodanya, tapi ada salah satu satu dari cewek centil itu sedang memperhatikan Mutiara.
"Ni, cewek kaya nggak asing deh"batinnya.
Sementara Mutiara merasa gemetaran lagi saat dirinya ditatap olehnya. Tapi tiba-tiba MC mengawali acaranya dengan membacakan agenda-agenda acaranya, dan dibuka oleh kepala sekolah.
Dengan semua yang hadir bertepuk tangan.
Saat di tengah-tengah acara tiba-tiba nama Mutiara disebut sebagai siswa yang mendapatkan nilai NEM paling besar dari seluruh siswa, karena itu dirinya disuruh untuk ke atas panggung. Semua orang yang berada disana tercengang ternyata cewek cantik yang menjadi bahan pembicaraan tidak lain adalah Mutiara teman mereka sendiri yang tidak disadari oleh mereka.
Kakaknya Dimas merasa bangga terhadap adiknya, dan pas saat momen itu juga Dimas menerima suatu barang dari kurir, barang yang dimaksud adalah buket bunga pesanan dirinya, dengan niat hati untuk diberikan kepada Mutiara. Saat dirinya duduk kembali di dekat kakaknya, setelah selesai dengan penyerahan hadiahnya.
Kemudian Mutiara hendak duduk kembali ke tempatnya tapi setelahnya Dimas memberikan buket bunga kepada adiknya. Semua orang yang hadir di tempat itu terbawa perasaan melihat adegan yang dipikir mereka so sweet.
Saat di akhir acara Mutiaranya pamit ke kakaknya untuk pergi ke toilet, Dimas hanya menganggukkan kepala mendengarnya.
Mutiara pun berjalan ke arah toilet, dan tiba-tiba ada beberapa orang yang mengikutinya dari belakang. Mereka adalah teman-teman mutiara yang waktu itu merundungnya, dirinya merasa ketakutan saat mereka mulai mendekatinya.
"Ouh, jadi cewek cantik ini adalah kamu Ara."goda cowok laki tadi yang hendak berjabat tangan, mengelus pipi Mutiara.
"Benar dugaanku ternyata itu kamu, pantas saja aku merasa tidak asing dengan wajah"sahut cewek tadi yang memperhatikan mutiara.
"Wah, wah ternyata lo berani ya datang sini, pakai ditemani Kakak lo segala lagi, Gue pikir lo gak akan datang ke sini"kemudian salah satu cewek itu menyeramkan air Wastafel ke arah wajah Mutiara.
sementara itu Dimas yang heran dengan adiknya karena belum kembali akhirnya menyusulnya, dan alangkah terkejutnya Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri adiknya sedang dirundung, dan di saat bersamaan salah satu cowok itu hendak menampar Mutiara, tapi tangannya ditahan oleh Dimas. Dan Dimas memutar pergelangan tangan cowok itu hingga terkilir.
Krak
Cowok itu meringis kesakitan"ouch"
Sementara Dimas menatap mereka dengan mata nyalang,Tangannya mengepal dan wajahnya menggambarkan amarah yang menyala-nyala.
"Jadi selama ini adikku seperti ini karena kalian"terik Dimas yang membuat beberapa orang di hadapan ketakutan, kemudian Dimas menarik kerah jas bocil itu dan
Bughh
Dimas melayangkan Bogeman mentah cowok itu.
Plakk, plakk
Dan juga Dimas melayangkan tamparan ke arah cewek-cewek itu. Sementara Mutiara hanya berdiri di pojokan sambil menangis, karena merasa ketakutan juga dengan Kakaknya ketika dia sedang marah.
"Sudahlah jangan menangis Mutiara"ucap Dimas sambil mengelus punggung Adiknya.
Kemudian Dimas membuka jas hitamnya dan menyelimuti tubuh Mutiara yang hanya mengenakan kebaya tipis dan basah karena di siram oleh salah satu cewek tadi. Lalu Mutiara saat hendak berjalan tiba-tiba kakinya terpeleset dan hampir jatuh beruntung Dimas dengan sigap menangkap tubuh Adiknya dan tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh Mutiara dan membopongnya.
Sementara Mutiara hanya pasrah karena kakinya benar-benar mati rasa, Dimas berjalan menelusuri setiap kolidor sekolah itu hingga dan semua orang yang melihat menatapnya terkejut, dan kemudian Kepada sekolah menghampiri mereka dan bertanya"ada apa dengan Mutiara", tapi Dimas menatap tajam penuh amarah kepada kepala sekolah tersebut.
Setelah itu Dimas berterik kepada semua orang yang sedang berkumpul dalam lapangan itu"Siapapun yang membuat Adikku seperti, mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal dari keluarga "HARTANTO RAMOS WIJAYA"
Saat mendengar kata Hartanto Wijaya Ramos mereka semua terkejut dan gemetaran, termasuk Kepala sekolah yang ada di hadapan mereka.
Bagaimana mereka tidak terkejut ,karena semua orang yang ada di sana sudah mengetahui tentang Hartanto selalu pemilik dua perusahaan besar yakni Ramos Corp dan Wijaya Group. karena Ibu dan Ayah Hartanto dua-duanya merupakan kalangan pengusaha, Ayahnya yang berasal dari spayol sedangkan Ibunya dari Indonesia. Sehingga tidak heran Ayahnya Dimas sering masuk di majalah Forbes.
Tetapi mereka tidak mengetahui terlalu banyak mengenai Hartanto, setahu mereka Dia hanya miliki satu anak tunggal laki-laki itu pun mereka tidak mengetahuinya siapa namanya karena keluarga mereka sangat tertutup.
Setelah itu Dimas kembali buka suara"Ada juga ikut bersalah dalam hal ini"kemudian Dimas berjalan pergi meninggalkan Kepala sekolah yang sedang berdiri mematung dengan keringat yang bercucuran deras di wajahnya.
***
Saat berada di dalam mobil, Dimas membuka suara untuk memecah keheningan" Mutiara Aku sangat bangga padamu, dan juga tadi Aku melihat nilai ijazah mu sangat bagus sekali."puji Dimas sambil mengelus rambut Mutiara, tapi Mutiara langsung menepis tangan Dimas.
"Untuk apa Aku mendapatkan ijazah bangus sedangkan masa depanku sudah hancur olehmu"sindirnya.
Sementara Dimas hanya diam membeku mendengar ucapan Adiknya itu.
Setelah sampai di parkiran rumahnya Dimas segera membukakan pintu untuk mutiara, kemudian Dimas memapah mutiara menuju kamarnya agar mutiara bisa beristirahat, setelah itu Dimas menelpon seseorang untuk meminta bantuan kepadanya.
"Tolong kamu selidiki masalah ini, juga siapa saja yang terlibat dalam kasus perundungan Adikku beri mereka pelajaran".
Sedangkan di kamar lain Mutiara, sedang menangis tersendu-sendu memikirkan kejadian tadi yang membuatnya ketakutan.
"Untung saja tadi kakak datang, kalau tidak aku sudah tidak tahu mereka akan ngapain Aku lagi"gumam mutiara.
_
Hari menjelang sore, mutiara sedang berjalan-jalan di sekitar perumahan elit. Namun saat dirinya hendak pulang mutiara dikagetkan dengan pertengkaran dua wanita di sebelah kiri rumahnya, Walaupun tidak berdekatan tapi suara pertengkaran itu terdengar jelas.
Lalu ia penasaran dan mendekati rumah tetangganya itu, tapi saat ia mendekati ternyata banyak orang juga yang sudah berkumpul di sana.
"Ada apa sih sampai rame-rame begini terkumpul"kemudian mutiara mencoba masuk dalam kerumunan yang didominasi ibu-ibu.
"Permisi Bu,Pak mau lewat, duh sempit banget deh"gerutu mutiara, sambil mengibas-ngibaskan tangannya.