Little Mom

Little Mom
Bab 25 Menelpon Mamah



"Nek Lastri itu bayi siapa"tanya tetangganya.


Mendengar pertanyaan itu Mutiara hanya menundukkan kepala sambil menggenggam tangan kakeknya karena was-was, takutnya mereka curiga kepada dirinya dan bayinya.


Disaat itu pula Nek Lastri membuka suara dan berbicara dengan nada lirih"para warga sekalian saya mau menyampaikan sesuatu yakni tentang bayi yang ada di gendongan saya adalah cucu kedua saya setelah cucu pertama saya Mutiara, mereka berdua sekarang akan tinggal disini bersama kami karena... huhuhu anak saya Devan, sekaligus ayah mereka sudah tiada, makanya kami membawanya kemari karena disana mereka tidak ada yang mengurus"mereka semua yang mendengar penuturan dari Nek Lastri merasa sedih. Lain halnya dengan Mutiara, Tirto, Inah mereka bertiga tercengang setelah mendengar sedikit kebohongan yang Lastri ucapkan.


"Lastri aktingnya luar biasa, natural sekali"puji Tirto dalam hatinya.


Tapi dibalik itu semua sebenarnya Lastri memang sedang menangis dalam hati, mengingat anak satu-satunya yang ia miliki telah tiada. Membuat air matanya menetes karena penyesalan yang Ia lakukan dulu kepada anaknya. Walaupun cara penyampaiannya harus sedikit dibungkus kebohongan, tapi percayalah air mata Nek Lastri adalah bentuk penyesalannya.


"Nek, kami turut berbela sungkawa"ucap salah satu tetangganya dan diikuti dengan yang lainnya, sementara Lastri tanpa mempedulikan semua orang langsung ia masuk kedalam rumah.


"Ara pergilah istirahat dikamar dengan pelangi,nenek juga mau istirahat" lalu Mutiara mengambil Pelangi yang sedang tertidur dari gendongan neneknya.


*Saat dikamar Mutiara


Mutiara membaringkan tubuhnya di samping anaknya sesekali ia mengelus rambutnya juga mencium pipi Pelangi yang sedang terlelap tidur, saat sedang memandangi Pelangi tiba-tiba ia teringat dengan Mamahya yang selama beberapa bulan lamanya Mutiara tidak mengabari Mamahya.


"Apa aku telepon Mamah yah? menanyakan kabar atau sekitar mengobrol gitu sudah lama sekali aku tidak menghubungi mamah semenjak aku keluar dari rumah itu, dan sekarang aku sangat merindukannya"gumam Mutiara, Lalu ia mengetik nomer hp Mamahya yang masih ia ingat. Tapi sebelum itu Mutiara mengunci pintu kamarnya dulu supaya Neneknya tidak mendengar percakapan ia dan Mamahya ditelpon, karena jika sampai Neneknya mengetahui Mutiara menghubungi Mamahya maka pasti ia akan dimarahi oleh Neneknya bahkan mungkin hpnya bisa sampai disitu, karena sampai sekarang hubungan Neneknya dengan Mamahnya masih kurang baik.


Tuutt...


Begitulah bunyi hp Mutiara yang sedang berdering, untungnya teleponnya tersambung dan Mutiara menunggu Mamanya mengangkat panggilan darinya.


"Hallo, ini dengan siapa ya?"tanya Kirana dalam panggilan nomer tidak diketahui dari siapa.


"Mah ini Mutiara yang hubungi hehehe..."balasnya


"Ouh, ini nomor Ara yang baru pantesan Mamah gak tau ini telepon dari siapa. Oh yah bagaimana kabar kamu nak selama dirumah Neneknya, kenapa kamu baru ngehubungi Mamah sekarang? Mamah kan jadi rindu sama Ara. Padahal Mamah sering menghubungimu tapi tidak tersambung"tutur Kirana panjang lebar, ia merasa gembira sekali anaknya bisa menghubungi dirinya, karena selama ini sering menunggu telepon dari Mutiara selama berbulan-bulan lamanya, karena Kirana tidak berani jika harus menghubungi Anaknya lewat mantan mertuanya (Lastri) yang masih bersih tegang dengannya.


"Kabar Ara Alhamdulillah baik, Mamahya juga gimana kabarnya? Maafkan Ara, baru menghubungi Mamah sekarang soalnya... HP Ara rusak terus sekarang baru dibeliin hp sama Nenek" dengan terpaksa Mutiara harus berbohong dengan mengatakan hpnya rusak padahal sebenarnya hpnya dicopet bersama dompetnya saat berada di terminal bus.


"Siap Mah... Nanti Ara sering telepon bahkan mungkin setiap hari Mutiara sempetin telepon Mamah, tapi mungkin pas tidak ada Nenek Ara telepon yah"jelasnya


"Iya gak papa nanti Mamah yang nunggu telepon dari kamu, lagian Mamah udah tau pasti si Lastri ini ngelarang kamu untuk menghubungi Mamah kan "decit Kirana kesal kepada mantan mertuanya yang selalu saja ikut campur dalam urusan rumah tangganya dulu bersama mantan suaminya Devan, dan sekarang dia masuk dalam hubungan antara Kirana dan Mutiara untuk apa lagi kalau bukan memisahkan ikatan ibu dengan anak, hanya karena ketidak sukaan Lastri kepada Kirana yang selalu menganggapnya mantan Menantu durhaka.


"Aduh... Kenapa sih aku harus terlibat dalam pertikaian mereka yang selalu membuatku merasa tidak nyaman, kapan Mamah dan Nenek bisa berdamai dan menjadi keluarga yang rukun walaupun mereka mantan mertua dan menantu ,pasti hidupku menjadi lebih bahagia jika mereka akur"batin Mutiara dalam lamunannya.


"Hallo Ara, ini masih terhubung teleponnya"tanya Kirana karena sejak tadi ia tidak mendengar suara anaknya.


"Iya Mah ini masih terhubung kok"


"Oh yah Ara sekarang Kakakmu Dimas sudah lulus diwisuda dan sekarang dia pindah ke kota lain untuk bekerja menjadi dokter disana, jadi dirumah ini sepi sekali karena tidak ada kalian berdua huh"keluh Kirana , tapi justru Mutiara yang mendengar Mamahya menyebutkan Kak Dimas malah tersenyum kecut tidak suka kepada Kakaknya, Mutiara tidak peduli dengan kabar Dimas. Karena hatinya masih terasa sakit mengingat perbuatan Kakaknya kepada dirinya, hingga lahirnya putri kecilku atas perbuatan dirinya kepadanya hingga saat ini masih membekas di hidup Mutiara tidak akan bisa hilang walaupun seiring berjalannya waktu.


"Ara gimana sekolahmu disana, apa kamu dapat peringkat disana"tanya Kirana dan membuat Mutiara bingung harus menjawab apa tidak mungkin kan ia mengatakan dirinya tidak sekolah karena hamil sehingga mengharuskan dirinya cuti dulu dari sekolahnya, tapi mau tidak ia harus menjawab pertanyaan Mamahya jika tidak maka Mamahnya bisa curiga anaknya menyembunyikan sesuatu darinya,


"I-itu...emm belum Mah soalnya ujian kenaikan kelas juga belum diadakan"Dan lagi-lagi ia harus berbohong untuk kedua kalinya, seolah mulutnya sudah terbiasa mengatakan kebohongan demi kebohongan. Kata orang jika sekali seseorang sudah berkata bohong untuk menutupi kebenaran, maka ia akan menambah lagi kebohongan yang lain untuk menutupi kebohongannya. Dan sekarang hal ini yang dialami oleh Mutiara, terus-terusan terjebak dengan keadaan rumit yang mengharuskan dirinya menutupi kebenaran demi menghindari situasi yang akan menyeret Mutiara dan anaknya dalam konflik dua keluarga yang juga akan berbahaya bagi mereka berdua.


Oeeee...


Suara tangisan Baby Pelangi membuat Mutiara terkejut dan langsung menyumbat lubang suara telepon dengan tangannya supaya Mamahya tidak mendengar tangisan anaknya"Mah nanti aku telepon lagi"ucap Mutiara langsung memutuskan panggilan telepon dari Mamahya.


"Hallo"


"Yah sayang sekarang panggilannya telah diputus oleh Ara, tapi kok tadi aku dengar samar-samar ada tangisan bayi atau aku hanya salah dengar, yaudah lah nanti aku tanyain sama Ara"batinnya


Sementara itu Mutiara memeriksa popok bayinya ternyata masih bersih"Oh... Pelangi lapar yah, tunggu sebentar mamah hangatkan dulu ASInya dari freezer"Mutiara Langsung bergegas kedapur untuk membuat ASI ke Dot botol untuk di diminum Pelangi, begitulah aktivitas Mutiara dalam mengurusi bayinya dari pagi hingga malam hari. Beruntungnya Mutiara dibantu Nenek dan Kakeknya serta Bi Inah yang selalu bergantian dalam Membantu Mutiara mengurusi Baby Pelangi.


Hallo guys πŸ€— aku up lagi setelah sekian lama tidak up,maaf ya guys πŸ™.


tapi nanti untuk kedepannya author akan lebih sering up lagi😊, jadi nantikan kelanjutannya 😘.