
Lista menelan ludah, rasanya sudah seperti selangkah lagi dengan apa yang dia cari. "Kalau begitu di mana kemungkinan surat kedua, Bian?"
Yang ditanyai malah terkejut, menatap heran. "Aku tidak tahu. Makanya sekaranh aku mau tanya padamu. Aku kira kau akan tahu sesuatu berhubung kau si penerima surat. Aku hanya memberi sedikit petunjuk yang mungkin berhubungan dengan letak surat kedua. Mungkin kau ingat sesuatu."
Lista langsung menepuk dahinya. Sia-sia dia berharap tadi. Padahal dia begitu antusias beberapa saat yang lalu, namun seketika rasanya semua itu menguap hilang. "Aku pikir kau tahu di mana, Bian. Aku sudah terlanjur senang."
"Apa Lista tidak tahu apapun, tentang karakter game ini?"
"Aku hanya tahu dia memiliki komputer lama di kamarnya. Tapi hanya itu. Aku tidak tahu lebih."
Buntu. Mereka sekali lagi mendapat jalan buntu. Ian, entah apa yang dipikirkannya hingga membuat teka-teki seperti ini sebelum dia pergi.
Bian menoleh, jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tidak baik terus berada di rumah perempuan yang sendirian hingga malam. Akhirnya, dia memutuskan pulang. Diskusi yang mereka lakukan tidak menemukan titik terang. Isdernus 12 masih belum terpecahkan. Meski sebenarnya, jarak mereka dengan pemecahan teka-teki sudah terbilang begitu dekat.
"Aku pulang dulu, maaf mengganggumu malam-malam." Bian berpamitan.
"Terimakasih karena ikut membantuku, Bian."
Bian mengangguk, tersenyum simpul kemudian berbalik, melangkah pulang.
***
Keesokan pagi. Bel rumah Tante Mirna berbunyi tiga kali. Tante Mirna yang membuka pintu kali ini. Lista, dia datang sambil membawa tumis ikan yang dia buat. Balasan terimakasih atas makanan semalam. Tante Mirna berterimakaih lantas menyilahkannya masuk, mengajaknya sarapan bersama. Kebetulan Tante Mirna juga baru saja selesai memasak sarapan, sup yang dia masak tadi sudah matang.
Bian sudah semenjak tadi bangun, duduk di ruang tengah. Dia sedang menunggu Tante Mirna membuat sarapan sambil menonton TV.
"Pagi, Bian." Lista menyapa.
Bian menoleh, "Pagi, Lista."
"Ayo sarapan Bian, Lista membuat tumis ikan. Kau tidak ingin mencicipinya, Lista pintar memasak loh."
Tidak usah disuruh dua kali, Bian langsung beranjak dari sofa ruang tengah. Mengekor pada Tante Mirna menuju meja makan. Bau gurih tumis ikan segera menguar, membuat lidah ingin segera mencicipinya.
"Wah, Lista memang pintar memasak ya. Ini enak," puji Bian. Dia lahap memakan tumis ikan buatan Lista. Perkedel dan sup buatan tantenya juga tidak luput dia makan.
Lista hanya tersenyum, senang seseorang menyukai masakannya.
"Karena sering ditinggal ibunya. Lista jadi harus memasak sendiri. Dan lama-lama dia pandai dalam memasak." Tante Mirna menjelaskan, sambil menyisihkan tulang ikan, lantas memakan dagingnya.
"Ah, ngomong-ngomong. Bian, kau akan kuliah dimana?" Lista tiba-tiba pindah topik, membicarakan tentang kuliah. Maklum, Bian dan Lista baru saja lulus dari sekolah menengah atas.
Bian seketika teringat apa yang dikatakan ibunya sebelum pulang. "Oh iya Tante, aku nantinya akan kuliah di sini."
Tante Mirna yang mendengar perkataan Bian terkejut sekaligus senang. "Itu artinya, Bian juga ikut ibu dan ayahmu pindah ke sini?"
Bian mengangguk sambil mengunyah makanannya.
"Tante pikir, Bian akan tetap kuliah di kota sana. Ternyata tidak."
"Jadi, kau akan tinggal di sini sekarang?" Lista bertanya, dia juga ikut terkejut. Dia pikir, Bian akan sementara saja di sini, dan akan kembali suatu hari. Bian menjawab dengan anggukan.
"Ibu bilang mau beli rumah yang dijual di seberang jalan sana. Rumahnya Pak Aini, Pak Aini mau ikut anaknya ya kalau gak salah ke Batam? Beruntung ada rumah yang dijual di dekat rumah Tante."
Meja makan itu beberapa saat diisi oleh percakapan ringan. Tentang kepindahan Bian dan keluarganya, persiapan Lista dan Bian untuk tes masuk perguruan tinggi akhir bulan nanti. Sesekali tertawa dengan gurauan dan lelucon. Sejenak, kepergian Ian, surat dari Ian untuk Lista, dan teka-teki di dalamnya terlupakan. Mereka berbincang hangat di atas meja makan. Terhitung baru tiga hari setelah kepergian Ian. Tapi rumah itu sudah bisa kembali merasakan kehangatan sebuah keluarga.
Duka yang diterima memang sulit untuk dihilangkan. Tapi bukan berarti kebahagian tidak berhak untuk diterima dikala duka masih terbawa. Bila saja mereka tahu. Ian telah mempersiapkan banyak hal sebelum kepergiannya, beberapa kebahagiaan untuk orang-orang yang menyayanginya. Dan jika mereka sadar, percakapan hangat di atas meja makan itu adalah salah satunya.
***
Hingga seminggu terlewat. Teka-teki itu masih meninggalkan jejak tanya. Isdernus 12 masih belum bisa terpecahkan. Petunjuk bahwa Isdernus 12 adalah nama karakter game juga tidak membantu. Bian dan Lista tidak bisa menemukan relasi antara daerah pertokoan pusat kota dengan dua belas Kesatria Arthur yang menjadi karakter dalam game.
Lista mengetuk-ngetuk bukunya dengan pensil. Bian dan Lista sekarang berada di ruang tengah rumah Ian, sedang belajar untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi.
"Aku tidak bisa yang ini, Bian." Lista menyodorkan bukunya, dia kesulitan menjawab salah satu soal.
"Kau bisa pakai turunan, biar lebih simpel. Limit x mendekati nol ini, coba kau turunkan lalu masukkan nilai phi nya. Kau akan menemukan 2/3." Bian mengajari.
Lista ber-oh pelan kemudian menarik lagi bukunya. Mencoba cara yang dianjurkan Bian. Dan benar, dia menemukan hasil yang sama nilainya dengan yang disebutkan Bian.
"Kalau yang ini Lista." Gantian Bian yang kesulitan mengerjakan soal, menyodorkan bukunya.
Pukul sebelas siang, dua setengah jam berkutat dengan soal-soal latihan, mereka menyerah. Lelah. Meletakkan pensil, Bian berbaring di atas karpet, sedangkan Lista menyadar pada sofa. Sepertinya otak mereka sudah lelah dengan rumus yang berjibun itu. Tante Mirna kemudian datang, membawa cemilan dan minuman dingin, baru saja dari supermarket. Bian dan Lista tidak perlu ditawari langsung membuka cemilan yang dibelikan. Tante Mirna terkekeh melihat tingkah mereka, delapan belas tahun tapi masih ada sifat anak kecilnya. Kalau dilihat-lihat, sepertinya Tante Mirna sudah jadi ibu baru bagi mereka.
"Sampahnya nanti dibuangnya," ucap Tante Mirna mengingatkan.
"Siap, Tante." Bian dan Lista menjawab serempak dengan memberikan hormat lantas tertawa.
Tante Mirna sekali lagi terkekeh, menggeleng-gelengkan kepala pada dua anak remaja itu. Ini terhitung satu minggu lebih semenjak kepergian Ian. Dan tidak terduga, Bian dan Lista juga sudah jauh lebih akrab ketimbang pertama kali berkenalan dulu. Seperti sudah mengenal lama, mungkin karena seminggu lebih ini mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Hampir setiap hari mereka ada di rumah Ian, bercengkrama dengan Tante Mirna, berlagak sudah seperti rumahnya sendiri.
Meski begitu, bagi Tante Mirna hal itu bukanlah masalah. Malahan, Tante Mirna senang dengan kehadiran mereka. Rumah itu tidak terasa sepi baginya karena keberadaan Lista dan Bian.
"Jadi, bagaimana nih nasib si Isdernus 12? Belum ada kejelasan?" Lista tiba-tiba bertanya, mereka akhirnya kembali membahas topik yang krusial seminggu ini.
Bian mengangkat bahu, jawabannya masih sama. Tidak tahu.
Lista menghela napas panjang. Dia tidak berbeda dengan Bian. Belum menemukan petunjuk apapun lagi. Jejak tanya itu masih sama, belum bisa terjawab.
"Mau main game itu?" Bian menawari. "Barangkali kau akan menyadari sesuatu di dalamnya?"
Lista sejenak berpikir, itu mungkin saja. Lista bisa menemukan suatu kemungkinan bila memainkan game lama itu. Dia akhirnya mengangguk setuju, menerima tawaran Bian.
Kamar Ian yang sementara dipakai Bian selama tinggal di sana masih tertata rapi, belum ada perubahan yang signifikan. Bian tidak ingin merubah tatanan di kamar itu. Lemarinya bahkan masih terkunci, Bian masih menaruh baju di dalam kopernya. Hanya tempat tidur, komputer, dan meja belajar saja yang disentuh Bian. Lainya, dibiarkan seperti awal dia datang.
Bian menghidupkan komputer, lantas menawari Lista untuk duduk di kursi. "Kau pernah main?"