Last Game

Last Game
Surat Ketiga



Ruang belakang kemudian lengang sesaat setelah Jek selesai di ujung ceritanya. Kemudian dia menyodorkan sebuah amplop coklat, tanpa nama di belakangnya, hanya angka '2' ditulis dengan spidol hitam tebal. Bian menatapnya lama.


Sekarang Lista ingat. Dia pernah bertemu dengan Jek sebelumnya. Ian dulu mengajaknya ke sini. Orang dengan wajah garang yang berbicara dengan Ian dulu adalah Jek. Lista, masih tidak menyangka kunjungannya dengan Ian ke BeanShop dulu adalah untuk teka-teki ini. Jadi memang benar, Ian menyiapkan sebelum kelulusan. Saat dia masih sehat-sehat saja.


"Aku bersumpah kalau aku tidak pernah membukanya mulai dari hari Ian memberikan sampai sekarang. Jadi aku tidak tahu apa isinya." Jek menjelaskan. Tampilan luarnya saja yang garang, tapi sifatnya baik, ramah, dan dapat dipercaya. Dia menghargai betul privasi orang lain.


"Kalian tidak mau membukanya?" tanya Jek yang melihat kebungkaman Bian dan Lista. Dua oramg itu sama sekali belum menyentuh amplop coklat itu. Mereka pikir, mereka akan senang begitu mendapat surat yang kedua. Tapi rasa sesak itu kembali, setelah mendengar cerita dari Jek.


Setelah beberapa saat, Bian menoleh pada Lista yang masih mengapit mulutnya, belum berbicara apapun. "Hey, kau mau aku yang membukanya?"


Lista memandangnya sebentar, lalu mengangguk pelan.


Bian menghela napas panjang sebelum membuka amplop coklat itu.


*Selamat karena berhasil memecahkan teka-teki pertama :)


Untuk surat ketiga ada di tempat yang disukai Lista


Dan kalian harus cari hari ini juga!


Nikmati pencarian itu, maka kalian akan menemukannya*.


Bian termenung, kali ini dia di jejali lagi oleh tanda tanya. Permainan ini belum selesai. Jika ini seperti game di komputer, maka mereka telah selesai mencapai level satu. Level selanjutnya, mereka harus memikirkan lagi bagaimana menemukan surat yang ketiga. Ini level up, permainan semakin sulit. Hanya ada satu petunjuk, tempat yang disukai Lista. Dan peringatannya, mereka harus menemukannya hari ini.


"Apa isinya?" tanya Lista, penasaran.


"Kita suruh cari surat ketiga."


"Surat lagi?" Lista menepuk jidatnya. Tidak mengira permainan ini belum selesai.


"Dan kita harus menemukannya hari ini." timpal Bian.


Lista langsung terjingkat, "Yang benar saja, kita bahkan butuh dua minggu untuk menemukan surat yang kedua."


"Katanya, surat ketiga di tempat yang kau suka. Mungkin ini akan jauh lebih mudah."


"Heh, tempat yang aku suka?"


Bian mengiyakan singkat. Sesaat kemudian dia melipat surat tersebut dan hendak memasukkannya lagi dalam amplop coklat. Hingga matanya menangkap tulisan di halaman belakang surat, gerakanya terhenti. Dia membacanya.


Kemudian Bian memandang ke arah Jek setelah membaca kalimat di halaman belakang itu. Ada daut sebal yang dia tujukan pada Jek. Membuat Jek terheran-heran kenapa Bian menatapnya seperti itu.


"Kenapa tulisan yang lebih panjang ini malah tentangmu sih, Jek. Sedangkan tulisan yang berisi petunjuk untuk kami malah sedikit," keluh Bian. Dia mendengus, kemudian memasukkan lagi surat dalam amplopnya.


Jek tertawa, mengangkat bahunya. "Mana aku tahu, terserah Ian dong."


***


Mereka berdua kemudian pamit. Berterimakasih pada Jek dan berjanji akan kembali lagi besok untuk memberikan kotak berisi action figure yang tersisa. Lista sudah tidak takut lagi kalau bersitatap dengan Jek sekarang, dia sudah tahu kalau hanya tampang Jek saja yang seram, sikapnya baik.


"Jadi, pada akhirnya aku tidak bisa langsung pulang begitu mendapat surat kedua." Bian menggerutu. "Kau katanya ingin ke beberapa tempat tadi, sekalian kita ke tempat yang kau suka juga. Kita sekalian cari surat yang ketiga."


"Di tempat yang aku suka ya?" Lista mengelus dagunya, memikirkan tempat mana yang disukai dan sekaligus kemungkinan tempat surat tiga berada. Matanya menelusuri sekitar. Pusat pertokoan ini masih ramai. Ini hari minggu, banyak orang mengisi hari liburnya.


Dia mulai memikirkan berbagai tempat yang dia suka kunjungi. Satu, dua, tiga, list tempat yang dipikirkan samakin banyak.


"Aduh Bian, bagaimana ini?" Liata mengusap mukanya, ada nada rasa resah terdengar.


"Apa? Kenapa?"


"Sepertinya akan sulit kita mencarinya. Aku punya banyak tempat yang aku sukai. Bagaimana ini? Aku suka mampir ke SinEs yang aku sempat bilang tadi, ke toko alat panah kakak kelasku, ke perpustakaan kota, ke tempat game arcade, ke toko aksesoris di dekat sekolah—" Lista menyebutkan tempat mana saja yang dia sukai, dia menghitungnya satu persatu dengan jari.


"Wow-wow tunggu dulu," Bian menyela, "Yang kau sebut tadi banyak yang berlawanan arah. Perpustakaan jauh dari sini. Apalagi sekolahmu, berlawanan arah malah dengan perpustakaan."


Lista tidak tahu lagi. Dia memang suka banyak tempat, Ian tahu itu. Sejak pertama kali membaca Lista sudah sempat berpikir ini akan sulit. Dan ditambah lagi waktu mereka hanya hari ini. Masih empat belas jam sebelum hari berganti, dan mereka harus segera menemukan surat ketiga. Entah bakal kenapa nantinya jika mereka tidak bisa menemukannya hari ini. Mungkin surat itu akan hilang, dibuang, dihancurkan. Mereka tidak tahu.


Lista jadi gelisah ketika memikirkan kemungkinan mereka tidak menemukannya hari ini.


"Kau yakin tidak ada salah satu dari banyak tempat itu yang paling, paling dan sangat kau sukai?" Bian sedang memastikan, ingin mempersempit pilihan. Akan repot kalau mereka harus kesemua tempat itu hari ini.


"Aaa, aku suka semuanya." Lista jadi bimbang.


"Huh, baiklah Lista. Kita mungkin nanti akan pulang terlambat. Kita akan mengunjungi semuanya." Bian akhirnya pasrah, memilih opsi yang merepotkan. Mengunjungi semua tempat yang disukai Lista satu per satu.


Lista hanya melongi mendengar keputusan Bian barusan. "Beneran ini? Capek dong harus ke sana kemari."


Bian kemudian menepuk kepala Lista, tersenyum simpul. "Ingat di akhir surat tadi. Ian menulis, 'nikamati pencarian kalian'. Jadi kau nikmati saja sekalian, berhubung semua itu juga tempat-tempat yang kau suka."