Last Game

Last Game
Coba Tebak



Surya sudah sejak beberapa jam lalu menyingsing. Lalu lalang kota ramai oleh orang-orang yang sedang berakhir pekan . Laki-laki itu masih menunggu. Punggunnya bersadar pada dinding, telinganya tersumbat earphone yang menyetel lagu 'More Than Friends' yang dinyanyikan Jason Mars. Sesekali angin jahil meniup rambutnya yang seperti ombak itu, membuat jemarinya berulang kali menyisir untuk merapikan. Ah, pose yang lumayan untuk membuat beberapa gadis sedikit melirik. Tidak bisa dipungkiri, dia punya daya tarik.


Sedangkan di seberang jalan sana, seorang gadis melambai padanya kemudian berjalan mendekat ketika lampu jalan menyala merah, tanda untuk para kendaraan berhenti. Dia tersenyum geli melihat banyak gadis melirik temannya itu. Lista, gadis itu juga sebenarnya tidak memungkiri daya tarik dari visual Ian. Dia memang cukup tampan, batin Lista.


"Kau sadar, dari tadi dilirik banyak gadis?" Lista menyikut, lantas tertawa. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, menuju perpustakaan kota.


Ian melepas earphonenya kemudian mengangkat bahu. "Yah, aku tidak peduli hal semacam itu. Toh, itu mata mereka kan. Jadi, terserah mereka."


"Seperti biasa, kau tidak memanfaatkan potensi visualmu itu. Banyak yang mendekatimu kan? Apa kau tidak ingin pu—"


"Punya pacar?" Ian menyela.


Lista mengangguk. Tangan Ian kemudian beralih ke kepala Lista, mengacak-acak rambutnya. Mulut Lista sontak memaki. Ian hanya terkekeh. Langkah mereka sudah mencapai halte perempatan, bis berikutnya akan datang lima menit lagi. Hanya mereka berdua yang ada di sana.


"Aku tidak tertarik," ucap Ian singkat, padat, jelas menanggapi omongan Lista tadi.


Lista menelisik, tersenyum jahil. Dia menatap Ian dengan binar rasa ingin tahu. "Hmm, kalau begitu, apa orang seperti Ian ini, yang sangat dingin dengan gadis-gadis yang mendekatinya, punya seseorang yang dia sukai?"


Ian tidak langsung menjawab. Matanya lurus pada bis yang muncul dari kejauhan. "Bisnya sudah datang," ucapnya.


Lista seketika cemberut, kesal karena Ian mengalihkan pembicaraan. "Dan lagi, Ian akan selalu menghindar."


"Kalau begitu ingin tahu, tebaklah siapa yang aku sukai."


Lista melontarkan senyum kecut. "Aku sudah duga, tidak mudah membuatmu berterus terang."


Ian hanya menyeringai. Beberpa detik setelahnya, roda-roda bis mulai merapat pada halte. Berhenti halus di depan mereka. Lista masih menimang-nimang, bepikir kemungkinan siapa yang disukai oleh Ian. Selama ini memang banyak gadis yang mendekati Ian, tapi kebanyakan hanya bisa menerima hawa dingin dari sikap Ian.


"Apa Kak Mary?" sebut Lista, dia terpikir tentang kakak kelas senior ekskul memanah mereka. Kalau diingat-ingat, Ian dan seniornya itu cukup dekat.


"Aku suka Kak Mary, karena dia mengajarkan cara memanah lebih baik daripada senior lain," jawab Ian. Dia menaiki tangga bis, setelah beberapa orang yang turun di halte tersebut keluar. Lista mengekor. "Tapi, tidak lebih dari itu," tambahnya ketika mereka sudah duduk di dalam bis.


Lista mengelus-elus dagu, berpikir lagi siapa yang dekat dengan temannya itu.


"Alka? Teman satu hobimu itu?" sebut Lista lagi. Dia berusaha.


Ian menggeleng.


"Ah, atau perempuan toko roti itu? Kau sering berbincang dengannya bukan?"


Kedua kalinya Ian menggeleng. Lista mendengus, wajah Ian sama sekali tidak menunjukkan tanda. Dia berpikir keras lagi, Lista tidak menyerah. Tidak banyak perempuan yang dekat dengan Ian. Hanya hitungan jari, dan dari semuannya itu, jawaban Ian selalu 'bukan' ketika Lista bertanya.


"Atau jangan-jangan, sebenarnya kau menyukaiku? Wah, itu bisa saja. Kau dan aku kan begitu dekat," tebak Lista, dengan nada yang menggoda.


Ian tidak langsung menjawab.


Lista kemudian membuat wajah pura-pura prihatin pada Ian. "Ah maaf Ian, aku ini sudah punya pacar. Sangat disayangkan, seharusnya kau bilang lebih awal."


Ian masih terdiam, beberapa detik lengang. Kemudian, tiba-tiba pecah tawanya. Ian terbahak-bahak. "Dari mana kau dapat kepercayaan diri itu? Seleraku tidak seburuk itu."


"Hei, apa maksudmu?" Lista melotot.


Ian masih tertawa, membuat Lista menimpuknya dengan tas kecil yang dia bawa. Selera buruk kata Ian, Lista jadi kesal. Setelah menimpuk Ian, dia mengalihkan pandanganya ke sisi lain. Menyilangkan lengan sambil mendengus. Ian mengelus-elus kepalanya yang barusan kena timpuk.


"Baiklah,jika kau sangat ingin tau. Mari kita buat permainan, Lista," kata Ian yang barusan dapat ide.


Lista mengakat alis, bertanya-tanya. Sekarang kepalanya sudah menoleh. Mata mereka bersitatap.


"Aku akan beri kau satu set alat memanahku yang sangat ingin kau miliki, yang modelnya edisi terbatas itu. Tapi, dengan catatan jika kau bisa menebak siapa orang yang aku sukai sebelum kelulusan nanti."


Mata Lista yang berbinar bahagia mendengar 'satu set alat memanah edisi terbatas' milik Ian akan diberikan padanya hanya bertahan beberapa detik. Kemudian hilang ketika mendengar persyaratan yang diajukan Ian adalah menebak orang yang disukai Ian. Itu sama saja seperti mencari jarum di setumpuk jerami, sangat sulit. Jika itu mudah, sudah sejak lama Lista tau siapa yang disukai Ian. Tiga tahun pertemanan mereka tidak memberikan petunjuk sama sekali. Selama ini, Ian tidak menunjukkan ketertarikan pada siapapun. Dia tidak cukup ekspresif dengan perasaannya.


Lista menghela napas panjang, ini akan jadi permainan sulit baginya.


"Dan kalau kau tidak bisa menebak sampai kelulusan. Kau harus menuruti satu permintaanku," imbuh Ian.


Lista tersentak, tidak terima peraturan tambahan barusan. "Itu tidak adil, kemungkinan aku gagal itu lebih besar. Bahkan sepertinya sudah bisa ditebak siapa yang akan menang," protes Lista. Wajahnya malah jadi semakin kesal.


Ian tergelak, kemudian berdiri, mengajak Lista turun karena bis sudah mencapai halte yang mereka tuju. Lista mengikuti di belakang Ian dengan wajah yang masih tidak terima.


"Hadiahnya alat panah yang sangat kau inginkan loh, yang edisinya sangat terbatas. Kau tidak ingin?" sekarang gantian Ian yang menggoda.


"Kau menyebalkan Ian. Kau pasti yakin aku tidak akan bisa memenangkan permainan ini. Makanya berani bertaruh dengan alat memanahmu yang berharga itu."


Iang mengangguk yakin. Tertawa sekali lagi. "Kira-kira apa yang akan aku minta dari Lista saat kelulusan nanti ya?" ucapnya dengan tatapan meremehkan teman perempuannya itu. Ian pura-pura berpikir.


Lista semakin kesal dengan ejekan Ian. Lista berhenti melangkah, berpikir sejenak, lantas jadi membulatkan tekad. "Baiklah, aku menerima tantangnmu. Aku akan berusaha sangat keras. Dan mulai saat ini, aku akan lebih memperhatikanmu, memperhatikan setiap tingkah lakumu. Kau harus bersiap-siap Ian." Mata Lista menatap Ian tajam, kekesalannya masih tersisa. "Kau nanti akan menyesal telah mempertaruhkan alat panah kesayanganmu itu." Kini, kepercayaan dirinya meningkat pesat. Hatinya telah mantap, Lista bertekad membuat Ian menyesali perkataannya.


Salah seujung bibir Ian terangkat, dia sedikit mengankat dagunya, sisi sombongnya terlihat. Ian sendiri juga cukup percaya diri dengan keahliannya menyembunyikan perasaan. "Aku menunggu itu."