
"Eh, kok bisa tahu nama kami?" tanya Bian, memberanikan diri. Dia menatap curiga pada pria dengan tampang seram di depannya.
Pria itu malah menyeringai menakutkan membuat Lista beringsut ke belakang Bian, bulu kuduknya merinding. Dan sebelum jadi runyam pembicaraan mereka, ada seorang pegawai toko menepuk pundak pria seram itu.
"Pak, berhenti menatap dengan tatapan mengerikan seperti mau malak gitu dong. Pelanggan kan jadi takut," ucap pegawai toko itu.
Pria dengan alis tebal itu mengerutkan dahi. "Aku hanya bertanya baik-baik, bukanya mau malak," protesnya.
Pegawai itu tidak mengindahkannya, dan beralih memandang Lista dan Bian dengan rasa pnuh penyesalan. "Maaf, orang ini memang seperti itu wajahnya."
Bian memandang kikuk mereka berdua. Kemudian mengangguk patah-patah. Lista masih di belakang Bian, masih ragu untuk menatap wajah garang pria tadi.
"Jadi, apa kalian benar Lista dan Bian?" tanya Pria itu lagi. Sejak tadi dia ingin memastikan bahwa dua remaja di hadapannya ini memang orang yang dia tunggu. Bian sekali lagi mengangguk, masih menatapnya curiga.
"Oh, untunglah kalian datang. Ian sempat bilang kalau hari Minggu pertengahan bulan Juni nanti ada teman dan sepupunya datang ke sini cari surat kedua. Soalnya dia menitipkannya padaku."
Bian dan Lista yang mendengarnya sontak terkejut. Surat kedua ternyata ada pada pria dengan wajah seram itu.
***
"Oi Jek!" remaja berambut ombak itu memanggil, Jek sedang mengawasi toko miliknya dengan tatapan yang tajam. Bukan, bukan karena dia mencurigai pelanggan-pelanggannya, tapi memang matanya yang seperti itu. Wajah garangnya sering membuat orang salah paham. Pembeli di kasir pun jadi sedikit merinding melihatnya, temanya yang menangani kasir berulang kali memberi tahu pembeli kalau bosnya itu bukan orang yang garang seperti wajahnya. Tak perlu khawatir.
"Ian, lama tak jumpa." Sambut Jek, dia tersenyum yang sebenarnya malah seperti seringai menakutkan.
"Ayolah, jangan melihatku seperti mau malak gitu dong," Ian menepuk keras punggunnya. Tertawa.
Jek mendengus, "Kau kan sudah tahu kalau wajahku memang begini."
Ian tertawa lagi, dia memang sudah tahu wajah Jek diam pun seperti orang yang mau marah. Pertama kali bertemu dulu juga Ian sempat takut kalau menatapnya, tapi sekarang dia sudah terbiasa.
"Kau tahu Ian, aku sampai lelah harus memberi tahu tiap pelanggan supaya tidak usah khawatir sama monster ini. Dan aku juga lelah memberi tahu si keras kepala ini untuk duduk saja di ruang belakang, agar tatapanya yang garang itu tidak mengganggu banyak orang." Seorang pegawai yang baru saja selesai melayani pembeli di kasir menyahut, dia kelihatan kewalahan. Pegawai ini namanya Rey, meski bawahan Jek, karena sudah berteman lama sebelum Jek membangun usahanya, mereka sangat akrab. Tidak ada sopan santun pegawai kepada atasan di antara mereka. Bisa dilihat dari cara Rey menyebut Jek monster atau si keras kepala.
"Sesekali kan aku ingin mengawasi tokoku Rey," Jek mengeluh. Dia berdecak kesal, selalu dilarang Rey untuk ikut melayani pelanggan toko.
Rey mendesah kesal, Jek memang keras kepala. "Terakhir kali kau jaga kasir, orang yang mau beli malah takut, Jek. Dan malah gak jadi beli."
Ian yang mendegar itu dua kali lebih hebat tertawanya. Dia memegangi perutnya, menahan diri menertawakan teman wajah garangnya itu. "Hah, sudah-sudah kalian. Aku ke sini mau jual action figurku nih. Bukan untuk lihat kalian berdebat." Ian melerai perdebatan mereka, meletakkan action figure yang dibawanya. Dia mengeluarkannya dari tas, dan begitu terlihat isinya, Jek terperangah.
"Loh-loh, ini kan action figure game The Kingdom Of Logres. Dari mana kau dapat nih?" Jek langsung mengeceknya, melihat segala sisinya.
Mendengar kalau yang dibawa Ian adalah action figure dari game The Kingdom Of Logres Rey langsung beringsut mendekati mereka. Meminggalkan kasir—berhubung masih belum ada pelanggan yang hendak ke kasir.
Meski itu game offline lama, masih ada yang minat memainkannya. Dan mereka bertiga adalah salah satunya. Karena game itu juga mereka bisa mengenal satu sama lain.
"Mendesak nih, kalian mau beli gak? Aku bahkan punya lengkap. Dua belas kesatrianya, lengkap."
Jek dan Rey melongo, itu barang langka, dan Ian punya semua koleksinya. Jek menimang-nimang. Di pikirannya sekarang malah ingin membeli untuk dirinya sendiri, bukan untuk dijual lagi. Dia terkekeh ketika membayangkan rak berisi koleksinya mendapat tambahan action figure langka ini, kesemua dua belas kesatrianya.
Rey menepuk pundak Jek keras, membuyarkan lamunannya. "Kau berniat beli Jek?"
Jek tertawa lebar, "Aku akan beli."
Ian tersenyum mendegar jawaban Jek. " Apa mau kau jual lagi?"
"Tidak! Tidak, mana mungkin. Aku sudah dari dulu ingin. Gak kesampaian tahu!" tukas Jek. Ya, dibalik wajahnya yang sangar ini dia penggemar berat action figure sampai-sampai mendirikan tokonya. Orang tidak tahu kalau dia merawat seluruh koleksinya dengan penuh kasih sayang. Wajahnya garang itu punya cinta untuk anak-anaknya— maksudnya figure-figure koleksinya.
"Oke, aku akan kasih satu dulu. Sisanya aku berikan kalau kau mau membantuku." Ian akhirnya mengatakan tujuan lainnya ke BeanShop, toko action figure itu.
"Eh apa?" Jek mengangkat alisnya.
Sebelum mengatakannya, Lista yang sejak tadi menunggu sambil melihat-lihat isi toko menjawilnya, berbisik apa dia masil lama. Ian hanya tersenyum simpul bilang sebentar lagi dan menyuruh Lista menunggu di luar saja. Lista mengangguk, ketika pandangannya beralih pada orang di hadapan Ian, dia tersentak kaget. Wajah Jek membuatnya merinding. Jek tersenyum ramah, meski malah tampak seperti seringai singa pada mangsanya. Lista kemudian tanpa membalas senyum ramah Jek bergegas keluar, tidak ingin bersitatap lagi dengan Jek.
"Pacarmu?" Jek bertanya. Rey yang tadinya ikut nimbrung sudah balik ke posnya, ada pelanggan yang hendak membeli, berdiri celingukan di depan kasir.
Ian menggeleng, sambil menatap Lista yang keluar toko. "Bukan, dia teman sebelah rumahku."
Jek hanya ber-oh pelan. Entah kenapa, Ian mengatakan itu dengan mata yang sedikit redup. Seperti ada hal yang dia pikul sendiri, dan dia sembunyikan dari gadis yang dia sebut teman itu.
"Dia sebenarnya lebih dari teman bagiku," gumam Ian. Tersenyum tipis.
Jek tidak mendengarnya, memiringkan kepala. "Hah, kau bilang sesuatu?"
Ian menggeleng, "Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong, mengenai permintaanku tadi. Sebelas sisanya akan aku berikan tapi tidak sekarang, sekitar dua bulan lagi mungkin. Bulan juni, minggu ke dua, pertengahan bulan."
Ian kemudian merogoh tasnya, mengeluarkan amplop coklat dengan tulisan angka 2 besar di baliknya. "Aku titip ini, dan berikan pada temanku tadi. Dia akan datang di waktu yang aku bilang tadi. Dan mungkin dengan sepupuku juga, namanya Bian. Ingat itu ya. Kalau sudah kasih ini, bilang pada mereka untuk membawa kotak berisi sebelas action figure yang tersisa padamu."
Jek menerima amplop coklat itu serta action figure Isdernus, Kesatria Arthur yang kedua belas dengan padangan tidak mengerti. "Kenapa mesti repot-repot sih? Tinggal kasih aja sekarang kan?"
Senyum tersungging di wajah Ian. Entah kenapa, yang kali ini ada gurat sedih, ada hal yang Ian coba tutupi. "Ada deh, kau turuti saja. Oh iya, uangnya tidak perlu kau bayar padaku. Nanti akan aku beritahu. Menyusul."
Tanpa tanya lagi, Jek mengangguk. Dia tidak ingin bertanya lebih kalau Ian memang tidak ingin memberitahunya.