
Kota terlihat kecil dari ketinggian lebih dari tiga puluh ribu kaki. Bian melihat keluar jendela, diam. Pikirannya kalut, perasaanya risau. Telepon tadi, dia masih tidak ingin mempercayai apa yang dia dengar. Tapi suara isak tantenya membuat semakin jelas.
"Kenapa tidak memberitahu sebelumnya ,Tante? Kalau tau Ian dirawat di rumah sakit, aku pasti akan ke sini," tanya Bian sambil melepas peluk. Dia baru saja sampai di rumah Ian. Pemakaman sudah selesai ketika Bian datang. Perjalanan dari luar kota membuat dia kehilangan banyak waktu. Dia sama sekali tidak sempat melihat Ian untuk terakhir kalinya. Sulit baginya untuk menerima, bahwa sepupu satu-satunya itu pergi tanpa bilang apapun.
Tantenya itu menggeleng, menyeka air mata, wajahnya penuh akan penyesalan. "Ian bilanh tidak mau memberitahumu."
Satu kalimat itu, membuat Bian kehilangan kata-kata lagi. Ian tidak mau memberi tau? Dadanya sesak mendengarnya.
"Maafkan Ian, Bian. Dia hanya tidak mau membuatmu khawatir."
Bian mengerti itu, tapi hatinya masih saja tidak menyetujui pilihan Ian. Dia mencoba menerima. "Tidak apa Tante, tidak ada yang perlu di maafkan."
Tante Mirna mengelus kepala Bian, tersenyum. Kemudian menyuruhnya untuk meletakkan koper di kamar Ian seperti dia biasanya menginap. Dia mengangguk. Atmosfer kesedihan menguasai seluruh rumah. Satu dua datang memberikan ucapan turut berduka cita, banner belasungkawa terpasang di halaman. Tante Mirna tersenyum tegar, berterimakasih atas simpati semua orang. Meski sudah dua hari tidak tidur, Tante Mirna masih bisa melayani tamu yang hadir.
"Tante istirahat saja, Ayah dan Ibu akan datang sebentar lagi," pinta Bian. Dia gusar melihat tantenya yang terlihat menahan lelah.
"Tak apa, aku akan istirahat sampai orang tuamu datang. Bian istirahatlah dulu ke kamar. Perjalanan tadi pasti melelahkan."
Bian hanya bisa menuruti perkataan tantenya, mengangguk, lantas pergi ke lantai dua. Suara decitan kayu terdengar saat pintu kamar dibuka. Bian terdiam, menatap pilu ruangan kamar. Dia biasa tidur di kamar Ian ketika menginap. Ian, satu-satunya sepupu yang dia punya. Mereka masing-masing anak tunggal. Tak heran bila mereka begitu dekat. Sudah seperti saudara kandung. Bahkan ketika Bian pindah, mereka masih menyempatkan bertemu. Menghabiskan seminggu awal liburan. Bermain basket, bersepeda, catur, dan banyak lagi.
Bian meletakkan kopernya di sisi ruangan. Melangkahkan kaki ke tempat tidur. Dingin, itu yang dia rasakan ketika merebahkan diri. Terasa kalau tempat tidur milik Ian itu lama sudah tidak digunakan. Semenjak tadi dia masih terus berpikir, kenapa Ian tidak langsung bilang saja kalau dia sakit. Memang, belakangan ini Ian sulit sekali dihubungi. Begitu pula Tante Mirna. Seperti sengaja menghilang dari siapapun. Dan begitu muncul, hanya kabar duka yang sampai di telinganya.
"Ian bodoh, kenapa tidak bilang langsung sih," keluh Bian. Dia menatap langit-langit kamar. Sepi.Suara rintik hujan serta helaan napas panjangnya terdengar jelas. Sekelebat ingatan kemudian hadir dalam benaknya. Ah, lihat. Akhirnya Bian mulai menitikan air mata. Ketika sepi menyergap, kesedihan memang selalu lebih terasa.
"Menyedihkan," makinya pada diri sendiri. Dia menutup mata dengan lengannya. Sudah lama dia tidak menangis.
Beberapa saat, Bian bangkit, mengusap matanya. Menguatkan hati. Berusaha untuk tidak terlalu menangis, meski hatinya begitu terpuruk. Ian telah pergi, dia harus menepati janjinya dulu pada Ian untuk jadi orang yang kuat.
Suara klakson mobil memecahkan lamunannya. Bian sontak mendekati jendela. Itu mobil orang tuannya. Bergegas dia untuk turun, hingga sudut matanya mendapati sebuah amplop coklat di atas meja belajar. Langkah Bian terhenti. Memandang penuh tanya amplop coklat itu. Di kemudian mengambilnya, membukanya tanpa pikir panjang.
*Isdernus 12, 65192.
Aku adalah pemenangnya, maka carilah yang kedua*.
Tiga kalimat itu tertulis di surat dalam amplop coklat tadi. Dahi Bian seketika berkerut. Tidak mengerti maksud tulisan itu. Dia membacanya berulang dan tetap saja tidak mengerti. Bian mengenali, itu tulisan Ian. Tapi apa maksud Ian menuliskan ini. Kepalanya tidak memiliki ide kenapa Ian menuliskannya. Membolak-balik kertas yang dia pegang, tidak ada apapun, hanya dua kalimat itu.
Bian kembali melihat amplop coklat itu. Dia langsung saja membuka tanpa melihat bagian belakang surat. Dahinya lagi-lagi berkerut, ketika baru menyadari ternyata ada tulisan lain di balik amplop coklat itu.
Adelia Carllista
'1'
Bian mencoba mengingat nama yang tertera di sana. Ardelia Callista...Carlista...Lista?
Sontak, dia keluar kamar, turun ke lantai bawah. Di ruang tamu, Tante Mirna sedang menangis di pelukan ibu Bian. Tante Mirna yang semenjak tadi berusaha kuat akhirnya perasaannya tumpah ruah ketika adiknya tiba. Hati bian melenguh melihatnya. Bian menggeleng keras. Tidak, ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Dia akhirnya memilih menunggu.
Bian dan ayahnya hanya diam pilu. Ibu bian mengelus punggung kakaknya itu, berusaha memberinya kekuatan. Suara Tante Mirna sengau bercerita tentang semuanya. Lelahnya, sedihnya, khawatirnya, ketakutannya, selama menemani Ian di rumah sakit. Berulang kali minta maaf tidak memberi kabar sebenarnya, Tante Mirna tidak ingin merepotkan orang lain lagi seperti dulu, ketika suaminya tiada. Dia berdiri sendiri selama masa terpuruknya.
"Kakak seharusnya tidak berpikir seperti itu. Kami tidak pernah direpotkan olehmu, " Ibu Bian berkata, memeluk erat kakaknya. "Mia ada buat Kakak, Kakak tidak perlu sungkan meminta tolong pada Mia. Aku, Mas Ari, sama Bian bisa bantu Kakak kapan saja."
Bian dan ayahnya tersenyum, mengangguk. Setumpuk kekuatan diterima Tante Mirna. Dalam wajah sedihnya, Tante Mirna tersenyum. Meski tidak ada lagi suaminya, tidak ada lagi anaknya, dia masih memiliki keluarga di sampingnya. Dia belum sepenuhnya sendiri.
Hujan yang tadi hanya rintik berubah jadi deras. Tante Mirna seketika ingat, Lista masih di pemakaman. Entah sudah pulang atau belum. Tante Mirna jadi khawatir.
"Ardelia Callista kan namanya? Yang tinggal rumah sebelah itu Tante? Rumah Bian dulu?" tanya Bian.
Tante Mirna mengiyakan. Dia yang segan bertanya tadi akhirnya bisa sekaligus mendapat kepastian seseorang yang namanya tertera di balik amplop coklat. Itu benar Lista. Teman perempuan yang pernah diceritakan Ian padanya. Lista sering ditinggal ibunya. Dia sering sendiri di rumah, tidak ada yang menungguinya di rumah kalau dia belum pulang dalam hujan deras sekalipun. Karena itulah Tante Mirna hadi lebih memperhatikan Lista. Sudah seperti anak perempuannya.
"Aku yang akan memastikan, Tante tidak khawatir. Istirahat saja," kata Bian, menawarkan.
Tidak ada tanggapan. Bel telah dibunyikan beberapa kali, tapi tidak ada siapapun yang keluar. Rumah sebelah itu tampak kosong. Bian jadi risau, apa memang perempuan itu masih di pemakaman hujan deras seperti ini. Atau mungkin dia sudah tertidur, jadi tidak mendengar suara bel. Bian mengela napas, dia memilih opsi terburuk. Lista mungkin masih di pemakaman.